
Dimas dan Anita masih berada di ujung lorong kelas, dekat dengan gudang. Dimas sengaja mengajak Anita ke sana agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
"Kamu harus jelasin semuanya ke Andini Nit!" ucap Dimas pada Anita.
"Kasih aku waktu Dim, aku belum siap," balas Anita dengan menunduk, ia berharap Dimas akan memakluminya.
"Oke, tapi kamu harus janji nggak akan ganggu Andini lagi, bisa?"
"Bisa, aku nggak akan ngelakuin itu lagi."
"Aku pegang kata-kata kamu ya Nit!"
"Iya Dim, kamu bisa percaya sama aku," ucap Anita meyakinkan.
Bel masukpun berbunyi, membuat Anita dan Dimas segera kembali ke kelasnya masing-masing.
"Dari mana aja lo?" tanya Andi.
"Kenapa? udah kangen?"
Andi hanya mendengus kesal mendengar jawaban Dimas.
15 menit berlalu, guru pengajar tidak juga datang.
Andipun pergi ke kantor untuk menanyakan guru piket, tapi ternyata tidak ada, alhasil kelas mereka jam kosong membuat riuh seisi kelas.
"Ndi, mau ke perpustakaan?" tanya Dini.
"Boleh, ayo!"
Andi dan Dinipun pergi ke perpustakaan. Setelah memilih buku yang akan dibaca, mereka duduk di kursi yang berada di sudut ruangan.
"Ndi, kamu ada kontak Bu Anggi?" tanya Dini pada Andi.
"Tante Anggi maksud kamu?"
"Iya, tuan rumah tempat ibu kerja."
"Ada, buat apa Din?"
"Aku minta ya, biar aku gampang tanyain kabar ibu ke Bu Anggi."
"Kamu beli HP?"
Dini hanya tersenyum, ia lupa belum menceritakan tentang ponsel barunya pada Andi.
"Serius Din? kok kamu nggak cerita!"
"Aku nggak beli kok, Dimas yang beliin."
"Dibeliin Dimas?"
"Iya, aku udah nolak tapi dia maksa, jadi ya aku terima daripada dibuang sama Dimas."
"Kamu kok nggak kasih tau aku sih, kamu kan punya kontakku, kamu bisa chat aku, kamu...."
__ADS_1
"Jangankan lo Ndi, gue aja nggak pernah di chat!" ucap Dimas yang tiba-tiba datang memotong ucapan Andi.
"Waaahh, jahat kamu Din!" ucap Andi sambil mengusap kepala Dimas yang bersandar manja di pundaknya.
"Iya, Andini jahat hiiks hiikss," lanjut Dimas yang seolah-olah menangis di pelukan Andi.
"Kalian ngapain sih kayak gitu, geli banget liatnya!" ucap Dini kesal melihat Andi dan Dimas yang tampak mesra di depannya.
Dinipun memilih untuk keluar dari perpustakaan, meninggalkan Andi dan Dimas yang hanya bisa terkekeh melihat sikap Dini.
Dibalik kekesalannya, Dini sangat bersyukur karena hubungan Andi dan Dimas sudah membaik saat ini. Ia berharap jika tidak akan ada lagi masalah yang muncul diantara mereka berdua.
Tak lama kemudian bel pergantian jam berbunyi. Dimas dan Andi segera keluar dari perpustakaan dan masuk ke kelas.
Dimas dan Andi terlihat begitu akrab, membuat teman-temannya keheranan mengingat bagaimana sikap mereka dari awal bertemu.
Dinipun juga heran dengan sikap Andi yang tiba-tiba melunak. Namun ia tidak ambil pusing, karena sikap Andi membuat semuanya menjadi lebih baik sekarang.
Tak berapa lama kemudian Pak Galih memasuki ruang kelas.
"Ada yang mau liburan nggak?" tanya Pak Galih membuat seisi kelas kompak menyuarakan satu kata "mau".
"Diajak liburan aja pada semangat, giliran ujian pada lemes!" ejek Pak Galih.
"Ayo liburan Pak buat ngilangin stres sebelum ujian!" teriak salah satu teman Dini.
"Bener tuh Pak!" timpal yang lain.
"Ketua kelas kalian gimana, setuju nggak? apa belajar kelompok aja?" tanya Pak Galih pada Andi, ketua kelas.
"Iya Ndi, lo kan udah pinter!" sahut yang temannya yang lain.
"Iya Pak, saya setuju," ucap Andi pada Pak Galih membuat teman-temannya riuh bertepuk tangan untuk Andi.
"The best memang ketua kelas kita ini," ucap Dimas dengan bertepuk tangan.
"Udah udah, jangan berisik, hari ini kita diskusi aja dulu soal liburannya, nanti Bapak kasih PR buat kalian kumpulin setelah liburan," ucap Pak Galih berusaha mengkondisikan kelas agar tetap tenang.
"Siap Pak!"
Setelah berdiskusi cukup lama, semuanya memutuskan untuk berlibur ke pantai pada hari minggu besok.
Semuanya begitu antusias untuk mengikuti liburan ini, kecuali Dini. Ia takut akan turun hujan karena lokasi liburan outdoor dan cuaca yang tidak mendukung.
"Kenapa kamu nggak semangat Din?" tanya Andi yang melihat Dini seperti berat menerima keputusan Pak Galih.
"Aku kayaknya nggak ikut aja deh!"
"Nggak ikut gimana maksud kamu?" tanya Dimas yang tiba-tiba muncul di hadapan Dini dan Andi.
"Lo bisa nggak sih nggak muncul tiba-tiba kayak gini!" ucap Andi kesal karena selalu dikagetkan oleh Dimas.
"Hahaha, lo kaget aja kesel, dasar ngambekan!" ledek Dimas.
"Pergi sana lo, gangguin orang ngobrol aja!"
__ADS_1
"Gue juga mau ikut kalian diskusi dong."
"Ganggu tau nggak!"
"Lo nggak boleh berdua aja sama Andini, nanti yang ketiga setan, mau lo ditemenin setan?"
"Ya lo setan, lo kan orang ketiga hahaha...."
"Udah udah, kalian ini malah bahas yang nggak penting deh!" ucap Dini menyela keributan Andi dan Dimas.
"Kamu kenapa nggak ikut?" tanya Dimas pada Dini.
Dini hanya diam, memikirkan jawaban yang tepat untuk Dimas.
"Ya terserah dia dong, kok ngatur sih!" balas Andi.
"Gue nanya Ndi, bukan ngatur, lagian kalau Andini nggak ikut ke pantai, gue juga nggak ikut!"
"Yaaaahh, kalau Dimas nggak ikut saya juga nggak ikut Pak!" ucap salah satu teman perempuannya.
"Saya juga Pak!"
"Saya juga Pak!"
"Saya juga Pak!"
"Loh loh loh, kok pada nggak jadi ikut gini?" tanya Pak Galih heran.
"Dimas nggak ikut sih Pak, jadi ya nggak semangat deh!"
"Tapi kamu ikut kan Ndi?" tanya salah satu temannya yang lain.
"Kayaknya nggak ikut juga deh!" jawab Andi membuat teman-temannya kecewa.
"Batal aja Pak, arjunanya nggak ada yang ikut, nggak jadi indah pemandangan kalau nggak ada Dimas sama Andi," ucap Lia disambut teriakan setuju teman-teman perempuannya.
"Liat gue aja kenapa sih, gue kan arjuna juga!" ucap Doni dengan bergaya bak foto model.
"Lo bukan arjuna Don, tapi amit-amit," balas Lia disusul teriakan teman-temannya yang menyoraki Doni.
"Kamu kenapa nggak ikut Ndi, kan kamu yang setuju tadi!" tanya Pak Galih pada Andi.
"Mmmmm, gimana ya Pak!"
"Ayolah Andini, kamu ikut ya, kalau kamu ikut, aku sama Andi pasti ikut dan anak-anak yang lain juga pasti ikut," ucap Dimas berusaha membujuk Dini.
"Nggak bisa Dim, aku....."
"Aku pasti jagain kamu Din, aku tau apa yang kamu takutin dan aku nggak akan biarin itu terjadi, aku janji! " ucap Andi yang seperti mengerti keresahan Dini.
"Ya udah, aku ikut," balas Dini pasrah, karena jika ia tidak ikut, acara liburan yang sudah dinanti-nantikan teman-temannya akan batal.
Ada sepercik api cemburu yang dirasakan Dimas ketika melihat Andi yang begitu memahami Dini.
"aku emang nggak tau banyak tentang kamu Andini, tapi aku pasti bisa bahagiain kamu lebih dari yang Andi bisa," ucap Dimas dalam hati.
__ADS_1