Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Jalan Buntu


__ADS_3

Setelah menyelesaikan semua kegiatan kampusnya, Dimas meminta Dini untuk pulang bersama Andi karena dia harus menemui ibu Dini tanpa Dini tau.


"Emang kamu mau kemana?" tanya Dini ketika Dimas memintanya pulang bersama Andi.


"Papa minta aku dateng ke kantor sayang, aku nggak bisa ngajak kamu, nggak papa kan?"


"Ya udah nggak papa," jawab Dini.


"Aku udah ngasih tau Andi buat nungguin kamu di gerbang, aku pergi dulu sayang!"


"Iya, hati hati!"


Dimas lalu berlari menuju tempat parkir, meninggalkan Dini yang saat itu bersama Cika.


"Beruntung banget sih Din hidup kamu, dikelilingi cowok cowok cakep," ucap Cika pada Dini.


"Kita semua punya keberuntungan kita masing masing Cika," balas Dini.


"Iya sih, tapi kamu itu bikin iri banyak cewek loh Din, udah pinter, cantik, punya cowok cakep, kaya, pinter juga, ditambah lagi punya sahabat deket cakep, pinter juga, kurang apa lagi coba'!"


"Kamu juga harus beruntung karena masa depan kamu udah terjamin, keluarga kamu udah siapin masa depan yang baik buat kamu, sedangkan aku masih harus berusaha buat itu, percaya deh Cik nggak ada yang harus bikin kamu iri dengan semua yang kamu punya sekarang."


"Iya sih, aku harus sering sering bersyukur nih hehehe...."


"Gitu dong!"


"Ya udah aku duluan ya, udah dijemput!"


"Oke, hati hati ya!"


"Oke!"


Cika lalu meninggalkan Dini dan menghampiri seorang laki laki yang tampak lebih tua darinya.


"mungkin kakaknya!" batin Dini dalam hati.


Dini lalu berjalan ke arah Andi yang sudah berdiri dengan membaca buku di gerbang kampus.


"Baca apaan sih?" tanya Dini mengagetkan Andi.


Andi segera menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Kamu bikin aku jantungan tau nggak!" balas Andi.


"Jangan serius serius dong!"


"Buat mahasiswa beasiswa kayak kita gini nggak ada waktu buat main main Din, semuanya harus dilakuin dengan serius!"


"Iya sih,tapi kamu terlalu serius sampe lupa menyenangkan diri kamu sendiri!"


"Kata siapa? aku seneng kok, aku selalu menikmati hari hari ku!"


"dan aku selalu bahagia selama kamu bahagia Din," lanjut Andi dalam hati.


"Tadi baca buku apa sih? tebel banget!"


"Buku Seni lah, kamu mana ngerti!" jawab Andi berbohong karena sebenarnya ia membaca buku psikologi.


"Oke oke, kamu emang paling jago deh!"


"Dimas kemana sih, tumben pulang duluan!"


"Ke kantor papanya, dia nggak bilang apa apa sama kamu?"


"Enggak, kenapa?"


"Nggak papa, aku takut ada masalah lagi!"


"Semuanya pasti baik baik aja Din, positif thinking dong!"


"Iya Ndi!'


**


Di tempat lain, Dimas sudah sampai di tempat ibu Dini bekerja. Ketika SMA Dimas pernah mengantar Dini ke tempat itu, ia berharap jika ibu Dini masih bekerja di rumah itu.


Setelah membunyikan bel beberapa kali akhirnya pagar rumah itu terbuka, seorang satpam mendatanginya dan menanyakan maksud kedatangannya.


"Maaf pak, apa ibu Ranti masih bekerja di sini?" tanya Dimas pada pak satpam.


"Iya Dek, ada perlu apa ya?"


"Saya teman anak beliau pak, ada hal yang harus saya sampaikan sama beliau," jawab Dimas.


"Sampaikan saja lewat saya, saya akan sampaikan ke Bu Ranti nanti!"

__ADS_1


"Maaf pak, ini masalah keluarga, saya harus bicara langsung dengan Bu Ranti!"


"Kalau gitu adek bisa kembali lagi jam 4 sore nanti, karena majikan saya tidak memperbolehkan tamu masuk ketika majikan saya tidak di rumah!"


"Apa bapak nggak bisa panggil bu Ranti nya aja pak?"


"Wah nggak bisa dek, saya ganggu jam kerjanya nanti, ini perintah majikan saya dek, tolong dimengerti ya!"


"Baik pak, terima kasih kalau begitu!"


Dimas pun masuk ke mobilnya dan memilih untuk menunggu di sana, namun sampai jam 5 tak ada seorangpun yang datang ke rumah itu. Itu artinya sang majikan belum juga pulang.


Dimaspun memutuskan untuk menanyakannya pada pak satpam.


"Maaf pak, sekarang udah jam 5, majikannya belum dateng ya!"


"Belum dek, mungkin bentar lagi!"


Baru saja Dimas hendak kembali ke mobilnya, sebuah mobil berhenti di depan gerbang dan segera masuk begitu pintu gerbang terbuka.


Seorang wanita paruh baya dan seorang laki laki yang kira kira seusia papanya tampak turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.


"Pak, itu ya majikannya?" tanya Dimas pada pak satpam.


"Iya dek, saya tanyakan majikan saya dulu ya apa adek boleh menemui Bu Ranti atau tidak!"


"lah kok gitu, katanya tadi tinggal nunggu majikannya doang!" batin Dimas kesal.


"Baik pak," jawab Dimas menyembunyikan kekesalannya.


Dimas menunggu di pos satpam, tak lama kemudian pak satpam kembali dengan seorang wanita yang tak lain adalah Bu ranti, ibu Dini.


"Silahkan dek, majikan saya cuma kasih waktu 10 menit!" ucap pak satpam sambil mempersilakan Dimas masuk ke pos satpam bersama Bu Ranti. Sedangkan pak satpam duduk di luar.


"Saya Dimas tante, temennya Andini yang dulu pernah nganter dia kesini waktu SMA," ucap Dimas memperkenalkan diri.


"Iya saya masih inget, ada perlu apa ya? kamu sendirian?"


"Iya tante Dimas sendirian, Andini nggak tau kalau Dimas ke sini jadi Dimas harap tante nggak kasih tau dia," jawab Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala ibu Dini.


"Dimas ke sini karena ada hal yang mau Dimas tanyakan tante, maaf kalau apa yang Dimas tanyakan ini lancang dan mungkin kurang sopan, tapi ini demi kebaikan Andini tante," lanjut Dimas.


"Apa yang mau kamu tanyakan? ada apa dengan Dini?"


"Stop, saya tau arah pembicaraan kamu kemana, kenapa kamu sebegitu pedulinya sama anak saya?"


"Dimas sama Andini udah lama berhubungan tante, kita saling mencintai dan keluarga Dimas juga sudah menerima Andini dengan baik, Dimas harap tante juga bisa menerima Dimas sebagai....."


"Enggak, Dini nggak boleh pacaran apa lagi sampe berhubungan serius, dia harus fokus kuliah, pacaran cuma bikin dia semakin banyak masalah dan kehilangan fokus, maaf Dimas, tapi kalian nggak bisa lanjutin hubungan kalian ini!"


"Tante tenang aja, kita masih fokus sama kuliah kita kok, sebagai buktinya Andini nggak pernah bermasalah dengan kuliahnya selama ini, hubungan kita sehat dan kita saling support," jelas Dimas.


"apa anak ini bisa dipercaya? apa dia nggak akan ganggu kuliah Dini? apa dia nggak akan bawa masalah dalam hidup Dini? tapi sepertinya dia baik, niatnya ke sini juga baik, tapi aku nggak boleh gentar, Dini harus raih mimpinya, nggak peduli seberapa serius hubungan yang udah mereka jalani," batin Ibu Dini.


"Tapi kamu harus inget ya, masa depan Dini masih panjang, masih banyak mimpi yang harus dia capai, jadi jangan pernah tambah beban hidup dia dengan hubungan kalian, apa lagi kalau sampe kalian berhubungan serius, saya nggak akan restuin anak saya menikah muda," ucap Ibu dini tegas.


"Iya tante, Dimas mengerti, Dimas sama Andini juga sudah sepakat tentang hal itu," balas Dimas.


"Apa yang mau kamu tanyakan? soal fobia Dini? dia nggak fobia, dia cuma takut, itu hal yang wajar, semua orang punya ketakutannya masing masing kan?"


"Iya tante, tapi apa yang Andini alami ini berlebihan, dia sering cerita sama saya kalau dia mimpi buruk, dia selalu panggil ayah dan ibunya dalam mimpi, menurut psikiater fobia yang dialami Andini berhubungan dengan masa lalunya, jadi saya kesini buat tanyain hal itu, masa lalu apa yang bikin Dini fobia sama hujan tante?"


"Enggak, nggak ada masa lalu apa apa, waktu saya sudah habis, saya harus kembali bekerja!" ucap ibu Dini yang tiba tiba panik dan keluar dari pos satpam.


"Tante tunggu, Dimas mohon tante jangan bohong sama Dimas, ini demi kebaikan Andini tante," ucap Dimas dengan menghadang ibu Dini.


"Kebaikan apa? Dini cuma takut hujan, bukan menderita penyakit parah, kamu jangan berlebihan, kalau kamu memang mencintai anak saya kamu harusnya menerima dia apa adanya, kalau kamu nggak mau menerima kekurangannya, tinggalkan, masih banyak laki laki yang lebih baik daripada kamu di dunia ini!" ucap ibu Dini dengan mendorong tubuh Dimas dan pergi meninggalkan Dimas.


Dimas hanya bisa menghela napas panjang. Kedatangannya ke tempat itu sia sia, ibu Dini bahkan tidak sepenuhnya menundukung hubungannya bersama Dini.


"kalau kamu memang mencintai anak saya kamu harusnya menerima dia apa adanya, kalau kamu nggak mau menerima kekurangannya, tinggalkan, masih banyak laki laki yang lebih baik daripada kamu di dunia ini!" batin Dimas mengulangi ucapan ibu Dini.


Setelah berpamitan pada pak satpam, Dimas lalu meninggalkan rumah mewah itu dan segera kembali ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Dimas merebahkan badannya di ranjang.


"Apa yang harus aku lakuin sekarang? biarin Andini menderita dengan fobianya? atau ada cara lain buat hilangin fobianya? tapi...... aaarrgghhh rumit, belum lagi ibunya Andini yang kayaknya nggak suka sama aku, kenapa? kenapa di saat semua orang suka sama aku malah orang yang aku harapkan nggak suka sama aku?"


**


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Andi sedang pergi ke mini market yang lebih jauh dari biasanya, itu karena mini market yang berada dekat dengan kosnya sedang di renovasi.


Jika saja bukan karena keadaan darurat, Andi tidak akan pergi ke mini market malam itu. Ia terpaksa harus pergi karena Dini memintanya untuk membelikannya pembalut.


Kebetulan hari itu, teman teman perempuannya sedang tidak ada di kamar, hanya ada 2 orang yang dua duanya juga tidak memiliki stok pembalut yang tersisa. Sedangkan Dini sangat membutuhkannya karena persediannya juga telah habis dan ia lupa untuk membelinya.

__ADS_1


Ketika berada di mini market, beberapa orang memperhatikannya yang sedang mengantre dengan membawa pembalut berukuran besar.


"Maaf kak kantong plastiknya masih kosong, apa kakak nggak keberatan kalau nggak pake kantong plastik? atau kakaknya mau menunggu sebentar?" tanya sang kasir.


"Nggak usah kantong deh nggak papa," jawab Andi.


Ia tak mempedulikan beberapa pasang mata yang menatapnya aneh, bahkan bisikan bisikan yang mereka lontarkan pun tak digubris oleh Andi.


"Cakep cakep kok datang bulan!"


"Bucin banget tuh pasti!"


"Mau dong jadi pembalutnya, digandeng gitu!"


"Beruntung banget tuh ceweknya!"


"Jahat banget ceweknya, masak disuruh beli pembalut"


"Pacarable banget, pingin ku karungin hehe...."


Itu lah beberapa bisikan bisikan perempuan yang di dengar telinga kanan Andi namun langsung keluar dari telinga kirinya.


Ketika baru saja keluar, ia melihat seorang gadis yang sedang duduk seorang diri di bangku depan mini market. Pandangannya kosong, tangannya memutar mutar botol minuman yang ia pegang.


"Anita!" panggil Andi lalu duduk di depan Anita.


Anita menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika Andi tidak bersama Dini karena ia masih tidak ingin bertemu Dini.


Melihat apa yang dibawa Andi membuat Anita sedikit terkekeh.


"Kamu datang bulan?" tanya Anita menahan tawanya.


Andi lalu tersenyum melihat Anita tertawa walaupun hanya sedikit.


"Dini nih yang minta, kamu ngapain di sini? dari tadi?"


"Barusan, kamu kok mau aja sih disuruh beli pembalut?"


"Apa masalahnya?"


"Kamu nggak malu?"


"Kenapa harus malu? emang salah ya?"


"Enggak sih, cuma aneh aja!"


"Kamu apa kabar Nit?" tanya Andi dengan menatap mata Anita, membuat Anita sedikit salah tingkah dan segera mengalihkan pandangannya.


"Aku baik baik aja, kamu?"


"Aku juga baik baik aja, kamu masih tinggal di deket apartemen Dimas?"


"Iya, aku udah nggak mungkin pulang Ndi!"


"Kenapa? apa kamu belum pernah ketemu papa kamu sejak kamu tinggal di apartemen?"


Anita menggeleng.


"Buat apa aku ketemu papa kalau pada akhirnya aku harus ditampar lagi sama papa?"


"Kamu harus ketemu papa kamu Nit, kamu bisa ajak Dokter Dewi kalau kamu nggak berani sendirian, setidaknya kasih kabar papa kamu, gimanapun juga beliau yang selama ini kasih biaya hidup kamu!"


Anita hanya menghembuskan napasnya mendengar ucapan Andi.


"Kamu sekarang sibuk apa?" tanya Andi mengalihkan pembicaraan.


"Aku masih sering ke butik nemenin mamanya Ivan, soal Ivan, kamu nggak marah sama aku?"


"Kenapa aku harus marah, justru aku bersyukur karena kamu baik baik aja sekarang," jawab Andi.


"Setelah semua yang aku lakuin selama ini, kamu nggak marah sama aku?"


"Aku kecewa sama kamu Anita, tapi gimanapun juga itu masa lalu, aku harap kamu mau berubah, kita bisa jadi temen kayak dulu, aku, kamu, Dini dan Dimas, kita bisa kembaliin hubungan baik kita kayak dulu!"


"Nggak segampang itu Ndi, hati ku masih nggak bisa terima!"


"Apa yang kamu rasain itu sama kayak yang aku rasain Anita, kita sama sama mencintai orang yang nggak mencintai kita, jadi aku tau gimana perasaan kamu!"


"Kamu nggak ngerti Ndi, kita beda!"


"Apa yang kita rasain sama, tapi jalan yang kita pilih berbeda, dengan aku simpan baik baik perasaanku, hubungan ku sama Dini nggak berubah, kita tetep sedeket dulu, sedangkan kamu memilih jalan lain yang malah bikin kamu jauh, nggak cuma sama Dimas tapi juga sama temen temen kamu yang lain!"


Anita diam beberapa saat, ia berusaha mencerna dengan baik kata kata Andi.


"Belum terlambat untuk berubah Anita, aku yakin Dimas dan Dini juga akan menerima kamu seperti dulu!" ucap Andi berusaha meyakinkan Anita.

__ADS_1


__ADS_2