Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Pertemuan


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Matahari bersinar cerah menghangatkan hati yang selama ini membeku. Kata maaf yang selama ini terlalu tabu untuk diucapkan akhirnya terlontar keluar.


Ego yang tinggi bak gunung es kini telah mencair. Meninggalkan lautan rasa yang tampak begitu indah dan membahagiakan.


Di bawah senja langit pantai, mereka duduk berjejer dengan banyak cerita yang selama ini terpendam. Cerita yang dulu hanya sebuah kenangan, kini kembali menjadi hal yang menyenangkan.


Dini, Dimas, Andi dan Anita.


Deburan ombak menemani kebersamaan mereka sampai senja perlahan menghilang meninggalkan goresan jingga yang yang begitu cantik, secantik senyum gadis yang berada dalam dekapan sang pemilik hati.


"Aku seneng banget hari ini," ucap Dini dengan menyandarkan kepalanya di dada Dimas, sedangkan Dimas memeluk Dini yang duduk di hadapannya menghadap gulungan ombak.


"Karena?"


"Satu, bentar lagi kita wisuda, dua, bentar lagi aku ketemu ibu, tiga, kita bisa disini sama sama, aku, kamu, Andi sama Anita, aku seneng hubungan kita balik kayak dulu lagi," ucap Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Dimas.


Dimas hanya tersenyum dan mencium kening Dini. Dalam hatinya ia ragu pada Anita. Ia tau bagaimana liciknya Anita selama ini dan ia tidak ingin terjatuh lagi dalam perangkap Anita, terlebih jika Anita membawa Dini dan Andi dalam perangkapnya.


"kalau bukan karena kamu yang maksa aku baikan sama Anita, aku nggak akan pernah mau ketemu dia lagi, udah cukup beberapa tahun hidupku tersiksa karena dia, aku mau lepas dari dia Andini, andai kamu mengerti," batin Dimas dalam hati.


"Dimas," panggil Dini pelan.


"Iya sayang," jawab Dimas.


"Kamu mikirin apa? kamu nggak suka kita ke sini?"


"Suka kok suka, aku nggak mikirin apa apa, aku seneng kalau kamu seneng," jawab Dimas.


"Jangan gitu, kamu juga harus dapetin kebahagiaan kamu Dimas, jangan......"


"Sayang, selama aku sama kamu, selama kamu baik baik aja, itu udah cukup jadi kebahagiaan buat aku, aku sayang sama kamu Andini dan aku udah nggak sabar buat jadiin kamu milikku seutuhnya!" ucap Dimas dengan berbisik di akhir kalimatnya.


"Sabar dong," balas Dini dengan mencubit pinggang Dimas.


"Hahaha.... iya iya, aku akan selalu nunggu kamu, kamu kan tau aku ini spesialis menunggu!"


"Iya, kamu emang harus nunggu aku!"


"Pasti," balas Dimas dengan mencium pipi Dini.


Tak jauh dari tempat mereka duduk, Andi dan Anita duduk berdua dengan bermain air.


"Makasih udah bantuin aku Ndi," ucap Anita pada Andi.


"Itu gunanya teman Nit," balas Andi.


"Iya, aku emang bodoh banget karena ikutin egoku sendiri, cinta bikin aku buta!"


"Lupain aja Nit, yang penting sekarang kamu tau kalau semua itu nggak baik dan kamu menyesalinya, semua orang punya masa lalunya masing masing, yang penting bagaimana dia menjalani hidupnya yang sekarang."


"Aku nggak tau gimana hidupku kalau nggak ada kamu, kalau kamu ternyata masih marah dan kecewa sama aku, mungkin selamanya aku nggak akan keluar dari kesendirian ku, kesakitanku dan semua kesepian yang semakin bikin aku tenggelam!"


"Kita mulai semuanya dari awal Anita, kita mulai dengan lebih baik, oke?"


Anita mengangguk lalu menggenggam tangan Andi.


"Makasih Ndi," ucap Anita dengan senyum manisnya.


Andi mengangguk dan melepaskan tangannya dari genggaman Anita.


Langit semakin gelap, Dini dan Dimas sudah beranjak dan melangkah meninggalkan pantai diikuti Andi dan Anita.


Ketika baru saja memasuki mobil, Andi baru menyadari jika ponselnya tertinggal.


"Tunggu bentar Dim, gue cari HP gue dulu, pasti di deket tempat kita naruh sepatu tadi!" ucap Andi pada Dimas.


"Lo yakin? gue bantuin cari ya!"


"Nggak usah, gue yakin kok!" jawab Andi lalu kembali ke arah pantai.


"Ikut Ndi, aku sekalian ke kamar mandi!" ucap Dini pada Andi.


"Aku temenin sayang!" sahut Dimas.


"Nggak usah, bentar aja kok!" balas Dini lalu berlari mengikuti Andi.

__ADS_1


Kini hanya ada Dimas dan Anita di dalam mobil. Suasana sedikit canggung karena tak ada percakapan antara Dimas dan Anita. Sampai akhirnya Anita memulai percakapan.


"Dimas, kamu masih nggak mau maafin aku?" tanya Anita.


"Apa lagi yang udah kamu rencanain Nit?" balas Dimas balik bertanya.


"Aku cuma mau baikan sama kalian, aku beneran minta maaf Dimas, aku terlalu cinta sama kamu sampe'....."


"Stop Nit, jangan ucapin kata kata itu lagi di depanku, apa yang udah kamu lakuin itu udah nggak bisa ditolerir lagi!" ucap Dimas lalu keluar dari mobil dan menyusul Dini.


Di salah satu warung yang tutup, Andi dan Dini masih mencari ponsel Andi setelah sebelumnya Andi mengantarkan Dini ke kamar mandi. Karena pencahayaan yang terbatas, Dini tidak memperhatikan langkahnya, membuatnya tersandung akar pohon dan terjatuh. Beruntung Andi bisa menangkapnya dengan sigap. Posisi mereka saat itu sudah seperti orang yang berpelukan. Remang cahaya menambah kesan romantis diantara keduanya.


"Udah ketemu?" tanya Dimas yang tiba tiba datang dan melihat kedekatan Andi dan Dini.


Melihat kedatangan Dimas, Andi segera melepaskan Dini dari tangannya, begitu juga Dini yang segera berdiri tegak dan mendekat ke arah Dimas.


"Aku tadi nggak liat ada akar pohon di situ terus....."


"Kamu ke mobil aja, biar aku yang bantuin Andi," ucap Dimas memotong ucapan Dini.


Mendengar ucapan Dimas yang terdengar dingin, Dini tidak berani membantah lagi. Ia hanya mengangguk dan segera kembali ke mobil, meninggalkan Dimas dan Andi yang masih mencari ponselnya.


"Coba lo miscall deh Dim!" ucap Andi pada Dimas.


Dimas lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Andi.


"Nggak aktif," ucap Dimas.


"Duuhhh, pasti lowbatt," ucap Andi lalu duduk di bawah pohon.


"Beli lagi aja, ayo!"


"Lo pikir beli kacang tinggal beli beli aja!"


"Ya beli HP lah, ngapain beli kacang, udah malem Ndi, mau lo cari dimana?"


"Banyak yang penting di HP gue Dim, nggak bisa dibiarin hilang gitu aja!" ucap Andi yang kini kembali berusaha mencari ponselnya.


"Ndi, ada yang mau gue tanyain sama lo!" ucap Dimas sambil membantu Andi mencari ponselnya.


"Apa?"


"Emangnya kenapa? dia cuma mau minta maaf, ada yang salah?"


"Dia itu licik Ndi, lo jangan terpengaruh sama dia!"


"Dia udah berubah Dim, dia udah nggak punya siapa siapa sekarang, kasian dia!"


"Kasian? setelah apa yang udah dia perbuat lo masih bisa kasian sama dia? lo nggak inget dia yang udah bikin Andini sama gue pisah, dia yang....."


"Itu masa lalu Dim, lo jangan munafik, lo juga punya masa lalu yang buruk, people change Dim, gue yakin lo tau itu!"


"Kenapa lo bisa segampang itu maafin dia? apa hati lo udah berubah? apa lo udah jatuh cinta sama Anita? atau jangan jangan dari dulu lo emang beneran cinta sama Anita? dan lo cuma jadiin Andini pelampiasan karena Anita ternyata lebih milih gue? iya?"


Mendengar pertanyaan Dimas membuat Andi mendidih, tanpa basa basi ia segera melayangkan tinjunya ke arah Dimas. Dengan sigap Dimas menahan pukulan Andi namun Andi kembali menyerang Dimas, membuat Dimas jatuh tersungkur di atas pasir.


"Mau lo apa Dim? bertahun tahun gue jaga perasaan gue buat Dini karena gue hargai persahabatan kita, gue pendam jauh jauh ego gue buat miliki Dini demi hubungan baik kita dan sekarang lo nanyain hal itu? sakit lo?"


Dimas hanya tersenyum tipis lalu berdiri dan memeluk Andi namun Andi mendorongnya.


"Gue udah tau jawabannya, gue harap lo nggak akan mudah dipengaruhi siapapun, terutama Anita," ucap Dimas dengan menepuk nepuk bahu Andi lalu kembali ke tempat parkir.


"Sakit tuh anak!" ucap Andi kesal lalu kembali mencari ponselnya seorang diri.


Dimas segera mengusap bibirnya yang berdarah sebelum masuk ke mobil.


"Kok sendirian? HP nya belum ketemu?" tanya Dini pada Dimas.


"Belum," jawab Dimas.


"Aku kesana dulu deh!" ucap Dini yang hendak membuka pintu namun Dimas mencegahnya dan menarik tangan Dini.


Dimas menggelengkan kepalanya ketika Dini menoleh ke arahnya. Dini mengerti, ia lalu mengurungkan niatnya untuk keluar.


Tak lama kemudian Andi datang, saat Andi hendak masuk Dimas keluar dari mobil dan mengajak Dini untuk ikut keluar.

__ADS_1


"Lo yang bawa mobil!" ucap Dimas pada Andi.


Andi hanya mengangguk.


"Ayo Nit, pindah depan!" ucap Andi pada Anita.


Sekarang Andi dan Anita di kursi depan, sedangkan Dimas dan Dini di kursi belakang.


"Bibir kamu berdarah, kenapa?" tanya Dini ketika ia baru menyadari bibir Dimas berdarah.


"Nggak papa, abis jatuh tadi," jawab Dimas berbohong.


"Jangan bohong deh Dim, mana ada jatuh lukanya kayak gitu!"


"Kalian abis berantem?" tanya Anita dengan menoleh ke arah Andi dan Dimas bergantian.


"Enggak!" jawab Dimas dan Andi bersamaan.


"Dia tadi emang jatuh kok, iya kan Dim?"


"Iya, Andi saksinya, iya kan Ndi?"


"Iya, bener!"


Ya, mereka kini kompak berbohong.


Andi pun segera mengendarai mobil Dimas ke arah apartemen Anita, kemudian ke kos. Dia sudah seperti supir saat Anita sudah turun dari mobil, meninggalkannya yang sekarang menjadi jomblo menderita.


Sesampainya di kos, Dini segera masuk ke kamarnya, sedangkan Dimas masih berada di teras bersama Andi.


"Sorry Dim, gue kelepasan," ucap Andi pada Dimas.


"Justru itu yang gue harapin!" balas Dimas.


"Nggak beres otak lo Dim!"


"Hahaha, gue nggak sabar nunggu wisuda Ndi, abis wisuda gue langsung lamar Andini!"


"Selamat deh, akhirnya makin deket menuju halal," ucap Andi dengan tersenyum tipis.


"Tapi lo jangan rusuh ya di acara gue nanti!"


"Apaan sih, enggak lah!"


Mereka lalu membicarakan banyak hal sampai larut malam.


"Soal fobia Dini gimana Dim?" tanya Andi.


"Gue akan terima dia dengan segala keadaannya Ndi, ibunya udah kasih warning biar gue nggak bahas masalah itu lagi," jawab Dimas tak bersemangat.


"Tapi Dim....."


"Lo bisa lanjutin sendiri Ndi, gue tau lo juga lagi usaha buat itu," ucap Dimas memotong ucapan Andi karena beberapa waktu yang lalu ia sering melihat Andi diam diam membaca buku psikologi.


**


Pagi yang sangat ditunggu oleh Dimas. Ia sekarang berada di rumahnya, memandang dirinya sendiri di hadapan cermin besar di kamarnya.


"Anak mama udah cakep banget kok, jangan grogi dong!" ucap mama Dimas yang dari tadi melihat anaknya tampak tidak tenang.


"Dimas takut ma, takut di tolak!"


"Mama sama papa akan coba bicarain baik baik sama ibunya Dini, kamu tenang aja!"


Setelah semuanya siap, Dimas dan mama papanya segera berangkat ke rumah Dini.


Sebelumnya, 2 keluarga telah bersepakat untuk bertemu. Sebelum hari wisuda datang, ibu Dini sudah pulang ke rumah dan izin cuti selama satu minggu.


Sejak ibunya pulang, Dini juga tinggal di rumahnya bersama sang ibu karena ia sudah menyelesaikan sidang skripsinya, sedangkan Andi masih harus berada di kos untuk beberapa hari ke depan.


Kini Dimas, mama dan papanya telah sampai di depan rumah. Mereka disambut hangat oleh Dini dan ibunya. Tak ada jamuan istimewa, hanya ada makanan seadanya.


Sebagai wali dari Dimas, Pak Tama mengucapkan maksud kedatangan mereka untuk melamar Dini secara pribadi, jika gayung bersambut, mereka akan melaksanakan pesta pertunangan mereka setelah acara wisuda.


Sebelumnya Dini sudah menjelaskan pada ibunya tentang siapa dan bagaimana latar belakang keluarga Dimas. Karena mengetahui jika Dimas adalah anak dari seorang pengusaha ternama, dengan senang hati ibu Dini menyetujuinya.

__ADS_1


Dimas merasa begitu lega, langkahnya semakin dekat untuk memiliki Dini seutuhnya.


Tanggal pertunangan telah disepakati, semua persiapan akan akan menjadi tanggung jawab keluarga Dimas. Kini hanya tinggal menunggu hari, sebuah cincin manis akan melingkar di jari manis seorang gadis yang manis.


__ADS_2