
Pagi hadir membawa angin sejuk yang menenangkan. Sinar mentari yang menembus awan membuat pagi itu semakin lengkap.
Dini mengerjapkan matanya, menguap dan meregangkan seluruh persendiannya yang terasa kaku. Tanpa sengaja tangannya memukul kepala Andi yang tertidur di lantai dengan kepalanya yang terbaring di ranjangnya.
"Aaawwww!!" pekik Andi terkejut.
"Andi, kamu ngapain di sini?" tanya Dini yang juga terkejut dengan keberadaan Andi di kamarnya.
"Duuuhhh, bisa nggak sih banguninnya nggak pake nabok? dicium kek!"
Dini lalu memukul Andi menggunakan guling miliknya. Namun tiba tiba Dini memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Minum dulu nih, biar nggak hangover!" ucap Andi sambil memberikan jus jeruk pada Dini.
Dini menerima jus jeruk dari tangan Andi lalu meneguknya hingga habis tak bersisa.
"Kamu tadi bilang aku hangover?" tanya Dini.
"Iya, kamu nggak inget kejadian semalem?" jawab Andi sekaligus bertanya.
"Kejadian apa? emang semalem aku ngapain sampe' hangover?" tanya Dini yang tidak menyadari apa yang sudah terjadi padanya.
"Aku juga nggak tau, tunggu Dimas aja!"
"Dimas? apa Dimas semalem ke sini?" tanya Dini.
"Nggak tau lah, aku mau tidur dulu!" jawab Andi lalu kembali merebahkan kepalanya di ranjang Dini.
"Eehh, jangan tidur di sini, di kamar kamu sana!"
"Aku capek banget Din, semalem kamu muntah berkali kali, aku baru bisa tidur barusan," ucap Andi tanpa merubah posisi kepalanya.
"Tapi kamu jangan di sini, Aletta bisa cemburu nanti!" balas Dini dengan menggoyang goyangkan tubuh Andi, namun Andi tak bergeming.
Andi benar benar sudah tertidur. Semalam Andi tidak bisa tidur sama sekali. Dini beberapa kali bangun dan berbicara hal hal aneh padanya. Seperti "aku liat doppelganger", "aku mau nikah sama kembaran Dimas yang ganteng", "aku mau terbang pake' sayap ayam" dan beberapa kali Dini tiba tiba menangis lalu muntah. Dini memuntahkan isi perutnya di lantai kamarnya lalu kembali tidur dan hal itu terjadi sampai beberapa kali hingga menjelang pagi, membuat Andi berkali kali membersihkan lantai kamar Dini dan tidak bisa terpejam meski ia mengantuk.
Andipun menyempatkan dirinya untuk membuat jus jeruk. Sepengetahuannya, jus jeruk dapat meredakan hangover yang sedang dialami Dini.
Kemudian ia tertidur setelah Dini lebih tenang. Entah berapa lama ia tertidur tiba tiba tangan Dini membangunkannya dan sekarang ia kembali tertidur dengan posisi yang sama.
"Andi, bangun Ndi!" ucap Dini dengan masih berusaha membangunkan Andi, namun Andi masih tertidur dengan nyenyaknya.
Di lantai satu, Aletta sedang duduk bersama Nico.
"Andi masih di kamar Dini ya?" tanya Aletta pada Nico.
"Nggak tau, udah balik kayaknya!"
Aletta menggeleng. Ia tau Andi masih berada di kamar Dini. Semalaman ia sengaja menunggu Andi di kamarnya dan sampai pagi ia tak melihat Andi meninggalkan kamar Dini kecuali ketika Andi membuatkan jus jeruk untuk Dini, setelah itu Andi sudah tak pernah keluar lagi dari kamar Dini.
"Dia belum balik," ucap Aletta.
"Lo tau dari mana?"
"Nic, apa menurut lo gue terlalu maksain diri gue?" tanya Aletta tanpa menjawab pertanyaan Nico.
"Maksud lo?"
"Gue tau Andi suka sama Dini, gue tau dia berharap lebih sama Dini walaupun Dini lebih pilih Dimas dan gue di sini cuma jadi bayangan Andi, gue nggak bener bener bisa miliki dia Nic," jawab Aletta.
"Kenapa lo ngomong gitu sih Al, Andi kan udah mutusin buat pilih lo!"
"Iya, tapi gue nggak bener bener ngerasa kalau dia emang pilih gue, gue cuma bayangan Nic, gue nggak bener bener nyata ada di hidupnya, dan dia sendiri nggak bener bener nyata ada buat gue!"
"Gue tau lo sekarang cemburu Al, gue tau kedekatan Andi sama Dini sering bikin salah paham, tapi yang lo harus tau, Dini nggak pernah punya perasaan lebih sama Andi dan kalaupun Andi punya perasaan lebih sama Dini, dia nggak akan pernah ungkapin itu karena dia tau kalau Dini udah bahagia sama Dimas!" jelas Nico.
"Hati orang nggak ada yang tau Nic, lo ataupun gue nggak tau gimana perasaan Dini yang sebenarnya, gue tau dia pilih Dimas, tapi dia juga nggak bisa ninggalin Andi, kenapa? karena jauh di hatinya dia milih Andi, bukan Dimas!"
"Lo nggak bisa menyimpulkan semuanya segampang itu Al, seperti yang lo bilang, hati orang nggak ada yang tau, cuma mereka sendiri yang tau gimana keadaan hati mereka, jadi kita nggak perlu sok tau tentang hati mereka, tentang pilihan mereka, tentang apa yang mereka yakini kebenarannya!"
"Lo bener, sorry gue terlalu kebawa emosi!"
"It's okay Al, wajar kok kalau lo cemburu, asal jangan lo biarin kecemburuan lo itu bawa pikiran pikiran negatif yang malah memperburuk keadaan, mending lo omongin baik baik sama Andi tentang apa yang lo rasain, gue yakin dia pasti ngerti!"
"Lo sejak kapan sih jadi bijaksana gini? omongan lo meaningfull banget deh hahaha...."
"Sejak gue ngerasain yang namanya jatuh cinta dan jatuh karena cinta," jawab Nico dengan tersenyum tipis.
"Lo jatuh cinta? sama siapa? lo udah punya cewek? kok lo nggak cerita sih sama gue?" serang Aletta dengan pertanyaan bertubi tubi pada Nico.
"Hahaha..... lo kepo banget sih!"
__ADS_1
"Kepo lah, seorang Nico akhirnya bisa jatuh cinta, siapa cewek yang sangat tidak beruntung itu Nic?"
"Kok tidak beruntung? sialan lo!"
"Hahaha...... karena dia pasti jadi gendut kalau jadi pacar lo, gara gara lo ajakin makan mulu!"
"Bener juga hahaha....."
Ketika Aletta dan Nico sedang bercanda tawa, tiba tiba sebuah mobil datang dan berhenti di halaman kos. Seorang laki laki tampan keluar dari dalam mobil dengan senyum manisnya, senyum yang mampu membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta padanya.
"Emang ganteng banget sih ini cowok, perfect banget lah pokoknya," ucap Aletta dengan suara pelan.
"Cowok ganteng, kaya, pasti banyak masalah Al, jangan mau!" balas Nico dengan berbisik.
"Sarapan nih buat kalian!" ucap Dimas sambil memberikan beberapa porsi bubur ayam pada Aletta dan Nico.
"Banyak banget Dim!"
"Bagi sama anak anak yang lain," balas Dimas lalu duduk di sebelah Aletta.
"Lo kenapa liatin gue sih? naksir sama gue?" tanya Dimas pada Aletta.
Aletta menggeleng cepat.
"Walaupun lo itu nyaris perfect tapi bagi gue Andi tetep yang terbaik," ucap Aletta pada Dimas.
"Sorry ya Al, di hati gue udah ada Andini hehe...."
"Dan di hati gue udah ada Andi," balas Aletta.
"Andi mana? tumben kalian cuma berdua?" tanya Dimas pada Aletta dan Nico.
Aletta dan Nico lalu saling pandang, mereka takut akan ada keributan jika Dimas tau kalau Andi masih berada di kamar Dini dari semalam.
"Gue bagi ini sama anak anak dulu ya!" ucap Nico lalu membawa beberapa kantong yang berisi bubur ayam pemberian Dimas.
"Eh tunggu Nic!" ucap Aletta lalu berdiri dari duduknya berniat mengejar Nico yang sengaja kabur, menghindar dari pertanyaan Dimas.
Dengan cepat Dimas menahan tangan Aletta dan menariknya, membuat Aletta kembali duduk di samping Dimas.
"Lo mau kabur juga?" tanya Dimas yang masih menahan tangan Aletta.
"Siapa yang kabur? gue.... gue cuma...."
"Andi masih di atas?" tanya Dimas yang seolah tau isi pikiran Aletta.
"Gue nggak tau, gue....."
"Gue yang minta Andi nemenin Andini, semalem dia hangover jadi nggak mungkin gue biarin dia sendirian," ucap Dimas.
"Hangover? mabuk?" tanya Aletta meyakinkan yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Dimas.
"Gila, lo ngajak dia 'minum'?"
"Enggaklah, ceritanya panjang, gue juga nggak tau gimana detailnya."
"Jadi lo biarin Andi sama Dini berduaan di kamar semalaman?" tanya Aletta.
"Iya, lo cemburu?"
"Kenapa nggak lo aja yang nemenin Dini, lo kan pacarnya!"
"Gue ada urusan lain Al, makanya gue minta tolong Andi."
"Urusan lain? lebih penting dari Dini? lo nggak takut mereka......"
"Enggak, gue percaya sama mereka dan lo harusnya juga percaya!"
Aletta menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dimas.
"Gue tau ini sulit Al, sampe' sekarang pun gue masih cemburu, tapi gue ngerti dan gue percaya, nggak cuma sama Andini tapi juga sama persahabatan mereka, itu kenapa gue nggak keberatan kalau emang Andini nggak bisa milih antara gue atau Andi, gue nggak akan minta dia milih, karena gue percaya sama mereka," ucap Dimas pada Aletta.
"Gue lagi usahain itu Dim," balas Aletta.
"Kalau kita udah bener bener cinta sama seseorang, nggak peduli gimanapun dia kita akan tetep mencintai dia tanpa alasan, dan gimanapun dia nggak akan ada alasan buat kita ninggalin dia," ucap Dimas dengan senyum manisnya yang dibalas anggukan kepala oleh Aletta.
"Gue naik dulu ya!" ucap Dimas lalu naik ke lantai dua, meninggalkan Aletta.
Sesampainya di depan kamar Dini, ia mengetuk pintunya pelan dan tak lama kemudian Dini membuka pintu kamarnya dengan ragu.
"Pagi sayang, gimana keadaan kamu?" tanya Dimas dengan membelai rambut Dini.
__ADS_1
"Aku..... aku baik," jawab Dini yang tidak berani membuka pintunya lebar lebar, ia takut Dimas akan marah karena melihat Andi yang berada di kamarnya.
"Aku nggak boleh masuk?" tanya Dimas.
"Mmmmm.... boleh sih, tapi..... itu.... aku....."
"Andi masih di dalem?" tanya Dimas yang membuat Dini terkejut.
"Kok kamu tau?" balas dini balik bertanya.
Dimas hanya tersenyum lalu membuka pintu kamar Dini lebar lebar.
"Aku yang minta dia nemenin kamu," ucap Dimas lalu menarik tangan Dini agar duduk.
Dimas lalu mengeluarkan bubur ayam yang masih hangat dan menyuapi Dini. Dimas lalu menceritakan kejadian malam kemarin hingga ia harus meninggalkan Dini dan meminta Andi untuk menemaninya.
"Aku mabuk?" tanya Dini tak percaya.
"Iya, apa kamu nggak inget apa apa?"
"Enggak, semalem......."
Dini mencoba menggali ingatannya. Ia lalu menceritakan pada Dimas tentang pesan yang ia terima yang membuatnya pergi ke gang sempit itu. Ia juga menceritakan tentang anak kecil yang memberinya minuman dan setelah itu ia sudah tidak mengingat apapun lagi.
"Aku bangun tidur dan udah ada Andi di sini, aku bener bener nggak tau apa apa!" ucap Dini di akhir ceritanya.
"Sayang, mulai sekarang kamu harus lebih hati hati lagi ya, jangan pernah percaya sama nomor yang nggak kamu kenal walaupun suaranya mirip sama aku!"
"Aku bener bener nggak ngerti apa yang sebenernya terjadi," balas Dini.
"Aku akan ceritain semuanya sama kamu, tapi setelah penguping ini pergi," ucap Dimas dengan menyenggol kaki Andi.
"Hehehe.... gue nggak nguping Dim," sahut Andi yang ternyata sudah bangun sejak Dimas mengetuk pintu kamar Dini.
"Loh kamu udah bangun?" tanya Dini pada Andi.
"Barusan Din, ya udah aku keluar dulu ya, mau lanjut tidur," jawab Andi sambil menguap.
"Ditungguin cewek lo tuh di depan, siap siap aja perang dunia hahaha....." sahut Dimas yang membuat Andi segera berlari keluar dari kamar Dini.
Kini hanya ada Dini dan Dimas di dalam kamar.
"Kamu mau cerita apa?" tanya Dini pada Dimas.
"Aku nggak tau harus cerita dari mana, yang jelas aku tau siapa dalang dibalik penyerangan kafe kemarin, dia bukan Anita, tapi Ivan, cowok yang pernah hampir berantem sama Andi di depan kampus, kamu inget?"
Dini diam beberapa saat, mencoba mengingat kejadian itu.
"Aku inget kejadian itu, tapi aku lupa wajah cowok yang kamu maksud itu," jawab Dini.
Dimas lalu menunjukkan foto Ivan di ponselnya pada Dini.
"Dia namanya Ivan, aku nggak tau seberapa jauh hubungannya sama Anita, tapi yang jelas Ivan sama Anita udah rencanain hal buruk buat aku atau mungkin keluarga ku, karena kamu sekarang yang paling deket sama aku, aku takut dia juga nyerang kamu, jadi kamu harus lebih hati hati ya sayang, Ivan atau Anita, jauhin mereka berdua, hubungin aku atau Andi kalau ada apa apa!"
"Kamu bikin aku takut deh," balas Dini.
"Aku yakin kamu akan baik baik aja sayang, kamu cuma perlu waspada dan jauhin mereka berdua."
Dini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dimas.
"Buat beberapa hari ini aku mungkin bakalan sibuk banget, aku harus pelajari data data yang aku dapet dari HP nya Ivan, buat sementara aku cuma tau kalau dia berbahaya, selebihnya aku harus cari tau lebih jauh lagi."
"Kamu nggak minta tolong papa kamu?"
"Kalau emang ini menyangkut perusahaan, aku pasti minta tolong papa, tapi kalau soal kafe dan masalah pribadiku sendiri aku coba buat selesaiin semuanya sendiri sayang," jawab Dimas.
"Kamu bilang dia punya rencana buruk buat keluarga kamu, itu kan bahaya Dimas!"
"Itu masih kemungkinan sayang, bener atau enggaknya masih harus cari tau."
"Kamu kenapa bisa punya masalah sama dia sih? kalian udah lama kenal?"
"Aku baru kenal dia beberapa bulan yang lalu sayang, Yoga yang kenalin aku sama dia, aku nggak tau kenapa dia bisa sebenci itu sama aku, that's why aku harus cari tau dulu biar aku nggak salah langkah," jawab Dimas.
"Kamu juga harus cepat bergerak Dimas, kalau kamu bilang dia udah punya rencana, itu artinya dia tinggal jalanin rencananya dan kamu harus siap sama semua itu."
"Pasti sayang, jadi buat beberapa hari ini aku minta maaf kalau aku jarang ada waktu buat kamu."
"Nggak papa, aku ngerti, semoga semua masalah kamu cepet selesai," balas Dini.
Dimas lalu memeluk gadis yang dicintainya itu. Ia sangat bersyukur karena Dini mengerti keadaannya.
__ADS_1