
Dimas melajukan mobilnya menuju mall yang tak jauh dari sekolahnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Dimas mengajak Dini untuk naik ke food court.
Tangan Dini tak pernah lepas dari genggaman Dimas, membuat siapapun yang melihatnya merasa iri pada Dini karena mendapatkan lelaki yang rupawan seperti Dimas.
"Kamu laper?" tanya Dimas pada Dini.
Dini menggeleng.
"Tapi aku laper," ucap Dimas sambil memegangi perutnya.
"Ya udah cari makan aja, tapi aku nggak laper jadi aku liatin kamu aja!"
"Awas ngiler loh!"
"Enggaklah!"
*************************************
Di sekolah, Sintia sudah menaiki mobil Yoga.
"Makasih ya kak!" ucap Sintia pada Yoga.
"Santai aja Sin, 24 jam waktu kakak buat kamu!"
"Coba kak Dimas bisa kayak kak Yoga, Sintia pasti seneng banget."
"Jadi kamu nggak seneng nih kakak jemput?"
"Bukan gitu kak, kakak selalu ada buat Sintia, berkali-kali kak Dimas ninggalin Sintia, ujung ujungnya kak Yoga yang nemenin Sintia, jemput Sintia, perhatian sama Sintia, beda banget sama kak Dimas, dia sekarang cuek banget sama Sintia."
"Kapanpun kamu butuh kakak, kamu tinggal hubungin kakak aja!" ucap Yoga sambil mengusap lembut kepala Sintia.
"Makasih kak, coba kak Dimas bisa sebaik kakak, pasti......"
"Kamu mau kemana?" tanya Yoga menyela ucapan Sintia.
"Mmmm, nggak tau kak, tapi Sintia nggak mau pulang!"
"Ya udah, jalan-jalan dulu ya!"
Sintia mengangguk dan tersenyum.
"cewek seimut ini lo sia siain Dim!" batin Yoga.
Sesampainya di mall yang dituju, Yoga dan Sintia segera naik ke food court.
"Sintia mau ice cream kak!"
"Ayo!"
Bruukkkk
"Eh, sorry sorry!" ucap seorang perempuan yang tampaknya tidak sengaja menabrak Sintia hingga Sintia terjatuh.
Yoga segera membantu Sintia berdiri.
"Jalan pake' mata dong, nggak liat apa ada orang!" ucap Yoga pada perempuan yang menabrak Sintia.
"Kok nyolot sih, gue kan nggak sengaja!"
"Udah kak, Sintia nggak papa kok, ayo jalan!" ajak Sintia dengan menggandeng tangan Yoga, takut Yoga akan semakin emosi jika tidak segera pergi.
Yoga pun mengikuti Sintia, ia membiarkan Sintia menggandeng tangannya hingga mereka sampai di food court.
Dimas yang sedang mengantri ice cream begitu terkejut melihat Yoga dan Sintia yang baru saja turun dari eskalator. Ia pun segera berbalik dan mengajak Dini untuk pergi dari food court.
"Ice creamnya mana?" tanya Dini yang melihat Dimas datang tanpa membawa ice cream.
"Kita beli di tempat lain ya, ayo!"
"Nggak mau, kamu kenapa sih?"
"Udah, ayo Andini!" ucap Dimas dengan menarik tangan Dini.
"Nggak mau Dimas, aku mau di sini aja, kamu lagi menghindar dari seseorang?" tanya Dini curiga.
"Enggak Andini, itu antrinya lama banget, kita cari ke tempat lain aja ya!"
"Bener?"
"Aku tau dimana ice cream paling enak di sini, ayo buruan!"
Dinipun mengalah dan mengikuti Dimas. Tiba-tiba Dini berhenti karena melihat Yoga.
"Ada apa sayang?"
"Aku kayak liat temen kamu," ucap Dini sambil mengingat ingat wajah Yoga, karena ia baru satu kali bertemu Yoga.
"Temen siapa? ayo sambil jalan, keburu tutup nanti tempat ice creamnya!"
"Temen kamu yang ambil mobil di sekolah kemarin!"
"Bukanlah, dia lagi kerja jam segini, mungkin cuma mirip, wajahnya emang pasaran hahaha......"
"Tapi aku......"
"Sssssttttt..... diem Andini," ucap Dimas sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Dini membuat Dini seketika terdiam.
"sialan Yoga, gue minta dia jemput Sintia malah diajak ke sini, awas aja lo nanti!" gerutu Dimas dalam hati.
"Kita mau kemana Dim?" tanya Dini ketika sudah berada di dalam mobil Dimas.
"Ke suatu tempat, di sana ada macam macam ice cream, kamu pasti suka!"
Tanpa Dini tahu, Dimas mengajak Dini ke cafe miliknya.
Sesampainya di cafe, Dimas mengajak Dini untuk naik ke lantai dua.
Toni yang melihat Dimas datang segera menyiapkan minuman favorit Dimas seperti biasa.
"Rainbow ice cream aja 2," ucap Dimas pada Toni yang terlihat akan menyiapkan minuman favoritnya.
"Siap bos!" balas Toni.
"Kamu naik aja dulu, aku mau ke kamar mandi!" ucap Dimas pada Dini.
Dinipun naik ke lantai dua dan memilih duduk di bangku paling pojok.
Dimas segera menemui Toni dan meminta Toni agar berpura-pura menjadi pemilik cafe.
"Kenapa gitu bos?" tanya Toni tak mengerti.
__ADS_1
"Nggak papa, gue cuma nggak mau dia tau aja!"
"Oke bos, siap!"
Dimaspun meninggalkan Toni dan naik ke lantai dua.
"Kamu sering ke sini?" tanya Dini pada Dimas.
"Iya, lumayan!"
"Suasananya enak ya Dim, kayaknya aku bakalan sering sering ngajak kamu ke sini deh!"
"Eh, oh, iya nggak papa," jawab Dimas gugup.
"Kamu kenapa sih? lagi sembunyiin sesuatu ya?"
"Enggak kok, tuh ice creamnya dateng."
Toni yang baru saja datang segera menaruh 2 cup rainbow ice cream pesanan Dimas di meja.
"Tumben nggak hot coco bos?" tanya Toni pada Dimas.
"Nggak papa, mau coba yang baru aja!" jawab Dimas sambil mengedipkan matanya pada Toni, memberi Toni isyarat agar dia tidak memanggilnya "bos".
"Gue tinggal dulu bos!" ucap Toni yang masih tidak sadar akan kesalahannya.
Dini hanya mengernyitkan dahinya mendengar Dimas yang dipanggil bos.
"Dia panggil kamu bos?"
"Iya, dia emang suka gitu sama pelanggan," jawab Dimas beralasan.
"Oh, kamu kan emang sering ke sini ya, jadi udah akrab gitu!"
"Iya, cobain sayang, ini menu best seller di sini," ucap Dimas sambil menyuapkan satu sendok ice cream pada Dini.
"Hmmmm, enak Dim, nggak salah kamu jadi pelanggan di sini!" balas Dini sambil. menyendokkan ice cream ke mulutnya.
Dini yang sudah asik memakan ice creamnya tidak menyadari jika Dimas semakin merapatkan badannya mendekati Dini.
Hembusan nafas Dimas yang hangat membuat Dini terkejut dan reflek menoleh ke samping dan tanpa sengaja bibirnya yang masih belepotan ice cream menyentuh bibir Dimas yang kini tepat di hadapannya, membuat ice cream yang dipegangnya jatuh dan tumpah di bajunya.
Seketika Dimas merasakan darahnya berdesir, degup jantungnya seakan meronta ronta ingin keluar dari dadanya. Begitu juga Dini yang kini hanya terdiam membiarkan lelehan ice cream membasahi pakaiannya.
Dimas semakin mendekati tubuh Dini dan memegang kedua pipi Dini yang masih meninggalkan sisa ice cream. Dimas mendekatkan wajahnya dan........
"Bos!" panggil Toni yang tiba-tiba sudah berada di lantai dua.
Dini segera mendorong tubuh Dimas begitu mendengar ada orang lain di tempat itu. Dinipun turun dan berpamitan ke kamar mandi, sedangkan Dimas hanya duduk dan berdiri karena salah tingkah.
"Aku ke kamar mandi dulu," ucap Dini yang langsung turun dari lantai dua.
"Sorry bos, gue nggak tau kalau....."
"Apaan sih, sana beresin, gue mau pulang!" ucap Dimas memotong ucapan Toni. Ia hanya menunduk melewati Toni, ia begitu malu pada Toni.
Toni hanya terkekeh melihat tingkah Dimas seperti maling yang baru saja dipergoki warga.
Dimas menunggu Dini di depan kamar mandi. Ia bingung harus bersikap seperti apa pada Dini setelah kejadian tadi. Ia takut Dini akan marah padanya.
Tak lama kemudian Dini keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang basah dan kotor.
"Nggak usah, langsung pulang aja!" balas Dini.
"Kamu pake' ini, biar nggak keliatan kotor," ucap Dimas sambil memberikan jaketnya pada Dini.
Dini mengangguk dan mengenakan jaket Dimas.
"Gue pulang dulu ya!" pamit Dimas pada Toni.
"Hati-hati bos," balas Toni.
Dimas dan Dini keluar dari cafe dan masuk ke mobil.
Dimas melajukan mobilnya ke arah rumah Dini.
"Andini, kamu marah?" tanya Dimas pada Dini.
"Enggak kok," jawab Dini cepat karena sejujurnya ia dari tadi berusaha keras untuk menstabilkan detak jantungnya yang mulai melompat lompat tak karuan.
Dimas tersenyum dan menggenggam tangan Dini.
Sesampainya di rumah, Dini segera turun dari mobil Dimas.
"Mau mampir?" tanya Dini.
"Boleh," jawab Dimas penuh semangat.
"Duduk Dim, aku bikinin minum dulu ya!"
Dimas duduk dengan perasaan tak tenang. Entah kenapa pikirannya berjalan jalan kemana mana. Kejadian di cafe tadi masih menyisakan perasaan canggung yang susah untuk diungkapkan dan dijelaskan.
Perasaan gugup dan bahagia yang bercampur membuat kecanggungan diantara mereka.
"Nggak ada coklat Dim, adanya ini," ucap Dini sambil menaruh dua gelas teh di meja ruang tamunya.
"Jangan panas-panas ya Din!"
"Enggak kok hehehe....." jawab Dini terkekeh karena mengingat kejadian kemarin.
**********************************
Sintia dan Yoga yang masih berada di mall kini sedang duduk di bangku food court dengan berbagai macam makanan ringan di depannya.
"Jangan kaget ya kak kalau Sintia makannya banyak!" ucap Sintia pada Yoga.
"Kamu makannya banyak tapi masih kecil aja dari dulu!" ledek Yoga.
"Biarin!" jawab Sintia kesal, karena ia paling tidak suka dianggap sebagai anak kecil.
"Ayo balik kak!" ajak Sintia setelah menghabiskan semua makanan di depannya.
Yoga mengangguk dan menggandeng Sintia untuk turun dari food court. Tak disangka, ternyata Sintia tidak melepaskan genggaman tangan Yoga sampai mereka tiba di tempat parkir, membuat Yoga berteriak kegirangan dalam hati.
"Kak, apa Sintia kayak anak kecil?" tanya Sintia pada Yoga.
"Kan kamu emang masih kecil hehehe...... " balas Yoga terkekeh, sengaja membuat Sintia kesal.
Wajah Sintia yang kesal membuat Yoga semakin gemas padanya.
"Oh iya, kamu pindah sekolah?" tanya Yoga.
__ADS_1
"Iya," jawab Sintia singkat.
"Sekarang kakak harus anter kemana?"
"Ke Hongkong!"
"Hahaha, kok gitu sih jawabnya, kamu marah?"
"Tau' ah, kak Yoga nyebelin, Sintia ini udah gede kak, bukan anak kecil lagi!"
"Enggak ah, kamu masih anak kecil."
"Buruan kak, Sintia mau cepet-cepet pulang, kak Yoga rese',"
"Pulang ke mana? kakak kan nggak tau alamat kamu yang baru!"
"Ke rumah kak Dimas, Sintia tinggal di sana!"
Ciiiiitttt.....
Seketika Yoga menginjak rem mobilnya tiba-tiba, membuat Sintia begitu terkejut. Beruntung saat itu jalanan tidak begitu ramai kendaraan.
"Kakaaaakkkk!" teriak Sintia dengan memukul lengan Yoga.
"Maaf Sin, kamu nggak papa?"
"Nggak papa, cuma kaget, kenapa rem mendadak sih kak, kan bahaya!"
"Iya maaf, ada kucing lewat tadi, kakak nggak liat," jawab Yoga beralasan.
"kenapa harus tinggal di rumah Dimas sih, aaaarrrgggghhhh kenapa jadi kesel gini sih!" batin Yoga kesal.
Sesampainya di depan rumah Dimas, Sintia tidak langsung turun, ia masih tidak terima dengan ucapan Yoga yang menyebutnya anak kecil.
"Mau mampir kak?"
"Lain kali aja, kakak harus ke cafe."
"Kak, ini terkahir kali ya Sintia nanya, kakak jawab jujur," ucap Sintia dengan mengubah posisi duduknya menghadap Yoga.
"Tanya apa sih, serius banget!"
"Sintia masih kayak anak kecil?"
"Hahaha...... kamu masih nanyain itu?"
"Jawab kak, itu penting tau',"
"Apa pentingnya sih, mau kamu anak kecil atau bukan yang penting kamu......."
"Penting kak Yoga, kalau Sintia masih dianggap anak kecil, sia-sia dong pertumbuhan Sintia selama ini!" ucap Sintia dengan memajukan bibirnya karena kesal.
"Kamu ada ada aja deh, sana turun, kakak mau ke cafe!"
"Tunggu bentar kak, Sintia mau buktiin kalau Sintia bukan anak kecil lagi!"
"Caranya?"
"Kakak diem aja, sini tangan kakak, dua-duanya!"
"Kamu mau ngapain sih!"
Sintia mengikat kedua tangan Yoga dengan dasi miliknya dan menutup mata Yoga dengan bando tebal yang dikenakannya.
"Sintia, kamu mau apain kakak?"
"Sintia bukan anak kecil kak," bisik Sintia pelan di telinga Yoga.
Hembusan nafas Sintia yang terasa hangat membuat Yoga gelagapan. Dia hanya bisa menelan ludah dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan Sintia padanya.
Cuuppppp!!
Tiba-tiba Sintia mencium bibir Yoga dan segera keluar dari mobil, membiarkan Yoga yang kedua tangannya masih terikat dan mata tertutup.
"Sintia, kamu udah keluar?"
Tak ada jawaban, Sintia hanya terkekeh melihat sesuatu yang tiba-tiba terlihat mengembang di sana.
"kalau Sintia udah bisa bikin dia bangun, berarti Sintia udah gede kan? Hehehe, maaf ya kak, kakak nyebelin sih! Hehehe...." batin Sintia terkekeh.
Yoga yang masih di dalam mobil segera melepas ikatan di tangannya dengan mudah dan membuka penutup matanya.
"Aaaarrrgggghhhh, kamu ngapain sih Sin!" ucap Yoga kesal sambil mengacak acak rambutnya.
Dengan perasaan yang sangat sulit dijelaskan, Yoga segera melajukan mobilnya ke arah cafe sambil berusaha menidurkan "adik"nya yang tak kunjung tidur.
Sesampainya di cafe, Yoga segera ke kamar mandi dan menghabiskan banyak waktu di sana.
"Ngapain aja sih Bang di kamar mandi, lama banget!" tanya Toni pada Yoga.
"Apaan sih Ton, lo pikir gue ngapain?" balas Yoga dengan nada kesal.
"Lo sakit perut bang?" tanya Toni.
"Iya, mules gue!" balas Yoga yang salah mengira maksud dari pertanyaan Toni.
"sial, jadi nggak fokus gini gue!" gerutu Yoga dalam. hati.
"Bang, tadi bos kesini, bawa cewek," ucap Toni menceritakan tentang Dimas.
"Dimas? sama siapa?"
"Ceweknya mungkin, tapi si bos nggak mau kalau ceweknya tau tentang cafe ini, jadi gue disuruh pura-pura jadi yang punya cafe hehehe....."
"Ini bukan?" tanya Yoga sambil menunjukkan foto Dini dari ponsel Yoga.
"Iya bang, bener, kok lo punya fotonya sih!"
"Dimas sendiri yang ngasih gue, mereka ngapain aja?"
"Kayaknya tadi mereka mau ciuman deh, tapi gara-gara gue tiba-tiba naik, nggak jadi deh ciumannya hahaha......"
"Ganggu aja sih lo!"
"Gue cuma mau nawarin varian baru bang, ya mana gue tau kalau mereka mau itu," ucap Toni sambil menempelkan jari telunjuk kanan dan kirinya.
"Hahaha.... untung tadi gue nggak sama lo waktu........." Yoga menghentikan ucapannya, sadar jika ia salah bicara.
"Waktu apa bang?"
"Bukan apa-apa, sana balik kerja!" jawab Yoga sambil berjalan meninggalkan Toni.
__ADS_1