Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Lepas Kontrol


__ADS_3

Dini semakin kesal dan pergi ke meja lain untuk menghindari Dimas. Namun Dimas tetap mengikutinya.


"Andini!" panggil Dimas lagi.


Dini hanya melirik tajam ke arah Dimas.


"Kamu masih sering sama super hero kamu itu ya?" tanya Dimas dengan nada mengejek.


Dini tak menjawab, ia lebih memilih untuk fokus membaca bukunya daripada harus menjawab pertanyaan Dimas.


"Disini ada yang namanya Dimas Radhitya Adhitama?" tanya penjaga perpustakaan.


"Saya Bu!" jawab Dimas sambil mengangkat tangan kanannya.


"Kamu ditunggu kepala sekolah di ruangannya!"


"Ada apa Bu?"


"Kamu kesana aja jangan banyak tanya!" jawab penjaga perpustakaan yang memang terkenal jutek itu.


"Siap Bu! aku pergi dulu ya sayang," ucap Dimas sambil mengacak-acak pelan rambut Dini.


Dini menepis tangan Dimas dari kepalanya, ia begitu kesal pada Dimas.


"Din!"


"Apa lagi?" jawab Dini dengan nada kesal tanpa menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Apa?" tanya Andi bingung.


"Eh, Andi, aku pikir tadi Dimas."


"Dimas? anak baru itu? ada apa sama dia?"


"Kamu nggak inget dia siapa?"


"Enggak, kamu kenal?"


"Kamu juga kenal Ndi, itu Dimas, Dimas Radhitya Adhitama, anak satu-satunya dari keluarga Adhitama yang punya perusahaan X itu."


Andi masih terdiam, berusaha mengulik ingatannya tentang nama Adhitama yang sepertinya tidak asing di telinganya.


"Dimas temen SD kita? tukang bikin onar di sekolah?" tanya Andi tak percaya.


"Iya," jawab Dini singkat.


"Dia mukanya berubah ya, aku sampe' nggak ngenalin dia loh!"


"Tapi sifatnya nggak berubah, tetep aja bikin emosi," ucap Dini kesal.

__ADS_1


"Dia gangguin kamu lagi Din?"


"Menurut kamu?"


"Dia masih belum berubah ya, karena dia anak orang kaya dia bisa seenaknya bikin ulah terus pergi gitu aja tanpa tanggung jawab."


"Udahlah Ndi, nggak usah dibahas, bikin mood jadi drop aja!"


"Ya udah, ayo balik ke kelas, bentar lagi udah bel."


Dini mengembalikan buku yang dibawanya ke tempat semula dan keluar dari perpustakaan bersama Andi.


Di depan perpustakaan, ia melihat Dimas dengan seragam barunya, berjalan ke arahnya dengan santai.


"cakep banget sih!" ucap Dini dalam hati yang membuatnya tanpa sadar tersenyum ke arah Dimas.


Dini segera menepuk-nepuk pipinya agar sadar bahwa Dimas adalah lelaki benalu di hidupnya.


Bagaimanapun juga, pesona Dimas memang tak kalah kuat dibanding Andi, apalagi Dimas sangat pandai bergaul, berbeda dengan Andi yang lebih pendiam.


Namun bagi Andi, itu bukanlah sebuah masalah besar, yang menjadi masalah adalah jika Dimas masih mengganggu Dini seperti dulu.


Dimas yang melihat Dini tersenyum ke arahnya merasa sangat senang, ia mempercepat langkahnya untuk mendekati Dini.


Melihat Dimas yang semakin cepat berjalan ke arahnya, Dini segera berbalik arah menjauhi Dimas. Andi tak bertanya apapun, hanya mengikutinya.


Dimaspun berlari dan merangkul bahu Dini dari belakang.


"Santai dong super hero!" ucap Dimas dengan nada mengejek.


"Udah Ndi biarin, ayo pergi!" ajak Dini.


Andi dan Dini meninggalkan Dimas yang sekarang hanya diam.


"Andi lagi," batin Dimas dengan tersenyum kecut.


Di kelas, tiba-tiba teman-teman perempuannya menarik Dini ke salah satu tempat duduk mereka. Mereka duduk dengan Dini berada ditengah-tengah mereka. Andi yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Dini, kamu kenal sama Dimas?" tanya Rani, teman sekelasnya.


"Mmmmm, enggak," jawab Dini berbohong.


"Dia bilang kenal kamu kok, jangan bohong deh Din!"


"Emang dia bilang apa aja?"


"Semuanya, tentang masa lalu kalian, kamu beruntung banget deh punya temen cowok cakep-cakep, pinter lagi."


Dini hanya diam, ia tak tau masa lalu apa yang mereka maksud. Ia begitu malas mendengarkan teman-temannya membanding-bandingkan Andi dan Dimas. Ia ingin pergi, tapi tak bisa karena mereka menahan Dini untuk dijadikan sumber informasi mengenai Dimas.

__ADS_1


"Rumahnya Dimas dimana Din?"


"Nggak tau."


"Nggak mungkin, ayo lah Din kasih tau. kamu kan udah ada Andi, jadi Dimas buat aku aja hahaha....."


"Yeee, enak aja, buat aku lah!" ucap salah seorang dari temannya yang tak rela Dimas dimiliki orang lain.


Tiba-tiba Dimas datang dan mendekati kerumunan mereka.


"Hai cantik," sapa Dimas genit, membuat teman-teman Dini mengalihkan pandangannya dari Dini.


Akhirnya Dini bisa keluar dari kerumunan itu. Kehadiran Dimas membuat mereka melupakan Dini.


Melihat Dimas yang sekarang dikerumuni teman-teman perempuannya, Dini hanya tersenyum sinis. Dimas memang tampan, tapi bagi Dini, Dimas tak lebih dari benalu di hidupnya.


Bel masuk berbunyi semua murid duduk di kursinya masing-masing.


"Anak-anak, Bapak akan kasih kalian tugas kelompok ya, satu kelompok 2 orang," ucap Pak Galih, guru Bahasa Indonesia.


"Kelompoknya pilih sendiri kan Pak?" tanya salah satu teman Dini.


"Enggak, Bapak yang pilih!"


"Yaaaaahhh, huuuuuuuu......." teriak teman-teman Dini kecewa. Karena jika mereka harus memilih teman kelompok sendiri, pasti mereka akan berebut untuk memilih Dimas atau Andi sebagai teman kelompok mereka.


Dini yang tidak begitu menyukai kerja kelompok hanya diam. Mau tak mau ia harus mengerjakan tugas bersama teman sekelompoknya. Ia hanya berharap teman kelompoknya bukanlah Dimas.


Setelah Pak Galih membacakan nama-nama kelompok, Dini sangat merasa keberatan karena ia harus satu kelompok dengan Dimas. Ia sudah meminta tukar teman kelompok pada Pak Galih, tapi Pak Galih menolaknya.


"Saya sama siapa aja mau Pak, asal bukan sama Dimas," ucap Dini pada Pak Galih.


"Keputusan Bapak sudah final Dini, nggak bisa diubah lagi," jawab Pak Galih tegas.


Dimas hanya tersenyum penuh kemenangan, ia sangat senang bisa berdua dengan Dini walaupun hanya mengerjakan tugas kelompok.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Andi dan Dimas segera keluar dari kelas.


"Din, kalau Dimas macem-macem, kamu bilang aku ya!" ucap Andi pada Dini.


"Iya Ndi, tenang aja, aku bisa jaga diri kok."


"Halo sayang," ucap Dimas yang tiba-tiba datang dari belakang dan merangkul bahu Dini serta mencium rambutnya.


Andi yang melihat Dimas mengganggu Dini dari tadi sudah kehilangan kesabarannya. Ia langsung mendorong Dimas hingga dia terjatuh dan memberikan sebuah pukulan tepat di wajahnya.


"Andiii, udah Ndi!" ucap Dini dengan berusaha menarik Andi yang kini menindih tubuh Dimas.


"Lepasin Din, dia udah keterlaluan sama kamu!" ucap Andi penuh emosi.

__ADS_1


"Kenapa Ndi? lo cemburu?" tanya Dimas dengan ekspresi mengejek yang sangat menyebalkan, membuat Andi kembali melayangkan tinjunya di muka Dimas.


Teman-teman dan para gurupun melerai Andi dan Dimas, kemudian meminta mereka untuk segera ke ruang BK sebelum pulang.


__ADS_2