
Gelap masih membentang menyelimuti malam. Sedari pagi Dini tak pernah lepas dari ponselnya. Ia hanya menunggu kabar dari Dimas. Namun di ujung hari itu Dimas membuat penantiannya terasa sia sia.
Sebuah video menunjukkan Dimas dan Anita yang sedang berpelukan dengan mesra. Tampak raut wajah yang bahagia diantara mereka berdua.
"apa ini yang bikin kamu sibuk? apa ini yang bikin kamu lupa sama aku?"
Dini lalu menghubungi Yoga, memastikan jika Yoga memang sedang bersama Dimas.
"Halo kak, Dimas lagi sama kak Yoga?"
"Mmmm, iya, kenapa?"
"Aku bisa ngomong sama dia kak?"
"Langsung kamu hubungin dia aja Din!"
"Kak Yoga nggak bohong kan sama aku?"
"Udah dulu ya Din, aku lagi sibuk banget nih, Dimas juga kayaknya lagi sibuk, nanti dia pasti hubungin kamu!"
Klik. Sambungan terputus.
"kak Yoga bohong," ucap Dini dalam hati.
Dini mencoba untuk berpikir positif, ia tidak ingin hubungannya dengan Dimas kembali renggang. Tapi sebesar apapun usahanya, ia tetap tidak menemukan sisi positif dari video yang baru saja ia lihat.
"Din, kamu kenapa? ada apa?" tanya Andi dari balik pintu setelah beberapa kali mengetuknya.
Dini lalu membuka pintu kamarnya dan langsung memeluk Andi. Ia lepaskan semua pedih di hatinya dalam pelukan Andi.
"Ada apa Din? kamu kenapa?"
Dini hanya diam, rasanya terlalu sakit untuk menceritakan apa yang baru saja ia lihat.
Andi membalas pelukan Dini dan mengusap rambutnya.
"Apa ini tentang Dimas?" tanya Andi.
Dini masih tak menjawab. Ia masih menangis dalam pelukan Andi.
"Nggak papa kalau kamu belum mau cerita, aku akan nunggu kamu," ucap Andi dengan masih membenamkan Dini ke dalam pelukannya.
**
Di kafe.
Toni dan Yoga sudah menemukan dimana 7 orang pelaku penyerangan kafe itu tinggal. Mereka adalah mantan anggota geng yang keluar dan membentuk geng baru. Mereka berjumlah 8 orang, 1 orang diantara mereka diduga telah berkhianat dan mereka memutuskan untuk menghabisi nyawa teman mereka itu dengan skenario yang mereka buat di kafe.
"Tapi ada yang janggal di sini, kalau mereka emang mau bunuh temennya, kenapa mereka harus ngerusak kafe?" tanya Yoga.
"aku nggak mungkin cerita sama mereka tentang Anita, nggak mungkin, tapi gimana caranya aku selesaiin masalah ini?" batin Dimas dalam hati.
"Bos, lo udah ketemu 2 pegawai kita kan? mereka bilang apa?" tanya Toni.
"Mereka cuma kasih tau gue tentang 7 orang itu, sebelum gue nanya yang lain mereka udah berhasil kabur dan gue kehilangan mereka," jawab Dimas berbohong.
"7 orang itu ada di markas mereka Dim, gue tau tempatnya," ucap Yoga pada Dimas.
"Stop sampai di sini aja Ga, jangan dilanjut lagi," balas Dimas membuat Yoga dan Toni terkejut.
"Maksud lo apa Dim? kenapa lo tiba tiba nyerah gini?" tanya Yoga yang mulai tampak emosi.
"Lo mau ikutin permintaan mereka buat minta maaf?" tanya Toni.
"Enggak Ton, kalau gue minta maaf itu artinya gue ngakuin kalau emang ada racun di kafe, gue cuma......"
"Ton, tolong beli minum buat kita di mini market X," ucap Yoga sengaja memotong ucapan Dimas.
"Haaaahh, mini market X kan jauh bang dari sini, di sini juga ada air minum kok," balas Toni.
"Gue mau lo beli di sana Ton, kalau perlu yang lebih jauh lagi," ucap Yoga dengan penuh penekanan.
Toni segera mengerti jika Yoga ingin berbicara berdua dengan Dimas dan ia harus pergi.
"Oke bang, gue pergi sekarang," balas Toni lalu keluar dari kafe.
Setelah Toni keluar, Yoga berdiri dan berbicara tepat di hadapan Dimas.
"Apa yang lo sembunyiin dari gue Dim?" tanya Yoga dengan serius.
"Nggak ada Ga, gue nggak sembunyiin apa apa!" jawab Dimas yang masih berbohong.
"Oke kalau lo nggak mau jujur sama gue, dengan berat hati gue mundur dari kafe."
"Jangan kayak anak kecil gini dong Ga, lo tega ninggalin gue waktu gue lagi kayak gini?"
"Lo itu udah gue anggap lebih dari sekedar partner bisnis gue Dim, tapi lo masih aja sembunyiin sesuatu dari gue, kalau itu soal pribadi lo gue bisa ngerti, tapi ini soal kafe Dim, kafe yang udah susah payah kita berdua bangun," jelas Yoga.
"Iya, ini soal masalah pribadi gue," balas Dimas dengan suara yang begitu pelan.
Masalah di kafe itu seperti telah menguras tenaga dan otaknya. Ketika ia sudah menemukan titik terang, ternyata titik terang itu bukanlah jawabannya. Jika pada awalnya ia akan membuat dalang dari penyerangan di kafenya mendekam di penjara, maka sekarang ia tidak akan melakukan hal itu. Bagaimanapun juga Anita adalah temannya, Anita yang menjaga dan menemaninya selama ia koma. Ia tidak akan tega membuat Anita meringkuk di balik jeruji besi.
"Maksud lo? apa ini ada hubungannya sama masalah pribadi lo?" tanya Yoga.
Dimas mengangguk pelan. Ia lalu merebahkan kepalanya di meja. Ia benar benar sudah kehilangan tenaganya.
__ADS_1
"Cerita yang jelas Dim, biar gue ngerti!" ucap Yoga dengan menggoyang goyangkan badan Dimas.
"Gue capek banget Ga," ucap Dimas tanpa mengangkat kepalanya.
"Kita semua capek Dim, nggak cuma lo, gue sama Toni juga!"
Dimas lalu mengangkat kepalanya ketika ia menyadari ada sesuatu yang menetes dari hidungnya.
"Dim, lo kenapa?" tanya Yoga khawatir karena melihat hidung Dimas yang mengeluarkan darah.
"Nunduk dan napas lewat mulut, gue cari tissue!" ucap Yoga sambil mencari tissue dan memberikannya pada Dimas.
Hampir 5 menit Dimas masih menunduk dengan darah yang tidak berhenti keluar dari hidungnya, membuat Yoga semakin khawatir.
"Mana HP lo? gue harus hubungin Dokter Aziz!"
"Jangan Ga, gue nggak papa," ucap Dimas mencegah Yoga.
"Kalau gitu kita ke rumah sakit!"
"Nggak perlu Ga, gue baik baik aja!"
"Kenapa lo keras kepala banget sih!"
"Gue mau istirahat bentar Ga," ucap Dimas lalu merebahkan badannya di sofa.
Yoga lalu mengambil semua tissue bekas darah Dimas dan membuangnya ke tempat sampah.
"sorry Dim, gue cuma nggak mau lo nanggung masalah lo sendiri, kalau lo nggak mau nerima bantuan dari om Tama seenggaknya gue masih bisa bantuin lo," ucap Yoga dalam hati.
Tak lama kemudian Toni datang dengan membawa 3 botol minuman.
"Kita harus ngapain sekarang bang?" tanya Toni pada Yoga.
"Kita tunggu Dimas Ton, kasian dia kecape'an," jawab Yoga.
Sebenarnya Dimas tidak tidur saat itu. Ia memang sangat lelah, namun masalah yang dia hadapi membuatnya tidak bisa terlelap begitu saja. Jika ia tidak segera mengakhiri hal itu, ia tidak akan bisa membuka kafenya lagi. Ia hanya bisa berharap agar Anita tidak berbuat lebih jauh lagi dan menyudahi semua kegilaan yang sudah di lakukannya.
**
Di apartemen, Anita sedang bersama Ivan.
"Udah ketemu Dimas kan?" tanya Ivan.
"Udah, tapi dia marah banget sama aku, nggak tau kenapa!"
"Coba kamu hubungin dia sekarang, minta dia buat ke sini!"
"Dia nggak akan mungkin mau lah."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Sini HP kamu!" pinta Ivan.
Anita lalu memberikan ponselnya pada Ivan. Ivan mengirimkan pesan singkat pada Dimas.
Aku tunggu kamu di apartemen kalau kamu mau masalah kamu selesai.
Tak butuh waktu lama Dimas segera membalas pesan Anita.
Aku ke sana sekarang.
"Dimas bentar lagi ke sini," ucap Ivan sambil mengembalikan ponsel milik Anita.
Anita membuka chatroom Dimas dan membaca pesan yang baru saja Ivan kirim.
"Masalah? masalah apa?" tanya Anita tak mengerti.
"Kamu nggak perlu tau, yang penting sekarang kamu bisa wujudin keinginan kamu buat sama Dimas," jawab Ivan.
"Aku nggak ngerti," ucap Anita yang masih tidak mengerti rencana Ivan yang sebenarnya.
"Kalau Dimas kesini kamu tinggal bilang aja kalau kamu akan minta 7 orang itu buat bikin permintaan maaf asalkan Dimas mau turutin permintaan kamu dan kamu pasti tau akan apa yang harus kamu minta dari Dimas?"
"Aku masih nggak ngerti," balas Anita yang tampak tidak memahami ucapan Ivan.
"Kamu nggak perlu ngerti, kamu cukup ikutin aja apa yang aku bilang, oke?"
Anita mengangguk patuh. Ivan lalu menjelaskan dengan detail apa yang harus Anita katakan pada Dimas nanti.
"Gunain kesempatan kamu ini sebaik mungkin sayang," ucap Ivan dengan senyum yang sulit diartikan.
"Pasti," balas Anita bersemangat.
"Dan satu lagi, jangan tanya soal apapun sama Dimas, kamu cukup fokus sama tujuan kamu aja, ngerti?"
"Iya, aku tau apa yang harus aku lakuin sekarang!"
"Bagus, kalau gitu aku pergi dulu ya!"
Anita mengangguk.
Setelah Ivan pergi, Anita segera bersiap untuk menyambut kedatangan Dimas. Ia mengenakan pakaiannya yang super mini dengan parfum yang wanginya menusuk hidung.
**
__ADS_1
Di kafe.
Dimas segera beranjak dari sofa setelah menerima pesan dari Anita.
"Lo mau kemana malem malem gini?" tanya Yoga pada Dimas.
"Gue harus selesaiin ini Ga, lo pulang aja, besok pagi kita ketemu di sini, lo juga pulang Ton!"
"Lo harus istirahat Dim, lo....."
"Ini kesempatan gue buat balikin kafe Ga, lo tau kita berdua berjuang dari nol buat kafe ini dan gue nggak mau semua itu sia sia jadi jangan cegah gue buat pergi!"
"Gue anterin!"
"Nggak perlu, gue bisa sendiri!"
Yoga akhirnya mengalah dan membiarkan Dimas pergi.
"Lo pulang aja Ton, besok pagi gue tunggu di sini!"
"Lo nggak pulang bang?"
Yoga menggeleng.
"Gue juga disini aja sama lo!" ucap Toni.
"Lo pulang Ton, kasian Tiara sendirian, Dimas bilang dia tinggal sama lo sekarang!"
"Iya sih, lo nggak papa di sini sendiri bang?"
"Nggak papa, kan di depan banyak orang orangnya Dimas!"
"Ya udah kalau gitu, gue pulang dulu bang!"
Yoga mengangguk lalu membaringkan dirinya di sofa. Ia memikirkan ucapan Dimas beberapa waktu yang lalu.
"iya, ini soal masalah pribadi gue."
"masalah pribadi? apa mungkin Anita yang ngelakuin semua ini? apa dia bisa bertindak sejauh ini? gue nggak yakin, tapi gue harus cari tau," ucap Yoga dalam hati.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Andi masih berada di kamar Dini. Mereka masih terjaga. Dini duduk dengan menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Kamu mau kita ke kafe besok?" tanya Andi.
Dini tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak membuka mulutnya dan hanya diam dengan sesekali menangis tanpa suara.
Ia berusaha untuk tidak mempedulikan apa yang ia lihat di video itu. Tak hanya sekali dua kali hubungannya dengan Dimas renggang karena salah paham dan ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Ia akan menunggu Dimas untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di video itu. Ia mencintai Dimas dan sudah seharusnya ia percaya pada Dimas.
Meski begitu, tetap saja hatinya terasa sakit melihat laki laki yang ia cintai memeluk perempuan lain seperti itu.
"Dimas udah hubungin kamu? apa kamu mau aku hubungin dia?" tanya Andi yang masih berusaha agar Dini mau berbicara, namun Dini hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Andi.
**
Sesampainya Dimas di apartemen Anita. Ia segera duduk di sofa panjang.
"Kamu pucet banget, kamu nggak papa?" tanya Anita yang melihat wajah Dimas begitu pucat.
"Nit, kamu tau aku bangun kafe itu dari nol sama Yoga dan aku udah jatuh bangun di kafe itu sama Toni, kalau sampe' ada apa apa sama kafe dampaknya bukan cuma sama aku, tapi juga sama Yoga dan Toni, kamu ngerti itu kan?"
"Iya, aku ngerti," balas Anita dengan santai. Ia tidak mengerti kenapa Dimas tiba tiba membicarakan soal kafe padanya. Tapi ia tidak akan bertanya apapun karena Ivan melarangnya untuk bertanya soal apapun pada Dimas.
"Tapi kenapa kamu ngelakuin ini Nit?"
"Karena aku sayang sama kamu dan aku mau kamu jadi milikku, apa ucapan ku terlalu sulit buat kamu mengerti?"
"Anita, tolong kamu ngerti, kamu nggak bisa maksa aku buat balas perasaan kamu, aku...."
"Begitu juga kamu yang nggak bisa maksa aku buat berhenti ngejar kamu," ucap Anita.
Dimas hanya membuang napasnya kasar mendengar ucapan Anita. Ya, cinta memang tidak bisa dipaksa. Ia tidak bisa memaksa hatinya untuk mencintai Anita, begitu juga Anita yang tidak bisa memaksa hatinya untuk merelakan Dimas.
"Aku akan minta 7 orang itu buat bikin permintaan maaf asalkan kamu mau turutin kemauanku!" ucap Anita membuat Dimas menoleh cepat ke arahnya.
"Permintaan maaf?"
"Iya, aku akan minta mereka klarifikasi kalau semua itu cuma salah paham, tapi kamu harus janji buat turutin semua kemauanku, gimana?"
"Apa yang kamu mau?"
"Kamu, aku mau kamu jadi milikku," jawab Anita dengan senyum manisnya.
"Apa nggak ada yang lain selain itu?"
Anita menggeleng cepat.
"Bagiku cukup punya kamu duniaku udah sempurna."
Dimas diam beberapa saat. Ia tidak mungkin menerima permintaan Anita, tapi ia juga tidak bisa egois. Kafe itu tidak hanya menyangkut hidupnya, tapi juga ada Yoga, Toni dan Tiara yang akan merasakan dampaknya. Ia sangat ingat bagaimana ia jatuh bangun ketika memulai kafe itu bersama Yoga dan sekarang kafe miliknya sudah mempunyai cabang berkat kerja keras Yoga dan Toni.
Ia benar benar bimbang. Di saat ia mulai selangkah lebih dekat dengan Dini, takdir kembali melemparnya mundur.
"Aku nggak maksa kamu sayang, keputusan ada di tangan kamu, kamu mau pertahanin bisnis atau cinta itu terserah kamu," ucap Anita.
__ADS_1
"Dan aku harap kamu nggak egois," lanjut Anita dengan berbisik.