Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Toni dan Tiara


__ADS_3

Di kafe, Dimas segera masuk dan mencari Dini. Ia tau jika Dini pasti sudah berada di kafe karena jam sudah menunjukkan pukul 3 lewat 30 menit.


"Andini, bawa hot choco ke ruang kerja saya!" ucap Dimas pada Dini.


"Baik Pak!" jawab Dini patuh.


Dinipun membuatkan minuman pesanan bos nya itu dan segera membawanya ke ruang kerja.


Dini mengetuk pintu dan masuk ketika Dimas menyuruhnya masuk.


Ia meletakkan 1 cup hot choco di meja lalu segera keluar dari ruangan itu sebelum Dimas kembali memanggilnya.


"Andini!"


Dini menoleh dan kembali mendekat ke arah Dimas.


"Iya Pak!"


"Duduk!" perintah Dimas pada Dini.


Dinipun duduk. 5 menit 10 menit ia menunggu, Dimas masih diam, sibuk dengan laptop di hadapannya.


"Maaf, Pak saya........"


"Duduk dan diam saja!" ucap Dimas memotong kata kata Dini.


"terus aku ngapain di sini? nggak jelas banget ini orang!" batin Dini kesal.


"Kamu marah?" tanya Dimas tiba tiba.


"Eh, enggak Pak!"


Dimas menutup laptopnya dan memandang Dini intens, membuat Dini menunduk menghindari pandangan Dimas.


"Waktu di pantai, kenapa kamu begitu emosional waktu saya panggil kamu Andini, nama kamu Andini kan?"


"Saya biasa dipanggil Dini Pak!"


"Tapi saya lebih suka panggil kamu Andini, nggak masalah kan?"


Dini tersenyum tipis penuh kegetiran.


"kamu selalu panggil aku dengan nama itu Dimas, kamu nggak inget?"


"Saya harus balik ke depan Pak, permisi!" ucap Dini lalu berdiri.


"Stop!" ucap Dimas menghentikan langkah Dini.


"Mmmm, saya mau kamu beresin buku buku itu!" ucap Dimas dengan menunjuk sebuah rak buku.


"Tapi itu sudah rapi Pak!" protes Dini.


"Ini perintah!"


"Baik Pak!"


Dengan kesal Dini berjalan ke arah rak buku di sudut ruangan itu. Sedangkan Dimas hanya tertawa kecil melihat Dini yang tampak kesal karena perintahnya.


Ya, Dimas memang sengaja mencari alasan agar ia bisa berlama lama berada di dekat Dini. Entah kenapa hatinya selalu diliputi rasa bahagia ketika ia bersama Dini, bahkan hanya duduk berdua dalam satu ruangan tanpa ucap.


Getaran di hatinya selalu saja membuatnya gugup. Namun ia berusaha menyembunyikannya.


Dini berusaha mengambil buku di rak bagian paling atas. Kakinya berjinjit untuk mengambilnya namun tetap tak sampai. Dimas yang melihat itu segera berjalan mendekatinya dan mengambil buku yang hendak diambil Dini.


Jarak mereka begitu dekat, Dini mendongakkan kepalanya ketika wajah tampan itu menundukkan pandangannya pada Dini. Mata mereka bertemu, membuat detak jantung keduanya seakan berlomba adu cepat.


Mata Dini berkaca kaca, lelaki di hadapannya memandang dengan tatapan penuh cinta. Cinta yang sudah lama ia berusaha untuk lupakan. Cinta yang membuatnya terbang tinggi dan menjatuhkannya begitu saja. Cinta yang membuatnya lemah, bahkan setelah semua usaha yang dilakukannya, cinta itu tetap saja membuatnya menangis. Menangis karena telah kehilangannya, menangis karena usahanya yang tak akan berhasil untuk melupakannya.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas yang melihat air mata sudah memenuhi kedua sudut mata Dini.


Dini segera mengusap air matanya yang akhirnya jatuh. Lalu segera pergi meninggalkan Dimas.


"sadar Din, dia bukan Dimas yang dulu, ayo Dini kamu pasti bisa lupain dia, aaarrrgghhh kenapa aku harus nangis sih, ini pasti gara gara aku jomblo, iiisshh menyedihkan!" ucap Dini dalam hati sambil mengusap kasar air mata yang jatuh begitu saja.


"Kamu kenapa Din?" tanya Tari yang melihat Dini menangis.


"Nggak papa kak!" jawab Dini dengan tersenyum palsu.


"Dimarahin bos lagi ya?"


"Sabar ya," lanjut Tari sebelum Dini menjawab pertanyaannya.


Di ruang kerja, Dimas masih memikirkan Dini, memikirkan tentang kesalahan yang dilakukannya hingga membuat Dini menangis.


"apa dia menangis karena perintah ku? apa membereskan rak buku sangat kejam baginya? apa aku keterlaluan? apa....."


Biiippp biiippp biiippp


Dering ponselnya membangunkan lamunannya. Terlihat nama Anita di layar ponselnya, tapi dia mengabaikannya. Senyum cantik di layar ponselnya sama sekali tak menarik perhatiannya, apa lagi hatinya.


5 kali panggilan Anita diabaikan oleh Dimas, tapi Anita masih saja menghubunginya. Ia lalu memasukkan ponselnya ke dalam laci dan menutupnya kembali. Lalu kembali fokus pada laptop di hadapannya.


*****************

__ADS_1


Di D'First Cafe, seorang gadis cantik dengan rok plisket dan baju berlengan pendek bergambar kartun doraemon kesukaanya sedang berdiri di depan pintu kafe.


Dengan langkah pasti, ia membuka pintu kafe, membawa sebuah map dan mencari pemilik kafe itu. Matanya menyapu seluruh sudut kafe yang akan menjadi tempat kerjanya itu.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang waiters padanya.


"Eh iya, saya ada janji interview hari ini," jawabnya sopan.


"Oh, silahkan menunggu, sebentar lagi bos akan datang!"


"Baik kak!"


Ia duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari pintu masuk. Ia bisa melihat dengan jelas lalu lalang kendaraan di jalan raya yang berada di depan kafe itu. Tiba tiba matanya tertuju pada sosok laki laki yang ia kenal, dia berjalan memasuki kafe dengan pakaian rapinya.


Mata laki laki itu menangkap tatapan matanya, membuatnya semakin yakin tentang siapa laki laki yang ia kenal itu.


Laki laki itu tersenyum dan menghampirinya.


"Cowok mesum, ngapain kamu di sini?"


"Aku......"


"Aku nggak sudi ya duduk sama cowok mesum kayak kamu!" ucap si gadis lalu berdiri berniat untuk pindah tempat duduk.


Seorang waiters mendekati mereka.


"Permisi Pak, apa interviewnya bisa di lakukan sekarang?"


"Iya bisa, suruh dia masuk ke ruangan saya!" jawab Toni pada waitersnya.


Tiara yang mendengar hal itu segera menutup wajahnya menggunakan map yang dipegangnya. Ia merasa kesal sekaligus malu saat itu.


Tiara sengaja datang jauh jauh dari kota B untuk menerima tawaran Pak Tama yang memintanya bekerja di kafe milik anaknya. Ia dengan penuh semangat menyetujuinya karena ia tau jika Dimas adalah satu satunya anak Pak Tama yang dari dulu sering bermain bersamanya ketika keluarga Pak Tama sedang berlibur ke vila.


Sialnya, ia tidak mengetahui jika Toni yang memegang kafe tempatnya bekerja saat itu. Pertemuan pertamanya dengan Toni di vila waktu itu memberikan kesan yang buruk bagi keduanya. Menurut Tiara, Toni adalah laki laki mesum yang selalu mencuri kesempatan untuk memegangnya. Sedangkan menurut Toni, Tiara adalah perempuan galak dan ceroboh yang menyebalkan.


"Mari saya antar!" ucap waiters membangunkan lamunan Tiara.


Dengan berat hati Tiara menurut dan masuk ke ruangan Toni.


"Duduk!" ucap Toni dingin.


"Ma... maaf...."


"Kamu yakin mau kerja di sini?" tanya Toni tanpa membiarkan Tiara melanjutkan kata katanya.


Tiara hanya menunduk, tak berbicara sepatah katapun.


"Apa cewek ceroboh dan galak kayak kamu bisa kerja di tempat ini?"


"Kenapa diam? apa kamu seceroboh itu sampai meninggalkan mulut kamu di rumah?"


Kekesalan Tiara sudah mencapai ubun ubunnya saat itu. Ia mengangkat wajahnya dan mengambil kembali map yang ia letakkan di meja calon bosnya itu.


"Hei, jaga ucapanmu tuan mesum, jika bukan karena perintah om Tama, aku nggak akan ke sini!" ucap Tiara lalu berdiri menuju pintu.


"Yakin mau pergi? apa selain ceroboh dan galak, kamu juga pikun? kamu yakin akan pulang dengan sia sia?"


Tiara mendengus kesal dan segera keluar dengan membanting pintu ruangan Toni.


Toni hanya tersenyum tipis melihat sikap Tiara. Ia lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Toni sudah bersiap untuk keluar dari kafe dan pulang. Semenjak ia ditugaskan untuk memegang kafe, ia memutuskan untuk menyewa sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari kafe. Meskipun ia tidak memiliki background pendidikan yang tinggi, ia bisa cepat belajar dan pekerja keras. Itu kenapa Pak Tama mempercayakan kafe itu pada Toni, dibawah bimbingan Yoga dan Dimas saat ini.


Ketika ia hendak keluar, ia melihat Tiara yang masih terduduk di teras kafe. Dingin malam itu membuat Tiara terduduk dengan memeluk kedua kakinya.


"Kamu nggak pulang?" tanya Toni pada Tiara.


Tiara segera berdiri dan menduduk.


"Maaf Pak, saya......."


Toni melepas kemejanya dan memakaikannya di pundak Tiara.


"Ayo ikut!" ucap Toni lalu berjalan ke arah tempat parkir.


Tiara hanya diam dengan segala pikirannya yang macam macam. Toni mengehentikan langkahnya begitu menyadari Tiara yang tidak mengikutinya.


"Ayo, kamu nggak mungkin pulang ke rumah sekarang kan? kamu mau tidur di sini sampai besok?"


Tiara menggeleng dan segera mengikuti Toni masuk ke mobilnya dan duduk di kursi depan.


"Hanya orang istimewa yang duduk di situ, sana pindah!" ucap Toni ketus.


Tiara menarik napasnya dalam dalam, menahan segala emosi yang ia rasakan lalu segera turun dan duduk di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Tak sampai 15 menit, mereka sudah sampai di sebuah rumah. Rumah yang tak terlalu besar dengan beberapa bunga yang tertanam di terasnya.


Toni segera turun, namun tidak dengan Tiara. Ia takut akan ada kejadian seperti yang sering ia lihat di televisi, dimana ketika ia turun, orang mesum itu akan segera memaksanya memasuki kamar dan....


"Aaaaaaaaaaaa!!" teriak Tiara yang masih berada di dalam mobil.


"Turun!" ucap Toni dengan menggedor gedor kaca mobilnya.

__ADS_1


Tiara menggeleng dengan mimik wajah ketakutan.


Toni membuka pintu mobilnya dan menarik tangan Tiara.


"Kamu mau ngapain? lepasin atau aku teriak?"


Toni segera melepas tangan Tiara dan meninggalkannya begitu saja.


Toni masuk ke dalam rumahnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, ia melihat Tiara yang sudah duduk di ruang tamunya.


"Dimana sopan santunmu cewek ceroboh?"


"Aku tau kamu nggak akan berani macam macam sama aku, aku bisa laporin kamu ke om Tama kalau kamu....."


Toni mendekat ke arah Tiara. Berjongkok dengan meletakkan kedua tangannya pada sandaran sofa. Menatap tajam ke arah Tiara yang sudah tidak berkutik di bawahnya.


"Kamu yakin?" tanya Toni dengan senyum jahatnya.


Tiara menutup kedua matanya dengan mimik wajah ketakutan. Ia yakin masa depannya akan hancur saat itu juga. Ia merasa dirinya memang ceroboh, seharusnya ia tidak mengikuti Toni ke rumahnya, apa lagi sampai masuk ke rumahnya.


Toni tersenyum geli melihat sikap Tiara. Ia benar benar tidak mengerti kenapa lelaki suci sepertinya mendapat julukan "mesum" oleh gadis cantik yang baru di kenalnya.


Toni menjatuhkan dirinya di samping Tiara, membuat Tiara bisa sedikit bernapas lega.


"Sana mandi!" ucap Toni pada Tiara.


Tiara menggeleng dengan menggeser posisi duduknya menjauhi Toni.


"Apa aku benar benar seperti orang jahat?" tanya Toni pada Tiara.


Tiara mengangguk cepat membuat Toni menahan tawanya.


"Hei, apa otakmu juga ketinggalan gara gara kecerobohanmu? aku ini pegawai Dimas, dan sekarang Pak Tama percayain kafenya sama aku, apa menurutmu aku berani ngelakuin semua hal buruk yang ada di otakmu itu?" tanya Toni yang seolah olah tau isi pikiran Tiara.


Tiara berpikir sejenak.


"iya juga sih, kak Dimas sama om Tama nggak mungkin semudah itu percaya sama orang lain, berarti cowok mesum ini emang cowok baik baik?"


"Udah, sana mandi!"


"Dimana?"


"Dekat dapur, sebelumnya letakkan barang barangmu di kamar!" jawab Toni sambil menunjuk kamarnya.


Tiara membuka pintu kamar itu, dengan ragu ia masuk.


"Ini kamar kamu?" tanya Tiara setelah matanya menyapu seluruh isi ruangan itu.


"Iya, cuma ada 1 kamar di sini, aku bisa tidur di luar, besok aku carikan tempat kos untukmu!"


Tiara segera membasuh badannya dengan guyuran air di kamar mandi. Sedangkan Toni menyiapkan makan malam untuknya dan juga Tiara. Setelah Tiara selesai mandi dan berganti pakaian, ia segera keluar dari kamar begitu mencium bau harum masakan dari luar kamarnya.


Terdapat dua piring nasi goreng dengan 1 telor dadar di meja.


"Ayo makan!"


"Apa ini......"


"Ya, aku menaruh racun di sini hahaha......" ucap Toni yang tau isi pikiran Tiara.


Toni menggeser satu piring nasi goreng dengan telor dadar ke hadapan Tiara, sedangkan Toni sendiri melahap nasi goreng tanpa telor dengan lahapnya.


"Cuma ada ini, makan aja daripada kamu kelaparan!" ucap Toni sambil melanjutkan makannya.


Tiara tersenyum lalu membagi dua telor dadar miliknya dan memakannya tanpa ragu.


Toni tersenyum dan mereka makan dengan tenang.


"Biar aku yang nyuci!" ucap Tiara sambil mengambil piring milik Toni lalu segera membawanya ke dapur dan mencucinya.


Setelah mencuci piring, Tiara menghampiri Toni yang duduk di teras depan rumahnya.


"Pak Tama udah cerita kalau kamu mau dateng!" ucap Toni pada Tiara.


"Jadi kamu tau aku mau ke kafe?"


Toni mengangguk.


"Maaf, aku......"


"Nggak papa, aku bukan cowok mesum, tapi kalau aku berduaan sama cewek di rumah, aku........."


"Aaaaaaaaaaaa....."


Tiara berteriak dan segera masuk ke dalam kamar lalu menguncinya, beruntung kunci kamarnya tergantung di tempatnya.


Ia menyembunyikan dirinya ke dalam selimut hingga ia tertidur.


Dengan terpaksa malam itu Toni tidur dengan kedinginan karena ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos berlengan pendek. Ia mencoba mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, berniat meminta selimut yang tersimpan di lemarinya, namun tak ada jawaban, Tiara sudah jauh pergi ke alam mimpinya.


Esok paginya, Tiara terbangun karena mencium bau masakan yang begitu lezat dari kamar. Ia segera keluar dan mendapati Toni yang hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinganggnya.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaa....." teriak Tiara lalu kembali masuk dan menutup pintu kamar.


"Bisa nggak sih nggak usah teriak, berisik!" ucap Toni kesal dari balik pintu kamar.


__ADS_2