Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Jatuh Cinta?


__ADS_3

Anita kini bimbang pada perasaannya sendiri. Sebelumnya ia begitu tergila gila pada Andi, hingga mengancam Dini melalui surat misterius yang ia letakkan di loker Dini.


Tapi kini, ia semakin tidak ingin jauh dari Dimas, ia merasa benar-benar bahagia ketika bersama Dimas.


Sore itu, di rumah Dini sudah ada Andi yang menunggunya di balai-balai seperti biasa. Tak lama kemudian, Dini keluar.


"Udah siap?"


"Udah, kamu mau ngajak aku kemana?" tanya Dini.


"Ikut aja, pasti kamu suka kok."


Karena Andi tau jika Dini sangat menyukai ice cream, Andi berencana mengajak Dini ke sebuah mini market yang baru buka, karena ada promosi ice cream di sana.


"Kapan terakhir kali kamu makan ice cream" tanya Andi.


"Mmmmm, minggu lalu kayaknya, kenapa?"


"Minggu lalu? sama siapa?"


"Sama Dimas," jawab Dini dengan tersenyum.


"Nggak usah bahas Dimas!" balas Andi kesal.


"Aku kan cuma jawab pertanyaan kamu."


"Nggak usah pake' senyum, biasa aja!"


Dini hanya terkekeh melihat Andi yang mulai kesal,karena jika sudah berkaitan dengan Dimas, mood Andi pasti langsung turun.


Meski Dini sudah melihat Andi meminta maaf kepada Dimas ketika di rumah Anita, tapi dia tahu jika sebenarnya Andi masih belum bisa berdamai dengan Dimas.


"nyesel nanya," gerutu Andi dalam hati.


Sesampainya di mini market, sudah banyak orang yang berebut promo ice cream hari itu.


"Kita mau kesini? rame banget Ndi."


"Iya Din, apa kita beli di tempat lain aja ya?"


"Emang kamu mau beli apa sih?"


"Tuh, baca!" jawab Andi sambil menunjuk banner promo ice cream.


"Waaaahh, promo ice cream Ndi, kamu tunggu disini biar aku yang masuk," ucap Dini bersemangat.


Belum sempat Andi menjawab, Dini sudah masuk memecah kerumunan para pecinta diskon dan ice cream.


Tak berapa lama kemudian Dini keluar membawa 2 cup ice cream yang berukuran sedang.


"Yeeeyyyy, kita makan besar," ucap Dini sambil memberikan satu cup ice cream pada Andi.

__ADS_1


"Ini ukuran sedang Din, bukan yang besar."


"Hehehe, kan biasanya beli yang paling kecil Ndi."


"Kita makan di sana aja gimana? disini nggak nyaman Din, rame banget!" usul Andi sambil menunjuk taman di seberang mini market.


"Ayo!"


Dini dan Andipun berjalan ke taman.


"Padahal aku tadi mau beliin kamu loh Din, eh malah kamu yang beliin aku."


"Kalau kamu yang beli malah kelamaan nanti keburu habis."


"Iya juga sih."


"Eh, itu mobil Dimas ya?" tanya Dini yang melihat mobil Dimas terparkir di tempat parkir taman.


"Mirip aja mungkin."


"Bisa jadi sih!"


Ketika sedang berkeliling mencari tempat duduk, tanpa sengaja Dini melihat Dimas dan Anita yang sedang berpelukan di hadapannya.


Jarak mereka tak begitu jauh namun Dini baru menyadari jika 2 orang yang berpelukan di hadapannya adalah Dimas dan Anita.


"Dimas, Anita!"


Dini tidak menyangka akan melihat kejadian itu, ada perasaan sesak yang menyakitkan hatinya saat itu. Tanpa ia sadar ice cream yang dia bawapun jatuh.


Sedangkan Dimas dan Anita yang melihat Dini dan Andi segera melepaskan pelukan satu sama lain.


"Andini, tunggu!" teriak Dimas pada Dini yang sudah berlari jauh.


"Biarin Dimas," ucap Anita sambil memegang tangan Dimas, mencegah Dimas yang berusaha mengejar Dini.


"Lepasin Nit!" ucap Dimas sambil melepas paksa tangan Anita darinya.


Dimas mengejar Dini dan berhasil menahan tangan Dini agar berhenti.


"Andini, ini salah paham, aku bisa jelasin!"


Air mata Dini sudah tak terbendung lagi meski ia sudah berusaha agar tidak menangis.


"Lepas!" ucap Andi sambil melepas tangan Dimas dari Dini.


"Ini salah paham Ndi, Andini harus tau kalau...."


"Ayo pulang Ndi!" ucap Dini sambil menggandeng tangan Andi.


Dimas hanya bisa pasrah melihat Dini dan Andi pergi tanpa mendengarkan penjelasannya.

__ADS_1


"kenapa kamu sedih Din? apa kamu mulai suka sama Dimas? apa dia udah berhasil buka hati kamu?" batin Andi bertanya-tanya.


Sepanjang perjalanan pulang, Dini dan Andi hanya diam membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"kenapa kamu jahat Dimas? baru kemarin kamu bikin aku ngerasa seolah-olah aku istimewa buat kamu, tapi sekarang aku liat di depan mataku sendiri kamu sama Anita pelukan, maksud kamu apa Dimas? apa ini sebuah lelucon buat kamu? atau memang aku yang salah karena sudah menganggap serius lelucon yang kamu buat ini."


Di sisi lain, Dimas dan Anita yang masih berada di taman juga saling membisu.


"tolong kamu jangan salah paham Andini, jangan berpikir kalau apa yang aku ungkapin kemarin pura-pura, aku sayang kamu Andini, aku cuma mau sama kamu," batin Dimas penuh sesal.


"Ayo pulang Dim!" ajak Anita.


"Kamu pulang dulu aja Nit!" balas Dimas dengan tatapan kosong.


Pikirannya benar-benar kacau saat ini.


"Kamu nggak mau anter aku pulang?"


"Kamu pulang sendiri ya Nit!" ucap Dimas sambil berlalu pergi meninggalkan Anita.


Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Dini. Ia tidak mau jika usahanya selama ini sia-sia, karena tinggal satu langkah lagi untuk mendapatkan Dini dan sekarang ia harus dipaksa mundur oleh keadaan yang menyebabkan kesalahpahaman ini.


Di bukit, Dini dan Andi duduk berdua.


"Kamu baik-baik aja Din?" tanya Andi meski ia tahu jika Dini tidak sedang baik-baik saja.


Dini mengangguk dan tersenyum.


"Kapan-kapan beli ice cream lagi ya Ndi?"


"Siap tuan putri," balas Andi sambil menyandarkan kepala Dini di pundaknya.


"Kamu pernah jatuh cinta Ndi?"


"Kenapa tiba-tiba tanya gitu? kamu lagi jatuh cinta?"


"Aku takut Ndi."


"Takut kenapa?"


"Aku takut kalau cinta yang seharusnya bikin bahagia, malah menyakitkan buat aku, di satu sisi cinta bisa bikin aku bahagia tapi di sisi lain cinta juga yang bikin hati aku hancur," jawab Dini menahan air mata yang sudah ingin jatuh karena sakit di hatinya yang begitu menyiksa.


"Dini, cinta nggak akan bikin kamu terluka kalau kamu bersama orang yang tepat, jangan takut cinta Din, sesakit dan sehancur apapun kamu, aku selalu disini buat kamu," ucap Andi sambil menghapus air mata Dini yang mulai menetes dari sudut matanya lalu memeluknya erat.


Dinipun meluapkan semua tangisnya dalam pelukan Andi.


"Jangan pernah takut untuk hadapi semua masalah kamu Din, karena ada aku yang selalu ada di samping kamu," ucap Andi berusaha menenangkan Dini.


Setelah Dini sudah lebih tenang, Dini mengajak Andi untuk pulang.


"Kamu yakin mau pulang sekarang?"

__ADS_1


"Iya Ndi."


Dini dan Andipun pulang. Andi harus memberi waktu untuk Dini sendiri, meski ia sangat ingin menemaninya saat itu.


__ADS_2