Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Meninggalkan Rumah Sakit


__ADS_3

Mentari menyambut pagi dengan sinar teriknya. Tak seperti biasanya, Andi masih sangat nyenyak dalam tidurnya. Itu karena ia baru bisa tidur menjelang pagi, pertanyaan Nico benar benar membuatnya terjaga sepanjang malam.


Tookk tookk tookk


Suara ketukan pintu menggema di telinganya, tapi ia tak bergeming, ia masih melanjutkan tidurnya dengan menutup telinganya menggunakan bantal, ia benar benar mengantuk, matanya seperti enggan untuk terbuka.


"Ndi, lo berangkat jam berapa?" suara Nico dari luar pintu kamar Andi.


Andi tak menjawab, ia sangat malas, ia hanya ingin tidur dengan nyenyak.


"Ndi, hari ini Dini udah boleh pulang loh!" lanjut Nico, ia yakin kali ini Andi pasti membuka pintunya.


Benar saja, ketika mendengar hal itu, Andi segera membuka matanya lebar lebar dan segera membuka pintu.


"Sorry Nic, gue telat bangun, tungguin bentar ya!"


"Hmmmm, oke!"


"dasar, bucin akut," batin Nico dalam hati.


Andi segera mandi, berganti pakaian dan keluar dari kamar. Rasa kantuknya sudah sirna begitu ia menyadari jika hari ini Dini sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ia begitu bersemangat, ia ingin cepat berangkat kuliah, menyelesaikan kelasnya dan segera menjemput Dini.


"Ayo Nic!" ucap Andi begitu ia selesai mempersiapkan diri.


Setelah memakai sepatu dan mengunci pintu kamar, Andi dan Nico segera berangkat ke kampus.


"Semangat bener lo!" ucap Nico.


"Enggak tuh, biasa aja," jawab Andi mengelak. Sejujurnya ia memang sangat bersemangat. Ia sangat merindukan sahabat yang dicintainya itu. Ia terbiasa untuk selalu bersama sama dengan Dini. Ketika Dini di rumah sakit, ia lebih sering sendiri atau bersama Nico dan teman temannya yang lain. Bagi Andi, semua itu tak lengkap jika tanpa Dini di dekatnya.


"Aletta juga pulang kan nanti?" tanya Andi.


"Iya, gue juga mau jemput dia nanti!"


**


Di dalam mobil yang terparkir di tempat parkir kampus, Dimas sedang berdebat dengan seseorang melalui sambungan teleponnya. Ia tampak kesal pada seseorang di ujung sambungan teleponnya.


"Besok aja ya, aku hari ini sibuk ngerjain tugas!" ucap Dimas berbohong.


"Nggak bisa Dimas, mbak Dewi minta aku dateng hari ini buat interview, aku nggak mau tau nanti siang jemput aku!"


"Kamu kan bisa naik taksi sayang," balas Dimas mencoba untuk membujuknya.


"Aku kan punya kamu, kenapa aku harus pake' taksi?"


Dimas menghembuskan napasnya pelan, membuang semua kekesalan yang membuncah di dadanya. Hari ini seharusnya ia bisa menjemput Dini di rumah sakit, tapi Anita memaksanya untuk menjemputnya.


Setelah mengetahui jika Dimas tinggal di apartemen X, Anita ikut tinggal di sana, namun ia tidak melanjutkan kuliahnya, ia memilih untuk bekerja di sebuah butik milik teman Dokter Dewi.


"Oke, aku jemput kamu nanti siang selesai kelas," balas Dimas mengalah.


"Gitu dong, jangan lupa ya, aku tunggu!"


Klik, Dimas memutus sambungan teleponnya. Ia memukul setir mobilnya karena kesal.


**


Setelah menyelesaikan kegiatan kampusnya, Andi dan Nico segera keluar dari kampus untuk pergi ke rumah sakit.


Nico pergi ke ruangan Aletta terlebih dahulu, namun ia tak menemukan keberadaan Aletta di sana. Petugas rumah sakit bilang jika Aletta sudah keluar sejak pagi tadi. Nicopun menghubungi Aletta, namun tidak tersambung.


Andi yang sudah berada di ruangan Dini melihat Aletta yang sedang mengobrol dengan Dini.


"Lo di sini Ta?" tanya Andi.


"Iya, bosen gue di sana sendirian," jawab Aletta.


"Lo udah baikan?"


Aletta mengangguk.


"Iya, gue baik baik aja," jawab Aletta.


Ia menyembunyikan senyumnya saat menjawab pertanyaan itu. Pasalnya, Andi menanyakan keadaan Aletta terlebih dahulu sebelum menanyakan keadaan Dini, itu membuatnya cukup senang.


"Kamu gimana Din? udah siap pulang?"


"Siap banget," jawab Dini penuh semangat.


"Kamu harus bisa jaga diri kamu lebih baik lagi ya!" ucap Andi dengan mengusap lembut rambut Dini.


Dini mengangguk.


Mereka kemudian bersiap siap untuk meninggalkan rumah sakit.


Nico yang sedari tadi mencoba menghubungi Aletta akhirnya menyerah, ia kemudian pergi ke ruangan Dini. Sesampainya di sana, Nico meminta para body guardnya untuk pergi, tugas mereka sudah selesai.


Nico membuka pintu ruangan Dini pelan, ia melihat Andi, Dini dan Aletta di sana.


"Lo di sini Al? gue dari tadi nyariin lo!"

__ADS_1


"Gue di sini dari pagi," jawab Aletta.


"HP lo kemana sih, gue hubungin lo dari tadi nggak bisa, seneng banget bikin orang khawatir!"


"Lowbatt Nic, lo kayak nggak tau gue aja!"


"Kebiasaan!"


Merekapun akhirnya meninggalkan rumah sakit. Nico yang menanggung semua biaya rumah sakit Dini di sana. Sedangkan Aletta, ia sudah membayar biaya rumah sakitnya sendiri sebelum Nico melakukannya.


Sebelum kuliah, Aletta tinggal bersama tante Rosa yang merupakan pegawai kantoran. Tante Rosa berjanji akan membiayai pendidikan Aletta sampai ia lulus kuliah. Namun karena kepandaian Aletta, ia bisa mendapat beasiswa dari SMA sampai ia kuliah. Itu membuat tante Rosa sangat bangga padanya dan berjanji untuk memberikan kehidupan yang layak untuk Aletta. Meski begitu, Aletta tak pernah menggunakan pemberian tante Rosa untuk berfoya foya, ia hanya akan menggunakannya secukupnya. Ia harus bisa hidup sederhana karena ia sekarang hanya bisa bertumpu pada tante Rosa yang hingga saat itu belum menikah. Setelah tante Rosa menikah dan mempunyai anak, tentu ia tak bisa lagi mengusik kehidupan tante Rosa.


Sesampainya di tempat kos, Andi mengantar Dini ke kamarnya. Sedangkan Nico dan Aletta duduk di teras.


"Aku kangen banget sama kamarku," ucap Dini lalu merebahkan badannya di tempat tidurnya.


Andi lalu mengikuti Dini untuk merebahkan badannya di samping Dini.


"Kamu seneng?"


"Tentu, aku seneng banget akhirnya bisa balik ke kamarku, ini bener bener surga buat aku!"


"Surga? haha lebay kamu Din!"


"Biarin, ini emang tempat paling nyaman buat aku."


Dini lalu menggeser posisi tidurnya untuk lebih dekat dengan Andi. Ia menarik tangan Andi dan menggunakannya sebagai bantal. Ia tidur berbantal lengan tangan Andi.


"Aku kangen banget sama kamu," ucap Andi pelan dengan mengusap pipi Dini.


Dini membuka matanya, ia tidak tidur saat itu, hanya memejamkan matanya.


"Aku juga kangen banget sama kamu," balas Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Andi.


Andi tersenyum dan menggenggam tangan Dini.


"Mama Dimas kemarin ngomong apa aja sama kamu?"


"Nggak banyak, tante Angel minta maaf sama aku."


"Minta maaf?" tanya Andi tak percaya.


"Iya, tante Angel minta maaf, aku juga nggak tau kenapa tiba tiba minta maaf gitu!"


"Terus?"


"Udah, gitu aja!"


"Tante Angel nggak ngomong apa apa lagi?"


Andi diam mendengar penjelasan Dini.


"Menurut kamu aneh nggak sih kalau tante Angel tiba tiba minta maaf sama aku?"


"Mmmm, enggak juga, namanya orang kan bisa berubah kapan aja Din!"


"Tapi ini nggak wajar Ndi, kamu inget kan gimana nggak sukanya tante Angel sama aku, kenapa tiba tiba sekarang minta maaf?"


"Nggak usah dipikirin, yang penting sekarang kamu harus selalu seneng, kamu harus selalu bahagia dan kamu harus selalu ceria, oke?"


Dini mengangguk.


"Aku akan selalu bahagia Ndi, karena aku punya kamu," balas Dini.


"Aku akan selalu di sini buat kamu Din," ucap Andi.


**


Di jalanan yang macet, Dimas duduk dibalik kemudinya dengan kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri, ia kesal karena tak bisa menjemput Dini, ia kesal karena membiarkan Andi menjemput Dini, ia kesal karena tidak bisa selalu ada untuk Dini.


Setelah hampir 1 jam bergulat dengan kemacetan, Dimas mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal agar segera sampai di rumah Anita.


Anita yang sudah menunggu Dimas dari satu jam yang lalu segera keluar begitu mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya.


Anita segera berlari ke arah Dimas yang baru saja turun dari mobilnya. Ia memeluk Dimas dengan erat. Dimas hanya diam tak membalas pelukan Anita.


"Luka kamu gimana? udah sembuh?" tanya Dimas.


"Udah kok," jawab Anita.


Mereka lalu segera masuk ke mobil dan meninggalkan rumah Anita.


"Kamu kenapa nggak lanjut kuliah?" tanya Dimas pada Anita.


"Papa udah nggak mau biayain kuliahku," jawab Anita.


"Kamu harus bisa bersikap dewasa Nit, jangan cuma ngelakuin apa yang kamu inginkan!"


"Papa nggak mau biayain kuliahku karena wanita itu Dim, pasti dia udah hasut papa!" balas Anita dengan menyalahkan wanita muda yang selalu bersama papanya, wanita yang akan menjadi mama tirinya.


"Kamu tau dari mana? pikiran buruk kamu itu dateng karena kamu menolak hubungan mereka kan?"

__ADS_1


"Aku tau semuanya Dimas, wanita itu masih muda, cantik, kenapa mau berhubungan sama papa kalau bukan karena harta!"


"Cinta itu nggak mengenal usia Anita, kamu liat Yoga sama Sintia, Yoga dari dulu suka sama Sintia padahal dia tau kalau Sintia suka sama aku dan sekarang mereka bisa sama sama, sikap dewasa Yoga bisa nutupin sikap kekanak kanakannya Sintia, begitu juga Sintia yang bisa menutupi sikap Yoga yang kadang terlalu serius, mereka......."


"Aku nggak yakin," ucap Anita memotong ucapan Dimas.


"Maksud kamu?"


"Aku nggak yakin sama hubungan kak Yoga sama Sintia," jawab Anita meragukan.


"Kenapa?"


"Dimas, kak Yoga itu anak kuliahan, bentar lagi lulus S1, cakep, punya bisnis lagi, kafe kamu itu bisnis kamu sama kak Yoga kan?"


Dimas mengangguk, ia tak paham arah pembicaraan Anita.


"Nah itu, kak Yoga yang sesempurna itu pasti banyak digilai cewek cewek, apa lagi temen kampusnya juga pasti cantik cantik dan yang pasti nggak kekanak kanakan, jadi mana mungkin kak Yoga serius sama Sintia, dia pasti jadiin Sintia mainan aja, dia......."


Ciiiiiiittttttt


Dimas menginjak rem mobilnya tiba tiba, membuat Anita tersentak kaget hingga hampir saja kepalanya membentur dashboard mobil, beruntung ia memakai sabuk pengaman saat itu hingga mencegah benturan yang mungkin saja terjadi.


"Kamu apa apan sih Dimas!" ucap Anita dengan nada tinggi.


"Kamu yang apa apaan!"


"Maksud kamu apa?"


"Kamu nggak sadar sama apa yang kamu ucapin tadi? kamu nggak ngerasa bersalah sama tuduhan kamu itu?"


"Soal kak Yoga sama Sintia? kamu sadar apa yang kamu lakuin itu bahaya? gimana kalau ada mobil di belakang? kamu bisa bikin tabrakan beruntun Dimas!"


"Aku sadar dan aku nggak peduli, aku nggak suka kamu ikut campur sama hubungan Yoga dan Sintia, tau apa kamu soal mereka? kamu nggak tau apa apa jadi stop bicara seolah kamu tau semuanya!"


"Kamu bahayain diri kamu cuma buat belain mereka?"


"Iya, kamu inget baik baik ya Nit, kamu emang tunangan aku sekarang, tapi sedikitpun aku nggak pernah cinta sama kamu, bahkan ketika ingatanku hilangpun aku nggak pernah bisa cinta sama kamu jadi jangan pernah coba buat ngusik kehidupan orang orang di sekitar ku, termasuk Yoga dan Sintia!" ucap Dimas tegas.


Anita hanya diam mendengarkan ucapan Dimas. Fakta bahwa Dimas tak pernah mencintainya membuat hatinya sakit. Namun ia tak akan menyerah, ia sudah memiliki Dimas sekarang. Ia hanya perlu membuat Dimas jatuh cinta padanya.


"kamu bisa ngomong kayak gitu sekarang, tapi liat aja, aku nggak akan biarin orang lain milikin kamu Dimas, kamu punyaku, kamu milikku dan seharusnya cinta kamu juga cuma buat aku," batin Anita dalam hati.


Perjalanan berlanjut dengan kebisuan diantara keduanya. Dimas benar benar tak habis pikir dengan ucapan Anita tadi.


Sesampainya di butik milik teman Dokter Dewi, Dimas dan Anita segera turun dari mobil.


"Kamu tungguin aku, aku harus ke apartemen setelah interview!" ucap Anita pada Dimas.


Dimas mengangguk.


Setelah beberapa saat menunggu, Anita keluar dari butik.


"Ayo ke apartemen!"


"Apa nggak terlalu boros kalau kamu tinggal di apartemen?" tanya Dimas.


"Tenang aja, itu apartemennya mbak Dewi, daripada nggak ada yang nempati mending aku tempati kan, lagian aku masih dapet jatah bulanan dari papa," jelas Anita.


"Kenapa kamu kerja kalau gitu?"


"Kalau aku nggak kerja aku cuma di rumah Dim, aku harus kerja biar bisa kesini, biar bisa deket sama kamu," jawab Anita dengan senyum manisnya.


Dimas hanya tersenyum tipis dan menggeleng gelengkan kepalanya mendengar jawaban Anita.


"justru kamu lebih kekanak kanakan daripada Sintia Nit,"


Mereka lalu meninggalkan butik dan pergi ke apartemen. Anita hanya membawa beberapa barangnya untuk ditaruh di apartemen karena ia masih harus kembali ke rumahnya hari itu.


Lagi lagi, Dimas harus menjadi supir Anita. Ia harus mengantarkan Anita kembali ke rumahnya.


Setelah mengantar Anita pulang, Dimas segera melajukan mobilnya ke arah tempat kos Dini. Tak lupa ia membawa 1 buket bunga lily of the valley. Bunga kecil berwarna putih yang sering digunakan dalam penataan pesta pesta pernikahan.


Sesampainya di tempat yang di tuju, ia segera menanyakan keberadaan kamar Dini pada siapapun yang ia temui di sana.


Perlahan, ia mengetuk pintu kamar Dini. Tak lama kemudian pintu terbuka, terlihat gadis cantik yang sangat di cintainya itu berdiri dengan senyum manis di bibirnya.


"Dimas, kamu ngapain ke sini?" tanya Dini.


"Apa aku nggak boleh masuk?" balas Dimas yang balik bertanya.


"Boleh boleh, maaf kamarku kecil jadi berantakan."


"Semua tempat akan jadi nyaman kalau ada kamu di sana," balas Dimas membuat Dini tersipu.


"Buat kamu," lanjutnya sambil memberikan bunga di tangannya.


"Lily of the valley?"


Dimas mengangguk.


"Kenapa ini?"

__ADS_1


"Karena bunga ini bisa membawa keberuntungan dalam dunia percintaan dan aku sedang mengharapkan keberuntungan itu," jawab Dimas dengan menatap tajam mata Dini.


Dini tersenyum dan membawa bunga itu ke dalam pelukannya.


__ADS_2