Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Menjaga Jarak


__ADS_3

Malam hadir menjemput sang bulan, meninggalkan sang mentari dengan segala terik dan panasnya. Membawa gelap bersama hamparan bintang yang tak terhitung jumlahnya.


Andi masih bersama ibu dan ayahnya di teras. Ia ingin mengejar Aletta ketika Aletta pergi, namun sang ibu mencegahnya.


"Apa dia sepenting itu sampe kamu mau ninggalin ibu demi dia?" tanya ibu Andi.


"Bukan gitu bu, ibu kenapa jadi cemburu gini sih!" jawab Andi lalu duduk di samping ibunya.


"Bukan ibu, tapi Dini yang cemburu, selama ini kamu kan nggak pernah deket sama siapa siapa, Dini pasti cemburu kalau liat kamu deket sama cewek itu, iya kan?"


"Enggak lah bu, Dini udah bahagia sama Dimas, Andi ini cuma sahabatnya, teman dari kecil, cuma sebatas itu bu!"


"Enggak Ndi, ibu tau kalian lebih dari itu, ibu tau kamu suka sama Dini, iya kan?"


"Andi sayang sama Dini bu, sebagai sahabat dan seseorang yang berarti buat Andi, tapi Andi sadar kalau Andi bukan seseorang yang bisa bahagiain Dini bu, yang Andi mau cuma kebahagiaan Dini dan Andi yakin kalau Dimas lebih bisa bahagiain Dini daripada Andi, karena dia punya semuanya yang Andi nggak punya," jawab Andi.


"Apa yang Dimas punya dan kamu enggak? materi? harta? kamu itu......."


"Bu, udah, jangan bikin Andi malu sama temen temannya di sini," ucap ayah Andi memotong ucapan ibu Andi.


"Inget pesen ibu baik baik Ndi, jangan pernah bohong sama hati kamu sendiri, jangan memilih hanya karena kamu kasian atau dipaksa keadaan, hati kamu juga berhak bahagia," ucap ibu Andi penuh penekanan.


"Iya bu, Andi ngerti," jawab Andi.


"Ya udah kalau gitu ibu pulang dulu, jangan lupa dibagi sama temen temen ya bawaan kamu tadi!"


"Iya bu, ibu sama ayah hati hati ya di jalan!"


Mereka mengangguk lalu segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat kos Andi.


"Ibu jangan kelewat emosi dong bu, gimana tadi kalau nggak ada ayah!" ucap ayah Andi yang tampak kesal pada sang istri.


"Iya yah, ibu minta maaf, ibu cuma nggak mau kalau Andi jauhin Dini," balas ibu Andi.


"Apapun yang terjadi, ibu harus bisa jaga emosi, ayah nggak mau kehilangan......"


"Udah yah, udah jangan dilanjutin, ibu juga sama sama ayah, jadi ibu mohon jangan ucapin kata kata yang malah bikin ibu makin takut!"


Ayah Andi hanya diam. Matanya fokus dengan jalan dihadapkannya sedangkan pikirannya berkeliaran kemana mana.


**


Di tempat kos, setelah ayah dan ibunya meninggalkan kos, Andi segera berlari ke lantai dua untuk menemui Aletta.


"Ta, kamu udah tidur?" tanya Andi setelah mengetuk pintu kamar Aletta beberapa kali.


Tak ada jawaban, beberapa menit Andi menunggu dan mengetuk pintu, masih tak ada jawaban. Andi lalu memutuskan untuk pergi, kembali turun dan beristirahat di dalam kamarnya.


Tanpa Andi tau, Aletta mendengar ketukan pintu dan panggilan Andi, namun ia sengaja diam dan mengabaikan Andi.


"mungkin emang lebih baik kalau kita saling menjaga jarak untuk beberapa waktu Ndi, buat memastikan perasaan kita masing masing, aku nggak bisa egois karena tanpa sadar memaksa kamu buat tetep bertahan sama aku sedangkan hati kamu nggak pernah buat aku," ucap Aletta dalam hati.


Setelah mendengar langkah kaki Andi yang menjauh, Aletta lalu membuka laptopnya, mengerjakan tugas yang sempat terlantar beberapa waktu lalu.


"Oke, fokus Aletta, belajar yang giat, skripsi, sidang dan wisuda, raih masa depan pelan pelan, semangat!!" ucap Aletta memberi semangat dirinya sendiri.


Waktu berlalu begitu cepat, pagi telah datang. Aletta bergegas pergi ke kampus lebih awal. Ia sengaja berangkat lebih pagi untuk menghindari Andi. Ia akan memulai kesibukannya di kampus. Ia akan memenuhi harinya dengan banyak kegiatan yang akan menyita pikirannya agar tidak memikirkan Andi.


Di sisi lain, setelah selesai bersiap, Andi menunggu Aletta di teras, 10 sampai 15 menit menunggu, Aletta tak kunjung turun. Andi lalu naik ke lantai dua. Belum sampai Andi mengetuk pintu kamar Aletta, teman Aletta dari kamar sebelahnya memberi tau Andi jika Aletta sudah berangkat sejak 30 menit yang lalu.


"Aletta berangkat duluan? apa dia masih marah karena kejadian kemarin?" batin Andi bertanya tanya.


Ia lalu berangkat ke kampus bersama Nico.


"Aletta udah berangkat?" tanya Nico yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


"Tumben, nggak lagi berantem kan?" tanya Nico.


"Gue sama Aletta nggak pernah berantem," jawab Andi.


"Emang aneh kalian ini!"


"Apanya yang aneh? justru hubungan kita baik dong karena kita nggak pernah berantem!"


"Justru karena kalian nggak pernah berantem jadi aneh, kalian jadi nggak bisa mengungkapkan isi hati kalian dengan bebas, kalian berdua atau salah satu dari kalian cuma bisa pendam kegelisahan dan emosi kalian sendiri tanpa bisa mengungkapkannya!"


"Jadi?"


"Jadi gue nggak setuju kalau lo bilang hubungan kalian baik, masalah itu menambah kedewasaan Ndi, kalian berantem karena ada hal yang harus kalian cari jalan keluarnya, bukan malah memendam masalah yang pada akhirnya akan makin rumit, itu malah jadi bom waktu buat hubungan kalian berdua!"


"Kebanyakan masalah kan jadi stres juga Nic!"

__ADS_1


"Iya, tapi itu yang menguatkan cinta kalian, kayak Dini sama Dimas, walaupun mereka sering berantem tapi mereka akhirnya sama sama lagi, asal nggak terlalu sering aja, bisa beneran meledak kalau keseringan berantem hahaha...."


"cinta? aku bahkan nggak yakin sama perasaan ku ini, tapi apa yang Nico bilang emang bener, selama ini Aletta nggak pernah marah walaupun aku salah, dia selalu maafin aku tanpa pernah aku liat dia marah, apa kamu sengaja pendam semua emosi kamu demi hubungan kita Aletta?"


"Udah jangan dipikirin, fokus sama kuliah lo tuh, kuliah cuti mulu!"


"Ya kan bukan mau gue Nic buat cuti!"


"Drama banget hidup kalian, pusing gue liatnya!"


"Tutup mata lo biar nggak keliatan hahaha....." balas Andi lalu berlari meninggalkan Nico.


Nico hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Andi.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Nico dan Andi masih berada di perpustakaan. Tak lama kemudian Nico merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Aletta


Nic, dimana? ikut gue yak!


Nico yang melihat Andi tampak serius dengan buku yang dibacanya segera membalas pesan Aletta.


Masih di kampus, mau kemana? sama Andi juga?


Tanpa menunggu lama Aletta segera membalas,


Gue sama lo aja, gue tunggu di depan gerbang


Nico mengernyitkan dahinya melihat pesan terakhir Aletta.


"kenapa dia cuma ngajak gue? apa mereka bener bener berantem?" batin Nico bertanya tanya.


Baru saja Nico akan memberi tahu Andi jika ia akan pergi bersama Aletta, sebuah pesan kembali masuk.


Jangan kasih tau Andi kalau lo mau keluar sama gue


Nicopun segera mencari alasan untuk meninggalkan Andi di perpustakaan.


"Ndi, lo masih lama?" tanya Nico pada Andi yang masih fokus membaca.


"Lo duluan aja kalau mau pulang," jawab Andi yang sudah mengira jika Nico bosan berlama lama di perpustakaan.


"Tau aja lo, gue duluan ya!"


"Oke, take care!" balas Andi.


"Ada apa Al?" tanya Nico pada Aletta.


"Ikut gue yok!"


"Kemana?"


"Cari angin!"


"Laaaahh, ini anak, angin kok di cari!"


"Udah, jangan banyak ngomong, tuh taksi gue udah dateng!"


Nico dan Aletta lalu menaiki taksi yang sudah dipesan oleh Aletta. Mereka menuju ke daerah pesisir. Setelah sampai, mereka lalu turun dan segera berjalan ke area pantai.


Aletta lalu membeli dua buah es degan dan memberikannya satu pada Nico. Nico hanya diam tanpa banyak bertanya. Dalam hatinya ia begitu bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama gadis yang sudah lama diimpikannya.


Terik matahari siang itu tak menyurutkan niatnya untuk mengajak Nico ke tepi pantai. Panas pasir putih pun tak menghalangi mereka untuk melangkah sampai di tempat yang Aletta inginkan. Aletta lalu menaiki sebuah batu karang yang tidak terlalu tinggi, namun cukup untuk menghalau ombak yang datang.


Mereka berdua duduk di atas batu karang dengan es degan di tangan mereka. Berdua melihat ombak yang tak berhenti saling berkejaran dan terpecah karena menabrak karang.


Hamparan laut yang luas di bawah birunya langit siang itu tampak sempurna. Aletta hanya diam memandang hamparan luas yang ada di hadapannya, sesekali ia tampak menyeruput es degan yang dibawanya. Sedangkan Nico hanya diam memperhatikan Aletta yang tampak berbeda dari biasanya.


"Nic, dunia itu indah ya!" ucap Aletta tanpa mengalihkan pandangannya dari luasnya laut.


"Iya Al, Tuhan itu adil, Dia kasih keindahan ini buat semua makhluknya bahkan yang penuh dosa sekalipun," jawab Nico.


"Lo bener Nic," balas Aletta lalu mereka kembali diam.


"Lo baik baik aja Al?" tanya Nico berhati hati, ia takut merusak momen indah saat itu.


Aletta hanya menoleh ke arah Nico dengan tersenyum, senyum yang sangat ia paksakan.


"Lo bisa cerita apa aja sama gue Al, apapun!"


Aletta hanya diam, matanya menatap nanar deburan ombak yang seolah menemani kepergian sang mentari di ujung senja.


Sinar jingga di ujung timur perlahan menghilang, meninggalkan hamparan gelap dengan bintang bintang yang saling menyapa dalam luasnya langit malam.

__ADS_1


Debur ombak yang tak pernah lelah menghantam karang seolah menyambut sang bulan bersama para bintang bintangnya.


Entah sudah berapa lama Aletta dan Nico berada di sana, mereka sama sama diam, sibuk dengan pikiran masing masing atau bahkan tak memikirkan apapun.


Dalam gelap malam itu, perlahan air mata Aletta menetes. Air mata yang selama ini selalu ia tahan, air mata yang selalu ia sembunyikan dari laki laki yang dicintainya.


Nico yang tidak menyadari hal itu hanya diam dengan mengaduk aduk es yang sudah tidak dingin sama sekali.


Setelah menghapus air matanya, Aletta lalu mengajak Nico turun dan segera memesan taksi untuk mengantar mereka kembali ke kos.


"Lo baik baik aja Al?" tanya Nico ketika mereka sudah berada di dalam taksi.


Aletta hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Nico. Matanya masih memandang ke arah luar jendela mobil, menyembunyikan kegelisahan dan kepedihan hatinya yang bisa saja terlihat tanpa ia sadari.


Sebelum turun dari taksi, Aletta berpesan pada Nico.


"Kalau Andi nanya bilang aja abis nganterin gue beli buku, oke?"


"Oke," jawab Nico dengan mengacungkan jari jempolnya.


Benar saja, ketika mereka memasuki area kos, Andi sedang berada di teras dan menanyakan hal yang sudah Aletta prediksi sebelumnya.


"Kalian dari mana?" tanya Andi pada Aletta dan Nico.


"Abis nganterin Aletta beli buku," jawab Nico lalu duduk di sebelah Andi.


Sedangkan Aletta segera naik ke lantai dua.


"Aletta!" panggil Andi namun tak dihiraukan oleh Aletta.


Andi lalu mengejar Aletta dan berhasil menarik tangan Aletta sebelum Aletta menutup pintu kamarnya.


"Kamu dari mana Ta? kenapa nggak minta tolong aku buat anterin?" tanya Andi dengan masih memegang tangan Aletta.


"Aku capek banget Ndi, aku mau tidur dulu," ucap Aletta tanpa menjawab pertanyaan Andi lalu menarik tangannya dari Andi.


"Tapi Ta....."


BRAAAKK


Pintu di tutup dengan kasar. Aletta lalu terduduk di belakang pintu kamarnya. Ia memeluk kakinya yang ditekuk dan menangis tertahan, ia tak ingin ada seorangpun yang mendengarnya.


"jangan sedih Aletta, jangan sedih, lebih baik mengetahui kebenaran yang menyakitkan daripada berbahagia dengan kebohongan, semangat Aletta, semangaaatt, huuuffttt.." batin Aletta menguatkan dirinya.


Ia lalu menghapus air matanya dengan kasar dan segera mandi, menghilangkan semua energi negatif yang membuatnya bersedih.


Andi lalu turun setelah Aletta menutup pintu kamarnya. Ia menghampiri Nico yang masih duduk di teras.


"Beneran berantem nih?" tanya Nico pada Andi.


"Lo tadi nggak pulang?" tanya Andi tanpa menjawab pertanyaan Nico.


"Mmmmm.... gue.... gue tadi... tadi gue mau pulang, tapi ketemu Aletta di jalan terus minta ditemenin cari buku," jawab Nico berbohong.


"Buku apa?" tanya Andi penuh selidik.


"Buku Sastra lah, gue nggak tau buku apa pokoknya buku Sastra, gue nggak ngerti!" jawab Nico yang semakin gugup karena sudah membohongi sahabat baiknya.


"Aletta nggak cerita apa apa sama lo?"


"Enggak, dia nggak bilang apa apa sama gue, emang kenapa? kalian beneran berantem?"


"Lo kenapa nanya itu mulu sih? lo suka gue berantem sama Aletta?"


"Ya nggak gitu juga, cuma ya tumben aja dia ngajak gue bukan ngajak lo!"


"Ya karena dia tau gue lagi di perpustakaan dan lo nggak ada kerjaan, makanya dia ngajakin lo!"


"Sialan lo!"


"Hahaha...."


**


Di tempat lain, Dini, Dimas dan keluarga Dimas serta Sintia dan Yoga sedang makan malam bersama di rumah Dimas.


Setelah makan malam selesai, mereka belum meninggalkan meja makan. Mereka membicarakan banyak hal. Tidak hanya tentang bisnis, tapi juga tentang hubungan Dini dan Dimas, Sintia dan Yoga.


Tak jarang papa Dimas melemparkan candaan yang sukses membuat Dini dan Dimas salah tingkah. Meski begitu, Dini merasa begitu nyaman berada di tengah tengah keluarga Dimas.


Hidup Dini yang jauh dari keluarga membuat Dini kini begitu bahagia karena bisa merasakan kehangatan keluarga yang sudah sejak lama tidak ia rasakan. Perlakuan semua orang yang tinggal di rumah Dimas sangat baik padanya, termasuk para ART, pak satpam bahkan tukang kebunnya.

__ADS_1


Meski kadang ucapan Sintia terlalu to the point, Dini tak mempersalahkannya. Ia tau Sintia adalah gadis yang baik dengan semua sikapnya.


__ADS_2