Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Ancaman untuk Anita


__ADS_3

Dini segera masuk ke dalam mobil Dika dan meminta Dika untuk mengantarnya pulang.


"Kamu baik baik aja sayang?" tanya Dika yang melihat mata Dini sembab.


"Aku nggak papa, ayo pulang!"


Dika masih diam, ia belum menyalakan mesin mobilnya. Matanya masih memandang tajam ke arah Dini.


"Apa laki laki itu nyakitin kamu?"


"Enggak, ayo pulang!"


"Aku nggak akan biarin orang lain nyakitin milikku dan kamu, Andini Ayunindya Zhafira, kamu milikku, sekarang jujur sama aku, apa yang bikin kamu sedih? bos kamu? apa tunangannya?"


"Enggak Dika, aku cuma sedih karena harus pisah sama temen temenku di kafe, mereka baik banget sama aku, mereka udah kayak keluarga baru buat aku!" jelas Dini berbohong.


Ia memang bersedih karena hal itu, tapi yang membuatnya menangis bukanlah itu. Sikap Dimas padanya yang membuatnya menangis. Ia merasa lemah sekarang. Air matanya terlalu murah untuk menangisi Dimas yang sudah menjadi milik orang lain saat ini.


"Aku akan bantuin kamu cari kerja, kamu tenang aja!" ucap Dika dengan membelai rambut Dini.


Dika melajukan mobilnya ke arah tempat kos Dini. Pikirannya sudah penuh dengan rencana rencana yang sudah ia susun dengan matang.


**********


Di kafe, Dimas merasa begitu kacau. Pikirannya mengembara jauh memikirkan Dini. Entah kenapa hatinya terasa sakit.


"apa aku jatuh cinta sama dia? sejak kapan? dari pertama aku liat dia rasa itu udah ada, rasa yang aku nggak pernah ngerti dari mana datangnya, rasa yang aku nggak pernah tau apa artinya, rasa yang seolah olah sudah tinggal lama di hati, rasa yang nggak pernah aku rasain bahkan ketika aku sama Anita, kamu bener bener laki laki brengsek Dimas, bagaimana mungkin kamu jatuh cinta pada perempuan lain setelah apa yang kamu lakukan pada Anita? aaarrrgghhh!!"


Biiippp biiippp biiippp


Ponsel Dimas berdering. Wajah Anita yang tersenyum manis terlihat di layar ponselnya.


"Halo sayang, ada apa?"


"Kamu di kafe?"


"Iya, kenapa?"


"Aku ke sana sekarang ya, tungguin!"


"Aku jemput!"


"Nggak usah, aku bawa mobil, 5 menit lagi aku nyampe'!"


"Oke, take care sayang!"


"kamu hubungin aku di saat yang tepat sayang, aku akan jaga hati aku buat kamu!"


Dimas melanjutkan kembali pekerjaanya.


10 menit berlalu, Anita masih belum sampai. 15 menit hingga 20 menit menunggu, Anita masih belum memunculkan batang hidungnya.


Tanpa Dimas tau, Anita sudah sampai dan terkapar dengan bersimbah darah di tempat parkir.


Seseorang memukulnya dengan keras di bagian kepalanya ketika ia baru saja turun dari mobil. Tempat parkir yang sepi membuat seseorang itu dengan leluasa mengayunkan balok kayu yang sengaja dibawanya untuk memukul kepala Anita dengan keras. CCTV yang terpasang di sudut tempat parkir sudah di rusak olehnya sebelum ia melancarkan aksinya. Setelah keinginannya terpenuhi, seseorang itu segera meninggalkan Anita begitu saja dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


Beruntung, ada seorang pelanggan yang melihat Anita sudah terkulai tak berdaya di tempat parkir. Ia segera memanggil satpam. Satpam itu mengenal Anita, ia tau jika Anita adalah tunangan bosnya, ia pun segera memberi tahu Dimas.


Mendengar hal itu, Dimas segera membawa Anita ke rumah sakit dan meminta satpam untuk mengecek seluruh CCTV kafe, terutama bagian tempat parkir.


Di rumah sakit, Anita masih tak sadarkan diri. Ia kehilangan banyak darah.


*Flashback sebelum Anita datang ke kafe*


Anita membeli sebuah kue di toko kue yang tak jauh dari kafe Dimas. Tanpa ia tau seseorang sedang mengintainya beberapa hari ini.


Setelah mendapatkan kue yang di carinya, ia segera masuk ke dalam mobil dan begitu terkejut melihat banyak kertas dengan tulisan tulisan yang berisi ancaman kepadanya.


Jaga mulut busukmu itu jika masih ingin selamat!


Anggap saja ini peringatan untuk perempuan yang tak bisa menghargai perempuan lain!


Mau lapor polisi? silahkan! aku tau semua kebusukanmu Anita!


Mau ngadu sama Dimas? silakan! aku punya banyak bukti yang akan bikin Dimas ninggalin kamu!


Kamu sudah membuat kesabaranku hilang gadis cantik!


Kamu mau main main sama aku? ayo kita bermain main mulai sekarang!


Dengan tangan bergetar, Anita segera mengambil semua tulisan itu dan membuangnya ke tempat sampah.


"Siapa yang ngelakuin ini? apa mungkin Dini? enggak, Dini nggak akan berbuat sejauh ini, aku harus periksa CCTV toko kue itu!"

__ADS_1


Anitapun kembali ke dalam toko kue itu dan meminta untuk di perlihatkan CCTV yang mengarah ke tempat parkir. Meski pada awalnya pegawai toko roti itu menolak, mereka akhirnya mengizinkan Anita untuk melihat rekaman CCTV mereka setelah Anita berbohong jika ia kehilangan barangnya di dalam mobil.


Namun sial baginya, setelah di cek, bagian CCTV yang mengarah ke tempat parkir telah rusak. Hanya tampak warna hitam yang memenuhi monitor.


Anitapun berusaha untuk tidak mempedulikan hal itu. Ia segera kembali ke mobilnya dan menuju ke kafe Dimas. Sesampainya di tempat parkir kafe, Anita segera turun dari mobilnya dengan membawa 1 kotak kue yang baru saja di belinya.


Tanpa ia sadar, ada seseorang yang dari tadi membuntutinya, membawa balok kayu besar yang sengaja ia siapkan untuk "bermain main" bersama Anita.


Seseorang itu memukul dengan keras tepat di kepala Anita, 1 pukulannya sudah mampu membuat Anita jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Namun ia masih belum puas, ia kembali mengayunkan balok kayu itu beberapa kali hingga ia benar benar sudah puas "bermain main" bersama Anita.


Seseorang itu segera meninggalkan kafe tepat sebelum orang lain melihatnya, membiarkan Anita terkapar tak berdaya dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


*Flashback off*


Dimas masih menemani Anita di rumah. Anita sudah melewati masa kritisnya saat itu.


Jari Anita yang berada dalam genggaman Dimas mulai bergerak pelan, matanya mengerjap. Ia masih merasakan sakit di kepalanya.


Ia melihat Dimas yang tertidur dengan menggenggam tangannya. Hatinya bahagia meski raganya terasa sakit.


Ia mengusap pelan kepala Dimas, membuat Dimas terbangun dari tidurnya. Senyuman manis tergaris di bibirnya.


"Bisa bisanya kamu senyum setelah kritis kayak gini, kamu baik baik aja sayang?" tanya Dimas dengan mengusap pipi Anita.


"Aku selalu baik baik aja selama ada kamu di sini!" balas Anita dengan mencium tangan Dimas yang berada di pipinya.


Dimas mendekat dan memeluknya. Ia merasa bersalah pada Anita, jika saja ia menjemputnya mungkin Anita tidak akan mengalami kejadian itu.


"Aku janji akan cari tau siapa yang ngelakuin ini sama kamu!"


"Di tempat parkir ada CCTV nya kan?"


"Ada, aku udah minta pak satpam buat ngecek rekaman CCTV hari ini, nggak cuma di tempat parkir tapi juga di semua ruangan, siapa tau ada seseorang yang mencurigakan yang diem diem ngikutin kamu!"


"Makasih sayang!"


Dimas tersenyum dan mencium kening Anita.


Tak lama kemudian Pak satpam menghubungi Dimas, memberi tahu Dimas jika CCTV di tempat parkir telah rusak, seperti ada yang sengaja merusaknya.


"Sayang, aku harus balik ke kafe, kamu nggak papa sendirian di sini?"


"Nggak bisa Yoga aja yang ke kafe? aku nggak mau sendirian!"


"Ya udah kalau gitu!"


"Aku pergi dulu ya, aku akan minta seseorang buat nemenin kamu!"


Dimaspun meninggalkan ruangan Anita. Ia menghubungi Sintia agar menemani Anita di rumah sakit. Dengan terpaksa Sintia menuruti perintah Dimas karena Dimas mengancam akan memberi tahu kedua orang tuanya apa yang Sintia dan Yoga lakukan di ruang kerjanya kemarin.


Sebenarnya Sintia tidak mempunyai masalah apapun pada Anita karena setaunya Anita, Dini, Dimas dan Andi bersahabat. Tapi semenjak ia tau bahwa Anita mengikuti Dimas ke Singapura, ia menjadi sedikit tidak menyukai Anita, terlebih ia mendengar jika Anita sudah bertunangan dengan Dimas. Itu membuatnya merasa jika Anita adalah penghianat, serigala berbulu domba atau musuh dalam selimut. Sahabat yang diam diam mencintai kekasih sahabatnya sendiri, bahkan hingga bertunangan, itu adalah sebuah kejahatan bagi Sintia.


"Hai kak, kak Dimas yang minta Sintia ke sini!" ucap Sintia menyapa Anita.


"Kamu pulang aja nggak papa!"


Sintia hanya diam, menaruh buah yang dibawanya di meja lalu duduk di sofa panjang dengan memainkan ponselnya. Ia menghubungi Yoga.


"Kak, nanti jemput Sintia di rumah sakit ya!"


"Kamu kenapa bisa di rumah sakit, kamu...."


"Bukan Sintia yang sakit kak, udah deh pokoknya nanti jemput Sintia jam 10, oke?"


"Ya udah kalau gitu, nanti kakak jemput!"


Sintia mematikan panggilannya namun tetap sibuk dengan ponselnya.


"Kamu pacarnya kak Yoga?" tanya Anita tiba tiba.


"Calon istrinya, kenapa?"


"Haahhh, hmmmppp!! Anita menahan tawanya mendengar jawaban Sintia.


"Kenapa? ada yang salah?"


"Hei adik kecil, kamu itu masih sekolah sedangkan kak Yoga udah mau lulus kuliah, kalian......"


"Emang usia kita jauh, tapi itu bukan masalah, yang penting kita tulus saling mencintai, bukan saling membohongi!"


Kata kata Sintia yang terakhir membuat Anita tercekat.


"bukan saling membohongi!"

__ADS_1


"Tau apa kamu soal cinta? kamu yakin kak Yoga cinta sama kamu? apa kamu yakin kalau kamu bukan mainannya aja? dia itu udah kuliah, punya bisnis, masa depan cerah, cakep, pasti banyak cewek yang ngantri buat jadi pacarnya!"


"Sintia yakin dan percaya sama kak Yoga!" balas Sintia penuh keyakinan.


"Apa kamu nggak pernah mikir kalau sebenernya dia cuma anggap kamu mainan, mainan yang bisa dia datengin sewaktu waktu, mainan yang bisa dengan mudah memberinya apapun yang dia mau, memberinya apa yang tidak dia dapat dari kekasihnya!"


"Enggak, kak Yoga nggak kayak gitu!"


"Kamu itu masih kecil Sintia, jangan mudah dibodohi, ada banyak perempuan yang lebih baik dari kamu, perempuan matang yang selalu mengerti kak Yoga, bukan yang selalu mengganggu kak Yoga kayak kamu!"


"Tapi........"


"Kamu harusnya sadar, kamu itu cuma anak kecil, kak Yoga nggak mungkin mau nikah sama kamu, kamu itu cuma mainannya yang dia cari kalau dia butuh, jadi jangan terlalu bermimpi yang tinggi, sakit kalau jatuh hehehe......"


Mata Sintia mulai berkaca kaca. Ia percaya pada Yoga, tapi apa yang dikatakan Anita memang benar. Ia hanyalah anak kecil yang selalu mengganggu Yoga. Masih banyak perempuan yang jauh lebih baik darinya jadi mana mungkin Yoga menganggap hubungan mereka serius, bisa jadi apa yang dia katakan di depan Dimas kemarin hanya bercanda hanya untuk membuat Dimas percaya pada ucapannya. Itulah yang dipikirkan Sintia saat itu.


"apa cuma aku yang menganggap serius kata kata kakak? apa selama ini Sintia cuma mainan kakak? atau......."


Air matanya menetes, ia segera mengusapnya lalu keluar dari ruangan Anita.


"Kamu kemana anak kecil?"


Sintia tak menjawab, hatinya terasa perih. Ia keluar dari rumah sakit dan berjalan seorang diri di trotoar jalan raya.


Ia duduk di bangku trotoar, berkali kali mengusap air matanya yang tak ingin berhenti menetes dari kedua sudut matanya. Ia tidak ingin seperti anak kecil karena menangis.


Biiippp biiippp biiippp


Ponselnya berdering, terlihat nama Yoga di layar ponselnya. Ia mengabaikannya lalu mematikan ponselnya. Ia hanya ingin sendiri saat itu.


Di sisi lain, Yoga begitu kelabakan mencari Sintia. Berkali kali ia menghubunginya tapi tak tersambung. Yoga merasa frustrasi, Sintia tak pernah seperti itu sebelumnya.


Yoga pun menghubungi Dimas, menanyakan keberadaan Sintia pada Dimas.


"Dia di rumah sakit X nemenin Anita, kenapa?"


"Nemenin Anita? lo yang minta?"


"Iya, gue minta tolong sama dia."


Tiiiittttt


Yoga mematikan panggilannya begitu saja. Ia segera menuju ke rumah sakit X dan mencari ruangan Anita. Sesampainya di ruangan Anita ia tak menemukan Sintia di sana.


"Sintia di sini Nit?"


"Udah pulang dari tadi kak, kak Yoga beneran pacaran sama Sintia?" tanya Anita tanpa basa basi.


"Enggak, kenapa?"


"tuh kan bener, mana mungkin kak Yoga mau sama anak kecil!" batin Anita.


"Sintia bilang.........."


"Kita nggak pacaran, tapi kita udah berkomitmen buat selalu sama sama, selalu cinta dan nggak akan saling ninggalin, buat aku itu lebih baik daripada pacaran!" ucap Yoga memotong kata kata Anita.


"Kak Yoga yakin cinta sama dia? apa dia nggak manfaatin kakak aja? dia cantik, pinter, kaya, pasti banyak cowok seumurannya yang mau sama dia kan?"


Yoga mengangguk anggukkan kepalanya, ia mulai mengerti arah pembicaraan Anita.


"Hati nggak pernah salah memilih kemana ia harus berlabuh Nit, kamu pasti nggak tau itu, karena kamupun nggak tau bedanya cinta sama obsesi!"


"Apa maksudnya kak Yoga?"


"Kamu pasti tau maksud ku, aku pergi dulu ya, oh ya sebentar lagi Dimas akan ingat semuanya, aku yakin akan ada kebusukan yang terungkap setelahnya!" ucap Yoga lalu keluar dari ruangan Anita.


"Sintia pasti udah kemakan ucapan Anita, aku harus cepet cari dia!"


Yoga melajukan mobilnya dengan pelan. Ia tidak tau kemana arah akan membawanya, tapi matanya menangkap sosok yang sangat di cintainya itu dibawah remang lampu jalan raya. Ia segera menepikan mobilnya dan duduk di sebelah Sintia.


"Kakak!" panggil Sintia ketika ia menyadari Yoga duduk di sebelahnya.


"Ikut kakak!"


Sintia menurut, Yoga membawanya masuk ke dalam mobil.


"Sintia, kakak sayang sama kamu, nggak peduli apapun yang orang lain omongin tentang kita, kakak tetep sayang sama kamu, kakak janji, setelah kamu lulus SMA, kakak akan minta kamu dari kakek kamu, dari mama dan papanya Dimas, kakak nggak mau kehilangan satu satunya orang yang kakak cintai di dunia ini!" ucap Yoga sambil menggengam tangan Sintia.


"Tapi Sintia cuma anak kecil, banyak di luar sana yang lebih baik dari Sintia!"


"Kamu bener, tapi hati kakak udah milih kamu, apa kamu ragu sama perasaan kakak?"


Sintia menggeleng pelan, air matanya kembali menetes, air mata yang penuh dengan kebahagiaan.

__ADS_1


Yoga memeluk Sintia lalu mendaratkan kecupannya di bibir manis Sintia.


__ADS_2