
Malam berlalu meninggalkan setitik sendu yang menganggu. Berganti pagi yang hangat bersama sinar mentari yang menghangatkan diri.
Toookk Toookk Toookk
Sebuah ketukan pintu beberapa kali terdengar, namun tak pernah ada jawaban.
"Sayang, kamu belum bangun?" tanya mama Dimas dari balik pintu kamar Dimas.
Setelah beberapa menit menunggu, mama Dimas menyerah. Ia kembali turun ke lantai satu untuk menyiapkan sarapan bersama dengan asisten rumah tangganya.
"Dimas belum bangun ma?" tanya papa Dimas.
"Belum kayaknya pa, Dini juga belum keliatan," jawab mama Dimas.
"Abis begadang mungkin tante, Sintia panggil ya!"
"Coba aja, tapi jangan masuk sebelum disuruh masuk ya!"
"Siap tante!"
Sintia lalu naik ke lantai dua untuk membangunkan Dini, namun beberapa kali ia mengetuk dan memanggil tak ada jawaban. Ia pun pergi ke kamar Dimas dan melakukan hal yang sama, namun hasilnya pun sama, tetap tak ada jawaban.
Sintiapun kembali dengan wajah lesu.
"Gimana?" tanya mama Dimas pada Sintia.
Sintia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Mereka lalu memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu karena Sintia harus segera berangkat ke sekolah, sedangkan mama Dimas harus mengantarkan sang suami untuk medical check up ke rumah sakit.
Setelah Sintia berangkat, mama segera masuk ke kamarnya untuk bersiap siap. Sedangkan sang papa naik ke lantai dua untuk membangunkan Dimas.
Sama seperti istrinya dan Sintia, papa Dimas mengetuk dan memanggil beberapa kali namun tak ada jawaban. Dengan perlahan, papa Dimas membuka pintu kamar Dimas dan mendapati sang anak yang tertidur dengan posisi duduk dan bersandar pada sandaran ranjang, sedangkan Dini dengan pulasnya tidur di pangkuan Dimas.
Papa Dimas hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan anaknya, lalu kembali menutup pintu dan turun. Setelah mama Dimas selesai bersiap, mereka segera berangkat ke rumah sakit.
Mengingat kesehatan papa Dimas yang sempat terganggu, dalam beberapa hari ini, masalah perusahaan dipindah tangankan kepada orang orang kepercayaan papa dan mama Dimas. Meski begitu Pak Tama tetap akan mengontrol segalanya dari rumah dengan dibantu sang istri.
Jam sudah menunjukkan pukul 9, Dimas membuka matanya dan tersadar jika ia terlambat bangun. Ia melihat gadis yang dicintainya masih tampak terlelap di pangkuannya, membuatnya enggan untuk membangunkan gadisnya.
Dengan pelan dan hati hati Dimas menggeser posisi tidur Dini agar ia bisa berdiri tanpa membangunkan Dini. Namun baru saja kepala Dini menyentuh bantal, Dini terbangun.
"Dimas," panggilnya dengan suara khas bangun tidur.
"Maaf sayang, aku bangunin kamu ya?"
Dini lalu mengecek matanya dan duduk lalu memeluk Dimas.
"Selamat pagi, hoooaammm!" ucap Dini sambil menguap.
"Pagi sayang, kamu tidur lagi aja ya!" balas Dimas sambil kembali menidurkan Dini.
Baru saja Dini kembali berbaring. Ia lalu bangun dengan cepat.
"Dimas, ini jam berapa? aku di rumah kamu kan?" tanya Dini yang baru benar benar terbangun 100%.
"Mmmm, jam 9, kamu tidur di kamar ku, lupa?"
"Jam 9? ya ampun, duuuhhh bodohnya aku, kenapa kamu nggak bangunin aku sih? gimana kalau mama sama papa kamu marah? mau ditaruh dimana muka ku Dimas? mereka pasti kecewa banget sama aku kan? mereka pasti nyesel karena restuin hubungan kita kan? mereka....."
CUUPPPP
Satu kecupan mendarat di bibir Dini, membuat Dini menghentikan ucapannya. Beberapa saat bibir mereka bertaut sebelum Dini kembali sadar akan posisinya saat itu.
Dini mendorong Dimas dengan kedua tangannya, membuat lengan tangannya yang terluka kembali terasa sakit.
"Aaawww!" pekik Dini setelah ia mendorong Dimas menjauh darinya.
"Kenapa sayang? tangan kamu sakit lagi?" tanya Dimas khawatir.
"Kenapa kamu bilang? ini jam berapa Dimas? mama papa kamu pasti....."
"Ssssttttt.... mereka nggak kayak gitu, sana mandi dulu, abis itu aku ganti perban kamu!"
"Kamu mau nemenin aku nggak?" tanya Dini ragu.
"Nemenin mandi? ayo!" balas Dimas bersemangat.
"Iiisshhh, bukan itu, dasar mesum!"
"Hehehe... nemenin apa dong?"
"Temenin aku dikamar, aku masih takut," jawab Dini yang masih dihantui dengan cerita Dimas mengenai makam yang ia lihat semalam.
"Ooohhh, nggak sekalian ditemenin mandi?" goda Dimas.
"Ngomong gitu lagi aku pukul luka kamu!"
"Hehehe, bercanda sayang!"
Dini dan Dimas lalu keluar dari kamar dan masuk ke kamar Dini. Bi Sri, asisten rumah tangga keluarga Dimas yang tanpa sengaja melihat hal itu hanya tersenyum geli.
"jadi itu alasannya kenapa nggak ada yang bisa bangunin mas Dimas? abis tidur berdua di kamar mas Dimas sampe bangun telat, sekarang mau lanjut di kamar tamu? hehehe.... dasar anak muda jaman sekarang," batin Bi Sri dalam hati.
Dini segera masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk. Sedangkan Dimas hanya duduk di tepi jendela dengan memandang makam yang membuat Dini takut hingga saat itu.
"makam tak kasat mata? kakek kakek misterius? arwah gentayangan? hehehe.... mana ada yang begituan Andini, kamu ada ada aja hahaha......" batin Dimas dengan tertawa puas.
__ADS_1
Setelah mengeringkan badannya menggunakan handuk, Dini segera keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melingkar di tubuhnya. Handuk yang hanya mampu menutup bagian dada sampai ke bawah pinggangnya. Handuk yang terlalu kecil untuk ukuran tubuh Dini.
Tanpa rasa ragu, Dini berjalan ke arah tas yang berisi pakaiannya dan mengambil apa yang ia perlukan lalu mengeluarkannya. Ia benar benar lupa dengan keberadaan Dimas di sana.
Dimas yang sedari tadi duduk di tepi jendela dibuat terkejut dengan apa yang Dini lakukan. Ia hanya bisa diam dengan menelan ludahnya berkali kali tanpa terasa kenyang. Matanya tak berkedip menyaksikan pemandangan surga dunia di hadapannya.
Selama ini, tak pernah sedikitpun niat dalam dirinya untuk melihat Dini sejauh itu. Namun jika ia diberikan pemandangan seperti itu tanpa ia minta, sudah pasti ia tidak akan menolaknya.
Dini yang hendak membuka handuknya menghadap ke arah cermin begitu terkejut melihat pantulan laki laki di belakangnya.
"Aaaaaaa...... Diimaaassss!!!!" teriak Dini lalu kembali masuk ke kamar mandi.
Dimas hanya tertawa puas di tepi jendela, menertawakan gadisnya yang hampir saja menyuguhkan pemandangan terlarang nan indah padanya.
"Dimas cepet keluar!" teriak Dini dari dalam kamar mandi.
"Kamu yakin mau sendirian di kamar ini?" tanya Dimas yang kini berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Eee... enggak sih, tapi....."
"Aku ambilin deh baju kamu, kamu bisa ganti baju di kamar mandi!" ucap Dimas.
"dia ambil baju ku? disitu kan ada bra sama celana da*am ku, aahhhh gimana ini, aku juga nggak berani ditinggal sendirian di sini!"
"Gimana sayang? apa aku harus keluar?" tanya Dimas.
"tapi aku kan udah keluarin pakaianku, dia pasti udah liat juga kan sekarang? ya udah lah, udah terlanjur juga!"
"Sayang ayo buruan, nanti kamu masuk angin loh!"
"Ya udah iya, tolong ambilin semua yang ada di kasur!" jawab Dini.
Dimas lalu mengambil pakaian Dini yang berada di kasur.
"Iiihhh lucu banget, warna pink ada bunga bunganya, yang ini ada renda rendanya, aneh aneh aja sih hiasannya nggak kayak punya cowok," batin Dimas sambil memperhatikan apa yang ia pegang.
"Dimas buruan, kamu nggak liat ada di kasur semua?" ucap Dini dari dalam kamar mandi.
"Iya sayang bentar!" jawab Dimas.
"sadar Dim sadar, lo bukan cowok mesum," ucap Dimas dalam hati sambil menepuk nepuk pipinya.
Dimas lalu memberikan semua yang ia bawa pada Dini. Dengan hanya membuka pintu sedikit, Dini menerima semua yang Dimas berikan dan segera mengenakannya.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya Dini segera keluar dari kamar mandi.
"Udah?" tanya Dimas yang sengaja menggoda.
"Kamu tadi liat apa? kamu nggak liat apa apa kan?" tanya Dini dengan menahan malu karena kebodohannya sendiri.
"Mmmm.... tadi.... aku cuma liat rambut kamu yang masih basah, wajah kamu yang polos tanpa make up, dada dan paha kamu yang......"
Dini memukul Dimas menggunakan sisir yang ada di tangannya.
"Hehehe, kenapa sih?" tanya Dimas tanpa rasa bersalah, karena memang sebenarnya ia tidak bersalah.
"Dasar mesum!"
"Laaaahhhh, mesum dari mananya coba, kan kamu nanya ya aku jawab kalau aku tadi liat da......"
Tooookk Toookk Toookk
Ketukan pintu menghentikan ucapan Dimas. Dimas lalu membuka pintu kamar dan melihat Bi Sri di depan pintu.
"Ada apa Bi?" tanya Dimas.
"Maaf mas, saya kira kamarnya mbak Dini," jawab Bi sri yang pura pura tidak tau jika Dimas memang sengaja masuk ke kamar tamu bersama Dini.
"Yeeee, ini emang kamar Dini, Bi Sri ada perlu apa?"
"Bibi disuruh ibu ketuk pintu mbak Dini, barangkali udah bangun, disuruh sarapan sama ibu," jawab Bi Sri.
"Mama kemana?"
"Ibu sama bapak lagi ke rumah sakit buat check up mas, non Sintia udah berangkat sekolah."
"Oh, bentar lagi kita turun kok, Bi Sri siapin aja di bawah!"
"Baik mas, Bibi permisi," ucap Bi Sri yang dibalas anggukan kepala Dimas.
Dimas lalu kembali menutup pintu kamar dan menghampiri Dini yang baru saja memoles wajahnya dengan make up tipis.
"Bi Sri ya?" tanya Dini.
"Iya, disuruh turun buat sarapan," jawab Dimas sambil menarik Dini ke dalam pelukannya.
Dimas kembali mendaratkan kecupannya di bibir Dini, namun hanya sebentar.
"Rasanya aneh," ucap Dimas dengan memperhatikan bibir Dini.
"Lipstik hehehe," balas Dini lalu mencium pipi Dimas dan segera keluar dari kamar.
Dimas hanya tersenyum tipis lalu mengikuti Dini keluar.
"Kamu mandi dulu, aku tunggu di bawah," ucap Dini sebelum menuruni tangga.
Dimas menurut, ia lalu segera masuk ke kamarnya untuk mandi. Sedangkan Dini turun dan meminta bantuan Bi Sri untuk mengganti perban di lengan tangannya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama menunggu, Dimas akhirnya turun.
"Aku ganti dulu perban kamu!" ucap Dini pada Dimas.
"Kamu udah?"
"Udah barusan, dibantuin Bi Sri," jawab Dini sambil mengganti perban Dimas.
Setelah selesai, merekapun segera menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh Bi Sri. Sarapan? entahlah karena jam sudah hampir menunjukkan pukul 10 siang.
Setelah selesai, Dini membantu Bi Sri untuk membereskan meja makan, sedangkan Dimas segera ke kamar mandi untuk buang air kecil.
"Bibi aja mbak, nanti bibi dimarahin mas Dimas," ucap Bi Sri sambil mengambil piring yang Dini pegang.
"Enggak Bi, Dini udah biasa kok, lagian Dimas juga nggak mungkin marah," balas Dini dengan membawa beberapa sisa makanan ke dapur.
"Siapa bilang aku nggak bisa marah?" sahut Dimas yang mendengar ucapan Dini.
"Maaf mas, ini salah Bibi," ucap Bibi dengan menundukkan kepalanya.
Bi Sri sangat tau jika Dimas dan keluarganya bukanlah tipe orang yang mudah marah tapi meski begitu, ia tidak akan melakukan hal semaunya sendiri di rumah majikan yang sudah menganggapnya seperti keluarga itu.
"Bibi emang nggak salah, dia yang salah!" ucap Dimas dengan menunjuk ke arah Dini.
"Iya, aku yang salah, terus kenapa?" Balas Dini tanpa rasa bersalah.
Dimas lalu menarik tangan kiri Dini dan menggelitiki pinggang Dini hingga Dini berlari menghindar dari Dimas.
"Dimas stop, jangan kekanak kanakan!" ucap Dini ketika ia sudah lelah berlari dan merebahkan badannya di sofa ruang tamu.
"Oh, oke!" jawab Dimas lalu duduk di samping Dini dan dengan cepat kembali menggelitiki Dini.
Mereka tertawa dan tampak bahagia, melupakan sejenak masalah yang seakan tiada hentinya.
"Eheemm!"
Suara deheman dari papa Dimas membuat Dimas menghentikan aksinya.
"Papa, mama, udah pulang?" tanya Dimas yang tampak salah tingkah.
"Udah bangun kamu? nyenyak banget ya tidurnya!" balas papa Dimas mencibir.
"Maaf Pa, ma, Dini bangunnya telat," ucap Dini yang merasa bersalah.
"Nggak papa sayang, toh ini hari libur kalian, gunain waktu ini buat kalian me recharge energi kalian sebelum kembali sibuk di kampus," jawab mama Dimas.
"Kalian udah sarapan?" tanya papa Dimas.
"Udah pa, barusan," jawab Dimas.
"Lukanya udah diobatin? udah diganti perbannya?" tanya mama Dimas.
"Sudah ma," jawab Dini.
"Good, mama mau ganti baju dulu ke kamar!"
Kini hanya ada Dini, Dimas dan papanya di ruang tamu.
"Papa kenapa sih liatin Dimas kayak gitu?" tanya Dimas yang merasa diperhatikan oleh sang papa.
"Anak papa udah dewasa sekarang, sini peluk papa!" balas papa Dimas sambil meregangkan tangannya siap untuk menerima pelukan Dimas.
"Dimas bukan anak kecil pa, mana ada peluk peluk gitu!"
"Oh iya papa lupa, yang ada tidur berdua di kamar ya hehe...." balas papa Dimas yang sukses membuat Dini dan Dimas saling pandang karena salah tingkah.
"Gimana semalem? kecape'an banget kayaknya sampe bangunnya kesiangan hehe...." goda papa Dimas.
"Papa ngomong apa sih, Dimas nggak ngerti," ucap Dimas dengan memainkan bunga di meja.
"Gimana Din? nggak sakit kan?" tanya papa Dimas yang semakin membuat Dini dan Dimas salah tingkah.
"Mmmm, pa, Dini....."
"Dini ikut mama ke belakang yuk, waktunya kasih makan adik adiknya Dimas!" ucap mama Dimas yang tiba tiba datang.
"Eh, adik?"
"Itu, ikan ikan di belakang!"
"Yeeee, kok adiknya Dimas sih, emang Dimas mirip ikan?" protes Dimas pada mamanya.
"Iya, mirip, manyun terus kalau lagi kangen sama Dini hehe...."
"Kangennya udah dituntasin sema....." papa Dimas menghentikan ucapannya ketika Dimas dengan cepat menutup mulut sang papa dengan tangannya.
"Papa kayaknya capek deh abis dari rumah sakit, ayo Dimas anter ke kamar pa," ucap Dimas sambil menarik tangan papanya.
"Apanya yang capek, orang papa masih semangat gini," protes papa Dimas.
"Udah deh pa, papa harus banyak banyak istirahat, jangan jadi netizen julid!"
Papa Dimas hanya tertawa mendengar ucapan Dimas. Sedangkan mama Dimas dan Dini segera berjalan ke arah taman belakang.
"kasih makan ikan? itu artinya aku bakalan liat makam itu lagi? duuuhhh gimana ini?" batin Dini yang mulai panik.
**Episode yang santai, biar nggak tegang terus wkwkwk 😆
__ADS_1
**Jangan lupa like dan komennya ya kakak readers semuanya, biar author makin semangat up 🤩
**Terima kasih, Xie Xie, Arigatou gozaimasu, Kamsahamnida 🙏🙏