Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Akhirnya terungkap


__ADS_3

Setelah membuka semua kotak misterius itu, Dini merasa sedikit lega, karena isinya bukanlah ancaman seperti yang ia takutkan.


Namun ia juga berpikir keras tentang siapa pengirim kotak misterius itu.


"dia tau namaku, tau tempat tinggalku, tau dimana sekolahku, apa mungkin dia teman sekolahku? tapi siapa? dan apa maksudnya?"


Satu-satunya cara agar Dini tau siapa pengirim kotak itu adalah ia harus pergi ke taman yang berada di dekat sekolahnya tepat jam 8 malam.


Namun Dini sedikit ragu, ia takut pengirim kotak itu berniat jahat padanya.


Setelah memikirkannya matang-matang, ia pun akhirnya pergi ke taman di dekat sekolahnya tapi tidak mengenakan baju yang diberi oleh si pengirim kotak misterius itu.


Tepat jam 8 malam Dini sudah berada di taman. Ia memilih duduk di tempat yang ramai untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, terlebih ia tidak tau siapa pengirim kotak misterius itu sebenarnya.


Beberapa menit Dini menunggu, tak ada siapapun yang datang padanya. Hingga dia memutuskan untuk pulang sebelum seseorang memanggilnya.


"Andini!" panggil seorang laki-laki dari belakangnya.


Dini menoleh dan diam beberapa saat.


"Akhirnya kamu datang juga, aku tiap hari nunggu kamu disini," ucap lelaki itu.


Dini tak bergeming, pikirannya masih memutar memori tentang siapa laki-laki di hadapannya itu, karena wajahnya seperti tidak asing bagi Dini.


"Kamu masih ingat kan sama aku?"


"Dimas?" tanya Dini ragu.


Ya, laki-laki pengirim kotak misterius itu adalah Dimas. Dia adalah teman Dini dan Andi ketika mereka masih SD. Dia pindah dari sekolah ketika mereka kelas 5, sejak saat itu mereka tak pernah bertemu lagi. Dimas dulu adalah raja pembuat onar di sekolahnya. Ia juga sering mengejek dan mengganggu Dini.


"Iya Andini, aku Dimas," ucap Dimas sambil meregangkan tangannya berniat untuk memeluk Dini, namun Dini buru-buru mendorong tubuh Dimas hingga ia mundur beberapa langkah.


Dini pun melangkah pergi, ia masih kesal atas apa yang dilakukan Dimas ketika SD padanya. Ia menyesal karena pergi ke taman malam itu. Harusnya ia membiarkan saja kotak itu dan membiarkan Dimas menunggunya setiap malam di taman itu.


"Andini jangan pergi dong!" cegah Dimas sambil menarik tangan Dini, tak peduli banyak mata yang memandang mereka.


Dini segera melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.


"Kamu mau apa lagi? masih mau gangguin hidupku? belum puas kamu?" tanya Dini emosi.


"Enggak Andini, justru aku mau minta maaf, duduk dulu dong!"

__ADS_1


Dini menurut, mereka duduk dibawah pohon dengan lampu-lampu kecil yang mengitari batang dan dahannya.


"Jadi mau kamu apa? belum puas gangguin aku?" tanya Dini dengan nada yang masih kesal.


"Kamu masih marah sama aku?"


Dini tak menjawab.


"Ya ampun Din, itu kan udah 7 tahun yang lalu."


"Kalau nggak ada yang penting, aku pulang aja," ucap Dini sambil berdiri.


"Tunggu Din, aku belum jelasin apa-apa," cegah Dimas sambil menarik tangan Dini agar kembali duduk.


Dini hanya diam dan kembali duduk.


"Andini Ayunindya Zhafira, aku minta maaf atas semua kesalahanku dulu, aku nyesel, aku mau perbaikin semuanya Din, aku mau nebus semua kesalahanku itu, aku udah berubah, aku udah nggak kayak dulu lagi, kamu percaya kan sama aku?"


"Kamu nanya aku percaya apa enggak sama kamu? setelah semua yang kamu lakuin ke aku, terus kamu pergi gitu aja dan sekarang kamu nanya aku percaya apa enggak? sakit kamu Dim!"


"Aku tau aku salah, aku minta maaf, aku bener-bener nyesel, aku nggak pernah tenang sebelum aku dapat maaf dari kamu Andini, aku mohon kasih aku kesempatan buat perbaiki semuanya," ucap Dimas memohon.


"Terus maksud kamu ngasih kotak-kotak itu apa?"


"Aku nggak butuh hadiah kamu," jawab Dini dengan masih kesal.


Dinipun berdiri, pergi meninggalkan Dimas yang hanya bisa menarik napas panjang melihat sikap Dini.


"tunggu kejutanku besok ya Andini!"


Esoknya, pagi-pagi sekali Andi kerumah Dini.


"Din, ini masakan dari ibu, buat kamu sarapan," ucap Andi sambil memberikan sebungkus nasi kuning buatan ibunya pada Dini.


"Makasih ya Ndi, sampe'in terimakasihku juga buat ibu kamu."


"Iya Din, ya udah aku balik dulu ya, nanti aku jemput."


"Oke!"


Setelah selesai sarapan dan membereskan pekerjaan rumah, Dini berangkat ke sekolah bersama Andi.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah, Dini dan Andi segera menuju ke kelas mereka. Dini sengaja tak meninggalkan apapun di lokernya agar ia tak perlu lagi melihat surat ancaman yang hanya mengganggu fokusnya belajar.


"Anak-anak, hari ini kita ada teman baru, pindahan dari kota X," ucap Pak Agus wali kelas Dini dan Andi.


Semua teman-teman Dinipun bersorak melihat teman baru yang dimaksud Pak Agus datang. Dini hanya diam terpaku. Ia seperti menahan kesal.


"Pagi teman-teman, namaku Dimas Radhitya Adhitama, biasa dipanggil Dimas, tapi kalau mau panggil sayang juga boleh," ucap Dimas membuat seisi kelas bersorak padanya.


"Oke Dimas, kamu duduk disana ya!" ucap Pak Agus sambil menunjuk bangku paling belakang.


"Iya Pak."


Dimaspun berjalan menuju bangkunya, melewati Dini yang berada di bangku paling depan. Tangan jail Dimas tanpa rasa bersalah mengacak-acak pelan rambut Dini.


"Apaan sih!" ucap Dini kesal dan menepis tangan Dimas dari kepalanya.


"Kamu kenal Din?" tanya Andi berbisik pada Dini.


"Kamu kan juga kenal Ndi."


Andi mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Dini. Ia penasaran, tapi ia tak mau bertanya lagi pada Dini. Ia takut akan membuat Dini marah jika ia mengganggu konsentrasinya.


Bel istirahat berbunyi, seperti biasa, Dini pergi ke perpustakaan, melanjutkan membaca buku yang belum ia selesaikan. Sedangkan Andi menemui kepala sekolah untuk membahas proposal yang dia ajukan.


Dimas yang ingin mengikuti Dini dihadang oleh teman-teman perempuannya.


Dengan ketampanan yang dimiliki Dimas, dengan mudah ia bisa mengambil hati siapapun yang ia mau. Terlebih ia juga pandai bergaul, membuat siapapun akan senang berteman dengannya.


Dimas juga tak kalah cerdas dengan Andi dan Dini.


Berbeda dengan Dimas, Andi yang sudah tidak diragukan lagi ketampanannya justru lebih pendiam dan terkesan dingin ketika didekati oleh teman-teman perempuannya.


Setelah berhasil lepas dari teman-teman perempuannya, Dimas segera mencari Dini ke setiap sudut sekolahnya.


Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia menemukan Dini di perpustakaan.


"Andini!" panggil Dimas setengah berbisik.


Dini yang kaget segera menoleh ke sumber suara, wajah kesalnya mulai keluar.


"Kamu ngapain sih!" ucap Dini dengan sedikit berteriak. Ia begitu kesal melihat Dimas.

__ADS_1


"DILARANG BERISIK," teriak penjaga perpustakaan.


__ADS_2