Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Bunga Krisan Putih


__ADS_3

Malam itu langit seperti sedang bahagia. Bulan dan bintang beradu cahaya menerangi hamparan hitam langit langit dunia. Angin berbisik pelan membuat dedaunan ikut menari bahagia malam itu. Semua terlihat indah dan bahagia, namun tidak dengan dirinya.


Laki laki yang sudah bertahun tahun memendam perasaan pada sahabatnya sendiri, dia hanya duduk memandangi keindahan dengan hati yang terluka. Tanpa orang lain tau, ia menyimpan lukanya dengan baik di balik senyum yang selalu tergaris indah di bibirnya.


"Nggak jemput Dini Ndi?" tanya Nico yang tiba tiba duduk di sebelah Andi.


"Udah ada yang jemput," jawab Andi dengan masih memandang langit.


"Siapa? pacar baru lagi?"


"Dika," jawab Andi singkat.


"Dika, Dika temen kita?"


Andi mengangguk pelan lalu merebahkan badannya dengan masih memandang langit.


"Lo yang gercep dong Ndi, lo......."


"Gue yang ngenalin mereka," ucap Andi memotong ucapan Nico.


"Haahhh? gila lo Ndi, bener bener nggak beres nih otak lo!"


"Emang kenapa? Dika baik, dia cocok sama Dini!"


"Kenapa nggak lo aja sih yang sama Dini?"


"Gue udah sama Dini Nic, tanpa harus ada status pacaran pun gue selalu sama Dini!"


"Maksud gue kenapa nggak lo aja yang jadi pacar Dini, kalian kan udah kenal lama, udah saling ngerti, jadi....."


"Apa yang gue punya buat Dini? nggak ada, gue nggak bisa kasih kebahagiaan yang dia cari, gue cuma bisa ada di belakang dia, lindungi dia, bukan di sampingnya!"


"Jadi gue bener ya, lo suka sama Dini kan? lo punya perasaan lebih dari temen kan sama Dini?"


"Enggak, gue nggak ngomong gitu!" jawab Andi mengelak.


"Hahaha, oke oke lo nggak perlu jawab lagi!"


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di halaman kos mereka. Dika dan Dini turun dari mobil itu.


"Makasih ya Dik!" ucap Dini pada Dika.


"Besok pagi aku jemput ya!"


"Nggak usah, aku sama Andi aja!"


"Oh, oke!"


Merekapun berjalan ke arah Andi dan Nico.


"Aku langsung masuk dulu ya, capek banget!" ucap Dini pada Andi.


"Iya Din!"


Setelah Dini naik ke kamarnya, Dika duduk bersama Andi dan Nico.


"Wiidiihhh, anak orang kaya main ke kosan kita nih, bawa makanan nggak nih?" ucap Nico dengan menyenggol lengan Dika.


"Enggak hahaha......."


"Payaaahh, anak orang kaya main tuh bawa makanan yang banyak, bawa......"


"Eh, lo nggak kasian sama perut lo yang udah mau meledak ini?" balas Dika dengan memukul pelan perut buncit Nico.


"Tenang aja, perutnya dari karet super jadi melar nggak akan meledak hahaha....."


"Bener tuh kata Andi, jadi besok bawain makanan yang banyak ya!"


"Oke oke, besok gue bawain, tapi itu kalau Dininya mau gue anter!" balas Dika dengan melirikkan matanya ke arah Andi.


Andi hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Dika.


*************


Esok paginya, Dini sudah menunggu Andi di depan kamarnya. Tiba tiba sebuah mobil berhenti di halaman kosnya.


Dika keluar dengan membawa satu buket bunga krisan di tangannya.


"Selamat pagi, Andini Ayunindya Zhafira," sapanya dengan tersenyum manis.


"Buat kamu," lanjutnya sambil memberikan buket bunga krisan pada Dini.


"Makasih," ucap Dini dengan tersenyum manis.


"Kamu tau kenapa aku kasih kamu bunga krisan putih ini?"


"Mmmm, enggak, kenapa emang?"


"Bunga krisan putih ini melambangkan kejujuran dan kesetiaan, jadi bunga ini sebagai simbol kalau aku akan selalu jujur dan setia sama kamu, aku akan nunggu kamu!"


Dini hanya tersenyum mendengar penjelasan Dika.


"Kita berangkat bareng ya? sama Andi juga!"


"Bukannya kamu nggak ada kelas pagi ya?"


"Iya sih, sebenernya aku mau nganterin kamu, tapi kamu nggak mau, jadi aku ajak Andi juga biar kamu mau!"


"Hmmmm, dasar modus!"


"Ini bukan modus Dini, ini namanya usaha!" balas Dika membela diri.


Tak lama kemudian Andi keluar dari kamarnya.


"Udah dari tadi Dik?"


"Baru aja, ayo!"


Dini yang hendak duduk di belakang, dipaksa oleh Andi untuk duduk di depan.


"Kamu di depan!" ucap Andi sambil membukakan pintu mobil dan memaksa Dini masuk.


Sepanjang perjalanan, Dini tak banyak bicara, hanya Andi dan Dika yang tampak seru bercanda dan tertawa.


Sesampainya di kampus, mereka segera menuju ke perpustakaan.


"Kamu ikut?" tanya Dini pada Dika.


Dika mengangguk penuh semangat.

__ADS_1


"Cakep doang dapet nilai C hahaha....." seloroh Andi yang langsung berlari meninggalkan Dini dan Dika.


"Rese' lo Ndi!" balas Dika setengah berteriak.


"C?" tanya Dini dengan menoleh ke arah Dika, membuat Dika malu.


"Itu gara gara aku ketiduran Din, beneran, aku cuma punya waktu 5 menit buat ngerjain, jadi ya...... gitu deh!" jelas Dika pada Dini. Ia tak mau terlihat bodoh di depan Dini.


"Lama juga ya tidur kamu!"


"Gara gara begadang bola Din, biasa cowok!"


"Ngelakuin hobi boleh, asal jangan sampe' ganggu kuliah kamu!"


"Aku suka kamu perhatian sama aku!"


"Aku yakin kamu udah sering dapet perhatian dari temen temen cewek kamu, iya kan?"


"Tapi aku nggak suka, aku sukanya diperhatiin kamu!"


"Kalau gitu bisaa anterin aku ke kafe nanti?"


"Bisa dong, dengan senang hati!"


**************


Tepat jam 3 Dini sudah berada di kafe dan memakai seragam kafe. Sedangkan Dika, masih duduk di depan sebagai pelanggan. Dia sengaja menunggu Dini di sana.


"Din, itu pacar kamu ya?" tanya Tari pada Dini.


Sebelum Dini menjawab, ia melihat Dimas dan Anita yang berjalan masuk, membuat Dini harus berbohong pada Tari.


"Iya, dia pacarku!" jawab Dini.


"Pacar kamu so sweet banget sih Din, nungguin kamu di sana dari tadi!" ucap Tari membuat Dimas yang mendengarnya segera menoleh ke arah dimana jari Tari menunjuk.


Dimas baru menyadari jika laki laki yang duduk di bangku depan adalah pacar Dini. Ia ingat jika semalam Dini mengenalkan pacarnya pada Dimas, tapi Dimas tak bisa mengingat wajah pacar Dini.


Entah kenapa Dimas merasa kesal. Ia ingin mengusir Dika namun ia tak punya alasan untuk melakukan hal itu.


"Andini, bikinin saya hot choco, saya tunggu!" pinta Dimas pada Dini.


"Baik pak!"


Dimas masuk ke ruangannya bersama Anita.


"tunggu, Andini? kenapa Dimas panggil dia Andini? apa sebenernya dia udah ingat?" batin Anita bertanya tanya.


"Sayang, kenapa kamu panggil dia Andini bukannya namanya Dini?"


"Iya, tapi nama panjangnya Andini," jawab Dimas dengan membuka laptop kerjanya.


"Kamu tau dari mana?" tanya Anita penasaran, ia harus memastikan ingatan Dimas, karena setaunya name tag yang Dini pakai hanya tertulis nama "Dini" bukan nama panjangnya.


"Nebak aja dan ternyata bener hehehe......"


"Walaupun kalian satu sekolah, tapi kalian nggak saling kenal dulu karena dia pendiam dan nggak pernah ngobrol sama orang lain kecuali sahabat dekatnya!"


"Emang iya?"


"Kamu nggak percaya sama aku?"


"Permisi pak, hot choco pesanan pak Dimas!" ucap Dini dari luar pintu.


"Masuk!"


Dinipun masuk dan sebelum dia menaruh hot choco di meja, Anita menghadangnya dan mengambil hot choco dari tangan Dini lalu dengan sengaja menumpahkannya ke lantai.


"Awwwwww, paanasss, aduuuhhhh kakiku!" teriak Anita dengan memegangi kakinya yang terkena tumpahan minuman panas itu.


Dimas segera menghampiri Anita dan melihat kaki Anita yang sudah memerah. Ia menggendong Anita dan mendudukkannya di sofa.


"Sayang, dia pasti sengaja jatuhin cupnya biar kena kakiku!" ucap Anita pada Dimas.


"Enggak Pak, saya nggak sengaja, saya juga nggak jatuhin cupnya, saya......."


"Nggak papa, kamu keluar aja!" ucap Dimas pada Dini.


"Tapi saya beneran nggak jatuhin cupnya pak, saya......"


"Buatkan saya yang baru dan minta Tari yang mengantar kesini!" ucap Dimas lagi.


"Baik pak!" jawab Dini yang langsung keluar dari ruangan Dimas.


Anita yang melihat hal itu hanya tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Tanpa Anita tau, Dimas bersikap dingin pada Dini bukan karena ia marah atau percaya pada ucapan Anita, tapi ia merasa kacau, entah kenapa ia selalu tidak suka melihat Dini dengan laki laki lain, apa lagi dia ingat ketika Dini dicium oleh pacarnya semalam. Itu membuat Dimas begitu kesal, ada sesak di hatinya yang membuatnya emosi.


Setelah mengobati kaki Anita, Dimas kembali menyibukkan dirinya dengan laptop di hadapannya. Tidak hanya bekerja, ia juga belajar bisnis melalui laptopnya.


"Permisi pak, saya bawa hot choco pesanan pak Dimas!" ucap Tari dari balik pintu.


"Masuk aja!" jawab Dimas tanpa berpaling dari laptopnya.


Setelah meletakkan 1 cup hot choco di meja Dimas, Tari segera keluar dari ruangan Dimas dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Sayang, aku bosen!" ucap Anita pada Dimas.


"Kamu sendiri yang minta ikut!"


"Kamu nggak mau ngajak aku kemana mana?"


"Aku sibuk Anita!"


"Kan ada kak Yoga!"


"Nanti kita makan malem, sekarang jangan ganggu aku, oke?"


"Ya udah!" balas Anita kesal.


Di luar kafe, Dika sedang berbincang dengan seorang gadis cantik dengan rok mini yang menutup sebagian pahanya.


Mereka terlihat akrab walaupun baru berkenalan. Tari yang melihat hal itu segera memberi tahu Dini.


"Din, ada yang godain pacar kamu tuh!" ucap Tari pada Dini.


"Siapa?"


"Liat aja di depan!"


"Nggak usah, biarin aja!"

__ADS_1


"Yeeee, jangan gitu dong, kamu harus........."


Tari menghentikan ucapannya begitu ia melihat Dika yang berjalan ke arah mereka.


"Aku bisa minta waktunya bentar?" tanya Dika pada Dini.


Dini mengangguk dan berjalan keluar bersama Dika.


"Aku pulang dulu nggak papa ya, nanti malem aku jemput kamu!"


"Pulang sama dia?" tanya Dini dengan mengarahkan pandangannya ke arah gadis dengan rok mini itu.


"Aku cuma mau nganterin dia aja kok, kasian dia abis kena jambret, dompet sama hp nya udah dibawa kabur sama penjambretnya!"


Dini hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Dika.


"Kamu nggak marah kan? nanti malem pasti aku jemput!"


"Nggak usah di jemput nggak papa!" jawab Dini lalu kembali masuk ke dalam.


"Aku pasti jemput kamu!" ucap Dika setengah berteriak.


Jam sudah menunjukkan jam 10 malam, Dini dan teman temannya keluar dari kafe setelah menyelesaikan pekerjaan mereka, begitu juga Dimas dan Anita yang baru keluar dari kafe.


"Pacar kamu mana Din?" tanya Anita pada Dini.


"Nggak usah kepo!" balas Dini lalu melangkah pergi namun di cegah oleh Dimas.


"Saya anter!" ucap Dimas dengan masih memegang tangan Dini.


Anita yang melihat hal itu segera melepas paksa tangan Dimas dari tangan Dini.


"Apa apaan sih kamu, kita kan mau makan malem!" protes Anita pada Dimas.


"Saya bisa pulang sendiri, permisi!"


Sebelum Dini melangkah jauh dari Dimas dan Anita, Dika segera menghampiri Dini.


"Aku telat ya!"


"Enggak kok, ayo pulang!"


"Eh tunggu, gimana kalau kita makan malem bareng?" ajak Anita pada Dika dan Dini.


Dika dan Dini saling menoleh mendengar ajakan Anita.


"Kamu yakin?" tanya Dimas pada Anita.


"Yakin dong, kita double date seru deh kayaknya, kalian mau kan?"


Dini dan Dika masih terdiam tak mengucapkan apapun.


"Jangan maksa mereka sayang, ayo kita pergi!" ucap Dimas sambil menarik tangan Anita.


"Oke, kita mau!" jawab Dini cepat sebelum mereka pergi.


Akhirnya Dini, Dika, Dimas dan Anita pergi ke salah satu restoran yang sudah dipesan oleh Anita.


Anita sengaja mengajak Dini dan Dika karena ia ingin memamerkan kemesraannya bersama Dimas pada Dini. Ya, ia sengaja ingin membuat Dini sakit hati.


Sedangkan Dini, ia sengaja menerima ajakan Anita untuk menunjukkan pada Anita bahwa dirinya sudah melupakan Dimas dan tak peduli lagi pada apa yang dilakukan Dimas dan Anita di depannya.


Sesampainya di restoran. Mereka ber empat duduk di meja yang sudah di pesan oleh Anita. Anita sengaja menggandeng tangan Dimas dan tak pernah melepasnya sedari tadi.


Tak lama makanan pesanan mereka datang.


"Sayang, tanganku sakit, nggak bisa potong dagingnya!" rengek Anita pada Dimas.


"Aku potongin ya!"


"Makasih sayang," ucap Anita dengan mencium pipi Dimas.


"Ini gara gara kamu Din, tangan sama kaki saya jadi memar!"


"Saya sama sekali nggak pernah jatuhin cup itu!"


"Terus apa menurut kamu aku yang jatuhin? aku sengaja ngelukain kaki sama tanganku gitu? mikir dong Din, mana mungkin aku ngelakuin itu!"


"Tapi saya......."


"Udah udah, nggak usah diperpanjang lagi, aku suapin kamu, jangan dibahas lagi!"


"Kamu emang terbaik sayang!" ucap Anita lalu kembali mencium pipi Dimas.


"Kalian udah lama pacaran?" tanya Anita pada Dini dan Dika.


Dini dan Dika saling menoleh sebelum akhirnya Dini yang menjawab pertanyaan Anita.


"Baru satu bulan," jawab Dini berbohong.


"Tapi kalian keliatan kaku banget, nggak kayak pacaran, beneran!"


"Kita nggak biasa pamer kemesraan di depan orang, terlalu kekanak kanakan!" balas Dika.


"Siapa yang kamu bilang kekanak kanakan itu?"


"Yang pasti bukan saya sama Dini!"


"Apa hubungan kalian nggak bahagia? apa ada orang ketiga? atau........"


"Apa urusan kamu nanyain itu Nit?" balas Dini yang sudah hilang kesabaran.


"Liat sayang, dia nggak punya sopan santun sama sekali!" ucap Anita pada Dimas.


Dimas hanya diam, melanjutkan memotong steak milik Anita.


"Di luar kafe, aku, kamu ataupun Dimas, sama, kamu lupa kalau kita dulu......."


"Jaga ucapan kamu Din, kamu cuma waiters, mau dimanapun itu kamu tetep bukan siapa siapa, kamu......"


"Kita pulang!" ucap Dika dengan berdiri dan meraih tangan Dini.


"Terima kasih makan malamnya pak, kami permisi!" ucap Dika pada Dimas.


Dika dan Dimaspun keluar dari restoran itu.


Sedangkan Dimas hanya bisa menghembuskan napasnya kasar melihat sikap Anita pada Dini.


"Kamu sebenarnya ada masalah apa sih sama Andini?" tanya Dimas pada Anita.

__ADS_1


Anita tercekat mendengar pertanyaan Dimas. Ia sangat takut jika Dimas dan Dini akan kembali bersatu. Ia takut Dimas akan meninggalkannya hingga tanpa ia sadar sikapnya pada Dini justru membuat Dimas semakin curiga tentang hubungan mereka ber tiga di masa lalu.


__ADS_2