
Malam semakin larut dalam keheningan. Dimas sudah berada di apartemennya sekarang. Meski sangat lelah, Dimas tak bisa memejamkan matanya. Ia belum memberikan keputusan apapun pada Anita. Ia bimbang, ia merasa tak ada pilihan tanpa risiko diantara keduanya.
"aku nggak mungkin tanya pendapat papa kan? aku nggak mungkin tanya Yoga juga, aku harus gimana Tuhan?" batin Dimas yang merasa sangat frustrasi.
Perlahan semburat cahaya keemasan telah tergambar di ujung timur. Dimas benar benar tampak kacau. Ia bahkan belum berganti pakaian dari pertama kali ia ke kafe, ia juga belum mandi, makan bahkan tidurpun tidak. Ia hanya fokus pada masalah di hadapannya. Memang mudah baginya untuk mencari otak dari penyerangan di kafe (setidaknya itu yang ia pikirkan saat itu) tapi itu tidak membuat masalahnya selesai. Masalah yang ada justru lebih besar karena sekarang ia dihadapkan pada dua pilihan yang tidak seharusnya ia pilih.
"Andini, dari semua yang udah terjadi, kenapa aku harus dihadapkan sama pilihan ini? apa yang harus aku lakuin sekarang? aku nggak mau nyakitin kamu, tapi aku juga nggak bisa ninggalin kamu,"
Mentari belum terasa hangat, namun Dimas sudah keluar dari apartemennya menuju ke tempat kos Dini. Ia harus mengatakan semuanya pada Dini. Ia harus menceritakan semuanya dan mencari jalan terbaik dari masalah yang ia hadapi. Ia tidak ingin hal yang sama terulang kembali seperti sebelum sebelumnya.
Tak lama kemudian Dimas sampai di tempat kos Dini, Dimas keluar dari mobil dengan terhuyung. Kepalanya terasa begitu pusing. Ia diam beberapa saat dengan perpegangan pada mobilnya, matanya mengerjap berusaha untuk tidak kehilangan kesadarannya.
"Dim, lo ngapain?" tanya Andi yang baru saja keluar dari kamarnya.
Dimas berjalan gontai ke arah Andi dan berdiri di hadapan Andi.
"Lo ngapain pagi pagi ke sini? lo kenapa berantakan banget gini sih? lo kenapa....."
Andi menghentikan ucapannya ketika Dimas menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Lo kenapa Dim? lo sakit?" tanya Andi.
Dimas masih diam dan tak menjawab apapun. Andi lalu mendorong pelan tubuh Dimas yang tampak lemah itu. Dimas lalu duduk di hadapan Andi.
"Muka lo pucet banget Dim, lo sakit?" tanya Andi namun seperti tak dihiraukan oleh Dimas.
"Dini dari kemarin nungguin lo, mending lo samperin dia sekarang!" lanjut Andi lalu duduk di sebelah Dimas.
"Ndi, lo inget kata kata gue kemarin kan, lo harus ungkapin perasaan lo sama Andini kalau gue udah nggak ada, jadi selama gue ada di sini lo bisa percayain dia sama gue, gue nggak akan berhenti buat perjuangin dia," ucap Dimas tanpa melihat ke arah Andi.
"Gue cuma mau dia bahagia Dim dan gue tau dia bahagia sama lo," balas Andi dengan menepuk bahu Dimas.
"Gue ke atas dulu," ucap Dimas lalu meninggalkan Andi.
Andi hanya mengangguk lalu kembali masuk ke kamarnya. Ia sudah lupa niat awalnya keluar dari kamar tadi.
Dimas masih berdiri di depan kamar Dini. Ia sedang menyiapkan hatinya untuk mendapatkan pilihan yang terbaik dari 2 pilihan yang Anita berikan. Hampir 5 menit ia masih berdiri di tempatnya, kepalanya kembali berdenyut, ia merasa sangat pusing yang seolah menusuk kepalanya.
Tak lama kemudian pintu di hadapannya terbuka. Dimas tersenyum menatap gadis cantik yang ia cintai di hadapannya.
"Dimas!"
Dimas lalu mendekat dan memeluk Dini. Ia tidak mengucapkan apapun, ia hanya ingin memeluk gadisnya untuk waktu yang lama.
"Dimas kamu kenapa? kamu sakit?"
Dimas masih diam. Ia memeluk Dini dengan sepenuh hatinya, ia mendekap erat Dini seolah tak akan melepasnya lagi.
Sedangkan Dini hanya bisa diam dan membalas pelukan Dimas. Semua rasa kecewa dan marahnya seperti luruh begitu saja hanya dengan sebuah pelukan.
Bukan, ia bukan gadis murahan. Ia sangat mencintai Dimas dan itulah yang membuat logikanya seolah mati. Meski ia merasa tersakiti, meski ia merasa dikecewakan, ia masih mencintai Dimas dan ia percaya jika Dimas juga merasakan hal yang sama sepertinya.
Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan memandangnya lekat lekat. Sebuah senyum tergaris di wajah yang sudah sangat pucat itu.
"Dimas, aku mau tanya sesuatu sama kamu!"
Dimas mengangguk sebagai jawaban.
"Apa yang bikin kamu sibuk kemarin? sesibuk apa kamu sampe' kamu lupa sama aku?"
Dimas masih diam dan membelai rambut Dini.
"Aku tau kamu ketemu sama Anita," ucap Dini membuat Dimas sedikit terkejut.
"Apa yang kalian lakuin di belakangku?" lanjut Dini bertanya.
Belum sempat Dimas menjawab, Dimas sudah benar benar kehilangan tenaganya saat itu. Kakinya bahkan sudah tidak mampu menopang dirinya sendiri. Dimas jatuh terduduk di hadapan Dini dan darah mengalir keluar dari hidungnya. Dimas segera mengusapnya, namun darah itu seolah tak mau berhenti keluar.
"Dimas kamu kenapa?" tanya Dini yang begitu khawatir.
Dini segera mengambil tissue dan berjongkok untuk membantu menahan darah yang masih keluar dari hidung Dimas. Dimas menarik tangan Dini yang memegang tissue di hidungnya, ia lalu memeluk Dini, membiarkan darah menetes membasahi pakaian Dini. Tak lama kemudian Dimas sudah tak sadarkan diri.
"Dimas, bangun Dimas, jangan bikin aku takut," ucap Dini dengan menepuk nepuk punggung Dimas dengan pelan.
"Dimas bangun Dim," ucap Dini yang mulai terisak.
Tak lama kemudian Aletta keluar dari kamarnya dan melihat Dini yang menangis dengan menahan tubuh Dimas yang pingsan.
Ia lalu segera turun dan memanggil Andi. Tak lama kemudian ia kembali bersama Andi dan Nico.
Tanpa banyak bertanya Andi dan Nico segera membawa Dimas ke rumah sakit menggunakan mobil Nico. Aletta dan Dini juga ikut menemani.
__ADS_1
Andi, Dini, Nico dan Aletta kini berada di depan ruang UGD. Mereka menunggu Dokter keluar dari dalam ruangan dengan harapan Dimas akan baik baik saja.
Dini duduk di lantai dengan meringkuk, ia membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya yang ditekuk. Ia merasa sangat bersalah pada Dimas. Ia melihat Dimas yang pagi pagi datang dengan wajah yang tampak pucat namun ia masih menanyakan tentang Anita dan berpikiran buruk pada Dimas hanya karena video singkat yang ia lihat.
Andi lalu mendekati Dini, ia berjongkok di hadapannya dan mengusap kepalanya.
"Dimas pasti baik baik aja Din, kamu tenang aja," ucap Andi berusaha menenangkan Dini.
Dini masih tak mengangkat kepalanya. Ia menangis dengan suara tertahan, membuat dadanya terasa semakin sesak.
Andi lalu mendekat dan memeluk Dini. Ia tau bagaimana perasaan Dini saat itu karena ia pun pernah merasakannya saat Dini di rawat di rumah sakit karena ulah Dika.
Dini hanya mampu terisak dengan menahan tangisnya. Ia takut akan hal buruk yang terjadi pada laki laki yang sangat di cintainya itu.
Aletta yang berada di kursi sebelah Dini hanya bisa menahan sesak di hatinya. Ia tidak ingin melihat kejadian itu, namun itu terjadi di hadapannya dan membuatnya harus menahan sesuatu yang menyakitkan dalam hatinya. Ia tidak akan menangis di sana, ia tidak akan pernah menunjukkan bagaimana keadaan hatinya yang sengaja ia simpan dengan baik.
Aletta lalu berdiri berniat untuk pergi, namun tangan Andi menahannya. Dengan masih memeluk Dini, satu tangan Andi menahan Aletta untuk tidak pergi. Namun Aletta melepaskan tangan Andi dan tetap berjalan pergi.
"Aku ke toilet dulu Nic," ucap Aletta pada Nico.
Nico hanya mengangguk. Ia tau jika saat itu adalah saat yang sulit bagi Andi. Di satu sisi sahabat yang dicintainya membutuhkan dirinya dan di sisi lain gadis yang mencintainya ada bersamanya. Nico tak bisa menyalahkan sikap Andi karena pada dasarnya ia tau bagaimana Andi begitu mencintai Dini.
Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruang UGD.
"Gimana keadaannya Dok?" tanya Andi pada Dokter.
"Dia baik baik saja, dia hanya kelelahan dan sepertinya ada hal besar yang mengganggu pikirannya sehingga membuatnya stres dan tertekan," jawab Dokter.
"Tapi kenapa dia mimisan Dok? dia nggak sakit parah kan?"
"Tidak, dia sepertinya terlalu banyak beraktivitas yang menguras tenaga dan pikirannya, itu membuat pembuluh darah dalam hidung menegang dan akhirnya pecah, kamu tenang saja hal itu wajar selama tidak terjadi berulang ulang," jelas Dokter membuat Andi, Dini dan Nico sedikit lebih lega.
"Sekarang dia belum sadar, kalian bisa menemuinya setelah dia dipindahkan ke ruangan lain," lanjut Dokter.
"Baik Dok, terima kasih."
Andi lalu memegang kedua bahu Dini dan membawanya duduk ke kursi yang berada di sebelahnya.
"Aku udah bilang sama kamu, Dimas pasti baik baik aja," ucap Andi.
Dini mengangguk dengan sedikit senyum di wajahnya.
"Kejar dia Ndi," ucap Dini membuat Andi memasang wajah penuh tanda tanya.
"Dimas baik baik aja dan aku juga baik baik aja sekarang," lanjut Dini.
Andi lalu tersenyum dan mengusap rambut Dini.
"Titip Dini ya Nic," ucap Andi lalu pergi meninggalkan Dini dan Nico.
Andi tidak mencari Aletta di kamar mandi, karena ia tau jika Aletta pasti tidak berada di sana. Benar saja, ia melihat Aletta yang duduk seorang diri di bangku kantin. Iapun segera menghampirinya.
"Sendirian aja, pacarnya mana?" tanya Andi menggoda Aletta.
"Lagi sibuk sama sahabatnya," jawab Aletta tanpa menoleh ke arah Andi.
"Kamu cemburu?"
"Apa aku boleh cemburu?" balas Aletta balik bertanya.
Andi lalu memegang kedua bahu Aletta dan memutar badan Aletta agar menghadap ke arahnya.
"Aku minta maaf," ucap Andi dengan berusaha menatap mata Aletta yang dari tadi hanya menunduk.
Andi lalu meraih tangan Aletta dan menggenggamnya.
"Aku minta maaf Ta, aku......"
"Nggak papa, aku ngerti, gimana keadaan Dimas?"
"Dokter bilang dia baik baik aja, kamu mau balik ke sana apa mau di sini aja? atau mau pulang? aku akan nemenin kamu!"
"Ayo balik!" jawab Aletta sambil berdiri dan menarik tangan Andi.
Mereka lalu kembali melihat keadaan Dimas. Namun mereka tak melihat Dini ataupun Nico di sana.
"Kayaknya Dimas udah pindah ruangan, aku cari tau dulu!" ucap Andi lalu bertanya pada beberapa petugas yang sedang berada di sana.
**
Di dalam ruangan Dimas.
__ADS_1
Dimas sudah sadar dan mendapati gadis yang dicintainya duduk di sebelahnya dengan mata yang tampak sembab karena terlalu banyak menangis.
Dimas lalu menarik tangan Dini dan menggenggamnya.
"Maaf karena selalu bikin kamu sedih," ucap Dimas pada Dini.
"Kebahagiaan yang kamu kasih buat aku lebih dari semua kesedihan itu" balas Dini.
Nico yang berada di sana merasa sedang menonton adegan film romantis di hadapannya. Ia hanya bisa terdiam melihat 2 makhluk yang tampak menggelikan baginya.
"Thanks Nic udah bawa gue ke rumah sakit," ucap Dimas pada Nico.
"Lain kali kalau lagi sakit jangan keluyuran," balas Nico.
"Iya sorry gue jadi ngrepotin lo."
"Ini nggak gratis Dim, lo harus ganti bensin gue haha....."
"Oke!" balas Dimas singkat.
Tak lama kemudian Andi dan Aletta datang.
"Gimana keadaan lo Dim?" tanya Andi.
"Gue baik baik aja kok, thanks ya udah bawa gue kesini!"
Andi hanya mengangguk sebagai balasan.
**
Di sisi lain, tanpa ada yang tau, Ivan juga berada di rumah sakit yang sama dengan Dimas. Ia sedang mengantarkan mamanya untuk melakukan medical check up dan tanpa sengaja ia melihat Dimas yang baru saja di bawa masuk ke sebuah ruangan.
Ia lalu menghubungi Anita dan memintanya untuk datang. Tanpa banyak bertanya Anita segera datang ke rumah sakit yang Ivan maksud.
Tak butuh waktu lama untuk Anita sampai di rumah sakit. Ia lalu menanyakan ruangan tempat Dimas dirawat pada petugas di sana.
Di depan pintu ruangan Dimas, Anita melihat Dini dan Dimas yang berada di dalam. Anita lalu segera masuk tanpa permisi.
"Dimas, kamu kenapa?" tanya Anita dengan berlari ke arah Dimas dan memeluk Dimas yang masih terbaring di ranjangnya.
"Aku nggak papa, tapi kamu nyakitin aku sekarang," balas Dimas dengan berusaha mendorong tubuh Anita.
"Maaf maaf," balas Anita lalu kembali berdiri tegak.
"Kamu tau dari mana kalau Dimas di rumah sakit?" tanya Dini dengan menggeser Anita agar menjauh dari Dimas.
Anita hanya menoleh tanpa menjawab pertanyaan Dini.
"Dimas, kamu harus tentuin pilihan kamu sekarang!" ucap Anita pada Dimas.
"Tapi Nit......"
"Aku nggak mau tau Dimas, aku mau jawaban kamu sekarang!"
"Ada apa Dim? pilihan apa?" tanya Dini pada Dimas.
Dimas menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ia yakin pilihannya adalah yang terbaik untuk semuanya, meski ia harus menyakiti hati gadis yang dicintainya.
"Maafin aku Andini," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
"Apa ini artinya kamu pilih kafe?" tanya Anita.
Dimas mengangguk lemah. Ia melepaskan tangan Dini dari genggamannya.
"Kalau gitu aku mau kamu usir dia dari sini, cuma aku yang boleh nemenin kamu di sini!"
"Tapi Nit....."
"Kita udah sepakat Dimas, kamu tau itu!"
"Sepakat apa? ini ada apa Dimas?" tanya Dini yang masih tidak mengerti tentang situasi saat itu.
"Kamu pergi Andini, biarin aku sama Anita di sini," ucap Dimas pada Dini.
"Tapi Dim...."
"Pergi Din, kamu nggak denger Dimas bilang apa?" sahut Anita.
"Enggak, aku nggak akan pergi, aku....."
"Aku mohon Andini, kamu pulang aja, biarin aku berdua sama Anita di sini!"
__ADS_1
Dini yang mendengar hal itu hanya bisa diam dengan menahan sesak di dadanya. Ia lalu pergi meninggalkan ruangan Dimas dengan membawa hatinya yang tengah terluka.