Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Tepi Pantai


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini dan Dimas keluar dari perpustakaan setelah menyelesaikan tugas mereka di sana.


"Sayang, kamu duluan ya, aku mau ketemu pak Teguh dulu," ucap Dimas pada Dini.


"Aku tunggu di depan ya!"


"Oke!"


Dini dan Dimas berpisah di depan perpustakaan. Dimas menemui salah satu dosennya untuk membahas ketertinggalannya, sedangkan Dini berjalan ke arah gerbang kampus untuk menunggu Dimas.


Karena tak ingin menunggu sendiri, Dini menghubungi Andi.


"Halo Ndi, kamu dimana? udah pulang?" tanya Dini setelah Andi menerima panggilannya.


"Masih di kampus Din, kamu dimana?"


"Aku mau jalan ke gerbang nih, kamu ke sini ya!"


"Oke oke, aku selesaiin tugasku bentar ya!"


"Oke!"


Ketika akan sampai di gerbang kampus, Dini melihat Aletta yang sedang membaca buku di salah satu bangku yang berada di taman kecil dekat gerbang. Dinipun menghampirinya.


"Hai Al, lagi baca apa?" tanya Dini.


"Biasa, cari materi buat presentasi," jawab Aletta sambil menunjukkan sampul bukunya pada Dini.


"Kamu tadi pagi berangkat duluan?"


"Iya, akhir akhir ini aku sibuk banget Din," jawab Aletta.


"Iya Al, udah mulai siapin skripsi juga ya!"


Aletta hanya menganggukkan kepalanya dengan masih fokus pada buku di hadapannya.


"Aku ganggu kamu ya Al?"


"Enggak kok, enggak, gimana cuti kamu kemarin? luka nya udah sembuh?"


"Udah kok, Dimas juga udah baik baik aja, kamu sendiri gimana sama Andi?"


"Nggak gimana gimana sih, aku seneng kalian semua baik baik aja," jawab Aletta.


"Kalau ada waktu liburan bareng yuk, aku, Dimas, kamu sama Andi, ajak Nico sekalian juga nggak papa, gimana?"


"Aku pikir pikir dulu ya Din, aku bener bener sibuk sekarang," jawab Aletta yang tentu saja menolak ajakan Dini.


"Aku berharap banget loh Al kalau kamu mau, weekend besok!"


"Aku kabarin lagi deh nanti!"


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Aletta berdering, sebuah panggilan dari seorang laki laki.


"Halo, gue deket gerbang nih, lo udah keluar?" tanya Aletta pada si penelepon.


"Udah, gue ke sana sekarang ya!" balas si laki laki.


Aletta lalu menoleh ke arah Dini sebelum menjawab, tepat saat itu Dini juga sedang menoleh ke arah Aletta.


"Eee.... nggak usah, kita ketemu di tempat biasa aja, gue jalan sekarang!" ucap Aletta.


"Loh kenapa Al? biasanya kan bareng!"


"Udah, jangan bawel, gue tunggu di tempat biasa, bye!"


Aletta lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Aku duluan ya Din!" ucap Aletta lalu pergi begitu saja.


"Aletta mau ketemu siapa? kenapa kayak sembunyi sembunyi gitu?" batin Dini bertanya tanya.


Tiba tiba sebuah tangan menutup kedua matanya dari belakang.


"Udah deh Ndi, jangan kayak anak kecil!" ucap Dini yang sudah menduga jika Andi yang menutup kedua matanya.


Si pemilik tangan lalu melepas tangannya dari mata Dini dan duduk di sebelah Dini.


"Dimas!"


"Aku pikir kamu lupa namaku," balas Dimas dengan raut wajah kesal.


"Enggak gitu, aku pikir tadi Andi soalnya aku minta dia kesini, aku pikir kamu bakalan lama!"


"Hmmmm... kayaknya kamu di sini bukan nunggu aku ya!" ucap Dimas lalu berdiri dari duduknya.


Dini menarik tangan Dimas agar Dimas kembali duduk.


"Bukan itu maksud ku, aku minta maaf deh," ucap Dini dengan menarik narik tangan Dimas namun Dimas masih berdiri.


"Kalau bukan di kampus, aku udah peluk kamu sekarang," ucap Dini pelan, namun terdengar oleh Dimas.


"Beneran?" tanya Dimas penuh semangat.


"Tapi kayaknya kamu nggak mau," jawab Dini lalu melepaskan tangannya yang menarik tangan Dimas.


"Mau mau mau, ayo pulang!"

__ADS_1


"Huuuu, dasar, nunggu Andi bentar ya!"


Tak lama kemudian Andi datang menghampiri Dimas dan Dini. Merekapun pulang bersama.


"Aletta sekarang sibuk banget ya Ndi, aku tadi ketemu dia!" ucap Dini pada Andi.


"Iya, sibuk banget," jawab Andi yang bahkan tidak tau apa kesibukan Aletta yang sebenarnya.


Setiap ia pulang kuliah ia tak pernah menemukan Aletta. Beberapa kali Andi menanyakannya pada teman Aletta namun mereka selalu bilang jika Aletta sudah pulang, tapi teman kosnya bilang belum melihat Aletta.


Ketika hari sudah gelap, ia baru bertemu Aletta namun Aletta selalu beralasan lelah dan enggan untuk bertemu dirinya.


Hingga akhirnya Andi menyerah, ia sudah tidak mencari Aletta lagi. Ia membiarkan Aletta melakukan apa yang diinginkannya. Ia akan menunggu sampai Aletta mau menemuinya lagi dan membicarakan semua yang menjadi pokok permasalahan yang tak pernah Andi mengerti.


"Dimas, aku pingin liburan deh, weekend nanti liburan yuk!" ucap Dini pada Dimas.


"Kenapa harus nunggu weekend? sekarang juga bisa!" balas Dimas.


"Ayo ayo, kemana?"


"Ke pantai di daerah X aja, gimana? lo ikut kan Ndi?"


"Bukannya itu belum dibuka buat umum ya?" balas Andi balik bertanya.


"Belum sih, tapi kita bisa ke sana kok, udah ada stand stand makanan minuman juga di sana, tapi emang masih sepi banget," jelas Dimas.


"Justru seru dong kalau sepi, jadi kayak punya kita sendiri hehe...." sahut Dini.


"Kamu ini jadi suka yang sepi sepi ya sekarang, aku jadi takut kamu apa apain hehe...." balas Dimas.


"Buang jauh jauh pikiran kotor kamu itu tuan mesum Dimas!"


"Hehehe, kan kamu yang ngajak, aku sih ayo ayo aja hehe...."


"Kalian sadar nggak sih ada gue di sini?" sahut Andi.


"Hahaha.... sorry sorry," balas Dimas.


"Kita berangkat abis ini ya, kamu juga ikut kan Ndi?" tanya Dini pada Andi.


"Kalian aja lah, aku nggak ikut, jadi obat nyamuk ntar aku!" ucap Andi.


"Ajak Aletta sama Nico sekalian lah!" balas Dimas.


"Aletta sibuk Dim, Nico juga dari kemarin ilang ilangan mulu!"


"Coba hubungin Aletta dulu deh, biar nggak stres sama tugas tuh anak!"


"gimana aku bisa hubungin dia, dari beberapa hari yang lalu aku sama sekali nggak bisa hubungin dia, dia bener bener makin menjauh dari aku," ucap Andi dalam hati.


Tak ada cara lain, karena tak ingin Dini mengetahui hubungannya dengan Aletta yang tidak baik baik saja, Andi mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Aletta, namun seperti yang sudah Andi duga, ia tidak bisa menghubungi Aletta.


"Nggak bisa, HP nya nggak aktif," ucap Andi.


"Ya udah kita bertiga aja, mau ya Ndi?" tanya Dini pada Andi.


"Kamu sama Dimas aja lah Din, aku......"


"Ya udah deh, lain kali aja kalau ada Aletta sama Nico," ucap Dini yang sengaja memotong ucapan Andi.


Dini lalu berjalan mendahului Andi dan Dimas, meninggalkan Andi dan Dimas berdua di belakang.


"Jangan bikin cewek gue sedih bisa nggak!" ucap Dimas dengan meninju lengan Andi.


"Cewek lo yang sedih kok gue yang disalahin?" protes Andi.


"Sedihnya gara gara lo!" balas Dimas.


"Gue sadar diri kali Dim, gue nggak mau ganggu kalian!"


"Ganggu dari mananya, kan Andini sendiri yang minta lo ikut!"


"Lo nggak keberatan kalau gue ikut?"


"Enggak lah, apa lo masih mikir kalau gue cemburu?"


"Emangnya enggak?"


"Cemburu sih hehe...."


"Tuh kan!"


"Hahaha.... wajar dong kalau gue cemburu, gue juga mau Andini bahagia Ndi dan anggap aja ini salah satu cara gue buat bikin dia bahagia," ucap Dimas.


"Lo yakin?"


"Yakinlah, gue yakin hatinya Andini buat gue, jadi gue juga yakin kalau lo nggak akan bisa ambil hatinya dari gue!"


"Gue juga nggak ada niat kayak gitu Dim, lo tenang aja!"


"Jadi gimana? berangkat nggak nih?"


"Oke lah, gue ikut!"


Akhirnya Andi memutuskan untuk ikut Dini dan Dimas ke pantai. Setelah mereka berganti pakaian dan bersiap siap, mereka segera berangkat menggunakan mobil Dimas.


Dimas sengaja tidak pulang ke apartemennya, ia meminjam pakaian Andi agar mereka bisa segera berangkat.


"Kamu di depan aja, aku di belakang!" ucap Dini pada Andi, lalu segera masuk dan duduk di kursi belakang.

__ADS_1


"Kamu kok di situ sayang?" tanya Dimas yang melihat Dini duduk di belakang.


"Biar gue nggak jadi obat nyamuk," jawab Andi lalu duduk di samping Dimas.


Dimas hanya tersenyum tipis lalu segera menyalakan mesin mobilnya. Dimas menjalankan mobilnya ke arah pantai yang tak terlalu jauh dari kampus mereka.


Sesampainya di sana Dimas segera memarkirkan mobilnya. Di lihat dari tempat parkir, tak ada satupun kendaraan yang ada di sana. Mereka lalu segera masuk ke area pantai. Tak lupa mereka melepas sepatu yang mereka kenakan agar tidak basah ketika mereka bermain air di bibir pantai.


Terik mentari siang itu tak menyurutkan niat Dini untuk berlari ke arah tepi pantai. Dengan kaki telanjang, ia segera berlari terlebih dahulu meninggalkan Andi dan Dimas.


"Pasirnya panas loh sayang!" ucap Dimas.


Baru saja Dini melangkah, ia sudah lari terbirit birit kembali.


"Panas banget, pake sepatu aja apa ya!"


"Nggak usah, sini naik!" balas Dimas sambil berjongkok di depan Dini.


"Tapi panas banget loh, kamu yakin?"


"Kamu ragu sama kekuatan aku?"


Dini menggeleng, lalu menaiki punggung Dimas. Dengan berlari kecil Dimas menggendong Dini ke arah tepi pantai.


"Masnya jomblo ya, apa mau gendong saya aja?" goda sang pemilik stand minuman pada Andi.


Andi hanya menoleh dan tersenyum.


"Udah ada dua pasangan loh di tepi pantai, masak masnya mau ke sana tanpa pasangan? kan sayang, masak cakep cakep gini jadi obat nyamuk!"


"Dua pasangan? ada pengunjung lain selain kita bertiga mbak?"


"Ada, sejak beberapa hari kemarin mereka selalu kesini mas, siang ke sini sampe senja hilang, udah gelap baru mereka balik, kayaknya mereka pasangan pemburu senja hehehe....."


"Oh, saya pikir cuma ada saya sama 2 temen saya tadi di sini!"


"Ada satu pasangan lagi mas, makanya masnya kalau mau ke sana sama saya aja hehehe......"


"Makasih mbak tawarannya, saya ke sana dulu ya!" balas Andi lalu berlari ke arah tepi pantai.


Andi duduk di tepi pantai yang tak jauh dari tempat Dini dan Dimas. Melihat Andi yang duduk sendiri, Dimas mengajak Dini untuk menghampiri Andi.


Dini dan Dimas duduk di kanan dan kiri Andi. Mereka sama sama memandang ke arah deburan ombak yang silih berganti menghantam karang.


"Kamu harus bisa sekuat karang karang itu Din, tetap kokoh walaupun berkali kali dihantam ombak, terik dan hujan sekalipun!" ucap Andi pada Dini tanpa menoleh ke arah Dini.


"Iya Ndi," jawab Dini dengan menganggukkan kepalanya.


"Renacana lo abis wisuda apa Ndi?" tanya Dimas pada Andi.


"Cari kerja, gue nggak tau lagi mau ngapain selain itu!" jawab Andi.


"Lo bisa coba apply di perusahaan bokap Ndi, gue yakin lo pasti di terima!"


"Thanks Dim, tapi jurusan gue kayaknya nggak cocok sama perusahaan bokap lo!"


"Coba aja dulu!"


Andi menganggukkan kepalanya. Dini lalu berdiri dan menarik tangan Dimas dan Andi bersamaan.


"Ayo main air, jangan duduk aja!" ajak Dini bersemangat.


Andi dan Dimas lalu berdiri. Mereka kompak menggelitiki Dini, membuat Dini berlari dari kejaran Andi dan Dimas. Andi yang sengaja mengalah, membuat Dimas berhasil menangkap Dini dan memeluk Dini dari belakang lalu mengangkatnya dan berputar putar beberapa saat.


Andi yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum bahagia. Melihat kebahagiaan dari raut wajah Dini sudah cukup membuatnya bahagia. Ketika sedang mengedarkan pandangannya, matanya tertuju pada seorang perempuan dan laki laki yang berada di atas batu karang yang cukup tinggi.


Ia memperhatikan gerak gerik keduanya dari bawah, sampai ia sadar jika ia mengenal siapa perempuan dan laki laki yang berada di atas batu karang itu.


"sejak beberapa hari kemarin mereka selalu kesini mas, siang ke sini sampe senja hilang, udah gelap baru mereka balik, kayaknya mereka pasangan pemburu senja"


Andi mengingat ucapan penjaga stand minuman tadi. Mereka lah pasangan yang dimaksud sang penjaga itu.


Dini dan Dimas yang melihat Andi tampak melamun segera menghampiri Andi.


"Lo kenapa?" tanya Dimas pada Andi.


Andi tak menjawab, matanya masih melihat jauh ke atas batu karang. Dimas dan Dinipun membawa pandangan mereka mengikuti arah pandangan Andi. Mereka melihat seorang laki laki dan perempuan yang sedang berpelukan.


"Iri lo?" tanya Dimas pada Andi, namun Andi masih diam.


Sampai ketika si perempuan melepaskan pelukannya dan mereka tampak bercanda tawa, Dimas dan Dini baru menyadari siapa yang sedang mereka lihat.


"Andi, kamu......"


"Aku mau kesana Din," ucap Andi pada Dini.


Dimas mencegah Andi untuk pergi, ia takut akan terjadi keributan di atas sana dan itu sangat berbahaya.


"Kita balik sekarang Ndi!" ucap Dimas pada Andi.


"Kalian duluan aja," balas Andi yang masih melanjutkan langkahnya.


"Selesaiin semuanya baik baik Ndi," ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Andi.


Pada akhirnya Dimas membiarkan Andi pergi. Andi berjalan ke arah batu karang dan menaikinya dengan perlahan.


Sesampainya ia di atas, dua orang yang sangat dikenalnya itu segera membawa pandangan mereka ke arah Andi.


"Ndi, lo jangan salah paham Ndi, gue....."

__ADS_1


"Jelasin apapun yang bisa kalian jelasin, gue akan percaya walaupun itu kebohongan sekalipun," ucap Andi memotong ucapan Nico.


Ya, laki laki dan perempuan yang ia lihat di batu karang itu adalah Nico dan Aletta.


__ADS_2