
Setelah Dimas meninggalkan rumah Dini, tinggal Dini dan Lia di sana.
"Kamu percaya sama Dimas?" tanya Lia pada Dini.
"Percaya apa?"
"Soal komik tadi."
"Aku nggak mau tau, udah ayo dikerjain!"
Dini dan Liapun melanjutkan mengerjakan tugas masing-masing walau sesekali Lia masih membahas Dimas.
Dini sebenarnya juga penasaran kenapa ada komik romance di tas Dimas.
"kenapa rasanya aku nggak percaya ya sama Dimas," batin Dini.
"Jangan-jangan Dimas selingkuh Din!" ucap Lia tiba-tiba.
Dini menghentikan tulisannya, lalu menatap tajam ke arah Lia.
"Hehehe, sorry sorry," ucap Lia terkekeh.
Di sisi lain, Dimas yang mengendarai mobilnya menuju rumah sakit tak lupa membeli minuman coklat untuk Anita.
Sesampainya di rumah sakit, Dimas segera menuju ke ruangan Anita.
Di ruangannya, Anita masih terbaring di ranjang dengan membaca komik.
"Permisi, paket!" ucap Dimas sambil membuka pintu.
Melihat Dimas datang, Anita segera bangkit dan duduk di ranjangnya.
Ia terlihat begitu senang melihat Dimas menepati ucapannya untuk datang.
"Ada yang lagi seneng nih kayaknya," ucap Dimas yang melihat Anita begitu sumringah.
"Iya dong, kan ada yang nemenin."
"Bosen ya?" tanya Dimas.
"Iya, semua komik yang dikasih Mbak Dewi udah selesai aku baca, jadi tambah bosen," jawab Anita dengan bibir manyun.
Dimaspun mengeluarkan komik yang dia beli dan memberikannya pada Anita.
"Buat kamu, biar nggak bosen," ucap Dimas sambil menaruh beberapa buah komik di pangkuan Anita.
"Waaaahh, komik romance," ucap Anita senang.
"Suka?"
"Banget, makasih ya Dimas," ucap Anita sambil meregangkan kedua tangannya sebagai isyarat ingin memeluk Dimas.
Dimaspun berdiri dan memeluk Anita.
"Nanti kalau udah dibaca semua, aku beliin lagi!" ucap Dimas.
"Beneran?"
"Iya bener," jawab Dimas meyakinkan.
"Makasih ya," ucap Anita yang semakin erat memeluk Dimas.
Tiba-tiba Dokter Dewi masuk dan melihat Anita dan Dimas yang masih berpelukan.
__ADS_1
"Eh, maaf, Mbak nggak tau!" ucap Dokter Dewi sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
Anita dan Dimaspun salah tingkah karena tiba-tiba Dokter Dewi masuk.
"Jangan lebay deh Mbak!" ucap Anita melihat reaksi Dokter Dewi.
"Hehehe, maaf ya Mbak nggak sengaja ganggu kok!"
"Enggak ganggu kok Dok!" balas Dimas.
"Udah dari tadi Dimas?" tanya Dokter Dewi.
"Haaahh, enggak kok Dok, baru aja, Anita duluan yang minta dipe....."
Buugghh!!
"Aduuhh," pekik Dimas memegang perutnya yang dipukul oleh Anita dengan tumpukan komik.
"Gimana Dok?" tanya Dimas yang baru sadar jika ia salah menjawab.
"Hahaha, maksud Mbak, kamu dari tadi di sini?" balas Dokter Dewi yang tidak bisa menahan tawanya melihat sikap Dimas yang salah tingkah.
Dimas hanya bisa mengaruk garuk kepalanya menahan malu.
"Baru aja, Mbak ngapain sih ke sini malem malem?" tanya Anita
"Mbak cuma mau pastiin kamu udah tidur apa belum."
"Abis ini tidur kok."
"Ya udah, jangan tidur malem malem ya!"
"Iya Mbak, tapi Dimas nggak papa kan di sini?"
"Nggak papa, Mbak percaya sama kalian."
"Kamu udah gede pasti ngerti, ya udah Mbak keluar dulu, cepet tidur ya!"
"Iya Mbak."
Setelah Dokter Dewi keluar, Dimas mengeluarkan buku tugasnya.
"Kamu tidur aja Nit, aku mau ngerjain tugas dulu," ucap Dimas.
"Tugas kelompok kamu belum selesai?"
"Belum, banyak banget soalnya."
"Aku bantuin ya!"
"Nggak usah, kamu tidur aja."
"Aku belum ngantuk Dimas, kamu nanti pulang jam berapa?"
"Nggak tau, nunggu kamu tidur nyenyak, baru aku pulang."
Anita mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mulai membaca komik yang ia dapat dari Dimas, sesekali ia melihat ke arah Dimas yang sedang serius mengerjakan tugas kelompoknya.
"kamu tega banget Andini, ngasih aku tugas sebanyak ini, untung aku sayang," ucap Dimas dalam hati membuatnya tanpa sadar tersenyum sendiri.
"Kamu ngapain?" tanya Anita yang melihat Dimas tiba-tiba tersenyum tanpa sebab.
"Ngerjain tugas," jawab Dimas.
__ADS_1
"Kok senyum-senyum gitu?"
"Emang iya? hahaha...."
"Kamu istirahat aja deh, kayaknya otak kamu mulai nggak beres."
"Kamu itu yang harus cepet istirahat."
Anita tak menjawab, ia memilih melanjutkan membaca komik yang dipegangnya. Tak lama kemudian Anita tertidur dengan posisi yang masih duduk di ranjangnya.
Melihat hal itu, Dimas segera mengambil komik yang masih dipegang Anita dan membaringkannya.
"Cepet sembuh ya Nit," ucap Dimas sambil mengusap lembut rambut Anita lalu memakaikannya selimut.
Dimas melanjutkan mengerjakan tugasnya di samping ranjang Anita.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun tugas-tugasnya tak kunjung selesai sedangkan matanya mulai susah untuk diajak kompromi.
Tak berapa lama kemudian Dimas tertidur. Anita yang sudah tertidur lebih dulu tiba-tiba terbangun karena tidak sengaja menyentuh kepala Dimas yang berada di dekat tangannya.
"Dimas," panggil Anita pelan.
"Dimas, kamu tidur?" tanya Anita memastikan.
Tak ada jawaban. Dimas tak mendengar karena sudah sangat lelap tertidur.
Anita yang melihat tugas Dimas belum selesai berniat untuk menyelesaikannya. Dengan kepala yang masih sedikit pusing, Anita mencoba menyelesaikan satu per satu tugas Dimas. Hingga akhirnya ia bisa menyelesaikan semuanya dan tertidur.
Pagi harinya, Dokter Dewi masuk ke ruangan Anita.
"Dimas, kamu nggak sekolah?" tanya Dokter Dewi sambil menggoyangkan goyangan badan Dimas.
"Sekolah Ma," jawab Dimas yang mengira jika Mamanya yang membangunkannya.
"Dimas, bangun Dim!" ucap Dokter Dewi dengan mencubit kecil lengan Dimas.
"Aduuhh, sakit Ma," ucap Dimas yang masih belum membuka matanya.
Anita yang mendengar kegaduhan segera bangun dan terkejut melihat Dokter Dewi yang sudah ada di ruangannya sedangkan Dimas masih tertidur lelap di kursi samping ranjangnya.
"Kenapa Mbak?" tanya Anita.
"Dimas nggak bangun-bangun, udah jam setengah 7 loh!" jawab Dokter Dewi.
"Dimaaaass, bangun Dimas!" ucap Anita ikut membangunkan Dimas yang harus segera ke sekolah.
Dimas mengangkat kepalanya dan begitu terkejut melihat Anita di depannya.
"Anita! kamu ngapain di sini?" teriak Dimas yang masih belum terkumpul nyawanya.
"Maamaaaa," teriak Dimas membuat Dokter Dewi langsung memukul kepala Dimas menggunakan map yang dibawanya.
"Aduuhh," pekik Dimas sambil mengusap usap kepalanya yang dipukul oleh Dokter Dewi.
"Bangun Dimas, banguuuunnnn!" ucap Anita sambil menepuk nepuk pelan kedua pipi Dimas.
"Anita, aku belum pulang ya?" tanya Dimas yang masih terlihat linglung.
"Eh, Dokter Dewi," ucap Dimas yang melihat Dokter Dewi di belakangnya.
"Udah jam setengah 7 Dimas, kamu nggak sekolah?"
"Haaahh, setengah 7? ****** Dimas telat Ma," ucap Dimas yang masih berada di setengah kesadarannya dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
__ADS_1
"Dimas berangkat dulu ya Ma!" ucap Dimas lalu mencium kening Anita membuat Anita terdiam mematung.
Ya, di setengah kesadarannya Dimas melakukan rutinitas paginya yaitu mencium kening mamanya sebelum berangkat ke sekolah, namun bukan mamanya yang sedang ada di hadapannya, melainkan Anita dan Dimas tidak menyadari itu.