Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Saling Menatap


__ADS_3

Senja mulai menyapa di ujung barat, meninggalkan mega merah yang terlukis indah sebelum cahaya bulan mengambil alih singgasana sang mentari.


Satu per satu lampu warna warni mulai menyala menghiasi setiap wahana permainan yang ada. Meski belum ada yang beroperasi, pasar malam itu sudah tampak ramai. Di setiap pandangan mata, hanya tampak kebahagiaan yang terpancar dari semua orang yang ada di sana.


Aletta tersenyum getir mengingat semua hal yang sudah terjadi padanya. Mulai dari kehilangan mamanya, mendapat perlakuan yang kasar dari papanya, dikhianati oleh kakak dan cinta pertamanya hingga akhirnya ia dibenci oleh kakak kandungnya sendiri.


Itu semua begitu menyakitkan baginya. Jika dulu ia memilih pergi dan memulai hidup baru, maka sekarang ia juga akan pergi lagi. Bukan meninggalkan semua yang menyakitkan, tapi meninggalkan harapan indah yang ia tau bagaimana akhirnya. Harapan yang akan memberinya kekecewaan dan sakit di hatinya.


Ia sudah lama menutup hatinya dengan sangat kuat. Menahan siapapun untuk tak bisa menyentuh hatinya. Namun, kehadiran Andi bisa dengan mudah membuka pintu hatinya yang telah lama tertutup, menyentuhnya dan meninggalkan rasa yang indah di sana.


Aletta sudah melepaskan cinta pertamanya, kerinduan yang ia simpan sudah musnah. Ia merasa bodoh karena masih merindukan laki laki yang tak seharusnya menjadi miliknya itu. Laki laki yang ternyata hanya menganggapnya sebagai pemuas nafsu belaka.


Sekarang, bunga bunga asmara bermekaran bersama dengan luka di hatinya. Ia kembali menutup hatinya rapat rapat dengan bunga bunga berduri. Ia tidak ingin ada seorangpun yang mampu menyentuh hatinya. Dirinya yang sudah kotor tidak akan pantas menerima cinta dari siapapun.


"Ta, mau ini?" tanya Andi sambil menunjuk arum manis di sampingnya.


"Mau, jangan warna pink ya, item aja kalau ada!"


"Ya mana ada Ta, arum pahit jadinya kalau warna item."


"Kenapa jadi arum pahit?"


"Gosong hahaha....."


"Hahaha..... iya juga ya, ya udah yang putih aja!


"Jangan Ta!"


"Kenapa lagi?"


"Kalau yang putih hambar, yang pink rasa stroberi, yang hijau rasa melon," jawab Andi.


"Emang iya?"


"Iya," jawab Andi dengan mengangguk penuh keyakinan.


"Terserah kamu aja lah!"


Andipun membeli arum manis dengan warna pink lalu memberikannya pada Aletta. Mereka duduk di atas rumput bersama dengan beberapa orang lainnya. Di sekelilingnya banyak wahana permainan dengan lampu lampunya yang berwarna warni.


"Nggak ada rasa stroberinya," ucap Aletta setelah memakan arum manis di tangannya.


"Masak sih?"


"Iya, nih cobain!" jawab Aletta sambil menyuapkan arum manis dari tangannya pada Andi.


"Mmmm, iya ya, berarti aku salah, emang kayak gini semua rasanya," ucap Andi tanpa rasa bersalah.


Aletta diam sesaat lalu menghujani Andi dengan pukulan pukulan di lengannya.


"Hahaha..... kamu kok percaya aja sih!"


"Ya aku kan nggak tau Ndi!"


"Serius nggak tau?"


Aletta mengangguk.


"Masa kecilku sama kamu beda," ucap Aletta.


"Kamu mau cerita?"


Aletta menggeleng.


"Oke, oh ya gimana tadi hasil fotonya?"


"Bagus kok, cek aja!"


Andi dan Aletta lalu mengecek hasil jepretan Andi beberapa waktu lalu. Meski belum mahir, namun hasil foto Andi sudah bagus untuk seseorang yang baru pertama kali memegang kamera.


"Ta, aku mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Andi yang mulai serius.


"Tanya apa?"


"Soal kamu sama Rizki, tapi kalau kamu nggak mau jawab nggak papa, aku nggak akan maksa kamu!"


"Soal ucapan Rizki kemarin?"


Andi hanya diam, ia mengangguk pelan.


"Dia nggak bohong, semua yang dia bilang itu bener, cuma kamu yang tau soal itu, jadi aku harap nggak ada lagi selain kamu yang tau, nggak papa kalau setelah ini kamu nggak mau lagi temenan sama aku, aku emang bukan cewek baik baik, aku cuma cewek penuh dosa yang......." Aletta menghentikan ucapannya karena Andi yang tiba tiba memeluknya.


"Aku pastiin nggak akan ada yang tau selain aku dan aku nggak akan pergi cuma karena hal itu," ucap Andi dengan masih memeluk Aletta.


"cuma karena hal itu?" batin Aletta.


Aletta lalu mendorong Andi, memaksa Andi melepaskan pelukannya. Ia harus bisa menjaga hatinya dan pelukan Andi akan dapat menggoyahkan dinding pertahanannya.


"Makasih Ndi," ucap Aletta.


Andi menggengam tangan Aletta dan membawa pandangannya menatap langit malam yang bertabur bintang.


"Kamu liat bintang di sana Ta?" tanya Andi.

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


"Kamu sama kayak bintang bintang itu," jawab Andi.


"Kecil dan jauh," ucap Aletta.


"Bukan, aku pernah baca tentang filosofi bintang, bintang bisa memancarkan cahaya atau potensinya sendiri tanpa harus mengharapkan yang lain, jadi lahirlah sang bintang yang ceria, jenaka, percaya diri dan selalu optimis dan itu yang aku liat dari kamu," jelas Andi.


"Apa aku kayak gitu?" tanya Aletta.


"Iya, kamu selalu ceria, percaya diri, optimis dan kadang konyol, kamu selalu bisa bikin aku ketawa," jawab Andi.


Aletta hanya tersenyum dengan memandang langit.


"Walaupun aku tau, ada sesuatu yang kamu simpan di hati kamu, tapi kamu selalu sembunyiin itu dengan baik, kamu cewek yang tangguh Ta!"


"Tapi aku pernah nangis di depan kamu, memalukan banget," ucap Aletta.


"Kenapa harus malu? kamu bisa nangis sepuasnya di depanku dan aku akan peluk kamu setelah itu," ucap Andi dengan menatap Aletta, namun Aletta masih menatap nanar ke langit gelap.


"Kenapa kamu selalu peluk aku?"


"Karena aku nggak mau kamu sedih, Aletta yang aku kenal itu cewek barbar, jadi kalau aku liat kamu nangis pasti ada sesuatu yang bener bener bikin kamu sedih, walaupun aku nggak bisa hilangin kesedihan kamu, aku berharap bisa bikin kamu lupain kesedihan kamu."


"kenapa Ndi? apa kamu nggak sadar kalau ucapan kamu itu bikin aku semakin berharap? jangan bikin aku ragu sama keputusanku untuk pergi Ndi," ucap Aletta dalam hati dengan membawa pandangannya ke arah Andi. Saat itu juga Andi menoleh ke arahnya, membuat mata mereka bertemu, saling menatap untuk beberapa saat.


Andi tersenyum dan semakin menggengam tangan Aletta di atas rumput. Aletta segera mengalihkan pandangannya. Hatinya benar benar dalam mode siaga, ia harus berusaha lebih keras lagi untuk menjaga hatinya.


Tak dapat dipungkiri, Aletta merasa bahagia, sangat bahagia hingga ia tak ingin melewatkan malam itu.


Sedangkan Andi, ia merasa bahagia karena melihat Aletta yang kembali ceria. Entah kenapa ia merasa sangat frustrasi ketika Aletta mencampakkannya. Ia seperti tidak ingin jauh dari Aletta. Melihat Aletta menangis seperti ada jarum jarum kecil yang tajam menusuk hatinya, terasa sakit dan pedih. Ia ingin gadis di sebelahnya itu selalu bahagia, ia ingin selalu melihat senyumnya, canda tawanya dan keceriaannya.


Andi menoleh ke arah Aletta tepat saat Alettae menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu, ada banyak rasa indah yang terpancar dari dua pasang mata yang saling menatap di bawah hamparan bintang yang ceria.


**


Di tempat kos.


Dini merasa sangat bosan karena seharian penuh ia di dalam kamar. Ia menunggu Andi pulang, namun sampai jam 7 malam, Andi tak kunjung pulang. Sudah berkali kali Dini mencoba menghubungi Andi, namun tak pernah ada jawaban. Itu karena ponsel Andi yang sedang dalam mode diam sehingga ia tidak mengetahui jika Dini menghubunginya.


"kamu kemana sih Ndi?"


Dinipun keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur. Di sana sudah ada Nico yang sedang memasak mie instan.


"Kamu nggak sama Andi Nic?" tanya Dini pada Nico.


"Enggak, gue pulang duluan tadi," jawab Nico.


"Kamu tau Andi kemana? aku nggak bisa hubungin dia!"


"Kemana?"


"Ntar gue tanyain bola ajaib gue hahaha...." jawab Nico asal.


Dini lalu duduk di sudut dapur.


"apa ada yang kamu sembunyiin dari aku Ndi? apa kamu sama Aletta udah jadian? kenapa kamu nggak bisa aku hubungin waktu kamu lagi sama Aletta? buat jaga perasaannya? biar dia nggak cemburu?"


"Kenapa Din? lo cemburu?" tanya Nico.


"Enggaklah Nic," jawab Dini cepat.


"Gimana lo sama Dimas? lancar?"


"Apanya yang lancar Nic, aku sama dia cuma......." Dini menghentikan ucapannya ketika tiba tiba ia mendengar suara gaduh di depan kosnya.


"Eh, ada apa tuh, gue kesana dulu ya!" ucap Nico setelah mematikan kompornya.


Dini lalu beranjak dari duduknya dan kembali ke kamarnya. Ia kembali sibuk dengan buku bukunya. Tak lama setelah itu, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia segera membuka pintu kamarnya, berharap jika itu adalah Andi. Namun ternyata bukan.


"Dimas Din, dia....."


"Aku nggak mau ketemu dia," ucap Dini lalu menutup pintu kamarnya, namun Nico menahannya.


"Dia di bawah Din, dia....."


"Aku nggak mau ketemu dia Nic," ucap Dini dengan masih berusaha menutup pintu kamarnya.


"Dia kecelakaan," ucap Nico.


Mendengar ucapan Nico, Dini segera keluar dari kamarnya dan berlari ke bawah. Di teras, sudah ada beberapa teman kosnya yang mengerumuni Dimas. Mereka lalu pergi satu per satu ketika melihat Dini datang. Dini melihat Dimas yang terkapar di teras kosnya dengan darah yang masih keluar dari keningnya yang terluka. Dimas terpejam, beberapa luka kecil tampak di sekitar wajahnya.


"Nic, anterin dia ke rumah sakit Nic!" pinta Dini pada Nico yang berdiri di belakangnya.


"Buat apa? cuma luka gitu doang!" balas Nico.


"Tapi dia pingsan Nic, please tolongin!"


"Males ah, gue mau makan dulu ya!"


"Kok malah ditinggal sih, Nic please!"


"Bye Din," balas Nico dengan melambaikan tangannya lalu masuk ke dapur mengambil mie buatannya.

__ADS_1


Dini menoleh ke sekitarnya, sepi, tak ada siapapun di sana.


"Dimas, bangun Dim, aku mohon bangun," ucap Dini yang mulai khawatir.


Memang luka Dimas tidak begitu parah, tapi mengingat Dimas yang pernah mengalami koma karena kecelakaan, membuat Dini begitu khawatir.


"Apa aku harus hubungin mama kamu? atau papa kamu? atau Andi? atau siapa? aku nggak tau," tanya Dini pada dirinya sendiri.


Ia mengotak atik ponselnya, mencari daftar kontak yang akan ia hubungi. Namun tiba tiba, tangan Dimas memegang tangannya.


"Kamu khawatir?" tanya Dimas dengan senyum manisnya.


"Dimas, kamu......"


"Aku nggak papa kok," ucap Dimas lalu bangun dan duduk.


"Tapi tadi kamu......"


Dimas hanya tersenyum dengan menunjukkan barisan giginya.


"Kamu bohong? kamu nggak pingsan?"


Dimas menggeleng masih dengan tersenyum.


"Ini juga bohong?" tanya Dini dengan menyentuh luka di kening Dimas dengan kasar.


"Aaawww, ini beneran Andini, aduuuhhh......"


"Enggak, ini pasti akal akalan kamu aja kan? aku nggak peduli lagi sama kamu!" ucap Dini lalu berdiri meninggalkan Dimas.


"Aku korban tabrak lari Andini, kamu nggak kasian sama aku? kamu nggak takut aku kenapa napa?"


"Bodo amat," jawab Dini pelan lalu kembali ke kamarnya.


Beberapa waktu yang lalu, Dimas sengaja berjalan kaki untuk menemui Dini. Tepat di depan tempat kos Dini, seorang pengendara sepeda motor menabraknya lalu pergi begitu saja. Dimas terjatuh dan membentur batu di pinggir jalan. Melihat hal itu, beberapa orang langsung menolong Dimas. Nico yang mengetahui jika itu adalah Dimas segera membawa Dimas ke teras kosnya.


Dimas memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan maaf dari Dini. Ia pun meminta Nico untuk memanggil Dini dan ia berpura pura pingsan. Ia juga meminta semua yang ada di sana untuk tidak mempedulikan Dini jika Dini meminta tolong.


Setelah Dini mengetahui jika Dimas hanya berpura pura pingsan, ia sedikit lega karena itu berarti Dimas baik baik saja. Ia hanya kesal karena Dimas membuatnya begitu khawatir.


Dengan kaki yang masih terasa sakit, Dimas berjalan tertatih tatih menuju ke kamar Dini.


"Andini, aku minta maaf," ucap Dimas setelah mengetuk pintu kamar Dini beberapa kali.


"Aku emang nggak pingsan tadi, tapi aku beneran kecelakaan, aduuuhhh... kakiku sakit banget Andini, rasanya nggak bisa buat berdiri," ucap Dimas berusaha menarik perhatian Dini.


Dini yang dari tadi mencoba untuk tidak peduli akhirnya membukakan pintu kamarnya dan melihat Dimas yang bersimpuh di depan kamarnya.


"Kamu bohong lagi?" tanya Dini.


"Enggak Andini, kakiku sakit banget, aku nggak bisa berdiri," jawab Dimas dengan merintih kesakitan.


Dini segera membantu Dimas berdiri dan membawanya ke dalam kamar. Dini segera membersihkan luka di kening Dimas.


"Angkat celana kamu!" perintah Dini.


"Kamu mau ngapain? kamu....."


"Buang pikiran kotor kamu itu Dimas Raditya!"


"Hehehe, oke oke!"


Dimaspun mengangkat celana bagian bawahnya. Terlihat memar di kedua betis dan pergelangan kaki Dimas.


Dini kemudian memijitnya perlahan, membuat Dimas mengerang kesakitan.


"Jangan manja!" ucap Dini dengan memukul pelan betis Dimas.


"Sakit sayang, aduhhhh......"


"Jangan panggil aku kayak gitu!"


"Bukannya dari dulu aku panggil kamu sayang?"


"Iya dulu, sebelum kamu jadi tunangan Anita!"


"Mulai deh, aku kan udah bilang jangan bahas dia kalau lagi sama aku!"


Dini lalu mengencangkan pijatannya membuat Dimas kembali menjerit kesakitan.


"Aaaaaaaaa...... kamu mau bunuh aku Andini?"


"Iya!" jawab Dini lalu duduk di ranjangnya.


"Jahat banget sih," balas Dimas.


"Kamu ngapain lagi sih kesini? kamu nggak takut Anita marah marah lagi sama kamu?"


"Jangan....."


"Anita Anita Anita Anita Anita Anita Anita....." ucap Dini yang sengaja membuat Dimas kesal.


Dimas yang saat itu duduk di kursi segera berdiri dan hendak menutup mulut Dini, namun karena kakinya yang masih sakit, ia malah terjatuh dan menindih tubuh Dini.

__ADS_1


Dini hanya bisa diam. Berada dekat dengan Dimas selalu berhasil membuatnya membeku. Begitu juga dengan Dimas, detak jantung mereka seolah bergenderang dengan kerasnya.


Malam itu, dua pasang mata saling menatap dengan ribuan kata yang tak mampu terucap. Debar debar cinta kembali menggebu menjalari setiap sudut hati dan jiwa. Mereka diam, membiarkan hati menyesap rindu akan kebersamaan indah yang telah mereka berdua lalui.


__ADS_2