
Hari masih siang, namun langit sudah tampak gelap karena tertutup mendung. Gumpalan awan gelap di atas sana seolah telah siap untuk menumpahkan hujannya dengan deras.
Dimas telah meninggalkan tempat kos Dini, ia pergi menemui Ivan di dekat kampusnya. Ia sangat berharap apa yang ia cari akan ia temukan dalam ponsel Anita, dengan begitu ia tidak akan lagi terikat dengan Anita.
Di sisi lain, Andi yang tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi antara Dimas dan Dini segera berjalan pelan ke kamar Dini. Ia menaiki tangga dengan tertatih tatih.
Aletta keluar dari kamarnya ketika Andi melewati kamarnya.
"Kamu mau kemana? Dokter kan udah bilang jangan banyak gerak, kamu......"
"Aku nggak papa, kamu tunggu di bawah ya!" ucap Andi dengan mengusap rambut Aletta.
"Tapi......"
"Aku harus ketemu Dini bentar, nggak papa kan?"
"Aku nggak boleh ikut?"
Andi diam tak bisa menjawab pertanyaan Aletta. Ia takut menyakiti Aletta jika ia menjawab "tidak" tapi ia juga tidak mungkin membawa Aletta bertemu Dini karena ia yakin keadaan Dini sekarang sedang tidak baik baik saja.
Melihat Andi yang hanya diam, Aletta mengerti, ia tidak seharusnya menanyakan hal itu.
"Aku tunggu di bawah," ucap Aletta lalu pergi meninggalkan Andi dan turun ke lantai satu.
"maafin aku Ta," ucap Andi dalam hati.
Andi lalu berjalan ke kamar Dini dan mengetuk pintu kamarnya.
"Dimas!" ucap Dini ketika ia mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
"Andi, Dimas mana? kamu sama Dimas kan?" tanya Dini yang melihat Andi berdiri di depan kamarnya.
Andi menggeleng.
"Masuk Din, kaki kamu nggak boleh banyak gerak," ucap Andi dengan sedikit mendorong tubuh Dini.
Dini lalu duduk di ranjangnya, disusul Andi yang duduk di sebelahnya.
"Dimas beneran pergi ya?" tanya Dini dengan raut wajah sedih.
"Kalian berantem?"
Dini menggeleng.
"Apa harus secepat ini aku kehilangan semuanya? kehilangan Dimas, kehilangan kamu, semuanya ninggalin aku sendirian."
"Enggak Din, nggak ada yang ninggalin kamu, aku masih di sini buat kamu dan aku yakin kalau Dimas akan kembali, aku tau gimana perasaannya sama kamu, jadi nggak mungkin dia ninggalin kamu gitu aja," ucap Andi dengan membawa kepala Dini untuk bersandar di dadanya.
"Tapi dia sekarang pergi Ndi, aku nggak tau kenapa dia tiba tiba pergi, semua ucapannya terasa aneh buat aku, aku nggak tau apa maksudnya tapi aku takut, aku takut kalau dia nggak akan kembali lagi," ucap Dini dengan memeluk Andi.
Andi hanya diam dan memeluk Dini. Ucapan Dimas beberapa waktu yang lalu memang cukup aneh menurutnya. Baru saja semuanya terlihat baik baik saja, namun tiba tiba Dimas seperti mengucapkan ucapan perpisahan padanya.
**
Di tempat lain, Dimas sedang menunggu kedatangan Ivan. Setelah beberapa menit menunggu, Ivan akhirnya datang.
"Udah dari tadi?" tanya Ivan berbasa basi.
"Enggak kok, barusan, udah selesai?"
"Udah, gue usahain secepat mungkin," jawab Ivan sambil memberikan ponsel dengan softcase berwarna pink itu pada Dimas.
"Gue udah bikin folder sendiri buat foto atau data data yang udah dihapus di sini, chat dan semua panggilan juga udah balik dari satu tahun yang lalu, tinggal lo cari aja apa yang mau lo cari," jelas Ivan.
"Thanks Van, kirim nomer rekening lo ya, gue transfer sekarang!"
"Oke."
Dimas dan Ivanpun berpisah setelah Dimas mentransfer sejumlah uang ke rekening Ivan.
Dimas pulang ke apartemennya. Siang itu, ia akan sibuk mencari banyak hal yang Anita sembunyikan darinya. Ia ingin semuanya cepat selesai, jadi ia memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya agar ia bisa fokus pada ponsel Anita yang ia bawa.
Di luar sana, hujan turun bersama kembalinya mentari ke peraduannya. Siang telah berganti, cahaya malam mulai memenuhi setiap sudut jalan kota. Tak ada bulan ataupun bintang, yang ada hanya gemerlap lampu kota yang masih menyala terang di tengah hujan yang semakin deras.
__ADS_1
Dimas masih berkutat pada ponsel yang ia pegang, ia hampir frustrasi dengan itu. Namun ia tak menyerah, pasti ada sesuatu yang akan membuatnya terlepas dari Anita.
Tiba tiba bel apartemennya berbunyi, ia segera membuka pintu dan mendapati Anita yang berdiri dengan membawa satu kantong makanan ringan dan beberapa botol minuman.
"Aku mau quality time sama kamu," ucap Anita lalu masuk ke dalam begitu saja. Beruntung, sebelum Dimas membuka pintu, ia sudah menyembunyikan ponsel Anita di tempat yang aman.
"Kamu mau ngapain?" tanya Dimas.
"Kita nonton film, aku udah siapin semuanya!" jawab Anita sambil memamerkan kantong bawaannya.
"Ya udah aku ambil laptop dulu," ucap Dimas lalu masuk ke kamarnya untuk mengambil laptop.
Sedangkan Anita menunggu di sofa sambil mengeluarkan makanan ringan dan minuman yang sudah ia beli. Melihat ponsel Dimas di atas meja, ia pun segera mengambilnya.
"Mati, pantesan nggak bisa dihubungi," ucap Anita ketika menyadari jika ponsel Dimas dalam keadaan mati. Ia pun menghidupkan ponsel Dimas.
Tepat ketika ponsel itu baru saja menyala, Dimas datang dan segera merebutnya dari tangan Anita.
"Apaan sih Dim, bikin kaget aja!"
"Kamu yang apa apaan, sejak kapan kamu ngecek HP ku?"
"Aku baru aktifin HP kamu yang mati, kenapa? kamu takut ketahuan kalau kamu sering hubungin Dini?"
"Enggak, aku bahkan nggak peduli kalau kamu tau, bukan masalah buat aku, toh kamu juga tau kalau aku masih cinta sama dia," jawab Dimas.
"Kamu emang jahat Dimas!"
"Iya, aku emang nggak sebaik yang kamu kira, jadi kamu jangan terlalu berharap lebih sama aku," balas Dimas.
"Tapi kamu udah....."
"Apa menurut kamu aku nggak pernah ngelakuin itu sama Dini? kita saling cinta dan mungkin kita....."
"Stop Dimas, aku nggak mau denger lagi, aku ke sini mau nonton film sama kamu, jadi tolong jangan bahas Dini lagi!" ucap Anita memotong ucapan Dimas.
Dimas hanya tersenyum kecil, ia lalu kembali menonaktifkan ponselnya dan membuka laptopnya.
"Aku nggak punya banyak film," ucap Dimas.
"Kamu penuh persiapan banget ya!"
"Iya dong, aku mau ngabisin waktu sama kamu," balas Anita.
"Tapi aku nggak bisa lama lama ya, aku harus....."
"Dini lagi?"
"Jangan mulai deh Nit, kamu yang selalu bawa bawa Dini, aku lagi banyak tugas dan harus dikumpulin besok!"
"Beneran?"
"Iya, lagian kamu kan harus banyak banyak istirahat juga," jawab Dimas.
"Kamu khawatir ya sama aku?" tanya Anita manja.
Dimas lalu mendekat dan memeluk Anita.
"Iya, aku khawatir sama kamu, dari dulu sampe' sekarang kamu selalu berhasil bikin aku khawatir," ucap Dimas.
"Karena cuma itu yang bikin kamu datengin aku," balas Anita.
"Anita, dengerin aku ya, aku peduli sama kamu sebagai teman, dari dulu sampe' sekarang nggak pernah berubah, kamu nggak bisa maksa aku buat cinta sama kamu, aku....."
Anita lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas dan
PLAAAKKK
Tamparan keras mendarat di pipi Dimas. Dimas hanya diam menerima tamparan Anita, ia membiarkan Anita menuntaskan semua emosinya padanya.
"Apa kamu pikir aku serendah itu sampai aku harus ngemis cinta sama kamu? aku tau kamu cinta sama Dini, tapi apa kamu nggak bisa liat Andi? dia yang lebih dulu kenal Dini, dia yang selalu ada buat Dini dan kamu tiba tiba dateng ambil Dini darinya, aku emang cinta sama kamu Dimas, tapi aku juga masih punya harga diri, aku nggak akan ngejar kamu sejauh ini kalau aku nggak bener bener cinta sama kamu, apa kamu nggak bisa liat aku bentar aja, kasih tempat buat aku di hati kamu dikit aja," ucap Anita dengan air mata berlinang.
Dimas menarik tangan Anita dan kembali memeluknya.
"Anita, ayo kita mulai semaunya dari awal lagi, jangan ada salah paham lagi, aku yakin akan ada seseorang yang lebih baik daripada aku yang bisa mencintai kamu dengan tulus, seseorang yang bisa kasih cinta dan kenyamanan buat kamu, kita masih bisa jadi teman, kita masih bisa berhubungan baik, aku mau semuanya baik baik aja Nit, aku nggak mau ada yang merasa tersakiti," ucap Dimas panjang.
__ADS_1
"Enggak Dimas, aku cuma cinta sama kamu, aku....."
"Anita, maaf karena aku nggak bisa cinta sama kamu, kalau emang apa yang udah aku lakuin itu kesalahan yang besar, aku minta maaf, tapi aku nggak bisa lagi sama sama kamu, aku nyerah Nit, aku nyerah sama semua omong kosong ini," ucap Dimas lalu melepaskan Anita dari pelukannya dan duduk di sofa.
"Apa maksud kamu Dimas?"
"Kamu akan tau besok pagi, aku akan tetap di sini sama Dini atau aku akan pergi ninggalin kamu, Dini dan semuanya," jawab Dimas dengan mengusap rambut Anita.
"Kenapa nggak ada aku di antara pilihan kamu?"
"Aku nggak bisa maksa hati aku Nit, kalau takdir bawa jalanku sama kamu, aku nyerah, aku lebih pilih untuk pergi ninggalin semuanya, ninggalin dunia yang nggak pernah berpihak sama aku," jawab Dimas.
"Aku harus gimana biar kamu bisa pilih aku?"
Dimas menggeleng pelan. Bagaimanapun juga dia dan Anita pernah memiliki hubungan baik, mereka teman SMA. Dimas tau bagaimana keterpurukan Anita di keluarganya dan itu membuatnya iba. Bekas tamparan dan memar yang sering ia lihat, membuatnya semakin mengasihani Anita. Namun sayang, kepedulian dan perhatiannya di salah pahami oleh Anita. Membuat keadaan menjadi runyam dan begitu rumit.
Dimas mengerti keadaan Anita, Anita membutuhkan sosok yang selalu ada untuknya, seseorang yang bisa memberinya perhatian dan kasih sayang. Namun Anita sudah jatuh terlalu dalam pada lubang cinta butanya, hingga ia melakukan apapun untuk mendapatkan Dimas dan menjadikan Dimas miliknya seutuhnya.
Dimas ingin semuanya baik baik saja. Hubungannya dengan Dini, Anita dan Andi. Dia ingin semuanya kembali seperti sedia kala. Tak ada salah paham yang merusak suasana indah itu.
"Aku pulang dulu," ucap Anita lalu keluar dari apartemen Dimas.
Dimas hanya mengangguk dan membiarkan Anita pergi.
**
Di luar, hujan masih lebat. Anita berjalan menyusuri jalanan tanpa membawa payung. Ia membiarkan tubuhnya basah oleh hujan yang semakin memeluknya erat.
Di persimpangan jalan tempat ia berdiri, ia merasa hujan tidak lagi membasahinya. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat sebuah payung yang menahan hujan membasahi dirinya. Pandangannya lalu mengarah pada si pemilik payung.
"Kamu?"
"Hai cantik, kamu baru sembuh kok malah hujan hujan sih?"
"Bukan urusan kamu," balas Anita lalu melangkah untuk menyebrang.
Anita tidak menyadari jika rambu untuknya menyebrang masih berwarna merah, alhasil sebuah mobil nyaris saja menabraknya jika laki laki di belakangnya tidak dengan sigap menarik tubuhnya.
"Hati hati dong," ucapnya sambil memeluk tubuh Anita yang baru saja ditariknya.
"Kamu bisa nggak sih jangan ganggu aku?" balas Anita dengan langsung melepaskan dirinya dari pelukan laki laki itu.
Laki laki itu hanya tersenyum lalu membiarkan Anita pergi meninggalkannya.
"Padahal aku bantuin kamu loh, emang cinta udah buta ya, kamu sebegitu dalam mencintai orang yang nggak mencintai kamu sama sekali," ucap laki laki itu lalu berjalan di belakang Anita.
**
Di apartemen, Dimas sudah menemukan apa yang ia cari. Sebuah grup chat yang beranggotakan Anita dan teman kampusnya di Singapura. Dalam grup chat itu, mereka menyusun sebuah rencana untuk menjebak Dimas. Mulai dari membuatnya pergi ke bar, mabuk dan berakhir di apartemen Anita.
Dalam grup chat itu terdapat foto dirinya yang tengah tergeletak di tempat tidur Anita, dalam foto itu Anita menuliskan "Plan A gagal, lanjut plan B". Anita menjelaskan jika Dimas pingsan ketika baru saja sampai di apartemennya, membuatnya harus melakukan rencana keduanya yaitu membuat Dimas seolah olah telah menidurinya dan memaksanya untuk melakukan "hal itu".
Chat berlanjut pada pagi hari, ia menjelaskan pada teman temannya jika rencana keduanya berhasil dan ia akan mendapatkan Dimas sekarang. Ia berharap jika Dimas tidak akan mengetahui yang sebenarnya sampai kapanpun.
Membaca seluruh isi grup chat itu membuat Dimas lega. Keraguannya kini sudah terjawab dan ia bisa bebas dari Anita.
Dimas lalu keluar dari apartemennya dan menunggu Anita di depan. Tak lama kemudian Anita datang dengan basah kuyup.
"Dimas, kamu ngapain?" tanya Anita yang melihat Dimas berdiri di depan pintu apartemennya.
"Kamu dari mana?"
"Aku...."
"Besok ikut aku ketemu mama papa, Dokter Dewi juga," ucap Dimas lalu melangkah meninggalkan Anita begitu saja.
"Kenapa? ada apa?" tanya Anita tak mengerti.
"Kamu siap siap aja, pulang kerja aku jemput," jawab Dimas lalu masuk ke dalam lift.
Anita masih diam tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Dimas, ia sudah tidak sabar untuk menemui Dini dan memeluknya erat. Senyum manis tergaris indah di bibirnya, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat itu.
Sebentar lagi ia akan menemui gadis yang dicintainya dan kembali menjalani hari hari indah berdua dengannya. Ia merasa telah menemukan jalan cintanya, ia akan berlari hingga ia bisa mendapatkan harapan masa depannya.
"Andini, aku datang dan nggak akan pernah pergi lagi, apapun yang terjadi aku nggak akan lepasin kamu, aku nggak akan pergi dari kamu, kamu milikku dan udah seharusnya kita sama sama,"
__ADS_1