Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Jika Saja


__ADS_3

Malam masih tampak bahagia berhias lengkung cantik senyuman bulan dengan titik titik bintang yang semakin mempercantik hamparan gelapnya. Sentuhan angin seperti membelai lembut setiap hati yang merindu kehangatan cinta. Rindu akan debaran jantung yang selalu terasa ketika saling berdekatan, bahkan hanya dengan menyebut namanya hati sudah terasa berbunga.


Di sebuah kamar kos yang tak terlalu luas itu, Andi masih sibuk dengan tumpukan tugas kuliah di hadapannya. Tiba tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar.


Toookk toookk toookk


"Ndi, lo di dalem?" tanya suara yang sangat akrab di telinga Andi.


"Masuk aja Nic!" balas Andi yang sudah tau jika itu adalah Nico.


Pintu kamarnya terbuka, Nico segera masuk dan kembali menutup pintu kamar Andi lalu merebahkan badannya di tempat tidur Andi.


"Haaaahhh, capek banget gue!" ucap Nico sambil membuang napasnya.


"Lo abis ngapain?"


"Bantuin temen gue pindahan, banyak banget barangnya mana nggak dibeliin makan lagi," jawab Nico sambil menggerutu kesal.


"Jadi lo kesel karena barangnya banyak apa karena nggak dibeliin makan nih?"


"Dua duanya hahaha....."


"Huuu dasar, makanan mulu dipikirin, tugas udah kelar belum?"


"Belum, ntar aja lah, capek gue!"


"Gue udah ingetin lo ya, jangan sampe' lo besok bilang nggak gue ingetin!" ucap Andi yang kembali fokus pada tugas yang dikerjakannya.


"Hmmmm," balas Nico yang mulai mengantuk.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Masih ada suara beberapa temannya di depan kamar. Andi mengemasi buku bukunya dan meregangkan badannya ke kanan dan ke kiri. Ia begitu terkejut melihat Nico yang sudah tertidur sangat nyenyak di ranjangnya. Karena terlalu fokus belajar, ia lupa jika ada Nico di kamarnya. Nico juga tak mengajaknya bicara karena ia memang sangat lelah dan tertidur di sana.


Akhirnya malam itu Andi dan Nico tidur di atas satu ranjang sampai pagi. Andi bangun terlebih dahulu dan segera mandi. Ketika ia selesai mandi, Nico sudah tidak ada di tempat tidurnya.


"Dasar temen nggak ada akhlak!" gerutu Andi.


Setelah berganti pakaian, ia segera ke dapur dengan membawa mie instan di tangannya. Baru saja ia akan memasuki dapur, guyuran air tiba tiba membasahi wajahnya entah dari mana asalnya. Ia mengusap wajahnya kasar. Hari masih pagi, ia baru selesai mandi dan sekarang sudah basah kuyup lagi, itu membuat moodnya benar benar rusak, belum lagi jika ia tau siapa pelaku yang menyiram wajahnya itu.


"Sorry, gue nggak sengaja!" ucap seseorang yang berdiri dengan memegang gelas kosong di tangannya.


"Lo lagi? lo ini siapa sih, lo ikutin gue? lo sejenis jin, setan atau makhluk apa sih?"


"Iya, gue jin dari botol, puas?" balasnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Andi.


"Ini di pel dulu woy!"


"Iya iya, bawel banget sih, sabar dikit napa!"


"siapa sih nih cewek, nggak ada manis manisnya sama sekali jadi cewek, terlalu barbar," batin Andi.


Ia melanjutkan merebus mie nya dengan baju yang sedikit basah.


"Mau gue cuciin nggak baju lo?"


"Nggak usah!"


"Mumpung gue lagi baik nih, jarang loh gue jadi baik gini, gue......."


Andi tak mendengarkan ucapan gadis itu. Setelah selesai menuangkan mie nya ke dalam mangkok ia segera melangkah meninggalkan dapur dan tentu saja meninggalkan gadis yang masih berbicara padanya.


"Dasar cowok nggak punya sopan santun!"


Andi hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"yang nggak punya sopan santun siapa? 3 kali ketemu 3 kali kena sial, ampun deh,"


Setelah menghabiskan sarapannya, Andi mengganti pakaiannya yang basah dengan kaos lengan pendek berwarna putih polos yang dipadukan dengan kemeja hitam dengan motif garis garis putih, kancing kemejanya dibiarkan terbuka ditambah dengan celana jeans dan sepatu putih yang dikenakannya membuat aura nya semakin membuat para gadis menggilainya.


Andi duduk di depan kamarnya untuk menunggu Nico seperti biasa. Tak lama kemudian Nico keluar dan duduk di samping Andi.


"Ayo berangkat, nunggu siapa lagi?"


"Temen gue, bentar ya!"


"Temen lo yang baru pindahan?"

__ADS_1


"Iya, nah tuh dia baru juga diomongin," balas Nico sambil menunjuk seorang gadis dengan rambut kuncir kuda, kaos putih polos yang dipadukan dengan kemeja jeans dan juga celana jeans serta sepatu putih.


"Dia temen lo?"


"Morning guys," ucap si gadis dengan meninju pelan lengan Nico. Ia mengurungkan niatnya untuk mengarahkan tinjuaannya pada Andi, ia menarik kembali tangannya.


"Hai, cowok," ucapnya dengan sedikit melambaikan tangan.


"Apaan sih, ayo berangkat!" balas Andi lalu segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


"Lo masih masih marah sama gue? sorry kemarin itu bener bener nggak sengaja, bukan gue yang ngelakuin, beneran!" ucap si gadis pada Andi, namun Andi hanya diam tak menghiraukannya.


Ya, Andi masih seperti itu, ia masih sangat sulit untuk di dekati.


"Kalian udah pernah ketemu? udah kenalan?"


"Udah pernah ketemu, tapi belum pernah kenalan, hai cowok aku Aletta," jawab Aletta dengan langsung mengulurkan tangannya pada Andi.


Andi tak menghentikan langkahnya, ia hanya menoleh sekilas ke arah Aletta dan hanya diam.


Nico hanya diam melihat Aletta yang tak dihiraukan oleh Andi. Ia sudah sering melihat hal itu. Andi memang tak bisa dekat dengan sembarang orang, apalagi perempuan. Ia masih sangat menjaga hatinya untuk Dini.


Sesampainya di kampus, mereka sudah ditunggu oleh Dimas. Mereka jalan berempat lalu duduk di bangku panjang depan fakultas Sastra.


"Hai, gue Aletta, temennya Nico," ucap Aletta memperkenalkan dirinya pada Dimas.


"Dimas," jawab Dimas singkat dengan senyum manisnya.


"Temen lo cakep cakep amat sih," ucap Aletta dengan berbisik pada Nico.


"Semua cowok juga lo anggap cakep Al," balas Nico.


"Tapi lo nggak cakep tuh!"


"Haha, rese' lo!"


"Nic, gue bisa nggak kalau sewaktu waktu jenguk Andini? gue takut nggak dibolehin sama body guard lo!" tanya Dimas pada Nico.


"Bisa, ntar gue ngomong sama mereka," jawab Nico.


"Lo mau kemana?" tanya Andi.


"Ciiieee, perhatian banget sih!" seloroh Aletta.


"Mereka emang udah kayak pacaran, jadi biarin mereka berdua gue anterin lo masuk kelas, oke?" balas Nico dengan menggandeng tangan Aletta.


"Kita duluan guys!" ucap Nico pada Andi dan Dimas.


"Eh, serius mereka kayak gitu?" tanya Aletta pada Nico.


"Hahaha, enggak lah, mereka emang udah sahabatan lama, jadi ada hal hal yang kita nggak bisa ikut campur," jelas Nico ketika mereka sudah berada sedikit jauh dari Andi dan Dimas.


Andi dan Dimas masih berada di tempat duduk mereka.


"Gue mau ketemu Anita," jawab Dimas jujur.


"Anita?"


Dimas mengangguk.


"Ya, gue harus ketemu dia, gue nggak bisa ninggalin dia gitu aja!"


"Apa sih Dim yang bikin lo tetep bertahan sama dia? karena janji lo waktu di rumah sakit?"


"Nggak cuma itu Ndi, ada hal lain yang gue nggak bisa ceritain sama lo."


"Kalau lo emang nggak bisa ninggalin dia, kenapa lo masih ngejar Dini? lo mau bikin Dini makin hancur lagi?"


"Enggak Ndi, gue sayang sama Andini, gue cuma mau sama Andini, tapi keadaan yang maksa gue buat tetep sama Anita, tapi sumpah demi apapun gue sayang banget sama Dini, lo tau itu kan?"


"Gue tau Dim, yang nggak gue tau kenapa lo nggak bisa ninggalin Anita? kenapa dari dulu lo nggak bisa tegas sama dia, lo sendiri yang udah bikin dia jatuh cinta sama lo!"


"Ndi, tolong biarin rencana gue berjalan sesuai yang gue harapin, gue nggak mau kehilangan Andini lagi, gue akan lebih berjuang lagi sekarang, gue yakin pelan pelan Anita akan bosen dan ninggalin gue."


"Kalau dia tetep bertahan?"

__ADS_1


"Gue akan bikin dia ninggalin gue Ndi, gue yakin bisa!" jawab Dimas penuh keyakinan.


"Terserah lo lah Dim, gue duluan!" ucap Andi lalu pergi meninggalkan Dimas.


**


Setelah menyelesaikan semua kegiatannya. Dimas segera keluar dari kampus. Ia pergi ke rumah Anita setelah semalam ia di teror oleh Anita.


Sesampainya di sana, Dimas segera masuk ke rumah Anita. Sepi, tak ada siapapun di rumah itu. Dimas mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban.


Biiippp biiippp biiippp


Ponselnya berdering, nama Anita terlihat di layar ponselnya.


"Aku udah di depan," ucap Dimas setelah menerima panggilan Anita.


"Masuk aja, aku di kamar," balas Anita lalu mematikan sambungan ponselnya.


Dimaspun membuka pintu, lalu menutupnya kembali dan berjalan ke arah kamar Anita. Ia mengetuknya pelan, lalu membukanya. Ia melihat Anita yang hanya mengenakan tanktop dan hot pants sedang berdiri di tepi jendela kamarnya. Bekas luka di beberapa bagian tubuhnya masih terlihat, itu membuat Dimas merasa iba.


"Dimas," panggil Anita pelan tanpa menoleh ke arah Dimas.


"Iya," jawab Dimas dengan duduk di ranjang Anita.


"Apa aku nggak boleh bahagia Dim? apa aku nggak berhak bahagia kayak orang lain?"


Dimas berdiri dan melangkah mendekati Anita.


"Kamu udah pernah tanya ini, kamu berhak bahagia Anita, kamu harus bahagia tanpa merusak kebahagiaan orang lain, aku yakin akan ada seseorang yang bisa menyayangi kamu dengan tulus, seseorang yang bisa menerima kamu apa adanya, seseorang yang selalu bisa bahagiain kamu, aku yakin kalau......."


"Seseorang itu kamu kan?"


"Anita, coba tanya sama hati kecil kamu, apa aku selalu bikin kamu bahagia? apa kamu pernah ngerasain cinta tulus dariku? aku yakin enggak,"


Anita diam beberapa saat. Apakah ia bahagia bersama Dimas? Ya, ia bahagia. Dimas memberinya begitu banyak perhatian saat ia merasa sendirian. Dimas selalu datang menemaninya, menguatkannya dan memeluknya penuh kasih. Ia sangat bahagia dengan itu. Tapi, apa ia merasakan cinta tulus dari Dimas? Tidak, semua kebahagiaan yang ia rasakan hanyalah karena hatinya sendiri, bukan karena cinta yang Dimas berikan padanya. Perhatian Dimas padanya, pelukan Dimas untuknya semua terasa hangat baginya dan ketika ia sadar bahwa ia tak akan bisa memiliki kehangatan itu selamanya, ia akan melakukan segala macam cara untuk bisa mendapatkannya.


"Dimas, apa nggak pernah sedikitpun kamu suka sama aku? apa nggak pernah sebentar aja ada aku di hati kamu?"


"Aku suka sama kamu karena kamu teman dekat Andini, aku suka sama kamu karena kamu baik, tapi di hati aku cuma ada Andini, kamu tau itu!"


"Tapi aku yang udah nemenin kamu di Singapura Dim, saat Dini lebih milih nyerah buat pertahanin hubungan kalian, aku yang datang dan nemenin kamu!"


"Kalau aku bisa minta, aku nggak akan mau kamu nemenin aku kalau ujung ujungnya aku harus terperangkap sama keadaan ini, aku mohon Nit, stop lakuin semua ini, aku sayang sama Andini aku nggak bisa ninggalin dia!"


"Dan kamu juga nggak akan pernah bisa ninggalin aku Dimas, kamu udah rebut semuanya dari aku, kamu udah ambil semua yang aku miliki dan sekarang kamu mau pergi gitu aja?"


"Aku nggak sengaja Nit, aku......."


"Terlepas dari itu, apa kamu nggak pernah mikirin aku, gimana masa depan aku nanti, siapa yang mau nikahin cewek yang udah nggak virgin Dimas? siapa?"


Dimas tersentak mendengar pertanyaan Anita.


"nggak virgin? apa aku ngelakuin sejauh itu? apa aku....... aaaarrgghhh nggak mungkin, kenapa bisa?"


Dimas terduduk lemah di lantai kamar Anita. Ia merasa menjadi laki laki paling bodoh di dunia. Bagaimana mungkin dia meninggalkan perempuan yang sudah ia ambil mahkotanya. Bagaimana dengan masa depannya?


Dimas mengacak kasar rambutnya. Anita bersimpuh di depan Dimas, ia menarik tangan Dimas dan menggenggamnya.


"Dimas, kamu udah janji sama aku buat ninggalin Dini, kamu masih inget janji kamu kan? aku kayak gini karena cuma kamu harapan aku Dimas, aku mohon, jangan hancurin masa depan ku," ucap Anita memelas.


Dimas mendekat dan memeluk Anita pelan, ia takut membuatnya sakit karena lukanya yang tersentuh oleh Dimas.


"Aku minta maaf, maaf karena udah ngelakuin hal itu tanpa aku sadar," ucap Dimas masih dengan memeluk Anita.


"Aku cuma mau kamu jangan ninggalin aku Dimas, masa depan aku ada sama kamu, aku udah nggak punya masa depan lagi tanpa kamu."


Dimas hanya diam, ia mengusap pelan rambut Anita. Dimas kembali bimbang. Jika saja bisa ingin rasanya ia pergi dari dunia yang seakan mempermainkannya itu. Permainan hati yang begitu rumit untuknya. Ia mencintai Dini, ia tidak ingin meninggalkannya. Tapi Anita, ia sudah merusak masa depannya, ia harus bertanggung jawab untuk itu.


**


Malam kembali datang, Dimas sudah berada di jalan raya saat itu. Ia sudah meninggalkan rumah Anita sejak sore tadi. Ia tidak ingin pulang, tidak juga kembali ke apartemen. Pikirannya kacau, ia mengemudikan mobilnya tanpa arah yang pasti. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah jembatan dengan sungai yang mengalir deras di bawahnya. Ia menghentikan mobilnya begitu saja, lalu keluar dan berdiri menghadap ke bawah jembatan.


Ia melihat batu batu besar di sungai itu, arusnya yang deras mengingatkannya pada kecelakaan yang pernah ia alami.


"kenapa Kau biarkan aku hidup Tuhan? kenapa tak Kau cabut saja nyawaku saat itu juga,"

__ADS_1


Dimas merasa jalannya sudah buntu. Ia mencintai Dini tapi ia tak bisa meninggalkan Anita. Apa yang sudah di lakukannya pada Anita adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan selama ini. Jika saja ia membiarkan Anita saat di bar waktu itu, mungkin tak akan seperti ini jadinya. Jika saja ia lebih mengikuti kata hatinya sedari dulu, mungkin ia tak akan terjerumus lebih dalam oleh sandiwara Anita.


__ADS_2