
Dimas mempercepat langkahnya mengikuti Anita yang semakin cepat berjalan.
"Kamu yakin Nit?" tanya Dimas.
Anita tak menjawab, ia sangat yakin jika Andi dan Dini berada di bukit itu.
Sesampainya di bawah bukit, Anita meminta Dimas untuk naik terlebih dahulu.
"Kamu naik duluan!" ucap Anita pada Dimas.
"Tempat apa ini? di sini sepi banget Nit," balas Dimas ragu.
"Kalau kamu mau ketemu Dini sama Andi, naik!"
Dimaspun menuruti perkataan Anita, meski ia ragu jika Dini dan Andi berada di sana. Tempat itu begitu asing untuk Dimas.
"ini tempat apa sih? dibilang tempat wisata, bukan, bukit biasa tapi kenapa ada lampu lampu kecil ini, apa bekas tempat wisata? di perkampungan gini?" batin Dimas bertanya tanya.
Sesampainya di ujung tangga paling atas, Dimas membelalakkan matanya, melihat satu perempuan yang sangat dikenalnya sedang menyandarkan kepalanya di bahu seorang laki-laki yang sangat ia tau siapa itu.
Meski hanya melihat mereka dari belakang, Dimas yakin jika yang ada di hadapannya adalah Andi dan Dini.
Sedikit sesak terasa menghimpit dadanya, meski ia tau jika Andi dan Dini hanya bersahabat, nyatanya kebersamaan mereka justru terlihat lebih dekat dibanding dengan dirinya. Terlebih ia juga tahu jika Andi memiliki perasaan yang lebih terhadap Dini.
Dimas membalikkan badannya dan turun, berniat meninggalkan bukit itu.
"Loh, kok turun? nggak ada?" tanya Anita keheranan.
"Ada," jawab Dimas singkat dengan tetap berjalan meninggalkan bukit.
"Kenapa turun?"
"Kamu pulang aja Nit, aku mau nunggu di rumah Andini aja!"
"Kamu nggak mau nganterin aku pulang?"
Dimas hanya menoleh, tak menjawab apa pun.
"Ya udah, aku ikut kamu nunggu di depan rumah Dini aja!"
"Kenapa?"
"Anggap aja aku nunggu Andi."
"Terserah kamu!"
Merekapun menunggu Dini dan Andi di depan rumah Dini.
***************************************
Di bukit, Andi dan Dini yang masih duduk berdua tidak menyadari kedatangan Dimas.
"Aku ngantuk Ndi, capek banget!" ucap Dini sambil menguap.
"Ya udah ayo pulang!"
Dini mengangguk.
Merekapun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di depan rumah, Dini terkejut melihat mobil Dimas yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Mobil Dimas ya?" tanya Andi.
"Iya kayaknya."
"Ya udah, aku pulang ya, jangan aneh-aneh ya Din hahaha....."
"Apaan sih Ndi, ya udah pulang sana!" balas Dini dengan mendorong tubuh Andi.
Dini segera berjalan ke rumahnya. Ia tidak tau jika tidak hanya Dimas yang menunggunya di rumah, melainkan ada Anita yang duduk di samping Dimas.
"Andini, dari mana aja?" tanya Dimas yang melihat Dini berjalan ke arahnya.
Dimas mendekati Dini dan memeluknya, namun Dini segera melepaskannya.
"Kamu ngapain di sini? " tanya Dini.
"Aku nyari kamu, aku nunggu kamu dari tadi."
"Sama Anita?"
"Aku nyari Andi, rumahnya gelap, sepi lagi, nggak sengaja ketemu Dimas di sini, jadi aku ke sini sekalian nunggu Andi," jelas Anita beralasan.
"Ooo," jawab Dini hanya dengan membulatkan bibirnya.
"Ya udah, aku mau ke rumah Andi dulu ya, barangkali udah pulang," ucap Anita.
Dini mengangguk.
Anitapun meninggalkan rumah Dini dan pulang.
"pastilah Andi udah pulang, orang Dini udah pulang," ucap Anita dalam hati.
Dini dan Dimas duduk di balai-balai depan rumah Dini. Suasana yang canggung membuat mereka hanya diam.
"Mau masuk?" ajak Dini, berusaha memecahkan kecanggungan yang ada.
"Boleh," jawab Dimas.
"Aku bikinin minum ya!" ucap Dini sambil masuk ke dapurnya.
"Nggak usah repot repot Din!"
Tak lama kemudian Dini keluar membawa 2 gelas coklat panas dan menaruhnya di meja.
"Kamu dari mana?" tanya Dimas.
"Mmmm, aku.... dari toko, beli ini," ucap Dini sambil menunjuk 2 gelas coklat panas di hadapannya.
"Perasaan tadi kamu nggak bawa apa-apa!"
"Bawa kok, aku masukin saku jaket, kan cuma 2 sachet chocolat*s jadi aku masukin jaket, minum Dim!" jelas Dini berusaha menutupi yang sebenarnya.
__ADS_1
Dimas hanya mengangguk meski ia tahu jika Dini berbohong, iapun menyeruput coklat panas di hadapannya.
"Aaaaaa.... paanasss!!" teriak Dimas yang merasa lidahnya terbakar karena meminum begitu saja coklat panas yang disiapkan oleh Dini.
"Duh Dimas, kan aku udah bilang panas, pelan-pelan dong minumnya," balas Dini sambil mengambil air dingin untuk Dimas.
Dimas masih sibuk mengibas-ngibaskan tangannya di depan lidahnya yang terjulur untuk mengurangi rasa panas di lidahnya.
"Minum Dim!" ucap Dini yang duduk di depan Dimas sambil memberinya satu gelas air dingin.
Dimas segera meminum air dingin yang diberi Dini dan meminumnya hingga habis membuat Dini tertawa kecil melihat tingkah Dimas.
Dimas meletakkan gelasnya di meja dengan kasar kemudian memegang kedua pipi Dini dan mendekatkan tubuhnya ke arah Dini.
"Dimas, kamu mau ngapain?" tanya Dini gugup.
"Aku mau balas dendam!" jawab Dimas dengan ekspresi datar.
"Lepas Dim!" ucap Dini sambil berusaha mendorong tubuh Dimas namun Dimas tak bergerak sedikitpun.
"Diem Andini!"
Dini hanya bisa menelan ludah melihat Dimas yang terlihat sangat serius. Usahanya untuk mendorong tubuh Dimas hanya sia sia karena kekuatannya sama sekali tak bisa membuat Dimas menjauh darinya.
Dimas semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dini, tiba-tiba Dimas menjilat ujung bibir Dini dan berdiri menjauh dari Dini dengan tertawa puas.
"Hahaha..... makasih ya sayang, lidahku udah nggak panas lagi," ucap Dimas dengan tertawa terpingkal-pingkal mengingat ekspresi Dini yang seperti ketakutan.
"Diiiiimaaaassssss!!!!" teriak Dini sambil melempar boneka yang ada di kursinya ke arah Dimas.
Dimas hanya tertawa melihat tingkah Dini. Sedangkan Dini, berusaha untuk menetralkan jantungnya yang berdetak sangat kencang dan tak beraturan.
Tak hanya sekali Dimas membuatnya merasa seperti ini, ia harus pandai pandai mengajak kerja sama jantungnya agar tak membuatnya salah tingkah di depan Dimas.
Dimas kembali duduk di sebelah Dini.
"Nyebeliiiiiin," ucap Dini sambil mencubit pinggang Dimas hingga ia mengerang kesakitan.
"Aduuuuhh, iya maaf, kamu sih kalau minum selalu belepotan hehehe," balas Dimas terkekeh.
Dini mengusap usap bibir dan pipinya, takut masih ada sisa coklat yang baru diminumnya.
"Udah nggak ada, kan udah aku bersihin," ucap Dimas dengan mengerjapkan sebelah matanya.
"Cubit lagi nih!"
"Hahaha, jangan dong!"
Dini duduk membelakangi Dimas karena kesal.
Dimaspun mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Aku minta maaf ya!" ucap Dimas pelan.
"Nggak papa," jawab Dini singkat.
"Bukan soal itu tadi."
"Soal apa?"
Dini hanya diam, memorinya kembali mengingat apa yang dilihatnya ketika di pantai.
"Kamu marah?" tanya Dimas.
Dini menggelengkan kepalanya.
"Aku janji akan ganti liburan itu lain kali, kita liburan berdua atau berempat sama Andi sama Anita, kamu mau kan?"
Dini mengangguk dan tersenyum tipis.
"dia siapa Dimas? kenapa kamu nggak jelasin apa-apa soal dia?" tanya Dini dalam hati.
Tiba-tiba ponsel Dimas berdering, Dimas mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Terlihat nama Sintia di layar ponselnya. Ia me-reject panggilan Sintia dan memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Namun tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, ia segera mematikan ponselnya agar Sintia tidak menghubunginya lagi.
"Siapa Dim?" tanya Dini.
"Bukan siapa-siapa, kayaknya aku harus ganti nomor deh!"
"Kenapa?"
"Biar nggak ada yang ganggu!"
"apa itu tadi cewek yang aku lihat di pantai sama kamu?" batin Dini bertanya.
"Aku pulang dulu ya, udah malem!"
Dini mengangguk.
Di depan pintu, Dimas kembali memeluk Dini dengan begitu erat.
"Aku sayang sama kamu," ucap Dimas setengah berbisik lalu mencium kening Dini sebelum berjalan masuk ke mobilnya.
Lagi-lagi Dini harus berjuang keras untuk tidak membuat jantungnya melompat lompat di dadanya.
"Aku pulang sayang!" pamit Dimas dengan melambaikan tangan.
"Hati-hati," jawab Dini dengan membalas lambaian tangan Dimas.
Dini segera masuk ke kamarnya dan mulai berkutat pada buku-buku sekolahnya.
*********************************
Andi yang dari tadi menunggu Dimas di depan rumahnya mulai gelisah karena Dimas yang tak kunjung terlihat meninggalkan rumah Dini.
"mereka ngapain aja sih, harusnya tadi aku ikut Dini aja, tapi kesel juga kalau liat Dimas manja manja sama Dini, arrggghhh, jadi nggak jelas gini sih!" batin Andi kesal.
Andi mengambil ponselnya dan segera menghubungi Dimas.
"Belum pulang?" tanya Andi ketika Dimas sudah menerima panggilannya.
"Ini mau pulang, kayak mak gue aja nanya udah pulang apa belum!" gerutu Dimas.
__ADS_1
"Mak khawatir nak, sini mampir ke rumah mak dulu."
"Kenapa, kangen?"
"Buruan, mau dikutuk jadi batu?"
Tuuuttt.... tuuuttt.... tuuuttttt.....
Dimas mematikan panggilannya dan terkekeh. Ia yakin jika Andi pasti cemburu. Iapun melajukan mobilnya ke rumah Andi yang tak jauh dari rumah Dini.
"Cemburu ya?" ledek Dimas pada Andi ketika sudah turun dari mobilnya.
"Ngapain aja sih, lama banget!"
"Orang pacaran biasanya ngapain kalau lagi di rumah berduaan?" balas Dimas menggoda Andi.
"Lo jangan macem-macem ya sama Dini!"
"Kalau Andininya mau, gimana?"
"Eh, lo sama Dini tuh belum pacaran, nggak usah kepedean!"
"Tinggal nunggu waktu aja Ndi, waktu di mana lo bakalan liat gue sama Dini gandengan tangan, pelukan, ciuman, terus aaaaaaaaaaaa........" teriak Dimas sebelum melanjutkan ucapannya.
Andi yang dari tadi sudah kesal merasa semakin dibuat kesal oleh Dimas, iapun sengaja menginjak kaki Dimas dengan kencang membuat Dimas mengerang kesakitan.
"Hahaha, rasain lo!" ucap Andi sambil berdiri berniat untuk masuk ke rumahnya.
"Sialan lo Ndi, jangan kabur lo!" balas Dimas sambil menarik tangan Andi hingga dia kembali terduduk dan menginjak kaki Andi dengan kencang seperti yang dilakukan Andi padanya.
"Aaaaaa....... gila lo Dim!" ucap Andi sambil menggosok gosok kakinya yang terasa panas karena injakan Dimas.
Mereka berdua pun tertawa, menertawakan kebodohan mereka sendiri.
"Gue emang udah gila dari pertama gue kehilangan Andini," ucap Dimas yang tiba-tiba membuat suasana menjadi sendu.
"Gue udah gila sejak gue sadar kalau gue suka sama sahabat gue sendiri."
Merekapun saling pandang kemudian kembali tertawa terpingkal pingkal.
"Melow banget sih jadi cowok!" ucap Dimas.
"Lo juga!"
"Oh iya, lo nggak bilang apa-apa kan soal Sintia sama Andini?"
"Enggak kok, itu urusan lo sendiri, gue harap lo mau jujur sama dia sebelum jadi salah paham!"
"Iya Ndi, gue juga nggak bisa terus-terusan lari dari Sintia, gue cuma nunggu waktu yang tepat buat ceritain ini sama Andini."
Andi mengangguk anggukkan kepalanya. Ia percaya Dimas tau apa yang terbaik untuk Andini.
"Soal Anita, gue mau jujur sesuatu sama lo!" ucap Dimas pada Andi.
"Soal Anita? apa?"
"Sebenarnya Anita pernah bilang suka sama gue, tapi gue udah jelasin kalau gue cuma suka dan sayang sama Andini, gue cuma anggap dia teman biasa, nggak lebih!"
"Lo harus bisa nempatin posisi Dim, lo nggak bisa menyamaratakan semua cewek, sikap lo sama mereka sering bikin mereka salah paham, lo tau itu kan?"
"Gue baru tau Ndi, kalau ternyata kebaikan gue disalahkan artikan kayak gini."
"Lo harus tau mana yang seharusnya jadi prioritas buat lo!"
"Iya, gue sekarang tau, lo nggak masalah Anita suka sama gue?"
"Enggak, itu sih masalah lo sendiri!"
"Lo sama sekali nggak ada rasa sama dia?"
Andi menggeleng.
"Gue mau minta tolong sama lo Ndi!"
"Kenapa sih lo ngrepotin gue aja!"
"Seriusan Ndi, kali ini aja!"
"Apa?"
"Lo tau kan gue sayang banget sama Andini dan lo juga tau kalau Anita suka sama gue, Andini sama Anita kan temenan, gue nggak mau ngerusak hubungan baik mereka!"
"Jadi?"
"Jadi, lo bisa nggak jadian sama Anita?"
"Jangan gila deh Dim!"
"Iya gue tau lo nggak suka sama dia, tapi lo kan bisa coba buat deketin dia lagi, selama ini kan dia selalu berusaha deketin lo dan nggak ada hasil, sekarang lo yang harus deketin dia, itung-itung biar lo bisa hilangin perasaan lo sama Andini."
Andi diam, memikirkan ucapan Dimas.
"Ayolah Ndi, biar Anita nggak deketin gue terus!" ucap Dimas memelas.
"Apa kalau gue jadian sama dia, dia bakalan berhenti deketin lo?"
"Iya dong," jawab Dimas yakin.
"Pasti?"
"Gue yakin Ndi, Anita itu kesepian, dia cuma butuh seseorang yang bisa selalu ada buat dia, semua teman-temannya di sekolah fake, nggak ada yang bener-bener tulus sama dia dan soal Pak Sony, lo pasti tau kan gimana hubungan mereka, Anita butuh teman buat luapin semua kesedihannya Ndi, gue yakin dia nggak bener-bener suka sama gue, cuma karena gue satu-satunya orang yang nemenin dia di rumah sakit, dia jadi ngerasa suka sama gue, gue yakin dia cuma salah artiin perasaannya sama gue!"
"Apa gue bisa jadi seseorang yang selalu ada buat dia?"
"Bisa Ndi, lo pasti bisa, Andini udah sama gue, lo bisa luangin semua waktu lo buat Anita."
"Kalau gue nggak bisa suka sama dia?"
"Cinta bisa tumbuh tanpa lo sadar Ndi, lo tau itu kan? percayain Andini sama gue, gue janji nggak akan nyakitin dia sedikitpun!"
"Soal Sintia?"
"Soal Sintia urusan nanti, dia jauh dari sini, jadi gue bisa nunggu waktu yang tepat buat jelasin soal Sintia sama Andini."
__ADS_1
Andi kembali diam, ia bimbang apakah ia harus kembali pada Anita? atau tetap sendiri melihat Dini bersama Dimas yang semakin dekat.