Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Welcome Back Yoga


__ADS_3

Andi yang berada di rumah Anita kini sedang menonton film horor dari laptop Anita.


"Kamu ini suka film horor, tapi takut?" tanya Andi pada Anita yang sedang menyembunyikan wajahnya di balik lengan Andi.


"Iya, aku suka karena seru, bikin tegang, tapi aku takut liat hantunya apa lagi kalau ada jumpscare hehehe...."


"Ada ada aja kamu ini!" balas Andi dengan mengacak acak pelan rambut Anita.


"Ada nggak sih film horor yang nggak pake jumpscare terus kasih tau dulu kalau hantunya mau keluar, biar aku bisa siap siap gitu," tanya Anita membuat Andi tertawa kecil.


"Justru jumpscare nya itu yang bikin seru Nit, kalau nggak ada jumpscare itu kayak masakan nggak pake garam, kurang gurih hehehe....."


"Yeeeeyy film kok di samain sama makanan!" protes Anita.


"Ngomongin soal makanan, kamu nggak laper Nit?"


"Enggak, aku lagi diet jadi nggak makan malem," jawab Anita asal.


"Ngapain diet? tadi siang udah makan?"


Anita menggeleng.


"Nggak usah diet lah Nit, kamu nggak gendut kok sekarang!"


"Jadi maksud kamu aku gendut kemarin?"


"Enggak, kamu dari dulu nggak gendut!"


"Bohong, aku baru cek berat badanku naik 1 kilo Ndi!"


"Apa? satu kilo?" tanya Andi tak percaya.


"Iya, aku jadi keliatan gendut kan?"


Andi hanya menepuk jidatnya mendengar ucapan Anita. Andi tak habis pikir bagaimana bisa Anita menyebut dirinya gendut hanya karena berat badannya naik satu kilo.


"Sini deh, liat!" ucap Andi mengajak Anita berdiri di depan cermin di kamar Anita.


Cermin yang tak terlalu besar, tetapi cukup tinggi dan lebar untuk memantulkan seluruh bayangan Anita dan Andi.


"Kenapa?" tanya Anita tak mengerti.


Andi menggeser posisi Anita berdiri membuat Anita berdiri tepat di hadapan Andi dan menghadap ke cermin.


"Bagian mana yang keliatan gendut?" tanya Andi.


Anita memperhatikan dirinya yang berada di pantulan cermin untuk beberapa saat lalu perlahan membuka kancing baju tidurnya satu demi satu. Sedangkan Andi sibuk dengan ponselnya untuk memberi tau Dimas jika dirinya dan Anita tidak bisa datang ke cafe. Sebelum Andi selesai mengetik pesan chatnya, ia melihat baju tidur yang Anita kenakan jatuh menutup kakinya.


Andipun melihat ke arah cermin, ia begitu terkejut, matanya terbelalak melihat Anita yang sudah melepaskan pakaian tidurnya, menyisakan sebuah tank top ketat yang menutup tubuhnya.


"Nih, perutku buncit, lengan tanganku udah kayak petinju kan?" ucap Anita dengan memamerkan bagian perutnya lalu mengangkat lengannya.


Andi hanya bisa menelan ludah dengan segala pikiran kotor yang memenuhi otaknya. Namun ia segera tersadar dan dengan cepat mengambil baju tidur Anita yang ia jatuhkan dan segera menutupkannya asal ke tubuh Anita.


"Kenapa harus di buka sih Nit?" protes Andi lalu kembali duduk di ranjang.


"Kan kamu tadi nanya, mana yang keliatan gendut, ya sekalian aku tunjukin biar kamu tau," jawab Anita yang masih memainkan perutnya di depan cermin.


"Nggak harus dibuka juga kan bajunya!"


"Emang kenapa?" tanya Anita yang duduk di sebelah Andi dengan hanya mengenakan tank top ketatnya.


Andi mengambil bantal dan menutup bagian atas tubuh Anita tanpa melihatnya.


"Tutup nih!" ucap Andi lalu keluar dari kamar Anita.


"Hahaha, kamu kenapa sih?"


Andi yang sudah keluar dari kamar Anita dengan wajah merah tak sengaja menabrak Bi Inah.


"Maaf Bi, nggak sengaja!" ucap Andi pada Bi Inah.


"Nggak papa mas, itu kenapa wajahnya merah gitu?" tanya Bi Inah.


"Haah, me... merah? enggak... ini.... tadi... saya mau ke kamar mandi, dimana ya Bi?"


"Kamar mandi? itu!" jawab Bi Inah sambil menunjuk pintu di dekat dapur.


"di kamarnya non Anita kan ada kamar mandi juga, kenapa harus pake' kamar mandi luar?" batin Bi Inah bertanya tanya.


Setelah selesai dari kamar mandi, Andi melihat Bi Inah yang hendak memasak. Ia pun menghampiri Bi Inah.


"Mau masak ya Bi?"


"Iya mas, non Anita belum makan dari tadi siang," jawab Bi Inah.


"Biar Andi aja yang masak Bi!"


"Jangan mas, mas Andi temenin non Anita aja, biar Bibi yang masak, buat mas Andi juga!"


"Anita udah baik baik aja kok Bi, tenang aja, Andi bisa masak kok!"


"Waduh, bibi jadi nggak enak ini."


"Nggak papa Bi, lagian ini kan udah jam pulangnya Bi Inah," balas Andi yang mengetahui dari Anita jika Bi Inah hanya bekerja di rumahnya sampai jam 8 malam.


"Iya mas, kalau gitu Bi Inah pamit pulang dulu ya!"


"Hati hati di jalan ya Bi!"

__ADS_1


Bi Inah mengangguk sambil membereskan barang barangnya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.


Setelah berpamitan pada Anita, Bi Inahpun keluar dari rumah Anita.


Kini hanya tertinggal Andi dan Anita yang berdua di rumah itu.


Andi menyiapkan segala kebutuhan memasaknya. Tak susah untuk mendapatkannya karena isi kulkas di dapur rumah Anita sangat lengkap.


Ketika hendak menghaluskan bumbu yang sudah disiapkannya tiba tiba Anita datang dan memeluknya dari belakang.


"Kamu masak apa?" tanya Anita sambil melepaskan pelukannya pada Andi dan duduk di meja yang digunakan Andi untuk menghaluskan bumbu.


Andi kembali menelan ludah begitu melihat Anita yang masih belum mengenakan bajunya, terlebih ia mengganti celana panjang nya dengan celana yang super pendek yang sudah pasti mengekspos tak hanya kaki jenjangnya tapi juga paha mulusnya yang putih bersih.


Andi menggeser posisinya dan menghaluskan bumbu di dekat kompor untuk menjaga kewarasan otaknya.


"Andi, kamu nggak denger aku tanya?"


"Pake' pakaian kamu tadi Nit!"


"Kenapa?"


"Aku biasa pake' ini kok kalau di rumah!"


"Ya udahlah terserah kamu!" balas Andi pasrah dengan melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Kamu masak apa Ndi? dari tadi ditanya nggak dijawab!" gerutu Anita kesal.


"Nasi goreng saayaaaaang," jawab Andi dengan memanjangkan kata "sayang".


"Emang kamu bisa masak?" tanya Anita meragukan.


"Liat aja nanti, kamu pasti ketagihan!" balas Andi penuh percaya diri.


"Hmmmm, aku bantuin ya!"


"Nggak usah, kamu tunggu di depan aja!"


"Aku mau bantuin, aku bikin telor orak arik ya!"


Andi mengangguk.


Anita segera mengambil telor dan memasukkan minyak ke dalam wajan. Ia tak tau harus seberapa banyak menuangkan minyak yang dibutuhkan untuk membuat telor orak arik, ia hanya mengira ngiranya saja.


"Ya ampun Nit kamu mau bikin telor orak arik berapa banyak?" tanya Andi yang melihat genangan minyak yang sangat banyak di wajan.


"2 telor, kenapa? kurang ya minyaknya?" tanya Anita dengan mengambil botol minyak di samping di kompor.


"STOP! udah Nit, ini kebanyakan minyaknya, kamu kayak mau goreng telor 5 kilo kalau minyaknya sebanyak ini!"


"Haahhh, masak sih hehehe....."


"Udah ya, sekarang kamu duduk manis di sini, biar aku sendiri yang selesaiin ini, oke?"


Tak lama kemudian tercium bau masakan yang begitu lezat.


"Selesai, nasi goreng ala chef Andi," ucap Andi dengan meletakkan 1 piring nasi goreng di meja depan Anita.


"Waaahhh, baunya enak Ndi!"


"Cobain!" ucap Andi sambil menyendok nasi goreng buatannya dan menyuapi Anita.


"Hmmmm, enak, enak banget!" ucap Anita dengan bertepuk tangan kecil.


"Lanjutin makannya, aku beres beres ini dulu!"


"Kamu juga makan dong!" balas Anita sambil menyendokkan nasi goreng ke mulut Andi.


Andipun kembali duduk dan makan nasi goreng buatannya bersama Anita.


*******************


Di cafe, Yoga, Sintia, Dimas dan Dini duduk di bangku paling belakang dekat dengan tempat pemesanan.


"Lo niat banget sih pake' bikin tulisan selamat datang kayak gini!" ucap Yoga yang melihat tulisan yang tergantung di atas pintu cafe.


Ya, tulisan "Welcome back Yoga, we miss you" itu memang sengaja Dimas pasang untuk menyambut kedatangan Yoga.


"Hahaha, itu ide Toni!" balas Dimas.


Toni yang sedang tidak banyak pekerjaanpun ikut bergabung bersama mereka, kebetulan cafe hari itu tidak terlalu ramai.


"Thanks ya Ton, udah banyak bantuin kita," ucap Yoga pada Toni.


"Udah tugas gue bang!" balas Toni.


"Cafe sempet drop banget Ga waktu lo di rumah sakit, sampe' gue mau nyerah buat lanjutin cafe," ucap Dimas memulai ceritanya.


"Terus lo dapet ide cafe belajar ini dari mana?" tanya Yoga penasaran.


"Nih, Andini yang kasih ide buat bikin cafe belajar ini, kita juga dibantu sama Andi sama Anita buat promoin cafe belajar," jelas Dimas.


"Thanks ya Din udah bantuin kita," ucap Yoga pada Dini.


"Sama sama kak," jawab Dini.


"Bang, apa lo nggak tinggal di rumah lo aja dulu, cafe biar gue sama bos yang handle," ucap Toni pada Yoga.


"Gue juga setuju tuh!" ucap Dimas menimpali.

__ADS_1


"Sintia setuju!" ucap Sintia penuh semangat yang langsung di lirik oleh Yoga.


"Eh, enggak, Sintia nggak setuju," lanjut Sintia.


"Kenapa nggak setuju? kan biar kak Yoga bisa istirahat di rumah," tanya Dini pada Sintia.


"Mmmm, itu.... kalau kak Yoga di rumah sendirian pasti malah stres, iya kan kak?"


"Betul, pinter kamu," jawab Yoga sambil mengusap lembut rambut Sintia.


"Gue di sini aja, ini udah jadi rumah buat gue!" lanjut Yoga.


"Ya udah kalau gitu, tapi lo nggak usah capek capek dulu ya Ga sampe' keadaan lo bener bener pulih!"


"Kalian ini masih anggap gue sakit ya? gue udah sembuh, gue baik baik aja, gue....."


"Kak," ucap Sintia dengan pandangan tajam menatap Yoga.


"Kakak baik baik aja Sin, kakak udah nggak sakit, kalau kakak sakit nggak mungkin kakak bisa gendong kamu kayak tadi," ucap Yoga yang seolah tau isi pikiran Sintia.


"Gendong?" tanya Toni meyakinkan pendengarannya.


"Iya, gue tadi gendong Sintia waktu......."


"Iiihhh, stop kak!" ucap Sintia dengan menutup mulut Yoga menggunakan dua tangannya.


Dini dan Dimas hanya tertawa kecil melihat tingkah Yoga dan Sintia.


"Kakak harus janji ya sama Sintia kalau kakak nggak akan kerja dulu, minimal seminggu aja, kakak banyak banyak istirahat, kakak kan juga belum masuk kuliah, ya?" ucap Sintia memohon.


"Ya udah, iya, kakak janji!" ucap Yoga dengan mengusap rambut Sintia diikuti senyum manis Sintia yang membuat Yoga kembali blingsatan.


"Gue balik kerja dulu ya, ada pelanggan!" ucap Toni yang langsung masuk ke tempat kerjanya.


"Aku bantuin Toni dulu ya!" ucap Dini pada Dimas diikuti anggukan kepala Dimas.


"Kamu nggak ikut bantuin?" tanya Yoga pada Sintia.


"Sintia ikut kaaakkk!" ucap Sintia yang langsung mengikuti Dini ke pantry.


"Nyokap bokap gimana Ga?" tanya Dimas.


"Ya gitu lah, lo tau sendiri kan gimana mereka," jawab Yoga sekenanya.


"Cafe ini selalu terbuka buat lo Ga, kapan pun lo mau masuk atau keluar, cafe ini tetep bagian dari lo!"


"Thanks Dim, gue emang lebih baik di sini daripada pulang ke rumah, gue ngerasa punya keluarga selama gue di sini, sedangkan kalau di rumah gue selalu ngerasa sendirian dan nggak punya siapa siapa," balas Yoga.


"Gue ngerti, tapi jangan maksain diri lo buat kerja, bener kata Sintia lo harus banyak istirahat sampe' keadaan lo bener bener baik."


"Gue baik baik aja Dim, lo nggak usah berlebihan kayak yang lain!"


"Oke, gue percaya sama lo, tas lo mana gue bantu masukin ke kamar!"


"Di mobil Sintia," jawab Yoga sambil berjalan ke tempat parkir untuk mengambil tasnya di bagasi mobil Sintia.


"Gue bantuin!" ucap Dimas pada Yoga.


"Nggak usah, lo bantuin Dini aja, gue sama Sintia hehehe...."


"Huuuu, dasar modus!"


Dimas pun masuk ke pantry dan memanggil Sintia.


"Ditungguin Yoga di atas," ucap Dimas pada Sintia.


"Sekarang?" tanya Sintia meyakinkan.


"Besok, iya sekarang lah Sin!"


"Hehehe, oke oke, kakak gantiin Sintia bersihin ini ya!" ucap Sintia dengan menunjuk beberapa gelas di hadapannya dan melepas apron yang dikenakannya.


Dimas mengangguk. Sintiapun segera naik ke kamar Yoga.


Kamar Yoga dan Toni berada di lantai dua, namun bukan di cafe belajar.


Karena tempatnya yang kecil, Dimas membuat lantai dua yang digunakan untuk cafe belajar dan di dekat pantry ada sebuah tangga kecil yang juga mengarah ke lantai dua, tempat kamar Yoga dan Toni berada.


"Kak, Sintia masuk ya!" ucap Sintia dari balik pintu kamar Yoga.


"Masuk aja Sin," jawab Yoga dari dalam kamarnya.


Sintia masuk ke kamar Yoga dan melihat Yoga yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.


"Sintia bantuin ya kak," ucap Sintia dengan senyum termanisnya.


"Sin, kamu jangan pernah nunjukin senyum kamu itu ya di depan cowok!"


"Kenapa?"


"Kakak nggak mau ada cowok lain yang deketin kamu."


"Iiiissshhh, kak Yoga ngegombal ya!" balas Sintia dengan mencubit pelan lengan Yoga.


Yoga segera memegang erat tangan Sintia dan mendorong pelan tubuh Sintia hingga ia terpojok.


Yoga semakin mendekati Sintia yang hanya diam dengan detak jantung yang mulai tak beraturan.


"Kakak nggak suka liat cowok lain deketin kamu," ucap Yoga dengan masih menggenggam tangan Sintia dan menatapnya tajam, membuat Sintia salah tingkah saat itu.

__ADS_1


"Iii... iya.. kak," jawab Sintia terbata bata karena detak jantungnya yang semakin tak terkendali.


Sintia memang sudah lama menyimpan perasaan pada Dimas, namun ia tak pernah merasakan perasaan seperti itu ketika bersama Dimas. Perasaan yang begitu sulit untuk ia jelaskan. Perasaan yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak begitu cepat, perasaan gugup dan bahagia yang menjadi satu.


__ADS_2