Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Satu Satunya


__ADS_3

15 menit lagi jam sudah tepat berdiri di angka 7, Dimas masih berada di apartemennya. Ia bergegas mengambil semua keperluannya untuk kuliah. Namun tiba tiba Anita datang dan berakhir dengan kecupan singkat di bibirnya. Dimas segera mendorong tubuh Anita hingga Anita terjatuh, handuk yang melilit tubuh Anita terbuka, memperlihatkan tubuh polosnya yang tidak tertutupi sehelai benangpun. Dimas tidak mempedulikan hal itu, ia segera keluar dari apartemennya dan meninggalkan Anita begitu saja.


Sebelum menjemput Dini, Dimas membeli pakaian, parfum dan minyak rambut. Setidaknya ia tak tampak kacau meski ia belum mandi.


Tak lama kemudian Dimas sampai di depan kos Dini. Ia melihat Dini dan Andi yang sedang mengobrol di teras kos. Ia pun segera turun dan menghampiri mereka.


"Udah siap?" tanya Dimas pada Dini.


Dini mengangguk.


"Ayo berangkat!" ajak Dimas.


"Kamu nggak ikut sekalian Ndi?" tanya Dini pada Andi.


"Aku nunggu Nico aja Din, nggak ada kelas pagi juga kok," jawab Andi.


"Ya udah duluan ya!"


Andi mengangguk, membiarkan gadis yang dicintainya pergi bersama laki laki lain.


Sesampainya di kampus, Dini dan Dimas segera berjalan menuju ruangan mereka, 15 menit lagi kelas akan di mulai.


"Diniiiiiii!" panggil Cika dengan berteriak. Ia berlari ke arah Dini dan memeluk Dini erat.


"Aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja sih, kenapa nggak bisa dihubungin?"


"Mmmm..... aku......"


"Andi bilang ada masalah di rumah, udah selesai?" lanjut Cika.


"Iya, udah kok," jawab Dini.


Sesaat Dini melupakan Dimas di sampingnya. Ia sangat merindukan teman dekatnya itu.


"Kamu udah tau soal Dika? dia......"


"Aku tau, jangan bahas dia lagi ya, aku udah putus sama dia sebelum aku pulang ke rumah," jelas Dini berbohong.


"Oh, oke, lupain aja, cowok kayak dia nggak perlu diingat ingat lagi, lagian udah ada yang baru kan?" tanya Cika sambil mengarahkan pandangannya pada Dimas yang dari tadi hanya diam.


"Dia idola baru fakultas kita," ucap Cika berbisik.


Dini hanya tersenyum menanggapi ucapan Cika. Dini tau, dimanapun Dimas berada ia memang selalu menjadi pusat perhatian. Fisiknya memang tampak sempurna jika dipandang, wajahnya yang tampan, badannya yang tinggi dan proporsional, penampilannya yang selalu rapi dan wangi di tambah sifatnya yang mudah bergaul menambah kesempurnaan dalam dirinya.


Tentu saja tidak ada yang sempurna di dunia ini, sikap Dimas yang terlalu baik terkadang malah menimbulkan masalah tersendiri baginya, seperti masalahnya dengan Anita. Di balik sikap ambisiusnya yang tinggi, Dimas berhati lembut, ia sangat mudah bersimpati pada orang lain dan itu lah kelemahan Dimas yang dimanfaatkan Anita hingga saat ini. Dimas selalu luluh dengan cerita sedih Anita, dengan air mata palsu yang selalu Anita berikan pada setiap cerita sedihnya.


"Kalian udah kenal?" tanya Cika yang masih berbisik pada Dini.


"Temen SMA," jawab Dini dengan tersenyum manis.


"Teman terindah," sahut Dimas membuat Cika membulatkan matanya dan menutup mulutnya yang hanya bisa melongo mendengar ucapan Dimas.


"Jangan jangan kalian.........."


"Enggak, ayo buruan masuk!" ucap Dini memotong ucapan Cika. Ia tau apa yang akan Cika katakan, jangan jangan kalian pernah pacaran? jangan jangan kalian mantan pacar? jangan jangan kalian sekarang pacaran? kira kira seperti itu lah kelanjutan dari ucapan Cika yang Dini pikirkan.


Di dalam ruangan, Cika menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Dini.


"Tapi aku setuju sih kalau kamu sama dia, cakepnya nggak nanggung nanggung dan lagi dia juga pinter, duh sempurna maksimal pokoknya, boyfriend material banget," ucap Cika dengan berbisik karena Dimas duduk di belakang Dini.


"Kamu aja yang sama dia," balas Dini.


"Ya kalau dianya mau sih aku juga mau hehe...."


Tiba tiba beberapa temannya datang dan menanyakan banyak hal tentang Dika pada Dini. Awalnya Dini masih menanggapi mereka, dia hanya menjelaskan jika dia tidak tau apa apa tentang apa yang sudah menimpa Dika. Dini sudah putus dengan Dika sebelum Dini cuti kuliah. Namun teman temannya merasa tidak puas dengan jawaban Dini, mereka masih menanyakan banyak hal tentang Dika membuat Dini merasa terpojok.


"Kalian bisa tanya polisi kalau mau tau lebih banyak!" ucap Dimas tiba tiba, membuat teman temannya segera mengarahkan pandangannya pada Dimas.


"Lo juga tau soal Dika?" tanya salah seorang dari mereka pada Dimas.


"Semua orang ngomongin dia sampe' telinga gue pegel denger namanya," jawab Dimas.


"Kalian juga ngapain sih bahas orang yang udah meninggal, nggak penting banget!" sahut Cika yang ikut kesal.


"Kita kan cuma pingin tau aja, yang terakhir deket sama Dika kan Dini!"


"Tapi bukan berarti Andini tau semuanya tentang Dika, jadi please stop nanyain tentang Dika sama Andini, oke?" balas Dimas.


"Oke deh, kalau Dimas yang minta gue nggak bisa nolak," balas salah satu teman perempuan Dini.

__ADS_1


"Oh iya, papa kamu yang punya perusahaan X itu ya?" tanya teman Dini lagi.


Dimas hanya mengangguk tanpa membuka mulutnya.


Teman perempuan Dini yang bernama Ajeng itu segera menggeser bangku di sebelah Dimas dan duduk di sebelahnya.


"Aku Ajeng, papaku kerja di perusahaan papa kamu loh, papa........"


"Aku nggak tau apa apa soal perusahaan papa, jadi jangan bahas itu di sini!" ucap Dimas segera.


"Oke, tapi kamu masih single kan? aku nggak pernah liat kamu jalan sama cewek, bisa dong kita deket!" ucap Ajeng tanpa rasa malu.


"Bisa, aku deket sama siapa aja di sini, aku deket sama semua temen temen ku!" balas Dimas.


"Nggak gitu maksud ku, aku mau kenal kamu lebih jauh, aku mau......."


"Kita temenan aja ya, udah ada seseorang di hatiku!" ucap Dimas yang sudah paham arah pembicaraan Ajeng.


"Tapi aku nggak pernah liat kamu sama cewek!"


"Apa aku harus selalu laporan sama kamu?"


"Enggak sih, ya udah deh yang penting masih bisa jadi temen," jawab Ajeng lalu berdiri dari duduknya dan duduk di bangku pojok.


Dini yang duduk di depan Dimas mendengar dengan jelas percakapan Dimas dan Ajeng.


"ada seseorang di hatiku? siapa? Anita? atau......"


Dini memukul mukul kepalanya untuk menghentikan pikiran nakalnya.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas yang melihat Dini memukul mukul kepalanya sendiri.


"Eh enggak, nggak papa hehe....." balas Dini.


"stop mikir yang jauh jauh Din, jangan terlalu berharap, jalanin aja apa yang ada sekarang, nggak papa bahagia sebentar daripada nggak bahagia sama sekali," ucap Dini menasihati dirinya sendiri.


"hati aku cuma buat kamu Andini, sejauh apapun aku pergi, hatiku tetap milik kamu, walaupun sekarang kita belum bisa sama sama, aku janji akan selalu jaga hati aku cuma buat kamu," ucap Dimas dalam hati.


**


Di sisi lain, Andi berjalan seorang diri ke kampusnya. Sebenarnya ia tidak menunggu Nico, ia sengaja membiarkan Dini dan Dimas berangkat berdua. Hari masih pagi dan ia tidak ingin menusukkan pedang tajam sebagai ucapan selamat pagi pada hatinya.


**


Di apartemen Dimas.


Anita sedang bersiap siap untuk pergi ke kampus Dimas. Ia ingin memberikan kejutan pada laki laki yang dicintainya dengan gila itu. Laki laki yang selalu menolaknya, laki laki yang selalu luluh dengan air mata palsunya.


Anita keluar dari apartemen Dimas dan segera berjalan ke arah kampus. Ia hanya perlu bertanya pada setiap orang di sana untuk menemukan dimana keberadaan Dimas. Anita yakin kebanyakan dari mereka pasti mengenal Dimas karena Dimas memang selalu berhasil menarik perhatian banyak orang. Wajah tampan dan kepribadian yang menyenangkan selalu membuat orang orang menyukainya.


Anita berjalan pelan dengan senyum mengembang di bibirnya. Dari kejauhan ia melihat laki laki yang digilainya tengah berjalan dengan seorang perempuan yang sangat ia kenal. Seorang perempuan yang selalu membuatnya iri, iri dengan kepandaian dan keberuntungannya. Ya keberuntungan, beruntung karena memiliki sahabat yang sangat menyayanginya dan laki laki yang sangat mencintainya dengan dalam. Anita sadar jika Dimas sangat mencintai perempuan itu. Tapi Anita tetap teguh pada tekadnya, ia akan terus berusaha membuat Dimas menjadi miliknya, tak peduli seberapa keras Dimas menolaknya, usahanya akan lebih keras daripada penolakan Dimas padanya.


Anita berlari dan memeluk Dimas dengan erat.


"Sayang, aku kangen," ucap Anita dengan pelukan yang semakin erat karena ia yakin Dimas pasti akan mendorongnya lagi.


"Anita, lepasin Nit!"


"Nggak mau, aku kangen sama kamu!"


"Jangan paksa aku kasar sama kamu Anita!" ucap Dimas dengan berusaha melepaskan Anita yang memeluknya.


"Aku kangen, kamu ninggalin aku di apartemen sendirian dari kemarin," ucap Anita dengan merengek manja.


Dini sudah cukup terkejut melihat Anita yang tiba tiba datang dan memeluk Dimas, tapi yang lebih membuatnya lebih terkejut lagi adalah ucapan Anita.


"ninggalin sendiri? di apartemen? berarti semalem Anita di apartemen Dimas? semalem Dimas keluar dan keliatan berantakan banget, apa mereka...... enggak, Dimas nggak mungkin kayak gitu, mereka nggak mungkin ngelakuin itu, Dimas pasti sengaja menghindar dari Anita,"


"Aku duluan ya!" ucap Dini lalu melangkah meninggalkan Dimas dan Anita.


"Tunggu Andini!" cegah Dimas, namun Dini tak menghiraukannya.


Dini tersenyum tipis dengan memegang dadanya yang terasa nyeri. Hatinya terasa perih namun ia tetap tersenyum. Ia tidak ingin menangis lagi.


"Lepas Nit!" ucap Dimas dengan mendorong Anita kuat kuat, membuat Anita terpaksa melepaskan Dimas dari pelukannya, bagaimanapun juga tenaga Dimas lebih besar darinya.


Dimas berlari mengejar Dini dan meninggalkan Anita.


"Aku anter kamu pulang," ucap Dimas pada Dini.

__ADS_1


"Nggak perlu, anterin tunangan kamu aja!" balas Dini.


"Enggak, aku akan anterin kamu!" ucap Dimas dengan menggandeng tangan Dini.


Anita yang sudah berada di belakang Dimas dan Dini segera melepaskan paksa tangan Dimas yang menggandeng tangan Dini.


"Andini, kamu lupa laki laki yang kamu gandeng tangannya ini udah punya tunangan?" tanya Anita.


Dini hanya diam tak menjawab apapun.


"Kamu nggak mau kan di cap sebagai perempuan murahan karena deketin tunangan aku?" tanya Anita lagi.


"Jaga ucapan kamu Anita, aku yang ngajak dia pulang, dia......"


"Dan kamu Dimas, mana tanggung jawab kamu sebagai laki laki? kamu mau jadi laki laki brengsek yang nggak bertanggung jawab?" tanya Anita pada Dimas.


Dini mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Anita pada Dimas.


"bertanggung jawab? soal apa?"


"Kamu pergi sekarang atau aku akan maksa kamu pergi dari sini!" ucap Dimas penuh penekanan.


Anita hanya tersenyum tipis mendengar ancaman Dimas.


"Aku akan pergi kalau dia juga pergi!" ucap Anita dengan menunjuk Dini.


"Aku kuliah di sini Nit, kamu siapa nyuruh aku pergi dari sini?" balas Dini.


Anita melayangkan tangannya bersiap untuk menampar Dini, namun dengan cepat tangan seseorang menahan tangan Anita dan berdiri di antara Dini dan Anita. Seseorang itu menahan tangan Anita beberapa saat lalu melepaskannya.


"Jangan pernah sentuh dia," ucapnya dingin lalu menarik tangan Dini diajaknya berjalan menjauh dari Anita dan Dimas.


Dimas yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal, begitu juga Anita.


"Kamu liat Dim? dia udah punya pahlawannya sendiri, dia udah nggak butuh kamu!" ucap Anita pada Dimas.


"Tutup mulut kamu Anita!" balas Dimas lalu segera masuk ke mobilnya, melajukan mobilnya pelan dan meninggalkan Anita.


"DIMAAASSS!!" panggil Anita dengan berteriak namun Dimas tak peduli.


Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal ketika ia sudah keluar dari area kampus.


**


Di kampus, Dini dan Andi duduk di gazebo taman fakultas seni.


"Kamu nggak papa? apa Anita nyakitin kamu?" tanya Andi.


Dini menggeleng.


"Aku nggak papa," jawab Dini dengan tersenyum.


"Kamu tenang aja, aku nggak akan diem sekarang, aku akan ngelawan siapapun yang ganggu aku!" lanjut Dini.


"Bagus, tapi jangan barbar kayak Aletta ya!" balas Andi.


Dini hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Andi.


"Aletta lagi? apa di pikiran kamu sekarang cuma ada Aletta?" gerutu Dini dalam hati.


Dini ingat bagaimana Andi sangat khawatir ketika Aletta berada di rumah sakit. Ia juga melihat dengan jelas ketika Andi menggenggam tangan Aletta.


Andi, sahabatnya yang sangat dingin itu tiba tiba menjadi hangat ketika bersama Aletta. Jika biasanya Andi hanya akan bersikap manis padanya, kini ia melihat Andi yang bersikap manis pada Aletta.


"apa kamu bener bener jatuh cinta sama dia? apa kamu akan ninggalin aku? apa kamu akan lupain aku? apa aku cuma jadi masa lalu buat kamu? masa lalu yang cuma jadi kenangan buat kamu,"


Dini menghembuskan napasnya pelan, berusaha menghilangkan semua pikiran buruknya. Ia tidak boleh egois. Andi memiliki kehidupannya sendiri. Andi berhak bahagia, Andi berhak bersama seseorang yang ia cintai. Dini tak bisa selalu mengandalkan Andi. Dini tak bisa memaksa Andi untuk selalu bersamanya. Dini tak bisa membuat Andi tetap menjadikannya prioritas dalam hidupnya.


"Ndi," panggil Dini pelan.


"Ya," jawab Andi dengan menoleh ke arah Dini.


"Apa kita akan sama sama selamanya?" tanya Dini.


"Pasti, aku akan selalu ada buat kamu, aku......"


"Tapi kamu juga punya kehidupan kamu sendiri Ndi, suatu saat nanti kamu akan melanjutkan hidup kamu sama orang yang kamu cintai dan kamu akan pergi dari aku," ucap Dini dengan melihat ke atas, memperhatikan angin yang mengusik ketenangan daun daun di atas sana, menahan matanya agar tak menumpahkan air mata.


"dan orang itu adalah kamu Din, satu satunya perempuan yang aku cintai selain ibu," ucap Andi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2