
Mentari pagi menyapa dengan hangatnya. Andi dan Dini sudah bersiap untuk pulang ke rumah dan menginap selama dua hari.
Dini keluar dari kamarnya dengan membawa tas ransel yang berisi pakaian ganti dan barang barang pribadinya yang akan ia butuhkan ketika menginap di rumah Andi nanti.
"Mau kemana Din?" tanya Aletta yang juga baru saja keluar dari kamar.
"Mau pulang ke rumah Ta, ke rumahnya Andi sih tepatnya," jawab Dini lalu turun ke lantai satu.
"pulang ke rumah Andi?"
Aletta lalu mengikuti Dini turun.
Di teras sudah ada Andi yang tampak sudah siap untuk berangkat. Aletta lalu mengikuti Dini untuk menghampiri Andi.
"Mau pulang Ndi?" tanya Aletta pada Andi.
"Iya Ta, mau ikut?"
"Berapa hari? kapan baliknya?"
"2 hari aja kok, kenapa? udah kangen?"
"Emang kalau aku kangen kamu bakalan cepet balik?"
Andi diam, ia bingung harus menjawab apa. Candaan yang ia lempar seperti mendapat epic comeback dari Aletta.
Sedangkan Dini hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Aletta.
"Kamu kok nggak bilang dari kemarin sih kalau mau pulang?" tanya Aletta.
"Sorry Ta, aku lupa gara gara terlalu fokus sama tugas yang udah mepet deadline nya."
"Cuma 2 hari kok Al, Andi pasti balik lagi, jangan khawatir," ucap Dini pada Aletta.
"Bukan khawatir Din, cuma......"
"Kangen ya?" tanya Dini.
"Haha.... apa apaan sih kalian ini, udah sana berangkat, ntar telat loh!" balas Aletta canggung.
Andi lalu berdiri di depan Aletta dan memegang kedua pipi Aletta.
"Kamu jaga diri baik baik ya, hubungin aku kalau ada apa apa," ucap Andi dengan menatap mata Aletta.
Aletta hanya bisa mengangguk pelan. Ia seperti lupa caranya berbicara. Jantungnya kembali mendetakkan nada nada cinta yang menggebu.
"Dan jangan nangis selagi aku nggak ada," ucap Andi berbisik di telinga Aletta, membuat Aletta semakin salah tingkah. Ia yakin pipinya sudah merah saat itu.
Dini yang melihat hal itu hanya bisa mengalihkan pandangannya. Ada sesak yang ia rasakan di hatinya. Ia tidak pernah melihat Andi sedekat itu dengan perempuan lain sebelumnya. Bahkan ketika Andi dekat dengan Anita, Andi tak pernah menunjukkan kedekatannya di depan Dini.
"cemburu? enggak, ini bukan cemburu," batin Dini dalam hati.
Tiiiiinn Tiiiiin Tiiiiinn
Suara klakson membuat mereka mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Di sana sudah ada Dimas yang melambaikan tangannya dengan senyum manisnya.
Dimas lalu turun dari mobilnya.
"Butuh supir nggak?" tanya Dimas.
Dini lalu berlari kecil menghampiri Dimas dan memeluknya, membuat Dimas sedikit terkejut. Dimas membalas pelukan Dini dan semakin erat memeluknya. Seperti ada salju yang meleleh di hatinya, terasa dingin dan membahagiakan. Untuk pertama kalinya setelah mereka berpisah, Dini memeluk Dimas terlebih dahulu. Itu membuat Dimas sangat bahagia, ia semakin yakin akan jalan takdirnya yang akan menyatukan mereka.
"Ada apa sayang?" tanya Dimas dengan masih memeluk Dini.
Dini menggeleng. Ia hanya ingin menjauh dari Andi dan Aletta, ia memeluk Dimas berharap rasa yang menyesakkan di dadanya akan hilang. Ia lalu melepaskan Dimas dari pelukannya.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dini.
"Mau nganterin kamu sama Andi, nggak papa kan?"
Dini mengangguk lalu menarik tangan Dimas untuk masuk ke mobil.
Sedangkan Andi dan Aletta masih berdiri di tempatnya. Andi hanya tersenyum tipis melihat Dini memeluk Dimas. Hal itu sudah sering terjadi, ia sudah sering melihat hal yang menyakiti hatinya seperti itu. Matanya memang sudah terbiasa, tapi hatinya masih terasa sakit setiap melihatnya.
"Aku berangkat dulu ya," ucap Andi dengan mengusap rambut Aletta.
Aletta mengangguk dan tersenyum.
"kamu cemburu Ndi? iya, aku tau kamu cemburu, semangat Aletta, setidaknya ada kebahagiaan yang aku simpan sebelum aku pergi," ucap Aletta dalam hati.
"Lo tau kita mau pulang?" tanya Andi pada Dimas setelah ia duduk di bangku belakang.
"Tau dong, nggak ada yang gue nggak tau," jawab Dimas.
"Gimana kaki kamu, udah sembuh?" tanya Dini pada Dimas.
"Udah kok, udah bisa gendong kamu," jawab Dimas dengan mengedipkan sebelah matanya pada Dini.
"Please dong guys, jangan bikin gue jadi jomblo menderita di sini," sahut Andi.
__ADS_1
"Hahaha.... lo kelamaan jomblo sih!"
"Prinsip gue, pacaran sekali terus nikah, jadi nggak sembarangan pacaran," balas Andi.
"Gimana kalau Aletta?"
"Maksud lo?"
"Aletta cantik kan?" tanya Dimas.
"Cantik lah, dia kan cewek," jawab Andi.
"Lo suka?"
"Gue nggak ngerti deh, kenapa kalau gue deket sama Aletta dikiranya suka, padahal kan kita cuma......."
"Itu karena kamu deket banget sama dia, deket banget sampe' orang liatnya kayak pacaran, padahal kita tau kalau kamu susah deket sama cewek, bahkan waktu kamu sama Anita kamu nggak sedeket kayak sama Aletta, kamu sampe' nggak mau angkat telfon ku, nggak ngabarin aku, kamu lupa sama aku," ucap Dini yang tampak emosi.
"Nggak gitu Din, aku kan udah bilang, HP ku di tas, aku nggak tau kalau kamu telfon, aku keluar sama dia juga buat ngerjain tugas yang udah mepet deadline nya," ucap Andi memberi penjelasan.
"Tapi kamu emang deket banget sama dia Ndi, aku kenal banget sama kamu, aku tau kamu lebih dari siapapun, kamu nggak pernah kayak gitu sebelumnya, kamu....."
CKIIIIITTTTT.....
Dimas menginjak rem mobilnya tiba tiba, membuat Dini dan Andi sedikit tersentak ke depan, beruntung mereka tidak membentur apapun saat itu.
"Kamu cemburu?" tanya Dimas pada Dini.
Mendengar ucapan Dini tentang kedekatan Andi dan Aletta membuat Dimas cemburu. Ia merasa jika Dini sedang cemburu saat itu. Jika Dini cemburu, bukankah itu berarti Dini memiliki perasaan yang lebih pada Andi? rasa sayang dan cinta yang lebih dari sahabat.
"Lo bisa nyetir nggak sih, ini jalan raya Dim, gila lo?"
"Andini, jawab aku!" ucap Dimas yang tak menghiraukan ucapan Andi dan menarik wajah Dini untuk menoleh ke arahnya.
Dini hanya diam. Ia tidak mengerti pada hatinya. Ia mencintai Dimas, tapi ia juga tidak ingin kehilangan Andi. Sangat berat baginya untuk melepaskan Andi menjadi milik orang lain. Tak pernah terbayangkan bagaimana jika Andi akan benar benar pergi dan mencampakkannya demi perempuan lain.
Tapi dalam hatinya, ia mencintai Dimas. Ia sudah memilih Dimas sebagai pemilik hatinya.
"Lepas Dim, lo nyakitin dia," ucap Andi dengan menarik tangan Dimas yang memegang kedua pipi Dini dengan satu tangannya.
Dimas hanya tersenyum kecut dan memukul setir mobilnya, melampiaskan emosi yang membuncah di dadanya.
"Dimas, jangan salah paham," ucap Dini menarik tangan Dimas ke dalam genggamannya.
Namun Dimas menarik tangannya dari genggaman Dini, ia memegang setir mobil dan menyandarkan kepalanya di atas setir mobilnya.
"aku tau Andi suka sama kamu Andini, aku tau dia punya perasaan yang sangat dalam buat kamu, tapi apa kamu juga punya perasaan yang sama sama Andi? apa kamu mulai jatuh cinta sama dia? "
"Dimas, aku cuma......."
"Kamu nggak perlu jelasin apa apa Andini," ucap Dimas lalu kembali melajukan mobilnya ke arah rumah Andi.
Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan lagi diantara mereka bertiga. Andi juga hanya diam. Semua menjadi canggung.
Sesampainya di depan rumah Andi, Dimas hanya diam di balik kemudinya. Ia membiarkan Dini dan Andi keluar. Ia sengaja tidak membukakan pintu untuk Dini. Tanpa basa basi, Dimas lalu meninggalkan rumah Andi. Bahkan Andi dan Dini belum sempat berterima kasih pada Dimas.
"Nanti aku bantu jelasin sama dia," ucap Andi pada Dini.
Dini mengangguk tak bersemangat.
"Jangan sedih dong Din, kita kan mau liburan, walaupun cuma di rumah hehe....."
Dini tersenyum tipis lalu mengikuti Andi masuk ke rumahnya.
"Akhirnya pulang juga kalian, ibu udah kangen banget sama kamu Din, ibu beberapa kali ke kosnya Andi tapi nggak pernah liat kamu," ucap Bu Joko, ibu Andi.
"Dini kan banyak kegiatan di kampus Bu!" sahut Andi.
"Ya udah kalau gitu kalian masuk dulu ke kamar, ibu siapin makan dulu!"
"Andi tidur di mana Bu?" tanya Andi pada ibunya.
"Di kamar kamu lah, tapi Dini di kasur, kamu di lantai, ibu udah siapin kasur lantai buat kamu tidur!"
"Kita satu kamar?" tanya Dini berbisik pada Andi.
Andi menaikkan kedua bahunya lalu membuka pintu kamarnya.
"Kayaknya iya deh Din," ucap Andi begitu ia melihat kondisi kamarnya.
Di atas tempat tidurnya ada bantal, guling dan selimut. Di lantai kamarnya sudah ada kasur lantai yang sedikit tipis dengan bantal, guling dan juga selimut.
"Kalian dulu kan juga sering tidur bareng!" ucap Bu Joko dari dapur.
"Tapi kan dulu masih kecil bu," balas Andi.
"Apa bedanya, kamu pikir kamu udah dewasa? bagi ibu kalian tetap anak anak ibu yang masih kecil," balas Bu Joko yang berjalan ke kamar Andi.
"Kamu nggak keberatan kan Din kalau tidur satu kamar sama Andi?" tanya Bu Joko pada Dini.
__ADS_1
"Ee.... enggak bu, maaf Dini jadi ngrepotin," jawab Dini.
"Kamu itu udah ibu anggap anak sendiri, adiknya Andi, jadi jangan sungkan sungkan lagi, anggap rumah sendiri," balas Bu Joko.
"Terima kasih Bu."
Bu Joko mengangguk lalu kembali ke dapur.
Setelah menata barang bawaan mereka dan makan, Andi dan Dini pergi ke bukit.
"Rasanya udah lama banget ya Ndi nggak lewat jalan ini!"
"Iya, dulu hampir tiap hari lewat jalan ini."
Sesampainya di bawah bukit, mereka segera naik. Tak ada yang berubah dari bukit itu. Masih sepi dan indah, seperti memang tempat itu hanya untuk Dini dan Andi.
Mereka lalu duduk berdua bersandar di bawah pohon yang rindang. Dini lalu menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Aku minta maaf Ndi," ucap Dini pada Andi.
"Buat?"
"Soal tadi, aku......."
"Kamu nggak suka aku deket sama Aletta?"
"Enggak, bukan gitu, Aletta baik, dia pantas buat kamu, aku cuma takut dia bikin kamu jauh dari aku, maaf kalau aku punya pikiran buruk kayak gini."
Andi lalu mengangkat kepala Dini dari bahunya, memegang kedua pipi Dini dan menatapnya.
"Din, aku tanya sama kamu, kamu percaya sama aku?"
Dini mengangguk.
"Kalau gitu dengerin aku, aku sayang sama kamu, kamu adalah hal terindah di hidupku, aku nggak peduli sama apapun atau siapapun di luar sana yang lebih dari kamu, buat aku kamu tetep yang terindah dan satu satunya yang terpenting di hidupku, aku nggak mungkin pergi, aku nggak mungkin ninggalin kamu, aku akan selalu ada buat kamu, nggak ada seorang pun yang bisa pisahin aku dari kamu," ucap Andi bersungguh sungguh.
"Karena persahabatan kita lebih indah dari apapun," lanjut Andi dengan suara tertahan. Kata "sahabat" yang dia ucapkan seperti menggores hatinya.
Ia lalu memeluk Dini, membawa Dini melupakan hal hal yang menjadi beban pikirannya.
"iya, kita sahabat dan persahabatan kita lebih indah dari apapun, maaf Ndi, maafin hati aku yang egois," ucap Dini dalam hati.
Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya, ia mengusap pelan rambut Dini.
"Jangan dijadiin beban ya," ucap Andi.
Dini mengangguk lalu kembali menyadarkan kepalanya di bahu Andi.
"Kamu sama Dimas gimana?" tanya Andi.
"Nggak tau, rumit," jawab Dini.
"Kamu inget nggak waktu kita masih SD, Dimas sering jahil sama kamu dan kamu selalu nangis, kalau dipikir pikir sama kayak sekarang, dia sering bikin kamu nangis," ucap Andi.
"Bedanya sekarang ada cinta, kalau dulu nggak ada dan mau dulu atau sekarang kamu tetep super hero aku," ucap Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Andi.
Andi hanya tersenyum dan menatap Dini.
"sekarang semuanya berubah, Dimas yang dulu sangat kamu benci, sekarang dia yang paling kamu cintai, Anita yang dulu adalah teman baik, sekarang anggap kamu musuh, Nico yang dulu selalu humoris, sekarang jadi penuh ancaman, Aletta yang dulu barbar dan ceria, sekarang sering nangis, banyak hal yang berubah tapi kenapa aku enggak? kenapa aku masih sangat mencintai kamu Din? kenapa rasa ini masih ada dalam hatiku?"
"Ndi, aku mau tanya sesuatu tapi kamu jawab jujur ya?"
"Aku selalu jujur tanpa kamu minta," jawab Andi.
"Kamu suka sama Aletta? kalau dulu kamu anggap dia teman biasa, apa sekarang masih sama?"
Andi diam beberapa saat sebelum menjawab.
"aku baru sadar kalau aku juga berubah, Aletta, cewek barbar yang selalu bikin aku ketawa, apa aku suka sama dia? suka sebagai teman biasa? tapi kenapa aku nggak mau dia pergi? entahlah!"
"Andi, jawab!" ucap Dini yang menyadari jika Andi melamun.
"Kamu mau aku jawab apa Din?"
"Ya jawab sesuai sama apa yang kamu rasain Ndi!"
"Kamu udah pernah tanyain ini Din, aku juga udah jawab!"
"semuanya bisa berubah Ndi, termasuk hati kamu. Aku nggak akan cegah kamu, aku percaya sama kamu. Aku yakin persahabatan kita yang indah ini akan selamanya ada. Walaupun kita harus berjarak, tapi persahabatan kita akan tetep deket, aku, kamu, Dimas, Aletta atau siapaun yang akan jadi masa depan kamu nanti, kita akan tetep bersahabat, selamanya,"
"Semuanya bisa berubah Ndi, kamu tau itu kan?"
"Iya, aku tau."
"Jadi?"
"Apa kamu nggak keberatan kalau aku suka sama Aletta? bukan cuma suka, tapi juga sayang bahkan mungkin cinta, gimana?"
Dini terdiam mendengar pertanyaan Andi. Jantungnya berdetak memburu. Dia baru saja merelakan Andi untuk perempuan lain, tapi mendengar pertanyaan Andi membuatnya kembali merasakan sesak yang menghimpit dadanya.
__ADS_1