
Anita masih berada di apartemen milik Dokter Dewi. Hatinya sedikit lega karena ia masih bisa menempati apartemen itu. Ia tidak akan menyerah pada Dimas, ia tidak akan membuat semua pengorbanannya selama ini berbuah kesia siaan.
Anita lalu mengambil bubur ayam di hadapannya dan memakannya dengan lahap. Ia mengabaikan Ivan yang masih berada di sana. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Dimas saat itu. Bagaimana mendekati Dimas lagi? bagaimana agar Dimas mau menerimanya lagi? bagaimana agar ia bisa mendapatkan Dimas lagi? ia benar benar sudah dimabukkan oleh cinta butanya. Entah benar benar cinta atau hanya ambisi untuk memilikinya, Anita tidak bisa membedakan keduanya.
Ivan hanya duduk dan terdiam di tempatnya. Memperhatikan setiap gerakan Anita adalah hal yang menyenangkan baginya, sekalipun ia diabaikan oleh Anita.
Uuhuukk.... uuhuuukk.... uuhuuukk....
Tiba tiba Anita tersedak, Ivan segera membuka 1 botol minuman dan memberikannya pada Anita.
"Pelan pelan, aku nggak akan rebut makanan kamu," ucap Ivan sambil mengusap punggung Anita.
"Makasih, Ivan," ucap Anita yang baru tau jika nama laki laki yang selalu mengganggunya di butik adalah Ivan.
"Aku kan udah bilang, aku akan ngelakuin apa aja buat kamu," balas Ivan.
Anita hanya tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
"Apa kita sekarang pacaran?" tanya Ivan, membuat Anita kembali tersedak.
"Minum minum," ucap Ivan sambil memberikan botol minuman pada Anita.
"Maaf, aku tadi....."
"Iya aku tau, lagian mana mungkin kamu pacaran sama orang yang baru kamu kenal? iya kan?"
Anita mengangguk.
"Selama ada aku, kamu bisa minta tolong apa aja sama aku, termasuk jadi pacar bohongan kamu hehe...."
"iya, aku butuh Ivan, dia pasti bisa bantuin aku, dia akan ngelakuin semua yang aku minta kan? oke, bersiaplah Dimas, kamu akan kembali jadi milikku hehe...."
"Apa aku harus panggil 'kak Ivan'?" tanya Anita.
"Apa keliatan tua?"
"Enggak sih, tapi....."
"Panggil Ivan aja," ucap Ivan cepat.
"Oke," balas Anita.
**
Waktu telah berlalu dengan cepat. Dini dan Dimas, Andi dan Aletta. mereka telah berbahagia dengan pilihan hati mereka. Meski masih ada keraguan, meski masih ada cinta yang lain, Andi berusaha menepisnya. Ia tidak akan menyakiti gadis miliknya. Sedangkan Nico, ia sudah cukup bahagia hanya dengan melihat Aletta bahagia. Ia tidak banyak berharap, ia hanya ingin gadis yang dicintainya itu selalu bahagia.
Sejenak mereka lupa akan keberadaan Anita. Sudah beberapa hari berlalu, Dimas tak pernah melihat Anita meski mereka tinggal dalam satu gedung yang sama. Ia telah melalui masa masa sulit dan sekarang ia tengah berbahagia dengan gadis yang dicintainya. Di sisi lain, ada sedikit kekhawatiran di hati Dini. Anita telah melakukan hal yang begitu jauh untuk bisa bersama Dimas. Ia takut jika Anita masih berharap pada Dimas dan akan melakukan banyak hal lainnya untuk mendapatkan Dimas kembali. Tapi Dimas selalu meyakinkannya, ia yakin jika cinta mereka akan kembali bersama meski banyak badai gelombang yang menerjang.
Malam itu, Dini sudah bersiap di dalam kamarnya. Dengan polesan make up yang ringan, ia terlihat sangat cantik. Ia lalu mengambil ponsel dan tas selempangnya lalu keluar dari kamarnya.
Aletta keluar dari kamar ketika Dini melewati kamarnya.
"Cantik banget sih Nyonya Dimas ini," goda Aletta.
"Nyonya Andi juga cantik," balas Dini lalu mereka berdua tertawa.
Mereka kemudian turun ke lantai satu bersamaan. Di sana sudah ada Dimas dan Andi yang menunggu. Begitu melihat Dini dan Aletta turun dari tangga, pandangan Dimas dan Andi tak berpaling sedikitpun dari Dini. Setiap gerakannya seolah tampak seperti slow motion di mata Dimas dan Andi. Mereka tak berkedip sampai tiba tiba Nico datang membuyarkan pandangan mata nakal mereka.
"Kalian liatin siapa sih?"
"Bidadari," jawab Andi.
"Masa depan," jawab Dimas.
"Jangan bilang lo juga liatin Andini gue!"
"Gue normal Dim, gue udah suka sama dia sebelum lo suka sama dia," balas Andi tanpa rasa bersalah.
"Jadi kalian berdua liatin Dini?" tanya Nico.
Dimas dan Andi kompak mengangguk. Nico lalu memukul kepala Andi dengan keras.
"Lo gila Nic?"
"Otak lo geser tadi gue liat, jadi gue benerin," balas Nico lalu tertawa.
__ADS_1
"Waaahh waaahh nyari gara gara dia Dim," ucap Andi sambil melipat lengan kemejanya ke atas.
"Kita apain nih Ndi?"
"Bakar aja Dim, dagingnya tebel enak buat barbeque haha...."
"Emang gila kalian berdua, kenapa kalian kompak gini sih? harusnya kalian berantem dong!" protes Nico.
"Kenapa harus berantem? emang kita anak kecil?" balas Dimas.
"Emang lagi rebutan permen sampe' harus berantem?" sahut Andi.
Nico hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Dimas dan Andi. Tapi ia juga senang karena kedua temannya itu begitu dewasa dalam menyikapi permasalahan hati mereka. Andi menyukai Dini sejak lama dan sekarang Dimas yang bersama Dini, tentu hal itu menyakiti hatinya. Sedangkan Dimas, ia begitu mencintai Dini, tapi ia tau jika Andi juga mencintai gadisnya. Bukankah seharusnya mereka sekarang bertengkar? Tidak, mereka sama sama menghargai perasaan masing masing. Mereka sadar jika cinta yang ada dalam hati tidak bisa dipaksakan. Dimas akan berusaha untuk mendapatkan Dini dan Andi akan membiarkan Dini memilih kepada siapa hatinya akan berlabuh. Dengan menjadi sahabat Dini itu sudah cukup untuk Andi, ia tidak berharap lebih, ia hanya ingin Dini bahagia meski tidak bersamanya.
"Kalian lagi ributin apa sih?" tanya Dini ketika ia dan Aletta sudah berada di hadapan para laki laki itu.
Dimas hanya tersenyum dan memeluk Dini.
"Kamu cantik banget sayang," ucap Dimas lalu melepaskan pelukan singkatnya.
Andi dan Aletta hanya saling pandang melihat keromantisan Dini dan Dimas.
"Kamu mau aku peluk juga?" tanya Andi pada Aletta dengan meregangkan kedua tangannya.
Namun sebelum Aletta mendekat, Nico terlebih dahulu mendekat dan memeluk Andi.
"Kamu tampan sekali sayang," ucap Nico dengan nada manja dan memeluk Andi erat.
"Bener bener nggak beres otak lo Nic!" balas Andi dengan mendorong tubuh Nico yang memeluknya erat.
Dini, Dimas dan Aletta hanya tertawa melihat hal itu. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil Dimas. Dimas berada di belakang kemudi dengan Dini di sampingnya. Sedangkan di kursi belakang ada Andi, Nico dan Aletta yang berada di tengah.
"Kita mau kemana sih?" tanya Dini pada Dimas.
Sebelum mereka pergi, Dimas hanya meminta mereka semua untuk bersiap siap dan ia akan menjemput mereka.
"Nanti juga kamu tau," balas Dimas dengan senyum manisnya.
Ia lalu menarik tangan Dini, menggenggam dan mencium tangannya lalu melepasnya kembali.
"Lo jangan gitu Ndi, gue nggak mau jadi jomblo mengenaskan di sini," ucap Nico berbisik.
"Ya, itu bukan cara gue," balas Andi yang juga berbisik.
"Emang cara kamu gimana?" tanya Aletta yang ikut berbisik.
Andi langsung meraih tangan Aletta dan menggenggamnya. Aletta hanya tersenyum melihatnya. Baginya, genggaman tangan Andi selalu membuat debaran indah dalam hatinya. Itu sudah cukup membahagiakan untuknya.
"Guys please, jangan siksa gue," ucap Nico dengan nada memelas.
Dini lalu menoleh ke belakang, ia melihat Andi yang menggengam tangan Aletta. Ia hanya tersenyum tipis lalu menggengam tangan Dimas.
"Jangan nangis ya Nic," ucap Dini yang sengaja menggoda Nico.
Mereka lalu tertawa bersama.
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah kafe. Kafe yang sangat Dini kenal. Kafe yang sudah memberinya banyak cerita, indah maupun sedih. Di tempat itu, ia menghabiskan banyak waktu bersama Dimas, first kissnya telah Dimas curi ketika mereka di kafe itu, walaupun bukan sebuah kesengajaan tapi itu membuat Dini tidak bisa melupakannya. Di tempat itu juga ia melihat Dimas memeluk Anita, melihat Dimas bermesraan dengan Sintia dan melihat mama Dimas untuk pertama kalinya. Sedih dan bahagia telah ia rasakan di tempat itu.
"Sayang, are you okay?" tanya Dimas ketika ia menyadari raut wajah Dini yang berubah.
Dini mengangguk dan tersenyum ke arah Dimas.
"Banyak yang udah terjadi di kafe ini Dimas, kafe ini punya banyak kenangan buat aku, entah itu kenangan indah atau buruk," ucap Dini.
"Aku akan hapus semua kenangan buruk kamu di sini dan ini akan jadi tempat yang simpan semua kenangan indah kamu," balas Dimas dengan membelai rambut Dini.
Mereka benar benar telah melupakan teman teman mereka yang berada di bangku belakang saat itu.
"Emang ada kenangan apa di sini?" tanya Nico berbisik.
"Ssstttt, jangan ganggu, ini bener bener romantis," balas Aletta yang juga berbisik.
Sedangkan Andi hanya diam, kafe itu juga memiliki banyak kenangan baginya. Ia ingat bagaimana Dini berusaha mencari Dimas ketika Dimas tiba tiba menghilang. Melihat air mata Dini seperti menggoreskan luka yang dalam di hatinya. Ia tidak bisa berbuat apa apa, ia hanya bisa melihat Dini yang terus menangisi kepergian Dimas dan itu sangat menyakiti hatinya.
"Ndi, kamu nggak papa?" tanya Aletta yang melihat Andi hanya diam dengan pandangan nanar.
__ADS_1
Andi hanya tersenyum dan menggeleng.
"Kalian turun duluan ya, gue udah pesen tempat di dalem!" ucap Dimas pada Andi, Aletta dan Nico.
"Lo mau kemana?" tanya Nico yang langsung mendapat pukulan dari Aletta.
"Hahaha.... take your time guys!" lanjut Nico.
Andi, Aletta dan Nico pun keluar dari mobil dan masuk ke kafe. Mereka di sambut oleh Toni dan Tiara.
"Selamat datang kak, mari saya antar," sapa Tiara ramah lalu membawa mereka ke bangku yang sudah Dimas pesan.
Suasana kafe itu tampak berbeda. Ada sebuah panggung kecil dengan hiasan berbagai macam bunga dan lampu lampu kecil yang berwarna warni.
Mereka duduk di kursi yang sudah di tata melingkar.
"Ada acara Ton?" tanya Andi pada Toni.
"Loh bos belum bilang?" balas Toni yang balik bertanya.
"Dimas nggak bilang apa apa, emang ada apa?"
"Bos kan mau...... aaaaaaa......" belum selesai Toni menjawab, Tiara sudah menginjak kakinya, membuat Toni berteriak kesakitan.
"Kamu......" Toni yang hendak marah menghentikan ucapannya ketika Tiara mengedipkan matanya memberi kode. Seketika Toni ingat jika ia hampir saja keceplosan.
"Kalian ini kenapa sih? masih suka berantem sampe' sekarang?" tanya Andi.
"Maaf kak," ucap Tiara dengan menunduk.
"Biasa, kerja sama orang ceroboh emang menguras emosi," balas Toni.
"Eh, kamu yang ceroboh, kamu tadi hampir aja bilang kalau..... aaaaaaa....." kali ini Toni yang menginjak kaki Tiara gara gara Tiara hampir saja keceplosan.
"Saya ini bos kamu di sini, mana sopan santun kamu?" tanya Toni mengalihkan pembicaraan.
"Maaf pak, maaf," balas Tiara.
Di tempat parkir, Dimas menutup mata Dini dengan kain yang sudah ia siapkan. Dengan pelan ia menuntun Dini untuk masuk ke kafe.
Ia membawa Dini naik ke atas panggung kecil itu. Seketika semua pengunjung melihat ke arah panggung. Mereka semua kompak bertepuk tangan meski mereka tidak tau apa yang sedang terjadi.
Andi, Aletta dan Nico sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, pertunangan, itulah yang mereka pikirkan.
Tak lama kemudian, mama dan papa Dimas datang disusul Yoga dan Sintia. Mereka duduk di meja sebelah Andi.
"Dimas, kenapa rame banget?" tanya Dini berbisik.
Dimas tak menjawab, ia lalu membuka kain yang menutup mata Dini. Dini mengerjap beberapa saat. Ia melihat ke sekelilingnya. Semua mata tertuju padanya.
"Dimas, kenapa aku di sini?" tanya Dini berbisik.
Tiba tiba sebuah lagu romantis mengalun dengan indahnya, membuat suasana menjadi lebih sendu.
Dimas lalu berjongkok di depan Dini, ia memegang kedua tangan Dini dan menatapnya.
"Andini Ayundia Zhafira, terima kasih karena telah hadir dalam hidupku, terima kasih karena telah memberikan cinta yang indah di hatiku, maaf jika aku masih sering mengecewakanmu, aku tidak bisa menjanjikan banyak hal indah untukmu, aku hanya bisa berusaha untuk selalu membahagiakanmu bahkan jika itu di luar batas sanggupku, dengan kesungguhan hatiku, aku memintamu untuk selalu bersamaku, menjalani lika liku hidup bersama dan berjanji untuk tidak saling menjauh dan pergi, kita biarkan masa yang akan memaksa kita berpisah, kita biarkan tangan Tuhan yang menarik paksa jiwa dan raga kita untuk menjauh, tapi ku yakin di tempat yang indah nanti kita akan kembali bersama," ucap Dimas dengan bersungguh sungguh.
"Dimas......." Dini tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia berusaha untuk menahan air matanya yang sudah tak terbendung lagi.
"Andini, di sini, di depan mama dan papa, di depan sahabat dan teman teman kamu, aku ingin kamu menerima ku sebagai masa depan kamu, sebagai satu satunya laki laki yang tak hanya singgah tapi juga tinggal di hati kamu," ucap Dimas lalu mengambil sebuah cincin dari dalam buket bunga yang ada di sebelahnya.
"Izinkan aku menjadi masa depan kamu, Andini Ayundia Zhafira."
Dini masih diam, ia melihat ke langit langit menahan air matanya agar tak tumpah.
"Dimas, aku....."
"Aku akan nunggu kamu, nggak peduli selama apapun itu, aku akan nunggu kamu, jadi apa aku diizinkan untuk jadi masa depan kamu?"
"Iya, Dimas Raditya Adhitama, kamu akan menjadi masa depanku," ucap Dini pelan namun penuh penekanan.
Dimas kemudian memasangkan cincin di jari manis Dini. Dini lalu menarik tangan Dimas agar berdiri. Dimaspun berdiri dan memeluk Dini. Air mata Dini tumpah saat itu juga. Ia bahagia, sangat bahagia. Ia tak bisa berkata kata lagi. Hatinya dipenuhi dengan melodi cinta yang indah dan membahagiakan. Suara tepuk tangan semua yang ada di sana bahkan tak terdengar olehnya. Degup jantungnya terasa lebih kencang daripada riuh tepuk tangan pengunjung kafe.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam dan saling memeluk erat. Cinta yang hadir dalam hati mereka beberapa tahun yang lalu telah meninggalkan luka yang dalam, namun luka itu tak bisa dibandingkan dengan ketulusan cinta yang pada akhirnya menyatukan mereka dalam sebuah kebahagiaan.
__ADS_1