Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Permintaan Maaf


__ADS_3

Malam semakin larut, bulan dan bintang masih bersemangat memancarkan sinar mereka di atas bentang gelap langit malam.


Anita masih berada di depan mini market bersama Andi. Ia benar benar memikirkan ucapan Andi.


"Udah malem Nit, aku anter kamu pulang ya!" ucap Andi pada Anita.


"Aku bisa pulang sendiri, kamu pulang duluan aja!"


"Mana mungkin aku biarin kamu sendirian malem malem gini, ayo aku anter!"


Anita mengalah, mereka lalu meninggalkan mini market dan berjalan bersebelahan di trotoar jalan raya.


"Pacar kamu nggak marah nih kalau kamu sama aku?" tanya Anita.


"Pacar? pacar yang mana? nggak ada!"


"Udah putus?"


Andi hanya menganggukkan kepalanya tanpa berbicara.


"Dia yang mutusin ya?"


"Kok tau?"


"Udah ketebak, dia pasti nggak tahan liat kamu sama Dini!"


"Hmmmm, aku emang salah udah biarin dia berharap terlalu jauh!"


"Tapi kenapa kamu nganterin aku sekarang?" tanya Anita.


"Aku cowok normal Nit, mana mungkin aku biarin cewek yang aku kenal jalan sendirian malem malem!"


"Beneran karena itu?"


"Iya lah, kamu pikir apa?"


"Jangan jangan kamu belum move on dari aku hehehe... "


"Pede banget ya kamu!" balas Andi dengan mengacak acak rambut Anita.


Mereka lalu bercerita banyak hal dan tertawa. Anita merasa lega karena akhirnya ia mempunyai teman berbicara dan tertawa. Entah sejak kapan ia merasa hidupnya begitu gelap.


Ambisinya untuk memiliki Dimas telah menjeratnya begitu jauh ke dalam lubang hitam yang ia ciptakan sendiri.


Sesampainya di depan apartemen Anita, Andi segera berpamitan pulang.


"Nggak mau mampir dulu?" tanya Anita.


"Lain kali aja, Dini udah nungguin ini!" jawab Andi dengan memperlihatkan pembalut yang ia beli.


"Ya udah kalau gitu, makasih udah dianterin!"


Andi mengangguk lalu pulang.


Di perjalanan pulang, ia bertemu Aletta yang sedang berjalan bersama Nico di trotoar.


"Dari mana aja jam segini baru keliatan?" tanya Andi pada Nico.


"Lo jangan bawel kayak emak emak deh!" balas Nico.


"Kamu beli pembalut buat siapa? Dini?" tanya Aletta pada Andi.


"Iya, hehehe...."


"Yaaahhh, bucin banget sih lo!" sahut Nico mengejek.


"Bodo amat, gue duluan ya, Dini udah nunggu kayaknya, bye!"


Andi lalu berlari meninggalkan Nico dan Aletta. Ia baru sadar jika ia terlalu lama mengobrol bersama Anita di mini market, belum lagi mengantarkan Anita pulang, itu sangat memakan waktu.


"Bener bener bucin," ucap Nico dan Aletta bersamaan, mereka lalu kompak menoleh dan tertawa bersama.


Sesampainya Andi di kos, ia segera pergi ke kamar Dini dan mengetuk pintu kamarnya. Tak lama kemudian Dini keluar dengan wajah cemberut.


"Beli dimana sih? di luar kota?" tanya Dini kesal.


"Hehehe, maaf Din!" jawab Andi sambil menyodorkan pembalut pesanan Dini.


Dini hanya menerima tanpa berterima kasih lalu menutup pintu kamarnya dengan kencang. Andi hanya terkekeh lalu segera turun.


"emang cewek imut kayak kucing bisa jadi harimau kalau lagi dapet hehehe...." ucap Andi dalam hati.


Andi lalu masuk ke kamarnya dan mulai belajar. Ia juga masih mempelajari buku psikologi yang dibelinya. Tak mudah memang, tapi ia tidak menyerah.


**


Mentari menyapa pagi hari dengan sinar hangatnya. Seperti biasa, Dimas sudah berada di kos Dini. Ia duduk di teras bersama Andi dan Nico.


Setelah Dini datang mereka segera berangkat.


"Kalian duluan aja, gue nunggu Aletta!" ucap Nico pada teman temannya.


"Nggak sekalian bareng? Aletta juga ada kelas pagi kan?" tanya Dini.


"Iya sih, tapi kalian duluan aja ya!"


"Gue mau jalan sama Aletta," lanjut Nico dengan berbisik yang langsung dipahami oleh mereka semua.


"Ya udah kalau gitu, kita duluan ya Nic!" balas Dini yang diikuti anggukan kepala Nico.


Mereka lalu meninggalkan Nico dan masuk ke dalam mobil. Karena mereka bertiga, Dini memilih untuk duduk di kursi belakang, sedangkan Andi duduk di kursi depan bersama Dimas yang memegang kemudi.


"Gue rasa Nico suka sama Aletta deh!" ucap Dimas dengan membawa pandangannya pada Andi.


"Kenapa lo liatin gue?" tanya Andi yang merasa di perhatikan Dimas.


"Lo nggak cemburu kan?"

__ADS_1


"Enggak lah, ngapain gue cemburu?" balas Andi.


"Waktu lo liat mereka di pantai, lo nggak cemburu?"


"Enggak, mereka kan emang udah lama kenal, jadi wajar kalau mereka deket!"


"tapi gue tetep cemburu liat lo sama Andini, walaupun gue tau kalian udah kenal lama," batin Dimas dalam hati.


"Kamu beneran nggak cemburu Ndi?" tanya Dini yang berada di kursi belakang.


"Beneran, emang kenapa sih?"


"Justru aneh kalau kamu nggak cemburu!" jawab Dini.


"Apanya yang aneh? bukannya malah baik kalau aku nggak cemburu, itu artinya aku percaya sama mereka, iya kan?"


Dini menggeleng cepat, ia lalu memajukan badannya dan berbisik di telinga Andi.


"Itu artinya kamu nggak beneran cinta sama dia," ucap Dini berbisik.


"Gue percaya sama kalian, tapi gue tetep cemburu liat kalian sedeket itu!" ucap Dimas pada Andi yang membuat Dini segera menjauh dari Andi.


CUUUPPP


Satu kecupan dari Dini mendarat di pipi Dimas, membuat Dimas begitu terkejut namun ia masih bisa mengendalikan mobilnya dengan baik.


"Maaf ya," ucap Dini dengan berbisik di telinga Dimas, lalu kembali ke tempat duduknya.


Dimas hanya bisa menelan ludahnya dengan berusaha fokus pada jalan di hadapannya. Sedangkan Andi juga tak kalah terkejutnya dengan Dimas. Ia sama sekali tidak menyangka Jika Dini akan melakukan hal itu di depannya.


Apa yang dilakukan Dini pada Dimas seperti sebuah tamparan keras bagi Andi. Karena secara tidak langsung Dini menjelaskan jika ia memang benar benar memilih Dimas dan tak akan ada harapan bagi Andi untuk memilikinya.


Sesampainya di kampus mereka segera berpencar seperti biasa.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Andi masih berada di kampus. Sedangkan Dimas dan Dini sudah meninggalkan kampus terlebih dahulu.


Andi mengeluarkan ponselnya, membuka penyimpanan kontaknya dan melihat satu nama yang ingin ia hubungi, namun ia ragu. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubunginya, namun tak ada jawaban.


Ia pun mengirimkan pesan teks pada nomer itu.


Maaf ganggu, kalau udah nggak sibuk, hubungin aku ya! Andi


Tak lama kemudian ponselnya berdering, sebuah panggilan yang tiba tiba membuatnya gugup.


"Halo, aku pikir kamu sibuk!" ucap Andi setelah menggeser tanda panah hijau di ponselnya.


"Enggak kok, aku baru pulang dari butik, kamu dimana?"


"Masih di kampus, tapi udah mau pulang sih!"


"Ada waktu buat ketemu nggak? ada yang mau aku tanyain sama kamu!"


"Bisa, di mini market kemarin ya!"


"Oke, bye!"


Andi pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lalu segera meninggalkan kampus.


Sesampainya Andi di mini market, sudah ada Anita yang melambaikan tangannya begitu melihat Andi datang. Andi lalu duduk di depan Anita.


"Minum dulu!" ucap Anita sambil memberikan satu botol minuman pada Andi.


"Thanks, maaf lama, kamu udah dari tadi?"


"Lumayan," jawab Anita.


"Kamu bilang tadi ada yang mau kamu tanyain, soal apa?"


"Soal ucapan kamu semalem, aku udah mikirin semuanya," jawab Anita.


"Jadi?"


"Aku ragu," ucap Anita.


"Ragu kenapa?"


"Aku udah bikin kafenya Dimas hancur Ndi, aku juga udah jahat sama Dini, semua yang aku lakuin itu hal yang buruk, Dimas sama Dini pasti benci banget sama aku!"


"Yang paling penting keyakinan kamu buat berubah Anita, aku yakin mereka akan maafin kamu," ucap Andi dengan menggenggam tangan Anita.


"Kamu yakin?"


"Kita coba aja dulu, aku akan temenin kamu ketemu mereka!"


"Kamu aja nggak yakin gitu!"


"Kamu nggak akan tau jawabannya kalau belum kamu coba Anita!"


"Iya sih, tapi kalau mereka nggak mau maafin aku gimana?"


"Itu masalah belakangan, yang penting ayo ketemu mereka dulu!" ucap Andi sambil menarik tangan Anita.


"Eh, kemana?"


"Ke kos ku, mereka pasti di sana!"


"Jangan sekarang Ndi, aku belum siap!"


"Hal baik nggak boleh ditunda Anita, ayo buruan!"


Anitapun terpaksa mengikuti Andi saat itu juga.


**


Di tempat kos, Dini dan Dimas sedang berada di dapur membuat mie instan.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu masih sering mimpi buruk?" tanya Dimas.


"Jangan mulai deh, kamu udah janji nggak akan tanyain hal itu lagi!"


"Iya, aku cuma tanya dikit hehe...."


"Kamu tenang aja, mimpi itu nggak akan ganggu aku kok, itu kan cuma mimpi, iya kan?"


"Iya sayang, tapi soal fobia kamu, apa kamu nggak ngerasa kalau itu ganggu kamu?"


Dini menggeleng.


"Andi selalu minta aku bawa handsfree kemana mana, kalau lagi hujan dia minta aku dengerin lagu kesukaanku lewat handsfree sambil pejamin mata, aku rasa itu udah cukup selesaiin masalah ku!"


"Kamu yakin?"


"Aku yakin Dimas, aku baik baik aja, nggak ada yang ganggu aku sekarang, kamu tenang aja!"


Dimas tersenyum lalu memeluk Dini dari belakang.


"Aku akan berusaha buat selalu ada di samping kamu sayang, aku akan selalu berusaha buat bikin kamu baik baik aja!"


"Makasih Dimas, tapi aku juga akan berusaha buat jaga diriku sendiri, seperti yang kamu bilang, kamu sama Andi nggak bisa selalu ada di sampingku, jadi aku juga harus bisa jaga diriku sendiri!"


"Bagus!"


Ketika Dimas akan mencium pipi Dini, suara deheman membuat Dimas mengurungkan niatnya.


"Ehem!"


"Lo ngapain sih Ndi, ganggu aja!" ucap Dimas kesal pada Andi yang tiba-tiba masuk.


"Ada yang mau ketemu kalian, buruan di selesaiin!"


"Siapa?" tanya Dini.


"Liat aja sendiri, gue tunggu di teras!"


Setelah mie matang, Dini segera menaruhnya di mangkuk lalu keluar dari dapur bersama Dimas. Mereka berjalan ke teras dengan ragu, mereka mengenal siapa gadis yang sedang bersama Andi di sana.


"Lo bilang ada yang cari kita, siapa?" tanya Dimas pada Andi.


Anita lalu segera berdiri di hadapan Dimas. Sedangkan Dimas menggenggam erat tangan Dini yang berada di sebelahnya.


"Dimas....."


"Bukan dia kan yang lo maksud?" tanya Dimas pada Andi, namun Andi hanya diam.


"Dimas aku ke sini mau ketemu kamu sama Dini, aku...."


"Kita pergi aja sayang!" ucap Dimas dengan menarik tangan Dini untuk pergi dari Anita.


"Aku mau minta maaf," ucap Anita setengah berteriak, membuat Dini menghentikan langkahnya dan menahan tangan Dimas.


"Aku nyesel dan aku minta maaf," ucap Anita.


"Ayo pergi sayang, jangan dengerin dia!" ucap Dimas dengan menarik tangan Dini namun Dini malah menahan Dimas agar tidak pergi.


"Sayang....."


Dini menggelengkan kepalanya di depan Dimas. Anita lalu menghampiri Dimas dan Dini.


"Aku tau aku udah banyak salah sama kamu Dimas, tapi aku bener bener nyesel, aku juga minta maaf sama kamu Din, aku tulus minta maaf sama kalian berdua," ucap Anita pada Dimas dan Dini.


"Setelah semua yang udah kamu lakuin dengan mudahnya kamu minta maaf? dimana hati kamu Anita?" balas Dimas yang tampak emosi.


"Cinta aku buat kamu bikin aku buta, aku sadar aku salah, aku sadar aku nggak bisa maksa kamu dan aku sadar kalau kamu emang cuma cinta sama Dini, maaf karena aku terlambat sadar, aku bener bener minta maaf," ucap Anita lalu melangkah pergi meninggalkan Dimas dan Dini.


Baru beberapa langkah, Dini berlari mengejar Anita dan menahannya lalu memeluknya.


"Aku juga minta maaf Nit, maaf kalau ada kata kata atau sikap ku yang menyinggung kamu," ucap Dini dengan memeluk Anita.


"Enggak Din, kamu nggak ada yang salah dari kamu, aku yang banyak salah sama kamu, sama Dimas, Andi dan semuanya, aku bener bener minta maaf Din, aku nyesel sama apa yang udah aku lakuin selama ini," balas Anita dengan air mata berlinang.


Ia tidak menyangka Dini akan memaafkannya semudah itu. Setelah semua usaha yang dilakukannya untuk memisahkan Dini dan Dimas, Dini kini dengan mudah ya memeluknya dan memberinya maaf.


Dini lalu membawa Anita pada Dimas. Ia berusaha membujuk Dimas agar memaafkan Anita, namun Dimas masih enggan untuk melakukan hal itu.


"Nggak papa Din, aku ngerti kenapa Dimas masih nggak bisa maafin aku," ucap Anita pada Dini.


"Guys, ini mie nya siapa nih?" tanya Aletta yang baru saja keluar dari dapur.


"Lo, lo ngapain di sini?" tanya Aletta ketika ia melihat Anita.


"Aku......"


Aletta lalu menarik tangan Dini, membawa Dini agar berdiri di belakangnya, sedangkan ia berdiri di depan Aletta dengan pandangan tak suka.


"Lo nggak bisa ganggu kita lagi ya sekarang!" ucap Aletta pada Anita.


"Suruh dia pergi Al, kamu ikut aku Din!" sahut Dimas sambil menarik tangan Dini dan diajak naik ke lantai dua.


"Aku cuma mau minta maaf sama mereka, berhubung ada kamu, aku juga minta maaf sama kamu," ucap Anita pada Aletta.


"Maaf? gampang banget lo minta maaf!"


Melihat situasi Aletta dan Anita yang tampak tegang, Andi segera menghampiri mereka.


"Tenang Ta, dia kesini cuma mau minta maaf kok," ucap Andi yang langsung berdiri di antara Anita dan Aletta.


"Minta maaf? kamu yakin dia mau minta maaf? aku sih enggak!" balas Aletta.


"Aku kesini karena niatku baik buat minta maaf sama Dimas dan Dini, kalau kamu nggak percaya itu terserah kamu, yang penting aku juga udah minta maaf sama kamu," ucap Anita.


"Dia beneran minta maaf Ta, seenggaknya percaya sama aku kalau kamu belum percaya sama dia!" ucap Andi pada Aletta.


"Aku harap kamu nggak salah Ndi, tapi sorry, maafku terlalu mahal buat cewek kayak dia!" ucap Aletta lalu pergi meninggalkan Andi dan Anita.

__ADS_1


__ADS_2