
Andi mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Dimas. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya Dini akan melakukan hal yang diucapkan Dimas. Dalam hatinya ia sama sekali tidak percaya pada ucapan Dimas, namun melihat Dimas yang begitu yakin, ia tidak melihat celah kebohongan dari raut wajah Dimas.
"Lo pasti salah paham Dim," ucap Andi pada Dimas.
Dimas menggeleng.
"Gue liat dia lagi mesra mesraan sama cowok," ucap Dimas.
"Siapa? dimana? setau gue dia nggak pernah keluar selain sama lo atau gue!"
"Gue liat dia pegangan tangan sama cowok, di bioskop, barusan," jawab Dimas dengan tersenyum tipis menatap Andi.
Mendengar itu, Andi hanya bisa diam dengan membawa pandangannya ke berbagai arah karena salah tingkah. Ia tidak tau jika Dimas melihat apa yang baru saja dilakukannya dengan Dini tadi.
"Dim, gue....."
"Maaf lama," ucap Dini yang tiba tiba datang, membuat Andi menghentikan ucapannya.
"Nggak papa sayang, sekarang mau kemana?"
"Terserah, aku ikut aja, kamu mau kemana Al?"
"Nggak tau, kamu mau kemana Ndi?"
"Pulang aja gimana?"
Mereka semua saling pandang seolah meminta jawaban satu sama lain. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Dimas mengantar Dini, Andi dan Aletta kembali kos.
Tentang ucapannya pada Andi, Dimas hanya menggoda Andi. Ia memang cemburu, tapi ia percaya pada Dini dan Andi. Ia percaya Dini dan Andi tidak akan melakukan hal di luar batas persahabatan mereka.
Ia sangat mencintai Dini dan ia tidak ingin kehilangan Dini hanya karena cemburu butanya.
Sesampainya di depan kos, Andi dan Aletta segera turun dari mobil meninggalkan Dimas dan Dini yang masih berada di dalam.
"Anita masih belum hubungin kamu?" tanya Dini pada Dimas.
"Belum," jawab Dimas setelah ia mengecek ponselnya.
"Aku jadi khawatir sama dia," ucap Dini.
"Kenapa? Kita bisa ngabisin banyak waktu tanpa dia sayang, jadi ngapain kamu khawatirin dia?"
"Aku seneng karena kamu bisa punya banyak waktu buat aku, tapi aku jadi nggak tenang karena dia tiba tiba ngilang gitu aja, aku takut ada apa apa sama dia."
"Nggak ada apa apa sayang, dia pasti bisa jaga dirinya sendiri."
"Kamu nggak mau samperin dia?"
Dimas menggeleng.
"Aku nggak mau kepedulian dan perhatianku bikin dia makin besar kepala, aku nggak mau ada salah paham lagi, aku harus lebih tegas sama perasaanku Andini, aku nggak mau kesalahanku yang dulu terulang lagi."
"Iya sih, tapi...."
"Sayang, kamu nggak inget apa yang dia lakuin buat pisahin kita? dia sendiri yang pilih buat jadi jahat dan dia bukan temen kita lagi Andini, kamu harus inget itu!"
Dini menganggukkan kepalanya. Ia ingat apa yang sudah Anita lakukan pada Dimas, ia ingat bagaimana dia merencanakan hal yang jahat demi mendapatkan Dimas. Ia tidak menyangka Anita akan bertindak sejauh itu.
"Dimas, tentang kejadian di Singapura itu, kamu beneran nggak pernah ngelakuin apa apa sama dia?" tanya Dini memastikan.
"Menurut kamu? apa di mata kamu aku cowok yang kayak gitu?"
Dini menggeleng.
"Aku percaya sama kamu, tapi waktu itu kamu amnesia dan kamu bahkan nggak bisa bedain apa yang dibilang Anita itu cuma khayalannya atau emang fakta!"
"Tapi jauh di lubuk hatiku aku ragu sama semua cerita dia, karena aku nggak punya hal lain untuk aku percaya jadi aku percaya sama dia walaupun aku sendiri nggak yakin!"
"Aku jatuh cinta sama kamu waktu pertama kali liat kamu di kafe Andini, apa itu belum cukup buat bukti seberapa besar aku mencintai kamu bahkan ketika ingatanku hilangpun hatiku tetep milih kamu, jadi tolong jangan pernah raguin itu lagi," lanjut Dimas.
Dini lalu menarik tangan Dimas dan menggenggamnya.
"Aku minta maaf," ucap Dini yang di balas dengan senyuman dan belaian oleh Dimas.
Mereka lalu keluar dari mobil. Dini masuk ke kamar, sedangkan Dimas menghampiri Andi yang sedang belajar di teras.
"Tugas?" tanya Dimas pada Andi.
Andi hanya mengangguk sebagai balasan.
"Soal yang gue bilang tadi nggak usah dipikirin, gue cuma bercanda haha..." ucap Dimas dengan menepuk bahu Andi.
Andi lalu menutup bukunya dan menatap Dimas.
"Gue cinta sama dia Dim, gue nggak bisa ninggalin dia," ucap Andi yang kini tampak serius membuat Dimas sedikit ketakutan. Takut jika tiba tiba Andi mengungkapkan perasaannya pada Dini.
__ADS_1
"Ii... iya.. gue tau, kenapa lo bilang gitu sama gue?"
"Apa menurut lo gue bisa nahan perasaan ini selamanya? apa salah kalau dia tau perasaan gue yang sebenernya, sekarang?" tanya Andi dengan menekankan kata "sekarang".
"Ee.... enggak.... lo nggak salah, tapi...."
"Apa yang lo rasain tadi, sama sama apa yang gue rasain tiap liat lo sama Dini, cemburu, sakit!"
"Andini udah milih gue Ndi, please lo ngerti, gue akan bahagiain dia semampu gue, gue akan lakuin apapun demi dia bahkan jika itu di luar batas sanggup gue, lo juga tau kan seberapa besar perasaan gue buat dia, kita saling cinta Ndi, gue harap...."
"Hahahahaha........... " Andi tiba tiba tertawa melihat Dimas yang tampak sangat serius. Ya, dia hanya mengerjai Dimas. Dia melakukan epic comeback yang sukses membuat Dimas begitu panik.
"Lo gila Ndi?" balas Dimas yang kini tampak kesal.
"Hahaha..... sorry sorry, gue cuma ngelakuin apa yang lo lakuin tadi!"
"Jadi semua yang lo bilang tadi?"
"Ada yang bener ada yang enggak, tenang aja gue udah expert buat nyimpen perasaan gue baik baik!"
"Lo serius?"
"Lo tau Dim, buat gue yang paling penting kebahagiaan Dini, bukan kebahagiaan gue sendiri dan gue tau dia udah bahagia sama lo!"
"Thanks Ndi, lo emang sahabat yang baik," balas Dimas dengan memeluk Andi.
Tak lama kemudian Nico datang dengan memukul punggung Dimas dan Andi bergantian.
"Dasar, pasangan mesum!" ucap Nico dengan memukul Andi dan Dimas. Ia tidak mengerti kenapa Andi dan Dimas bisa begitu dekat. Andi dan Dimas mencintai gadis yang sama namun mereka tak bersaing untuk memperebutkannya. Kebesaran hati dan kedewasaan mereka mengalahkan ego mereka masing masing.
"Apaan sih Nic, lo ganggu aja deh!" balas Dimas lalu melepaskan Andi dari pelukannya.
"Lo udah punya cewek masih aja peluk peluk cowok, gue kan juga mau," balas Nico lalu bersiap memeluk Andi namun Andi menghindar.
Mereka bertiga lalu tertawa bersama.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dimas bersiap untuk pergi ke kafe. Ia masih sering mengunjungi kafe untuk memastikan keadaan kafe baik baik saja. Sebelum pergi, Dimas naik ke lantai dua untuk menemui Dini.
"Aku mau ke kafe dulu sayang, aku harus pastiin gimana keadaan kafe sekarang!" ucap Dimas pada Dini.
"Iya, jaga diri kamu baik baik ya!"
"Kamu juga," balas Dimas dengan memeluk Dini, mencium keningnya lalu pergi meninggalkan Dini.
**
Setelah memencet bel, sang pemilik rumah membukakan pintu untuk Dimas.
"Masuk Dim!"
Dimas masuk lalu duduk setelah sang pemilik rumah mempersilakan untuk duduk.
"Saya tebak, dia pasti marah sama kamu kan setelah kejadian kemarin?" terka Dokter Mela.
"Dokter tau?" tanya Dimas tak percaya, pasalnya selama ada Dokter Mela dan Dokter Aziz, Dini tak menunjukkan sikap ketidaksukaannya pada pertemuan saat itu.
"Saya tau dia nggak nyaman sama pertemuan kemarin, tapi dia berusaha buat nutupin itu, iya kan?"
"Iya Dok, dia marah dan kecewa sama saya," jawab Dimas.
"Sekarang gimana hubungan kalian? masih baik baik aja kan?"
Dimas mengangguk.
"Semuanya baik baik aja Dok, tapi........"
"Tapi? dia nggak mau ketemu saya lagi?"
Dimas mengangguk pelan.
"Nggak papa Dim, saya ngerti, yang harus kamu lakuin sekarang adalah buat dia percaya sama kamu dan ceritain semuanya sama kamu, saya harus melakukan terapi psikoanalisa terlebih dahulu, tapi berhubung dia nggak mau ketemu saya, saya bisa lakuin itu lewat kamu."
"Maksud Dokter?"
"Pastiin dia cerita semua masalahnya sama kamu, pelan pelan aja dan jangan paksa dia, setelah itu kamu ceritakan semuanya sama saya biar saya bisa tau apa saja yang dia alami sebelum dia mengalami fobia itu," jelas Dokter Mela.
"Baik Dok, Dimas akan lakuin apapun buat kesembuhan Andini," balas Dimas.
Sejak saat itu Dimas mulai sering berkonsultasi dengan Dokter Mela mengenai fobia Dini dan tentu saja tanpa sepengetahuan Dini.
"maafin aku sayang, aku cuma mau kamu sembuh, aku cuma mau kamu selalu baik baik aja, maafin aku," ucap Dimas dalam hati.
**
Di tempat lain, setelah Dimas pergi, Dini keluar dari kamarnya untuk pergi ke mini market.
__ADS_1
"Kemana Din?" tanya Andi yang masih berada di teras bersama Nico.
"Mau ke mini market bentar, mau nitip?"
Andi lalu bergegas menutup laptop dan bukunya, ia segera berdiri dan menghampiri Dini.
"Aku ikut, ada yang mau aku beli juga," jawab Andi bersemangat.
"Lo nitip nggak Nic?" tanya Andi pada Nico.
"Nitip semua yang ada di mini market hahaha...."
"Lo mau nitip apa ngerampok?" seloroh Andi lalu pergi bersama Dini meninggalkan Nico.
Sepanjang perjalanan ke mini market, banyak hal yang Andi dan Dini bicarakan, tentang kuliah, tentang rencana setelah kuliah, tentang kebiasaan mereka sewaktu kecil juga tentang kebersamaan mereka sampai hari itu.
"Kadang aku mikir, apa kita bisa jadi sahabat kayak gini selamanya? apa kita bisa sedeket ini selamanya? apa kita akan sama sama selamanya?" tanya Dini dengan tetap melangkahkan kakinya namun Andi segera menarik tangan Dini dan memeluknya.
Mereka hanya diam dengan saling memeluk untuk beberapa saat. Saat itu mereka melewati jalan yang sepi dan memang tak banyak orang yang melewati jalan kecil itu ketika malam. Itu adalah jalan yang sama ketika Andi mencium Aletta di depan Rizki.
Dini sengaja mengajak Andi untuk melewati jalan yang sepi itu karena lebih cepat sampai di mini market. Jika tidak bersama Andi, Dini tidak akan mungkin berani untuk melewati jalan sempit yang sepi dan tampak horor itu.
"Apa kamu udah tau jawabannya?" tanya Andi dengan masih memeluk Dini.
Dini mengangguk dalam pelukan Andi. Ia tau jawaban dari semua pertanyaannya adalah sama, yaitu "iya." Ya, ia yakin jika dirinya dan Andi tidak sebatas bersahabat saja, mereka memiliki perasaan yang lebih dalam dari pada itu. Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya, namun Dini menahannya.
"Aku masih kangen sama kamu," ucap Dini dengan semakin erat memeluk Andi.
Andipun kembali memeluk Dini. Untuk beberapa saat mereka saling mencurahkan kerinduan dalam hati mereka. Mengisi bagian hati yang kosong dengan ribuan kebahagian yang indah.
"Apa Dimas nggak akan cemburu liat kamu kayak gini?" tanya Andi.
Dini menggeleng.
"Mungkin Aletta yang cemburu," ucap Dini.
"Mungkin," balas Andi.
"Kamu cinta sama dia?" tanya Dini.
"Aku sayang sama dia," jawab Andi.
"Aku tanya apa kamu cinta sama dia?" ucap Dini mengulangi pertanyaannya.
"Aku cintanya sama kamu hehe...." jawab Andi dengan terkekeh seolah sedang bercanda.
Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan memukulnya.
"Aku serius!" ucap Dini kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang serius dari Andi.
"Hahaha.... ayo buruan jalan, semakin malem, tempat ini jadi makin serem loh!" ucap Andi lalu berlari kecil meninggalkan Dini, membuat Dini semakin kesal dan mengejar Andi.
Setelah sampai mini market, mereka segera mencari barang barang yang akan mereka beli lalu mengantre di kasir. Sebelum kembali ke kos, mereka duduk di bangku depan mini market dengan ice cream di tangan mereka.
"Bener bener kayak bocah kalau udah ketemu ice cream!" ucap Andi sambil mengusap lelehan ice cream di sudut bibir Dini.
Dini hanya terkekeh dan tak mempedulikan ucapan Andi. Ia begitu menggilai ice cream sehingga tak ada siapapun yang dapat menganggunya.
"Kenapa kamu secinta itu sih sama ice cream?" tanya Andi.
Dini menggeleng.
"Cinta nggak butuh alasan Ndi, selain ibu sama Dimas, ice cream ini cintaku yang ke tiga," jawab Dini dengan menjilat lelehan ice cream di tangannya, persis seperti anak kecil.
"Aku nggak ada di daftar yang kamu cintai nih?" tanya Andi.
Dini menggeleng.
"Enggak," jawab Dini singkat.
"Apa nggak ada cara biar aku bisa masuk daftar yang kamu cintai?"
"Ada, caranya cuma satu."
"Apa itu?"
Dini lalu membuang bungkus ice cream nya lalu menatap Andi lekat lekat.
"Jangan pernah tinggalin aku, selamanya," ucap Dini dengan raut wajah serius.
Andi tersenyum kecil dan mengusap rambut Dini.
"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu Din, aku akan selalu ada di belakang kamu, bahkan sampai kamu bosen sama aku pun aku nggak akan pergi dan akan selalu ada buat kamu sampe' kapanpun," ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini.
Mereka sudah seperti pasangan kekasih saat itu. Kedekatan mereka sering menimbulkan salah paham pada siapapun yang baru mengenal mereka.
__ADS_1