Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Rencana Makan Malam


__ADS_3

Bulan bersinar bersama gemerlap bintang di atas hamparan kegelapan. Sinarnya seolah berhasil memberikan titik cahaya bagi hati yang dipenuhi emosi. Jalan takdir memang tak bisa ditentukan, hanya bisa dijalani sesuai arah yang sudah ditetapkan olehNya.


Di tempat kos, Dimas membawa Andi masuk ke dalam kamar. Dimas segera menghubungi Dokter Aziz dan memintanya untuk datang.


"Kamu nggak papa Ta?" tanya Andi pada Aletta.


Aletta hanya mengangguk. Ia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada laki laki yang dicintainya itu.


"Lo kenapa melow banget sih Al?" tanya Dimas yang baru pertama kali melihat Aletta tampak bersedih.


"Kalau gue nggak minta anter Andi lewat jalan itu, dia nggak akan kayak gini," jawab Aletta yang tampak sudah kehilangan keceriaannya.


Andi yang sedang terbaringpun menarik tangan Aletta agar Aletta duduk di ranjangnya.


"Aku nggak papa Ta, aku baik baik aja kok!" ucap Andi dengan menggenggam tangan Aletta.


"Iya, kamu emang harus baik baik aja!" balas Aletta.


"Eh tapi cowok tadi nggak papa ditinggal di sana?" tanya Dini.


"Nggak papa Din, biarin aja," jawab Aletta.


"Kalian kenal?" tanya Dimas pada Andi dan Aletta.


Andi dan Aletta lalu saling pandang dan mengangguk bersama.


"Lo sejak kapan punya musuh? kenapa lo nggak cerita sama gue?" tanya Dimas pada Andi.


"Ceritanya panjang," balas Andi.


Tak lama kemudian Dokter Aziz datang dan memeriksa keadaan Andi. Sebelumnya, Dimas sudah memberitahu Dokter Aziz tentang apa yang terjadi pada Andi agar Dokter Aziz membawa persiapan yang tepat untuk mengobati Andi.


Setelah melakukan tugasnya dengan baik, Dokter Aziz berpamitan pulang.


Biiiipp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, ia segera mengambil ponsel dari saku celananya. Setelah melihat nama si pemanggil, Dimas menunjukkan layar ponselnya pada Dini dan dibalas anggukan kepala oleh Dini.


Dimaspun keluar dari kamar Andi untuk menerima panggilan dari seseorang itu.


"Halo, ada apa Nit?" tanya Dimas setelah ia meggeser tanda panah hijau di layar ponselnya.


"Aku di rumah sakit, kamu bisa kesini?"


"Di rumah sakit? kamu sakit?"


"Daripada kamu tanya lewat telfon, kenapa kamu nggak kesini aja? aku di rumah sakit X," balas Anita kesal.


"Ya udah aku ke sana sekarang," balas Dimas lalu mematikan sambungan teleponnya.


Dimas yang masih berada di luar kamar Andi memanggil Dini agar keluar. Dinipun keluar dari kamar Andi dan menghampiri Dimas.


"Mau pergi?" tanya Dini seolah tau apa yang akan Dimas katakan.


"Anita di rumah sakit sayang," jawab Dimas.


"Dia sakit?"


"Aku nggak tau, aku pergi sekarang ya?"


Dini mengangguk. Meski ia tak ingin Dimas pergi, ia tak bisa menahannya.


Dimas lalu memeluk Dini dan mencium keningnya sebelum ia pergi.


"Guys, gue balik dulu ya, cepet sembuh Ndi!" ucap Dimas pada Andi dan Aletta.


"Thanks Dim," balas Andi.


Dimas lalu pergi meninggalkan tempat kos itu, sedangkan Dini masih berdiri di tempatnya sampai mobil Dimas benar benar hilang dari pandangannya.


Dini kemudian masuk ke dalam kamar Andi.


"Dimas kemana Din?" tanya Andi pada Dini.


"Ke kafe," jawab Dini berbohong.


Andi hanya menganggukkan kepalanya meski ia ragu dengan jawaban Dini.


"Aku balik ke kamar dulu ya!" ucap Dini pada Andi dan Aletta.


"Iya Din, sekali lagi makasih karena udah bantuin kita," balas Aletta.


Dini hanya tersenyum lalu keluar dari kamar Andi dan masuk ke kamarnya, meninggalkan Andi berdua dengan Aletta.


**


Di tempat lain, Dimas sudah berada di ruangan Anita.


"Kamu mau kemana?" tanya Dimas yang melihat Anita mengenakan baju berlengan panjang dan celana jeans, bukan mengenakan pakaian pasien.


Sebelum Dimas datang, Anita sengaja meminta Ivan untuk membelikannya banyak baju berlengan panjang untuk menutupi bekas luka di pergelangan tangan kirinya. Sedangkan beberapa memar di wajahnya sudah menghilang dan bisa ia samarkan dengan polesan make up.


"Pulang," jawab Anita singkat.


"Pulang? kamu......"


"Dimas, aku beberapa hari di rumah sakit dan nggak pernah ngabarin kamu sekalipun tapi kamu sama sekali nggak khawatir sama aku?"


"Aku juga sibuk sama kuliahku Nit, sama kafe juga, kamu juga yang bikin kafe jadi berantakan," balas Dimas beralasan.


"Nggak usah cari alasan Dim, aku tau kamu emang nggak pernah peduli sama aku!"


"Kalau kamu udah tau kenapa nggak kita akhiri aja semua ini?"


"Jangan harap Dimas, aku nggak akan berhenti berjuang buat kamu!"


"Ini bukan perjuangan Nit, ini pemaksaan, ini perjanjian, apa kamu bahagia sama semua ini?"

__ADS_1


Anita diam beberapa saat.


"apa kamu bahagia sama semua ini? enggak, aku nggak bahagia, setidaknya untuk saat ini, karena aku yakin kalau aku bisa sedikit lebih sabar aku akan milikin kamu seutuhnya Dimas dan aku akan bikin kamu jatuh cinta sama aku," batin Anita dalam hati.


"Bawain tasku, aku mau pulang!" ucap Anita lalu melenggang keluar dari ruangannya meninggalkan Dimas.


Dimas hanya menghembuskan napasnya kasar. Ia lalu mengambil tas Anita dan mengikuti Anita keluar dari rumah sakit.


Dimas mengantar Anita sampai ke apartemennya.


"Kenapa kamu bisa di rumah sakit?" tanya Dimas setelah ia duduk di sofa panjang apartemen Anita.


"Cuma demam biasa," jawab Anita berbohong. Ia lalu duduk di sebelah Dimas dan memeluknya dari samping.


Dimas sedikit meronta dan mendorong tubuh Anita, namun Anita seolah enggan melepaskan Dimas dari pelukannya.


"Aku baru pulang dari rumah sakit Dimas, apa aku nggak bisa peluk kamu bentar aja? apa aku nggak bisa ngerasain kasih sayang kamu dikit aja?"


"Aku udah pernah ngelakuin hal itu atas dasar pertemanan, tapi kamu salah mengartikan semua kepedulianku sama kamu Anita dan sekarang aku nggak mau itu terulang lagi!"


"Bentar aja Dim, aku mohon," ucap Anita dengan suara bergetar menahan tangis.


"Anita, aku....."


"Aku mohon Dimas," ucap Anita yang mulai terisak.


Mendengar suara Anita yang semakin serak karena menangis membuat Dimas luluh. Ia tidak bisa melihat perempuan menangis di hadapannya, entah siapa pun itu.


Dimas lalu menggeser posisi duduknya, membenamkan Anita ke dalam pelukannya dan mengusap rambutnya.


Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Anita merasa bahagia dengan hal itu meski Dimas melakukan itu tanpa ada rasa cinta dalam hatinya.


"Anita, belum terlambat kalau kamu mau mulai semuanya dari awal lagi, kita bisa jadi teman, aku, kamu, Andini dan Andi, kita bisa sama sama lagi kayak dulu," ucap Dimas dengan masih memeluk Anita.


Anita hanya diam tak merespon ucapan Dimas.


"Aku cinta sama Andini Nit, dari awal kedatanganku ke SMA itu cuma buat Andini, bertahun tahun aku cari dia dan berusaha buat deket sama dia, aku nggak mungkin bisa pergi dari dia," lanjut Dimas yang masih tak mendapat balasan dari Anita.


Karena rasa bahagia dan pelukan Dimas yang membuatnya nyaman, Anita tanpa sadar tertidur.


"Anita, kamu udah tidur?" tanya Dimas meyakinkan.


Tak ada jawaban, Dimas lalu menggeser badannya dengan perlahan dan membawa Anita ke dalam kamar, membaringkan Anita di ranjang dan memakaikannya selimut.


Tanpa Dimas tau, apartemen Dokter Dewi yang Anita tempati itu sudah dipasang kamera tersembunyi di beberapa titik oleh Ivan. Kamera tersembunyi itu bisa merekam apapun yang terjadi dalam apartemen itu. Tak hanya Dimas, bahkan Anita dan Dokter Dewi pun tidak mengetahui hal itu.


Dengan kecerdasan yang Ivan miliki, ia bisa dengan mudah mengetahui kode sandi apartemen itu, membuatnya bisa leluasa memasuki apartemen itu kapanpun ia mau.


Setelah memastikan Anita tertidur dengan nyenyak, Dimas keluar dari apartemen Anita dan masuk ke apartemennya yang berada tak jauh dari apartemen Anita.


Dimas lalu menghubungi mamanya, meminta mama dan papanya untuk menyempatkan waktu makan malam bersama Dini.


**


Keesokan paginya.


Dini bangun dari tidurnya ketika ia mendengar ponselnya yang berkali kali berdering, menandakan sebuah pesan masuk.


"Pagi sayang, apa mama ganggu kamu?" tanya mama Dimas dari sebrang sambungan telepon.


"Enggak ma, baru aja Dini mau balas," jawab Dini.


"Kamu selesai kuliah jam berapa? mama mau jemput kamu nanti!"


"Hah! jemput Dini?" tanya Dini yang begitu terkejut mendengar ucapan mama Dimas.


"Iya sayang, kita belanja buat acara nanti malem!"


"Acara nanti malem? maaf ma, Dini nggak ngerti."


"Dimas belum cerita sama kamu? Dimas kan mau ngajak makan malam di rumah, apa kamu ada acara lain nanti malem?"


"Enggak kok ma, Dini nggak ada acara lain."


"Ya udah kalau gitu nanti kamu kabarin mama kalau udah selesai kuliah, mama jemput kamu di kampus!"


"Baik ma."


Setelah mama Dimas mematikan panggilannya, Dini segera mandi dan bersiap untuk ke kampus. Ia lalu keluar dari kamarnya setelah ia selesai bersiap.


"Dini!" panggil Aletta.


Dini menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Aletta.


"Kamu berangkat sama Dimas?" tanya Aletta.


Dini melihat ke arah halaman kosnya, ia tak melihat mobil Dimas di sana, itu berarti Dimas tidak menjemputnya, begitu pikirnya.


"Enggak Al," Jawab Dini.


"Berangkat bareng yok, Andi belum bisa ngampus!"


"Oke!"


Dini dan Aletta lalu turun ke lantai satu. Di teras sudah ada Nico dan Andi.


"Kamu kenapa keluar?" tanya Aletta pada Andi.


"Bosen Ta di dalem kamar terus!"


"Kamu harus banyak banyak istirahat Ndi," ucap Dini pada Andi.


"Iya Din, tapi kalau cuma rebahan di kasur kan nggak enak juga!"


"Lagian lo kenapa bisa babak belur gini sih?" tanya Nico pada Andi.


Andi lalu membawa pandangannya ke arah Aletta seolah meminta jawaban, ia tidak yakin Aletta akan membiarkannya menceritakan semua kejadian itu pada Nico.

__ADS_1


"Nic, lo nggak berangkat?" tanya Aletta mengalihkan perhatian Nico.


"Ntar aja, gue nggak ada kelas pagi," jawab Nico.


Tak lama kemudian, sebuah mobil memasuki halaman dan sudah bisa ditebak jika itu adalah Dimas.


Dimas lalu turun dari mobilnya dan menghampiri Dini.


"Pagi sayang," sapa Dimas lalu memeluk Dini dan mencium keningnya, membuat Andi, Aletta dan Nico mengalihkan pandangan mereka dengan kompak.


"Maaf telat, aku nganter Anita dulu," ucap Dimas dengan berbisik diikuti anggukan kepala Dini.


"Gimana keadaan lo?" tanya Dimas pada Andi.


"Baik, gimana kafe lo?"


"Kafe? kafe... baik baik aja," jawab Dimas sedikit gugup karena Andi yang tiba tiba menanyakan tentang kafe.


"Akhir akhir ini lo sering tiba tiba pergi buat ke kafe, gue pikir ada apa apa sama kafe, syukurlah kalau kafe baik baik aja!"


Dimas hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Andi.


"Berangkat sekarang sayang?" tanya Dimas pada Dini.


"Ayo, kamu juga ikut kan Al?"


"Enggak deh, daripada gue jadi obat nyamuk mending gue jalan kaki sendiri hahaha...."


"Kalau gitu kita duluan ya!" pamit Dini pada teman temannya.


"Cepet sembuh lo, jangan manja!" ucap Dimas sambil meninju pelan pipi Andi, membuat Andi meringis kesakitan.


"Aaaaawwww, rese' banget lo!"


Melihat hal itu, Aletta segera berlari ke arah Dimas dan melayangkan sedikit pukulannya tepat di perut Dimas.


"Rasain lo hahaha....." ucap Aletta dengan tertawa puas melihat Dimas yang meringkuk memegangi perutnya.


"Kamu nggak papa Dim?" tanya Dini yang tampak khawatir.


"Nggak papa sayang," jawab Dimas lalu berjalan pelan ke arah mobilnya.


"Sorry ya Din hehe....." ucap Aletta tanpa merasa bersalah.


Andi hanya bisa tertawa melihat sikap barbar gadisnya itu.


"Lo emang sadis Al!" ucap Nico sambil bertepuk tangan.


"Lo mau juga?" balas Aletta.


"Ogah, gue siap siap dulu, kita berangkat sekarang!" balas Nico lalu masuk ke kamarnya untuk bersiap siap.


"Laaahhh, katanya berangkat nanti aja!" ucap Aletta dengan menggelengkan kepalanya.


"Kamu berangkat sama Nico aja daripada sendirian," ucap Andi pada Aletta.


Aletta mengangguk lalu segera berangkat setelah Nico selesai bersiap siap.


**


Matahari sudah semakin naik, meninggalkan terik yang mulai terasa menyengat. Dimas dan Dini sudah keluar dari kelas terakhir mereka hari itu.


"Sayang, nanti malem ikut aku ke rumah ya?"


"Iya, mama kamu udah bilang," balas Dini.


"Mama bilang apa?"


"Mama kamu mau jemput aku buat beli persiapan makan malam nanti," jawab Dini.


"Berarti aku pulang sendiri dong?"


Belum sempat Dini menjawab, ponselnya berdering, panggilan dari mama Dimas.


"Halo sayang, ini mama udah di sekitar kampus kamu sekarang."


"Iya ma, Dini juga baru selesai kelas terakhir, mama dimana? Dini kesana sekarang!"


"Mama di mini market deket kampus kamu, mama tunggu ya!"


"Iya ma, Dini on the way!"


Dini lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Kamu pulang duluan aja, aku mau ketemu mama kamu!"


"Nggak mau aku anter?"


"Mama kamu di deket sini kok, aku duluan ya kalau gitu!"


"Tapi sayang....."


"Bye!" ucap Dini lalu berlari pergi meninggalkan Dimas.


Dimas masih terdiam di tempatnya. Dalam hatinya ia kesal karena mamanya merebut waktunya bersama Dini, namun ia juga bahagia melihat kedekatan Dini dengan mamanya.


Sesampainya Dini di mini market, mama Dimas lalu mengajak Dini pergi ke butik untuk membeli pakaian yang akan mereka kenakan untuk nanti malam.


"Kamu pilih yang mana yang kamu suka, abis ini kita ke salon," ucap mama Dimas ketika mereka sampai di sebuah butik langganan mama Dimas.


"Tapi ma....."


"Nggak ada tapi tapi, kamu pilih aja mana yang kamu suka, oke?"


Dini mengangguk dan tersenyum. Ketika ia sedang memilih pakaian, seseorang berjalan ke arahnya.


"Ngapain kamu di sini?" tanyanya dengan nada yang tidak bersahabat.

__ADS_1


Belum selesai keterkejutan Dini melihat seseorang yang berdiri di hadapannya, ponselnya berdering, sebuah pesan masuk. Dini lalu membuka pesan dari nomor yang tak dikenalnya itu dan mendapati beberapa foto romantis antara seorang laki laki dan perempuan yang sangat ia kenal.


Dadanya terasa sesak, seperti ada ribuan jarum tajam yang menusuk hatinya. Ada rasa menggelitik yang membuatnya ingin menangis namun dengan sekuat tenaga ia menahannya.


__ADS_2