
Di rumah Anita.
"Masuk Ndi!" ajak Anita ketika ia baru sampai di rumahnya bersama Andi.
Andi melangkahkan kakinya masuk, ia merasa insecure melihat rumah Anita.
"apa aku pantas buat kamu Nit? kita jauh beda, kayak langit sama bumi, mungkin buat saat ini kamu bisa sama aku, tapi buat jadi masa depan kamu, aku nggak yakin bisa, kamu baik Nit, aku yakin akan ada seseorang yang jauh lebih baik daripada aku ataupun Dimas yang akan jadi masa depan kamu," ucap Andi dalam hati.
"Bi, Anita pulang!" teriak Anita disusul wanita paruh baya yang keluar dari arah dapur.
"Alhamdulillah non Anita baik-baik aja, bibi khawatir non, kata pak Budi non Anita semalem berantem lagi sama bapak," ucap Bi Inah, pembantu rumah tangga di rumah Anita. Bi Inah sudah bekerja di rumah Anita sebelum Anita lahir, sedikit banyak Bi Inah tahu tentang apa yang terjadi pada keluarga Anita.
Sejak mama Anita meninggal, Bi Inah sudah tidak lagi tinggal di rumahnya. Bi Inah hanya akan datang pagi dan pulang pada malam hari, sebagai gantinya Pak Sony menyiapkan sepetak kamar kos untuk tempat tinggal Bi Inah yang tak jauh dari rumah Anita.
Ya, Pak Sony memang sangat baik, tak hanya pada Bi Inah tapi juga Pak Budi, satpam rumah Anita.
Semua orang yang mengenal Pak Sony akan dengan mudah tau jika Pak Sony adalah orang yang sangat baik dan murah hati. Namun tak ada yang tau bagaimana sikap Pak Sony pada anak kandungnya sendiri.
Pak Sony akan melawan siapapun yang menentang keputusannya, tak peduli dengan cara apapun, keputusannya mutlak, tak ada yang dapat merubahnya.
Namun Pak Sony sangat pandai menyembunyikan sikap buruknya itu di depan orang lain, Pak Sony akan membuat orang yang semula menentangnya akan berubah pikiran dengan caranya sendiri.
"Bibi siapkan air hangat ya non!" ucap Bi Inah.
"Nanti aja Bi, oh ya, ini Andi, teman Anita," ucap Anita memperkenalkan Andi.
"Andi," ucap Andi dengan menundukkan kepala tanda menghormati yang lebih tua.
"Cakep non pacarnya hihihi....." balas Bi Inah lalu kembali masuk ke dapur.
Anita hanya memutar kedua bola matanya dengan menggeleng geleng melihat sikap Bi Inah.
"Orangnya emang suka gitu Ndi!" ucap Anita pada Andi.
"Nggak papa Nit, papa kamu belum pulang?"
"Papa jarang pulang!" jawab Anita dengan tersenyum tipis.
"Mau ke kamar?" tanya Anita.
"Kamar siapa?" tanya Andi tak mengerti.
"Kamarku lah, masak kamar papa!"
"Emang boleh?"
"Emang siapa yang ngelarang?"
"Kita kan......"
"Udah ayo!" ucap Anita dengan menarik tangan Andi untuk masuk ke kamarnya.
Andi hanya pasrah dan mengikuti Anita masuk ke kamarnya.
"Ini tempat favoritku di rumah, aku bisa seharian di kamar, nggak kemana mana, cuma tiduran, duduk di balkon, dengerin musik, baca komik, kadang bi Inah sampe' khawatir hahaha....."
Andi hanya memperhatikan Anita yang sedang bercerita, ia melihat guratan kesedihan yang Anita coba tutupi dari semua orang. Namun jika diperhatikan, keceriaan yang selama ini Anita perlihatkan hanyalah kepalsuan belaka. Hatinya remuk, terkoyak oleh papanya sendiri.
Anita berdiri di pinggir jendela kamarnya, menatap nanar ke arah taman kecil disamping rumahnya.
"Waktu aku kecil, aku sering main di taman itu Ndi, sama papa mama, papa selalu gondong aku di pundaknya, sampe' aku hampir lulus SD papa masih ngelakuin itu tiap kita ke sana, kalau aku tau sikap papa akan kayak gini, dulu aku nggak akan malu buat ngelakuin itu sampe' aku lulus SD, dulu aku malah kesel tiap papa mulai jongkok di depanku dan maksa aku buat naik ke pundaknya, aku malu waktu itu karena aku ngerasa aku udah bukan anak kecil lagi, kamu bosen ya denger ceritaku hehehe......" ucap Anita dengan tertawa kecil namun air matanya menetes membasahi pipinya.
Andi yang sedari tadi memperhatikan Anita kini bisa merasakan kesedihan yang Anita rasakan.
Andi berjalan mendekati Anita dan memeluknya dari belakang, menyandarkan kepala Anita di dadanya dan mengusap lembut rambutnya.
"Papa cinta pertamaku Ndi, tapi papa juga yang hancurin hidupku," ucap Anita yang mulai terisak.
Andi memegang kedua pundak Anita dan membuatnya menghadap ke arahnya.
"Izinin aku buat jadi cinta kedua kamu Nit, meski aku nggak bisa janji buat jadi masa depan yang baik buat kamu, tapi aku janji akan selalu bahagiain kamu dengan semua caraku," ucap Andi dengan memegang kedua pipi Anita dan menghapus air matanya.
Anita tak menjawab, ia semakin menangis membuat Andi tak punya pilihan selain memeluknya dengan erat, berharap bisa meredakan tangis Anita.
Anita semakin tenggelam dalam pelukan Andi. Ia masih tidak mengerti kemana sebenarnya hatinya berpijak, pada Andi atau Dimas, ia tak mengerti.
Anita melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
"Andi, aku....."
"Aku tau mungkin ini terlalu cepet, tapi aku bilang ini bukan karena aku mau lupain Dini, aku......"
Cuuppppp!!!
Satu kecupan dari Anita mendarat sempurna di bibir Andi, membuatnya seketika terdiam mematung. Jantungnya seakan berdetak begitu cepat. Perasaan aneh yang selama ini belum pernah ia rasakan mulai menjalari dirinya.
Entah mendapat dorongan dari mana, Andi memegang kedua pipi Anita dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Anita dan......
Tookkk.... Tookkk..... Tookkk....
"Non, Bibi bawa minuman nih!" ucap Bi Inah dari balik pintu kamar Anita.
Andi segera melepas kedua tangannya dan duduk di ranjang Anita dengan kasar.
Anita hanya tertawa kecil melihat sikap Andi yang salah tingkah kemudian segera membuka pintu kamarnya.
"Makasih ya Bi!" ucap Anita pada Bi Inah dan menerima nampan yang berisi 2 gelas minuman untuknya dan juga Andi.
Anita segera menaruh minuman itu di meja dekat ranjangnya, tak lupa ia menutup pintu kamarnya lagi.
"Minum Ndi!" ucap Anita.
Tanpa basa basi Andi segera mengambil satu gelas jus jeruk yang Anita taruh di meja dan dengan cepat menghabiskannya.
"Haus banget Ndi?" tanya Anita yang terheran heran melihat Andi yang meminum jus jeruknya dengan sangat cepat.
Andi hanya tersenyum dan menggaruk garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Anita kemudian duduk di sebelah Andi dan memeluknya.
"Makasih ya Ndi, aku nggak peduli kamu jadiin aku pelampiasan dari Dini atau enggak yang penting....."
"Enggak Nit, aku nggak jadiin kamu pelampiasan, Dini sahabat aku dan sampe' kapanpun nggak akan berubah, kamu percaya kan sama aku?"
Anita mengangguk dan semakin erat memeluk Andi.
*********************
__ADS_1
Di rumah Dini.
Dini dan Dimas masih duduk berdua di ruang tamu Dini. Membicarakan banyak hal dan sesekali bercanda.
"Dimas, kalau ada waktu ke cafe tadi ya!" ajak Dini.
"Boleh, kapanpun kamu mau ke sana, aku selalu siap," jawab Dimas.
"Ya udah, kamu pulang sana, udah malem!"
"Kok di usir sih, kamu nggak kangen sama aku?"
"Enggak tuh!"
"Ini belum malem sayang, baru jam 7," protes Dimas.
"Kamu keluar rumah dari pagi Dimas dan sekarang udah jam 7 malem kamu masih di sini, dicariin mama kamu loh!"
"Hahaha, emang aku anak kecil dicariin, mama papa mana pernah nyariin aku, yang penting kan selalu ngasih kabar!" balas Dimas beralasan.
"Tetep aja, kamu harus pulang Dimas, kamu bau tau', belum mandi!"
"Kamu juga belum mandi Andini!"
"Ya ini mau mandi."
"Ya udah ayo!"
"Eh, ayo apa?"
"Ayo mandi hehehe."
"Iiiiiihhh, dasar mesum!" balas Dini dengan memukul Dimas menggunakan boneka miliknya.
Dimas memegang kedua tangan Dini dan menariknya membuat Dini yang sedang berdiri terjatuh menindih Dimas yang duduk.
Kedua mata mereka bertemu membuat detak jantung mereka seakan berdetak cepat tak beraturan.
Dimas semakin menarik kedua tangan Dini, membuat Dini semakin menindih tubuh Dimas. Mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat, bahkan membuat mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Dimas mendekatkan wajahnya dan kemudian....
Biiippp biiippp biiiiipppp
Ponsel Dimas berdering, membuat Dini segera meronta dan melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.
Dimas menghela napas kasar dan mengambil ponselnya dari saku celananya.
Terlihat nama Andi di layar ponselnya.
"Halo, ada apa sih, ganggu aja!" ucap Dimas kesal.
"Lo dimana? lagi sibuk?"
"Di rumah pacar gue lah!"
Dini mengernyitkan dahinya mendengar Dimas menyebutnya pacar.
"Ngapain aja lo!"
"Gila lo Dim, ngapain aja lo sama Dini?"
"Hahaha, rahasia dong, lo kenapa ganggu gue? ada yang penting? kalau nggak penting gue matiin nih!"
"Penting, jemput gue di rumah Anita."
"Nggak penting banget sih Ndi, pulang sendiri sana!"
"Jemput lah Dim, emang lo nggak penasaran gue ngapain aja disini?"
Ucapan Andi membuat Anita mengernyitkan dahinya, ia tidak yakin jika Andi akan menceritakan pada Dimas tentang apa yang baru saja terjadi di kamarnya karena ia tahu jika Andi bukanlah laki laki yang suka menceritakan hal pribadinya pada orang lain.
"Emang lo ngapain?"
"Ya makanya jemput gue, ntar kita tukar cerita hahaha....."
Anita memukul lengan Andi karena ucapan Andi yang agak gila.
Andi hanya terkekeh melihat Anita yang memperhatikannya mencari alasan agar Dimas mau menjemputnya.
"Oke, gue jemput sekarang!" balas Dimas mengalah.
"Gitu dong, anak pintar."
Dimas mematikan panggilan Andi dan segera menjemputnya ke rumah Anita.
"Aku jemput Andi dulu ya!" ucap Dimas pada Dini.
Dini mengangguk lalu berdiri membukakan pintu untuk Dimas.
Sebelum Dimas keluar dari rumah Dini, ia menarik tubuh Dini dan melingkarkan tangannya di pinggang Dini.
Cuuppppp!!!!
Satu kecupan perpisahan mendarat di kening Dini.
"Aku jemput Andi dulu ya!" ucap Dimas disusul anggukan kepala Dini.
Namun tiba-tiba Dini menarik tangan Dimas.
"Ada apa sayang?"
Dini ingin menanyakan sesuatu namun ia ragu.
"Mmmm, ituuuu..... kamu......."
Dimas kembali mendekat dan memeluk Dini.
"Apa? kamu masih kangen?"
"Bukaaaan, iiiiihh kamu modus aja deh!" balas Dini dengan melepaskan pelukan Dimas.
"Hehehe, aku pikir kamu minta dipeluk!"
"Ya udah nggak jadi, sana pulang!" balas Dini kesal.
"Jangan marah dong, kamu mau bilang apa?"
__ADS_1
"Nggak jadi!"
Dimas kembali memeluk Dini.
"Apaan sih Dim, lepasin!" ucap Dini berusaha melepaskan pelukan Dimas yang sangat erat.
"Nggak mau, kamu bilang dulu apa yang mau kamu bilang, baru aku lepas!"
"Aku nggak mau bilang apa-apa kok!"
"Ya udah, aku peluk kamu terus!"
"Ya udah iya aku bilang!"
Dimaspun melepaskan pelukannya pada Dini.
"Apa? kamu mau bilang apa?"
"Dimas, kamu nggak akan cerita sama Andi kan soal di cafe tadi," ucap Dini dengan menunduk menahan malu.
Dimas hanya tersenyum, tak menjawab.
"Aku pergi dulu ya!" ucap Dimas dengan mengusap kepala Dini lalu masuk ke mobilnya.
"Diimaaaaassss!" panggil Dini dengan berteriak kesal karena Dimas tidak menjawabnya.
"Hahaha.... bye sayang!" balas Dimas dengan melambaikan tangannya dan meninggalkan rumah Dini.
Ia masih terkekeh mengingat ekspresi Dini yang malu-malu dan kesal karena sikapnya.
Sesampainya di depan rumah Anita, Dimas segera menghubungi Andi.
"Gue di luar, buruan keluar!"
"Oke!"
Andipun berpamitan pulang pada Anita.
"Aku pulang dulu ya, kamu istirahat!" ucap Andi dengan menggenggam kedua tangan Anita.
"Besok pagi aku jemput ya!"
"Kamu sekolah? izin dulu aja lah Nit, kamu harus banyak istirahat!"
"Aku baik-baik aja kok, pokoknya besok aku jemput, jadi jangan berangkat sama Dini ya, biar Dini sama Dimas," pinta Anita penuh harap.
"Ya udah kalau gitu, nanti aku bilang Dimas," balas Andi mengalah.
Cuuppppp!!!!
Anita mencium pipi Andi sebelum Andi keluar kamarnya.
Andi tersenyum tipis melihat Anita yang harus berjinjit untuk mencium pipinya.
Andi mengusap rambut Anita dan menciumnya kemudian keluar dari kamar Anita.
Anita hanya bisa tersenyum bahagia mendapat perlakuan yang manis dari Andi.
Ia masuk ke kamarnya, melihat Andi dan Dimas dari balkon kamarnya.
Anita melambaikan tangannya begitu melihat mobil Dimas meninggalkan rumahnya.
Andi yang melihat ke arah balkon Anita membalas lambaian tangan Anita hingga mobil Dimas membawanya meninggalkan rumah Anita.
"Sukses nih kayaknya!" ucap Dimas dengan memukul pelan lengan Andi.
Andi hanya tersenyum penuh arti.
"Ngapain aja lo? nggak ketemu Pak Sony? atau Pak Sony nggak di rumah? waaaahh kesempatan Ndi!"
"Apaan sih Dim, Pak Sony nggak ada, jarang pulang katanya!"
"Tuh kan bener, berduaan aja dong di rumah!"
"Enggak, ada Bi Inah sama Pak satpamnya."
"Yaaaahhhh, nggak seru dong!"
"Seru kok!" balas Andi dengan senyum mengembang.
Dimas segera mengarahkan pandangannya pada Andi.
"Eh, nyetir yang bener, gila lo Dim!" ucap Andi yang menyadari jika Dimas tidak memperhatikan jalan.
"Lo ngapain aja Ndi?" tanya Dimas penasaran.
"Hahaha..... lo penasaran ya?"
"Waaaaaahhh lo mulai nakal ya!"
"Gue anak baik baik Dim, nggak kayak lo!"
"Sialan, malah ngatain!"
"Lo sendiri ngapain aja sama Dini? lo berduaan aja kan di rumahnya?"
"Iya dong, sama siapa lagi!"
"Awas aja lo kalau macem-macem!"
"Kalau Andini suka gimana hehehe......"
Andi hanya melirikkan matanya ke arah Dimas membuat Dimas semakin tertawa puas.
"Gue tadi ngajak Andini ke cafe!" ucap Dimas yang mulai terlihat serius.
"Lo udah cerita sama dia?"
"Belum, gue terpaksa ngajak dia ke cafe!"
"Kenapa?"
"Gue liat Yoga sama Sintia di mall, waktu gue di sana sama Andini."
"Lo harus cepet cerita soal Sintia Dim, sebelum jadi masalah besar buat lo sama Dini."
"Iya Ndi, gue tau!"
__ADS_1