Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Tentang Hati


__ADS_3

Dini hanya terdiam mendengar ucapan Dimas yang terlihat serius.


"Maaf, pikiranku masih kacau gara gara kemarin," ucap Dimas menyesal.


"Aku minta maaf Dim, aku cuma......."


"Nggak usah dibahas lagi, ayo masuk!" ucap Dimas memotong perkataan Dini dan menggandengnya untuk diajak masuk ke kelas.


Di kelas sudah ada Andi yang duduk seorang diri dengan membaca buku di bangkunya.


"Lo nggak sama Anita?" tanya Dimas pada Andi.


Andi tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang masih tertuju pada buku yang dipegangnya.


"Kenapa Ndi?" tanya Dini.


"Nggak papa," jawab Andi singkat.


Dimas dan Dini saling pandang melihat sikap Andi yang dingin. Dimas dan Dinipun duduk di sebelah Andi.


"Gue minta maaf Ndi kalau ucapan gue kemarin kasar," ucap Dimas pada Andi.


Andi masih diam, tak merespon apapun.


"Andi, kamu ada masalah sama Anita?" tanya Dini.


Andi tak menjawab, ia menutup bukunya dan pergi keluar dari kelas meninggalkan Dimas dan Dini yang masih tak mengerti apa yang membuat sikap Andi berubah.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Andi dengan cepat membereskan buku bukunya dan segera keluar dari kelas.


"Tungguin Ndi!" cegah Dini namun Andi tetap berjalan tak mempedulikan Dini.


"Andiiii!" panggil Dini setengah berteriak.


"Udah sayang, biarin aja!" ucap Dimas pada Dini.


"Andi kenapa sih?"


"Mungkin dia marah gara gara di cafe kemarin, nanti aku ngomong sendiri sama dia."


"Kamu mau ikut ke cafe apa mau langsung aku anter pulang?"


"Aku pulang sendiri aja ya Dim, nanti malem aku ke cafe."


"Aku anterin ya!"


"Nggak usah, aku mau ketemu Andi dulu."


"Andi lagi?"


"Kamu liat sendiri kan gimana sikapnya dari tadi, pasti ada sesuatu."


"Kalau kamu harus milih antara aku sama Andi, kamu......."


"Dimas, tolong ngertiin aku," ucap Dini memohon.


"Ya udah, nanti kabarin ya kalau mau ke cafe, aku jemput," balas Dimas mengalah.


Dini mencium pipi Dimas lalu segera pergi mengejar Andi. Dimas hanya terdiam terpaku dengan memegangi pipinya, tak menyangka Dini akan melakukan hal itu. Rasa cemburunya perlahan meredam karena mendapat satu ciuman di pipinya.


Dimaspun keluar dari kelas, bibirnya tak mampu menahan senyum karena bahagia yang dirasakannya.


"Dimas!" panggil Anita.


"Eh, iya, kenapa?"


"Ada apa sih, senyum senyum sendiri gitu!"


"Nggak papa," jawab Dimas dengan masih tersenyum.


"Kamu lihat Andi nggak?" tanya Anita sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Udah pulang dari tadi, kamu nggak berangkat sama dia?"


"Enggak, di berangkat pagi pagi banget kata ibunya."


"Oh, pantesan!"


"Kamu mau ke cafe? aku ikut ya!"


"Aku mau ke rumah sakit dulu, kamu nanti sama Andi aja ke cafe, biar Andini sama aku."


"Kalau Andi nggak mau?"


"Paksa hahaha......" jawab Dimas dengan berjalan meninggalkan Anita.


Di perjalan sebelum pulang, Andi mampir membeli es kelapa muda di pinggir jalan.


"Satu bang!" ucap Andi pada si penjual.


"Loh pacarnya nggak dibeliin juga?" tanya si penjual es.


"Pacar siapa?" tanya Andi tak mengerti sambil menoleh ke belakangnya. Ternyata Dini sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.


"Dini, kamu dari kapan di sini?" tanya Andi pada Dini.


"Aku dari tadi jalan di belakang kamu," jawab Dini yang kemudian duduk di kursi panjang.


"Sini," ucap Dini dengan menarik tangan Andi untuk duduk di sebelahnya, namun Andi menolak.


"Aku pulang aja," balas Andi.


"Bang, es nya buat dia aja ya!" ucap Andi pada penjual es dan membayarnya lalu pergi.


"Eh, tunggu, buat abang aja esnya, maaf ya bang!" ucap Dini sambil berlari mengikuti Andi.

__ADS_1


"Loh loh loh, gimana ini," balas penjual es yang kebingungan.


"Andi, kamu kenapa sih! ada masalah apa?" tanya Dini yang sudah berhasil mengejar Andi.


"Ikut aku!" balas Andi dengan menggandeng tangan Dini untuk diajak ke bukit.


Sesampainya di bukit, Andi dan Dini duduk berdampingan seperti biasa.


"Din, kamu sayang sama Dimas?" tanya Andi.


"Kenapa tiba tiba tanya gitu?"


"Ada orang yang meski udah disakitin berkali kali tapi tetep bertahan, ada yang pergi karena nggak mau semakin terluka, kamu yang mana Din? kamu yang bertahan atau pergi?"


"Kamu ngomong apa sih Ndi, ada apa?"


"Kamu mau biarin Dimas nyakitin kamu terus terusan?"


"Kok jadi bahas Dimas sih? kamu ada masalah sama dia?"


"Masalahnya ada di kamu Din, kamu lihat sendiri Dimas peluk Anita dan kamu bersikap seolah nggak terjadi apa apa, jatuh cinta boleh tapi jangan ilangin akal sehat kamu Din, mau sampe' kapan kamu biarin dia nyakitin kamu, mau sampe' kapan kamu bertahan sama orang egois kayak dia, aku nggak mau kamu disakitin lagi sama dia Din, aku nggak mau liat kamu nangis gara gara kesalahan yang sama yang selalu dia lakuin," jelas Andi panjang.


"Andi, aku udah bilang lupain soal itu, kamu tau gimana keadaan cafe sekarang kan, aku nggak mau nambahin beban pikirannya kalau aku masih ungkit ungkit soal itu, aku emang sayang sama dia, aku jatuh cinta sama dia dan aku mungkin udah gila karena dia, tapi satu hal yang kamu harus tau, kamu nggak bisa maksa hati seseorang Ndi, cinta punya jalannya sendiri yang nggak akan mudah dimengerti orang lain dan aku sekarang ada di jalan itu," balas Dini.


"Aku sahabat kamu Din, aku nggak mau liat kamu sedih, aku nggak mau kamu........"


"Cukup Ndi, berhenti bersikap seolah olah kamu yang berhak atas hidupku, meskipun kamu sahabatku, aku sendiri yang berhak atas hidup dan pilihanku sendiri, aku harap kamu bisa kasih batas buat diri kamu sama aku."


"Apa salah kalau aku peduli sama sahabat aku sendiri?"


"Enggak Ndi, nggak salah, tapi aku juga nggak mau kamu salahin Dimas terus, Dimas pasti punya alasan kenapa dia peluk Anita dan aku yakin dia nggak ada perasaan apapun sama Anita."


Andi memeluk Dini dengan erat. Pikirannya kacau saat itu.


"kenapa kamu bisa sesayang itu sama Dimas Din? semudah itu kamu lupain hal buruk apa yang udah dia lakuin sama kamu? aku sayang kamu Dini, aku nggak mau kehilangan kamu," ucap Andi dalam hati.


"Aku sayang kamu Ndi, aku juga sayang sama Dimas, kalian sama sama berarti buat aku, aku nggak bisa kalau harus pilih salah satu diantara kalian," ucap Dini dalam pelukan Andi.


"Maaf Din, aku yang egois," ucap Andi dengan melepas pelukannya dari Dini.


"Enggak Ndi, kamu nggak egois, makasih udah peduli sama aku, makasih udah jadi sahabat terbaik buat aku," ucap Dini dengan menggenggam tangan Andi.


"Kamu mau ke cafe?" tanya Andi.


"Iya, nanti malem, kamu juga kan? jangan biarin hubungan kamu sama Dimas renggang lagi ya!"


"Iya Din, aku juga ke sana."


Biiippp..... Biiiiippp.... Biiippp.....


Ponsel Andi berdering, terlihat nama Anita di layar ponselnya namun hanya dibiarkan oleh Andi.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Dini.


"Din, apa menurut kamu Anita suka sama Dimas?"


"Hmmmm, iya Din, masa depan kita masih panjang, kita nggak tau akhirnya nanti gimana, bisa jadi pada akhirnya nanti malah kamu yang suka sama aku!" ucap Andi dengan menatap tajam ke arah Dini.


"Ngaco kamu Ndi, udah ayo pulang!"


"Bisa jadi kan?"


"Enggak."


"Hahaha, wajah kamu merah Din!"


"Dingin Ndi!"


"Ya udah ayo pulang!"


Andi dan Dinipun pulang.


"Nanti jam 7 aku jemput sama Anita ya!" ucap Andi sebelum Dini masuk ke rumahnya.


"Oke."


*****************


Di rumah sakit, Dimas masih duduk berdua dengan Sintia.


"Kamu nggak mau pulang Sin?" tanya Dimas.


Sintia menggeleng.


"Besok kakak opening cafe belajar, barangkali kamu mau ke sana nanti kakak jemput."


"Maaf kak, Sintia nggak mau ninggalin kak Yoga," jawab Sintia dengan tatapan sendu.


"Ya udah nggak papa, yang penting kamu jaga kesehatan ya!"


Sintia mengangguk.


"Tangan kakak kenapa?" tanya Sintia yang baru menyadari tangan Dimas yang diperban.


"Oh ini, nggak papa, luka kecil."


"Kalau luka kecil nggak mungkin diperban kak, Sintia anter ke dokter ya!"


"Udah Sin, nggak papa kok, kamu sama aja kayak papa mama, lebay!" ucap Dimas dengan mengacak acak rambut Sintia.


"Itu namanya khawatir kak, bukan lebay!" protes Sintia.


"Papa kemarin udah panggil Dokter Aziz kok, tenang aja, besok juga sembuh, kakak seneng kamu perhatian sama kakak!"


"Sintia dari dulu perhatian sama kakak, tapi kali ini sebagai adik, perasaan Sintia sama kakak udah berubah."

__ADS_1


"Nggak papa, itu lebih baik."


"Maaf ya kak, Sintia egois."


"Nggak papa, kakak ngerti."


"Kapan kak Yoga bangun ya kak? Sintia mau ngabisin waktu sama kak Yoga lagi, tiap kak Dimas ninggalin Sintia, kak Yoga yang selalu nemenin Sintia, sekarang Sintia sendirian," ucap Sintia dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Kakak kan disini sama kamu, ada mbak Sri juga, mama papa juga sering ke sini kan?"


"Iya, tapi rasanya beda kak, walaupun di sekitar Sintia banyak orang, tapi Sintia ngerasa sendiri, kesepian karena nggak ada kak Yoga."


"Kita berdo'a aja buat kesembuhan Yoga, kakak yakin dia pasti kuat, dia pasti terus berusaha buat bangun!" ucap Dimas dengan memeluk Sintia.


"Jangan peluk Sintia kak, nanti kak Yoga marah," ucap Sintia dengan menarik dirinya dari pelukan Dimas.


"Hahaha, Yoga marah? sama kamu? nggak mungkinlah Sin."


"Kenapa nggak mungkin? kak Yoga kan sayang sama Sintia, jadi kak Yoga pasti nggak mau kalau Sintia dipeluk cowok lain," jawab Sintia polos.


"Sintia, Yoga itu bukan anak SMA lagi, dia suka sama kamu dari pertama kali kakak kenalin dia sama kamu dan selama itu dia sering liat kakak peluk kamu kan, kamu juga suka nempel kakak, dia nggak masalah tuh!"


"Pasti kak Yoga sering nangis sendiri ya tiap malem? kasian kak Yoga, Sintia emang bodoh banget, malah suka sama kak Dimas yang jelas jelas nggak suka sama Sintia."


"Hahaha...... kakak baru sadar kalau kamu polos banget Sin, nanti kamu tanyain Yoga aja deh apa dia sering nangis sendiri tiap malem," balas Dimas dengan tertawa melihat kepolosan Sintia.


"Jangan berisik kak!"


"Iya sorry, tapi kamu juga jangan terus terusan salahin diri kamu sendiri, yang penting sekarang kamu udah tau apa yang harus kamu lakuin dan terus berdoa buat kesembuhan Yoga."


Sintia mengangguk dengan sedikit senyum yang tersungging di bibirnya.


"Gitu dong senyum, kan makin cantik."


"Kakak sama kak Dini gimana?"


"Baik baik aja, kenapa tiba tiba tanya soal Andini?"


"Sintia minta maaf ya kak, harusnya Sintia juga minta maaf sama kak Dini, tapi Sintia takut kalau kak Dini masih marah sama Sintia."


"Kamu mau ketemu Andini?"


"Mau, tapi Sintia nggak berani."


"Tenang aja, kakak udah jelasin semuanya kok, dia nggak akan marah sama kamu."


"Di depan kakak dia bisa gitu, tapi nanti kakak nggak ada dia marah marah sama Sintia gimana?"


"Andini nggak kayak gitu, percaya deh sama kakak, kalau kamu mau, kakak bisa bantu kamu ketemu Andini, gimana?"


"Mmmmm..... nanti ya kak, kalau Sintia udah siap."


"Hmmmm, ya udah, kakak pulang dulu ya!"


"Iya,hati hati kak."


Setelah menyelesaikan urusannya di rumah sakit, Dimas segera menuju ke cafe bersama Pak Adi.


"Ke cafe ya pak!" ucap Dimas pada Pak Adi.


"Siap, gimana keadaan mas Yoga mas?"


"Masih tetep kayak kemarin pak, belum ada perubahan."


"Mudah mudahan mas Yoga cepet pulih ya mas, saya kasian liat non Sintia."


"Iya Pak, dia terus terusan nyalahin dirinya sendiri."


Sesampainya di cafe, Dimas segera turun dari mobil.


"Pak, nanti saya pulang sendiri ya soalnya nggak tau nanti pulang jam berapa," ucap Dimas pada Pak Adi.


"Saya jemput mas, sesuai perintah Bapak."


"Tapi saya biasa pulang tengah malem loh pak, Pak Adi kan biasanya jam 9 udah bebas tugas."


"Tugas saya 24 jam nganterin siapapun yang diperintah Bapak mas."


"Hmmmm ya udah kalau gitu, Pak Adi kalau mau di sini aja biar nggak bolak balik, atau Pak Adi bisa pake' mobilnya jalan jalan kalau bete',"


"Saya mau jenguk temen saya di rumahnya boleh mas? istrinya baru lahiran soalnya."


"Oh iya pak nggak papa, sama satu lagi, jangan lupa minta uang lemburan sama papa ya pak hehehe....."


"Mas Dimas ini ada ada aja, saya berangkat dulu ya mas, nanti kabarin saya kalau mau pulang."


"Siap, hati hati di jalan ya pak!"


Dimaspun masuk ke cafenya. Sudah ada beberapa pelanggan di dalamnya.


"Gimana bos? sehat?"


"Sehat Ton, gimana cafe? aman?"


"Aman bos, itu gimana tangannya?"


"Gara gara lo perban, mama papa jadi lebay Ton, masak tengah malem panggil Dokter Aziz cuma buat meriksa luka gue!"


"Itu namanya perhatian bos, kok dibilang lebay, harusnya lo bersyukur bos karena masih punya keluarga yang lengkap yang selalu berusaha kasih semua yang terbaik buat lo, nggak kayak gue yang udah nggak punya siapa siapa."


"Sorry Ton, gue nggak bermaksud....."


"Santai aja bos!"


"Lo jangan pernah mikir kalau lo nggak punya siapa siapa lagi ya, lo sama Yoga udah kayak saudara kandung gue sendiri walaupun kita nggak ada hubungan darah sama sekali."

__ADS_1


"Thanks bos!"


__ADS_2