
Matahari siang itu masih memancarkan teriknya. Hembusan angin perlahan menggugurkan daun daun kering dari pohonnya. Dini hanya diam memperhatikan satu per satu daun yang jatuh. Ia merasa seperti daun kering itu, daun kering yang dulunya adalah daun hijau yang segar kini telah mengering dan jatuh oleh tiupan angin lalu diganti oleh daun yang baru tumbuh. Suatu saat nanti, Dini akan seperti itu. Waktu akan memaksanya menjauh dari Andi seperti angin yang memaksa daun kering untuk jatuh meninggalkan pohon. Saat itu akan tiba jika sudah ada seseorang yang mengisi hati Andi, seseorang yang memberi Andi begitu banyak cinta hingga Dini merasa terabaikan.
"Aku akan selalu sama kamu Din, apapun yang terjadi," ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini penuh keyakinan.
"Kamu terlalu yakin Ndi!" balas Dini dengan masih menatap nanar daun daun kering di bawahnya.
"Aku yakin, sangat yakin, nggak peduli ada Dimas atau siapapun nanti, aku akan tetap di sini buat kamu!"
"Aku beruntung punya kamu," ucap Dini dengan menatap mata Andi.
"Aku yang lebih beruntung Din," balas Andi.
Mereka berdua tersenyum penuh rasa syukur dalam hati.
**
Di rumah sakit.
Aletta merasa sangat bosan. Ia tidak bisa melakukan banyak hal karena luka di tangannya.
Tiba tiba pintu ruangannya terbuka. Seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya masuk dan berdiri di sebelahnya.
Aletta terdiam beberapa saat. Ia tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Hatinya bergemuruh, bahagia dan luka kembali menyeruak ke dalam hatinya. Ada sesak yang ia rasakan, ada bahagia yang tak bisa dipungkiri kehadirannya.
"Al," panggilnya pelan.
Aletta masih diam, lidahnya terasa kelu, matanya terasa panas hingga membuatnya ingin menangis, jantungnya berdegup kencang menyuarakan rindu yang selama ini terpendam.
"Aletta," panggilnya lagi.
Aletta segera tersadar dari semua rasa di hatinya. Rasa bahagia yang terbalut luka.
"Kamu ngapain ke sini? kamu tau dari mana aku di sini?" tanya Aletta.
"Aku kangen sama kamu," ucap Rizki dengan menatap tajam mata Aletta.
Aletta segera mengalihkan pandangannya. Bagaimanapun juga cerita cinta mereka hanyalah masa lalu. Laki laki yang merupakan cinta pertamanya itu adalah suami kakaknya sekarang.
"Pergi!" ucap Aletta dengan pandangan kosong ke depan.
"Gimana luka kamu? apa udah sembuh?" tanya Rizki lagi.
"Peduli apa kamu sama lukaku? luka ini nggak ada apa apanya dibanding dengan luka yang udah kamu buat di hatiku!"
"Aku minta maaf Al, aku nyesel, aku khilaf, aku tau apa yang aku lakuin sama Asyila itu nggak bener dan aku menyesal, aku sayang sama kamu Al."
"Kalau kamu emang sayang harusnya kamu nggak ngelakuin itu sama kakakku!"
"Dia yang duluan goda aku Al, dia yang datengin aku, dia yang........"
"Harusnya kamu bisa jaga hati kamu buat aku, harusnya kamu nggak tergoda, harusnya kamu......"
Aletta menghentikan ucapannya. Suaranya terdengar serak karena menahan tangis. Luka di hatinya kembali terkoyak karena kehadiran Rizki.
"Aku minta maaf," ucap Rizki dengan menggenggam tangan Aletta.
"Pergi, aku nggak mau kakak salah paham," ucap Aletta tanpa menoleh ke arah Rizki.
"Aku nggak peduli, aku sayang sama kamu Al, aku cinta sama kamu!"
"Sadar Ki, kamu suami kakakku sekarang, kamu......."
"Aku nggak cinta sama dia Al, aku cuma cinta sama kamu, apa yang udah aku lakuin sama dia itu tanpa cinta!"
Aletta diam, ia tidak tau apa yang Rizki ucapkan itu sebuah kebenaran atau bukan. Jauh dalam relung hatinya, ada secercah bahagia yang di rasakan Aletta ketika mendengar Rizki masih mencintainya. Tapi ia sadar, ia tak ingin menghancurkan pernikahan kakak yang sangat dicintainya.
"Aku yakin kamu masih sayang sama aku kan? kamu masih cinta kan sama aku?"
Aletta tak menjawab.
__ADS_1
"Jujur Al, apa perasaan kamu masih tetap sama seperti dulu? apa kamu masih ngerasain apa yang aku rasain sekarang?"
Aletta masih diam, air mata yang sudah ia tahan dengan sekuat tenaga akhirnya tumpah.
Rizki mendekat dan mengusap air mata Aletta. Ia mengusap pipi Aletta dengan lembut. Ia mengulangi hal yang sama seperti yang sering ia lakukan pada Aletta dulu.
Jika Aletta bersedih karena papanya, ia akan pergi ke peternakan. Di sana ia menceritakan semua kesedihannya pada Rizki, dengan lembut Rizki mengusap air matanya dan mengusap pipinya penuh kelembutan. Kelembutan yang mampu membuat Aletta terbuai.
"Pergi!" ucap Aletta.
"Aku mau nemenin kamu di sini, aku udah nunggu lama buat ini," balas Rizki.
Rizki mengusap rambut Aletta pelan. Gadis yang dicintainya itu kini terasa jauh darinya, meski sebenarnya ada di hadapannya. Hatinya terasa sakit. Kesalahan masa lalu membuatnya menyesal. Keindahan yang hanya sekejap membuatnya harus kehilangan gadis yang sangat dicintainya. Ia merasa bodoh, sangat bodoh karena bisa dengan mudahnya tergoda oleh rayuan Asyila. Beberapa kali ia membohongi Aletta hanya untuk menyenangkan nafsunya bersama Asyila hingga Asyila hamil dan membuatnya harus menikahi Asyila, meski sebenarnya ia ragu apakah anak yang dikandung Asyila benar benar hasil dari perbuatannya atau bukan.
Rizki menggenggam erat tangan Aletta. Ia yakin jika Aletta masih mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Hanya saja ia sadar kesalahan yang ia lakukan memang sangat besar. Meski begitu ia masih berusaha untuk mendapatkan maaf dari Aletta dan memulai kembali hubungan indah yang pernah terjalin diantara mereka berdua.
Selama ini, Rizki tidak pernah menganggap Asyila sebagai istrinya. Ia bahkan seakan tidak peduli pada apapun yang dilakukan Asyila. Baginya, Asyila adalah penyebab kehancuran hubungannya dengan Aletta. Ia juga tidak peduli jika Asyila meminta untuk bercerai karena sesungguhnya itulah yang ia inginkan.
Jika bukan karena paksaan orangtuanya, Rizki pasti tak akan mau menikahi Asyila. Ia akan dengan senang hati menceraikan Asyila jika orangtuanya tidak memaksanya untuk bertahan.
"Aletta, kamu masih sayang kan sama aku? kamu masih cinta kan?" tanya Rizki mengulangi pertanyaannya.
"Enggak, kamu suami kakakku sekarang, aku nggak mungkin mencintai suami kakakku!" jawab Aletta tegas, meski hatinya berkata jika rasa cinta itu masih ada.
Seperti yang banyak orang bilang, cinta pertama memang susah dilupakan.
"Kamu bohong, aku tau kamu masih cinta sama aku, udah lama aku nunggu waktu ini Al, udah lama aku nunggu waktu yang tepat buat ngomong ini sama kamu dan sekarang aku semakin yakin kalau kamu juga masih cinta sama aku!"
"Kamu nggak tau apa apa Ki, hati aku cuma aku yang tau!"
"Aku tau karena aku masih ada di hati kamu, aku mohon sama kamu Aletta, maafin aku, ayo kita mulai lagi semuanya dari awal," ucap Rizki memohon.
"Kamu gila?"
"Aku sadar sesadar sadarnya Al, kita saling mencintai dulu dan sekarang, kenapa kita nggak kembali bersama?"
"Jangan gila, kamu suami kakakku Rizki, harus berapa kali aku bilang, pergi dan jangan pernah temui aku lagi!"
Aletta terdiam, air matanya kembali menggenang. Laki laki itu mencintainya, cinta pertama yang menorehkan luka begitu dalam padanya, ternyata masih mencintainya seperti dulu.
"Aku sayang sama kamu Aletta, kamu yang seharusnya jadi istriku, bukan Asyila," ucap Rizki pelan dengan menggenggam tangan Aletta.
Aletta masih diam, air matanya kembali tumpah. Hatinya bimbang, ada bahagia dan luka yang semakin dalam di hatinya. Ia bahagia karena laki laki di hadapannya masih mencintainya tapi luka di hatinya semakin terasa menyakitkan mengingat bagaimana laki laki itu mengkhianati cinta mereka.
"Pergi Ki, PERGIII!" teriak Aletta dengan mendorong tubuh Rizki dengan kedua tangannya. Ya, ia menggerakkan tangan kanannya yang terluka.
"Al, aku......."
Aletta segera memencet tombol merah di samping ranjangnya. Ia ingin Rizki segera pergi. Rizki adalah suami dari kakak kandungnya dan tidak seharusnya Rizki berada di sana bersamanya. Meski cinta itu masih ada, biarlah ia menjadi kenangan dalam hatinya. Ia sudah tak mengharapkannya lagi.
Aletta masih menangis meluapkan semua sakit dan kecewa di hatinya. Tak lama kemudian Dokter datang dan meminta Rizki untuk keluar.
Dokter segera memeriksa keadaan Aletta dan mendapati darah yang sudah merubah warna perban yang putih menjadi merah.
Aletta tak menjawab pertanyaan Dokter, ia masih menangis. Sakit yang telah lama ia pendam dalam hati, ia luapkan semuanya saat itu.
"kenapa kamu datang lagi Rizki, kenapa?"
**
Di tempat lain, Andi mengajak Dini untuk pergi ke toko buku sebelum ke rumah sakit. Mereka berencana menjenguk Aletta saat itu.
"Kamu cari buku apa?" tanya Dini pada Andi.
"Aku juga nggak tau, hehe....."
Dini menepuk jidatnya mendengar jawaban Andi.
"Sebenernya aku mau beliin Aletta buku, tapi aku nggak tau dia suka baca buku apa," jelas Andi.
__ADS_1
Dini tersenyum tipis mendengarnya.
"Aletta lagi,"
"Dia anak sastra kan? gimana kalau beli buku yang isinya puisi puisi gitu?" tanya Dini.
"Tapi kayaknya dia nggak suka puisi deh Din!"
Andi dan Dini masih mengitari seluruh rak di toko buku itu. Hampir satu jam mereka di sana. Dini hanya mengikuti Andi dari belakang. Sesekali mereka menebak isi dari buku yang mereka lewati. Bagi Dini dan Andi, toko buku atau perpustakaan adalah surga kenikmatan dunia. Mereka bisa melihat banyak buku berjejer rapi di toko buku dan membaca buku apapun yang mereka mau ketika di perpustakaan.
"Ini aja, gimana?" tanya Andi sambil memperlihatkan sebuah komik di tangannya.
"Detektif Conan?"
Andi mengangguk cepat.
"Cewek barbar kayak Aletta lebih cocok baca ini daripada puisi hehe....."
Andi segera membayar beberapa seri dari komik Detektif Conan lalu segera pergi ke rumah sakit bersama Dini.
"Dia pasti bosan banget di rumah sakit," ucap Andi.
"Iya, nggak ada orang yang betah di rumah sakit," balas Dini.
"Apa lagi Aletta nggak bisa diem banget anaknya, Dokter udah bilang kalau dia nggak boleh gerakin tangan kanannya karena bisa infeksi, tapi dia masih aja nggak peduli!"
"Gara gara aku dia jadi susah, gara gara aku dia......"
Andi menghentikan langkahnya, membuat Dini tidak melanjutkan ucapannya dan menoleh ke arah Andi seakan melemparkan pertanyaan "kenapa?"
Andi tersenyum dan menggandeng tangan Dini lalu kembali berjalan.
"Kamu nggak perlu salahin diri kamu sendiri Din, di balik sikapnya Aletta yang barbar itu dia punya hati malaikat," ucap Andi.
"Iya, itu yang bikin kamu suka sama dia kan?"
Andi menoleh cepat ke arah Dini.
"Jujur deh Ndi, kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya, bahkan sama Anita!"
Andi terdiam beberapa saat. Ia berusaha mencerna kata kata Dini.
"suka sama Aletta? iya aku suka karena kepribadiannya yang unik dan baik, sebatas itu, apa aku berlebihan?"
"Dia baik, kalau kamu emang suka sama........"
"Stop Din, aku suka sama dia sebatas teman, nggak lebih jadi jangan bikin kesalahpahaman antara aku sama Aletta, aku nggak mau semuanya jadi canggung," ucap Andi memotong ucapan Dini.
"aku sayang sama kamu Din, hati aku cuma buat kamu,"
Dini menganggukkan kepalanya diam.
Sesampainya di rumah sakit, Dini dan Andi segera ke ruangan Aletta. Dari jauh Andi melihat seorang laki laki duduk di depan ruangan Aletta. Ia tampak kacau, dari raut wajahnya tampak ada kesedihan di hatinya.
Ketika Rizki menyadari kehadiran Andi dan Dini, ia segera beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja melewati Andi dan Dini.
Belum sampai Andi masuk ke ruangan Aletta, Dokter dan para suster keluar dari ruangan Aletta. Andi melihat suster membawa baki yang berisi bekas perban yang penuh dengan darah. Andi segera mempercepat langkahnya hingga tanpa sadar ia meninggalkan Dini di belakang.
Andi segera masuk ke ruangan Aletta dan mendapati Aletta yang sedang terduduk di ranjangnya sambil menangis. Pandangannya kosong menatap nanar ke depan, air matanya jatuh seolah tak bisa berhenti menetes. Bahkan Aletta tidak menyadari kehadiran Andi di ruangannya.
Perlahan Andi mendekat, ia duduk di ranjang Aletta membuat Aletta segera tersadar dari tangisnya. Aletta segera mengusap air matanya dan tersenyum.
Andi hanya diam dan menatapnya tajam. Ia lalu mendekat dan menarik tubuh Aletta ke dalam pelukannya. Aletta tak bisa lagi menahan sakit di hatinya, semua kesedihannya ia tumpahkan dalam pelukan Andi. Setidaknya ia membiarkan semua tangisnya pecah hanya untuk saat itu.
Andi semakin erat memeluk Aletta tanpa menyentuh luka di lengannya. Ia tidak tau apa yang membuat Aletta menangis saat itu, ia hanya ingin memeluknya, berusaha menenangkan Aletta yang selama ini selalu berhasil menyembunyikan semua kesedihannya. Hari itu, untuk pertama kalinya ia melihat diri Aletta yang berbeda. Aletta yang selalu ceria kini tampak mendung, raut wajahnya penuh dengan kesedihan yang dalam.
Andi mengusap rambut Aletta pelan dan mengenggam tangannya. Ia ingin gadis dalam pelukannya itu selalu bahagia, ia ingin melihat gadis barbar di hadapannya meluapkan semua kesedihan yang telah lama dipendam hingga habis tak bersisa, hanya menyisakan hal hal indah yang membahagiakannya.
Dini yang melihat hal itu dari kaca pintu hanya bisa tersenyum tipis. Tanpa terasa air matanya menetes, ada sesuatu yang mengganggu di hatinya.
__ADS_1
Dini segera menghapus air matanya dan berjalan pelan meninggalkan rumah sakit. Ia tidak mengerti pada hatinya. Hatinya yang kini sangat egois karena tidak ingin melepaskan Andi untuk perempuan lain.