Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Rintik Sendu


__ADS_3

Rintik gerimis mulai membasahi, meninggalkan hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Setiap tetesnya membawa rindu yang menyiksa hati, memeluk erat mereka yang sedang bergumul dengan luka dan sakit yang menyayat hati, menyisakan perih pada setiap luka yang enggan terobati.


Di bawah rintik itu, seorang laki laki berdiri dengan menahan luka yang semakin menusuk hati. Ia tersenyum tipis memandang rintik yang semakin terdengar deras, seolah berlomba lomba untuk mentertawainya, meneriakinya yang masih menyimpan rasa tak berbalas selama bertahun tahun lamanya.


Di hadapannya, 2 bungkus nasi goreng yang panas dibiarkan begitu saja. 15 menit yang lalu, ia menerobos hujan untuk membeli nasi goreng itu dan segera membawanya kembali ke kos. Ia melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman kos nya, tapi ia tak tau siapa pemilik mobil itu. Ia berjalan menaiki satu per satu anak tangga dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia menghentikan langkahnya begitu mengetahui pintu kamar yang akan ia tuju tengah terbuka.


"tumben dibuka," batinnya dalam hati.


Ia melangkah pelan dan mendapati gadis yang dicintainya sedang asyik mengobrol bersama seorang laki laki. Laki laki yang mungkin sangat dicintai oleh si gadis. Ia menyembunyikan kantong plastik yang berisi 2 bungkus nasi goreng ke belakang tubuhnya.


"Andi, masuk Ndi!" ucap si gadis begitu menyadari kehadirannya.


"Aku kesini cuma mau nanya, kamu udah makan?" tanya Andi berasalan.


"Belum sih, tapi Dimas udah pesen makanan, bentar lagi dateng," jawab Dini.


"Gue pesen banyak, lo bisa gabung sama kita!" sahut Dimas.


"Thanks, tapi gue udah makan, gue balik dulu ada yang harus gue kerjain," balas Andi berbohong.


Andi lalu pergi ke dapur dengan membawa nasi goreng di tangannya dan meletakkannya di meja. Nasi goreng favoritnya kini terasa pahit bahkan sebelum ia makan.


Tak lama kemudian terdengar suara gadis yang bersenandung ria berjalan ke arah dapur.


"Manusia kutub," panggil Aletta dengan berbisik.


Andi diam, ia tidak menyadari kehadiran Aletta.


"Manusia kutub," panggil Aletta lagi dengan suara yang lebih tinggi.


"Eh iya, apa?" balas Andi gelagapan, panggilan Aletta membuyarkan lamunannya.


"Lo ngapain Ndi?" tanya Aletta yang melihat Andi hanya diam memandang hujan dari jendela kaca yang ada di dapur.


Andi menggeleng.


"Hmmmm, bau nasi goreng, itu nasi goreng ya?" tanya Aletta dengan menunjuk kantong plastik yang ada di hadapan Andi.


"Iya, lo udah makan belum?"


"Belum, ini mau bikin mie," jawab Aletta sambil memamerkan mie instan di tangannya.


Andi mengambil sendok lalu menggandeng tangan Aletta untuk keluar dari dapur.


"Eh, mau kemana?" tanya Aletta namun membiarkan Andi menggandeng tangannya.


"Makan, jangan makan mie instan terus lo!"


"Kenapa? ini tuh surganya anak kos tau'!"


"Iya, tapi kalau kebanyakan ntar rambut lo jadi keriting, mau?"


"Lo pikir gue anak kecil, itu mitos dari jaman nenek gue tau'!"


Andi membawa Aletta duduk di teras kos. Ia lalu membuka bungkus nasi goreng yang ia bawa dan memberikannya satu porsi untuk Aletta.


"Buat gue?"


Andi mengangguk, lalu mulai memakan nasi goreng yang seharusnya ia makan bersama Dini.


Aletta tersipu, ia memandangi nasi goreng di hadapannya.


"Tenang aja, aman, nggak pedes!" ucap Andi yang melihat Aletta hanya diam memperhatikan nasi goreng di hadapannya.


"Hahah, oke oke, thanks ya, manusia kutub!"


"Kenapa lo masih panggil gue manusia kutub sih?"


"Itu kesan pertama gue waktu baru ketemu lo," jawab Aletta.


"Apa sekarang sikap gue masih dingin sama lo?"


"Mmmm, enggak sih, tapi......."


"Kalau gue udah nggak dingin, hati hati aja lo, takutnya ntar lo jatuh cinta sama gue," ucap Andi memotong ucapan Aletta.


Aletta yang mendengar ucapan Andi ketika sedang mengunyah nasi goreng langsung tersedak. Andi yang melihat Aletta terbatuk batuk segera mengambil minum di dapur dan memberikannya pada Aletta.


"de javu," pikir Aletta dalam hati.


Sebelum Andi kembali, ia memastikan tidak ada nasi goreng yang keluar dari hidungnya seperti waktu ia makan mie instan bersama Andi beberapa waktu lalu, sungguh kejadian yang sangat memalukan.


Andi segera memberikan minuman pada Aletta.


"Lo kalau makan nggak pernah baca do'a ya?"


"Gue kan udah bilang, gue baca majalah dulu sebelum makan hehe....."


"Dasar lo," balas Andi dengan memukul pelan kepala Aletta menggunakan sendok di tangannya.


"Ndi itu sendok kotor, gue baru keramas, gimana sih!" gerutu Aletta kesal.


"Hahaha, sorry sorry," balas Andi sambil membungkukkan badannya membersihkan rambut Aletta yang kotor karenanya. Ia hanya bertumpu pada satu tangannya saat itu hingga tiba tiba tangan yang ia gunakan untuk bertumpu terpeleset membuatnya jatuh menindih Aletta. Tangannya reflek menahan kepala Aletta agar tak terbentur lantai.


Sesaat waktu seperti berhenti berputar. Mereka sangat dekat, mata mereka saling bertemu, saling menatap tajam sampai ke hati. Aletta tak pernah sedeket itu dengan lelaki manapun selain Rizki, itu membuat hatinya bergemuruh, entah karena ia mengingat masa lalunya atau karena ia bersama Andi saat itu. Degup jantungnya seakan berirama mesra bersama rintik hujan yang masih terdengar sendu.


Andi segera tersadar dan membawa tubuhnya untuk bangkit dengan menarik pelan tangan Aletta agar kembali duduk. Suasana menjadi sedikit canggung. Hanya ada degup jantung keduanya yang mengisi keheningan malam itu. Rintik hujan bahkan seakan kalah dari kencangnya degup jantung mereka berdua.


Aletta kembali menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, berusaha menghilangkan suasana canggung saat itu.

__ADS_1


"Sorry, gue tadi....."


"Nggak papa, mmmmm..... nasi gorengnya enak," ucap Aletta memotong ucapan Andi, ia berusaha mengalihkan pembicaraan, mengalihkan suasana yang canggung yang membuatnya tidak nyaman.


"Itu nasi goreng favorit anak anak di sini, kapan kapan gue ajak lo ke sana," balas Andi dengan berusaha mengembalikan suasana.


Aletta mengangguk anggukkan kepalanya. Ia seakan kehilangan semua kata katanya, mulutnya seperti membisu karena kejadian tadi.


Tiba tiba datang seorang bapak bapak dengan membawa 1 kantong besar makanan di tangannya.


"Permisi, di sini ada yang namanya Dimas?" tanya si bapak pada Aletta dan Andi.


"Nggak ada pak," jawab Aletta cepat.


"Loh ini ada yang pesen makanan atas nama Dimas di alamat ini," balas si bapak.


"Oh iya, di atas pak, kamar paling ujung, nomor 10," sahut Andi.


"Terima kasih mas," balas si bapak lalu segera melangkah ke arah yang ditunjukkan oleh Andi.


"Kamar nomor 10? itu bukannya kamar Dini ya?" tanya Aletta.


Andi mengangguk sambil kembali melanjutkan makan nasi goreng yang sudah dingin di hadapannya.


"Kok Dimas?" tanya Aletta tak mengerti.


"Ada Dimas di atas," jawab Andi.


Aletta mengerutkan keningnya, ia seperti tidak asing dengan nama itu.


"Dimas temen lo?"


Andi mengangguk lagi.


"Mereka pacaran?" tanya Aletta lagi, ia begitu kepo.


"Kenapa lo tanya gue, tanya mereka aja sendiri," balas Andi.


"Lo kan temen dekatnya Dini, masak lo nggak tau?"


"Kita emang deket, tapi nggak semua hal tentang Dini gue tau Ta,"


"Apa lagi hatinya," lanjut Andi dengan memelanlan suaranya.


"Apa lo bilang?" tanya Aletta yang tak begitu jelas mendengar ucapan Andi.


"Bukan apa apa, cepet abisin kalau udah dingin nggak enak!"


"Oke!"


Merekapun melanjutkan untuk menghabiskan nasi goreng masing masing. Tanpa mereka tau, ada 2 pasang mata yang memperhatikan mereka dengan hati yang terluka. Si pemilik mata itu melihat ketika Andi menindih Aletta tanpa sengaja dan itu menyakiti hatinya. Ia lalu kembali masuk ke dalam kamarnya, mengurungkan niatnya untuk bergabung bersama Andi dan Aletta.


Di kamar Dini, setelah pesanan makanan Dimas datang, Dini dan Dimas segera menyantapnya.


"Kapan kamu mulai kuliah?" tanya Dimas pada Dini.


"Mungkin lusa," jawab Dini.


"Besok sibuk nggak?"


"Enggak, cuma di kos aja kayaknya."


"Besok aku ke sini lagi ya, bawa HP kamu!"


Dini mengangguk pelan.


Tiba tiba ponsel Dimas berdering. Ia segera melihatnya, terlihat nama Anita di layar ponselnya. Dimas mengabaikannya, ia menaruh ponselnya di meja belajar Dini.


"Siapa?" tanya Dini.


"Nggak penting," jawab Dimas.


Namun tak lama kemudian, ponsel Dimas kembali berdering. Ia membiarkannya begitu saja, bahkan tak melihat siapa yang menghubunginya, karena ia yakin jika itu pasti Anita. Dua tiga kali nada panggilan Dimas memenuhi kamar Dini, Dimas masih tak bergeming.


"Angkat aja, siapa tau penting!" ucap Dini.


"Nggak usah, biarin aja, ntar juga capek sendiri," balas Dimas.


"Emang siapa sih?"


"Bukan siapa siapa," jawab Dimas lalu ponselnya kembali berdering.


Dini segera berdiri dan melihat ponsel Dimas. Terlihat nama Mama tertulis di layar ponsel Dimas.


"Tante Angel loh Dim," ucap Dini.


"Hah, mama?"


Dini mengangguk.


"Angkat aja!" ucap Dini.


Dimas segera menerima panggilan mamanya.


"Ada apa ma?"


"Kamu dimana?"


"Dimas lagi di........"

__ADS_1


"Kamu kenapa nggak jawab panggilan Anita? dia gangguin mama terus nih, dari tadi hubungin mama gara gara dia nggak bisa hubungin kamu!"


"Emang dia kenapa lagi ma? Dimas lagi sibuk,"


"Nggak tau, kamu coba hubungin dia deh, bisa stres mama di teror dia terus!"


"Oke oke, Dimas hubungin dia sekarang!"


"Ya udah kalau gitu, bye sayang!"


"Bye ma!"


Klik.


Baru saja Dimas mematikan panggilan mamanya, Anita sudah menghubunginya lagi. Mau tak mau ia harus menerima panggilan Anita agar Anita tak menganggu mamanya.


"Halo, ada apa?"


"Kamu dimana sih, kenapa nggak diangkat angkat?"


"Iya maaf, aku lagi sibuk sekarang," jawab Dimas beralasan.


"Sibuk apa? ngerjain tugas lagi?"


"Ii... iya, emang ada apa sih?"


"Jemput aku sekarang!"


"Hah, sekarang? ini udah jam berapa Nit?"


"Justru itu, aku sekarang ada di butik temennya mbak Dewi, kamu mau aku naik taksi malem malem? kamu nggak khawatir sama aku?"


"Kamu ngapain di sana lagi? bukannya......."


"Dimas, tolong jemput Anita ya, saya tadi yang ngajak Anita ke sini, tapi saya nggak bisa nganter dia balik, kamu anter dia ke apartemen aja, kamu bisa bantuin saya kan?" suara dokter Dewi dari ujung sambungan telepon.


"Baik Dok, saya kesana sekarang," balas Dimas pasrah, ia merasa sungkan untuk menolak permintaan Dokter Dewi.


Dimas memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Andini, aku balik dulu ya, aku......."


"Anita?" tanya Dini memotong ucapan Dimas.


Dimas menghembuskan napasnya pelan dan mengangguk lemah.


Dinipun ikut mengangguk. Walaupun ia tak berniat untuk menguping pembicaraan Dimas di telepon, tapi ia mendengar dengan jelas jika Dimas sedang berbicara dengan Anita dan berbohong jika ia tengah sibuk.


"Aku balik dulu, abis makan langsung isitrahat ya, jangan tidur malem malem!"


Dini mengangguk. Dimas lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan kamar Dini.


Di luar, Dimas melihat Andi sedang bersama Aletta.


"Gue balik dulu ya Ndi, Aletta!" pamit Dimas pada Andi dan Aletta.


Andi mengangguk, begitu juga dengan Aletta. Perlahan mobil Dimas meninggalkan area kos.


Dari depan kamar Dini, ia melihat mobil Dimas yang semakin menjauh pergi. Ia tersenyum, tapi hatinya menangis. Ia sadar ia tak bisa berharap lagi pada Dimas. Dimas sudah memilih perempuan lain untuk dijadikan pelabuhan hatinya. Ia tak bisa menjadi perebut milik orang lain, ia tak sejahat itu meski pada kenyataannya Anita lah yang merebut Dimas darinya.


Dini bimbang karena hati dan pikirannya yang tak sejalan. Logikanya menolak kebersamaan mereka, tapi hatinya menginginkan kebersamaan itu. Hatinya haus akan perhatian, cinta dan kasih sayang yang dulu selalu Dimas berikan padanya.


Meski Dimas sering mengecewakannya, meski Dimas selalu mengulangi kesalahan yang sama, meski ia sering menangis karenanya, hatinya masih milik Dimas, hatinya masih memilih Dimas sebagai pemilik tunggal cinta di hatinya.


Dini kembali masuk ke dalam kamarnya, memandang banyak makanan di hadapannya. Ia sudah tak berselera lagi untuk menghabiskannya. Ia membuang makanan sisa miliknya dan Dimas, lalu membungkus kembali makanan yang bahkan belum tersentuh sama sekali, ia memberikannya pada temannya yang berada di kamar sebelahnya.


Dari teras, Andi melihat Dini ketika Dini memperhatikan mobil Dimas yang perlahan pergi. Ia pun beranjak dari duduknya untuk menghampiri Dini.


"Gue duluan ya!" ucap Andi pada Aletta lalu segera pergi meninggalkan Aletta.


Aletta yang tak sempat menjawab hanya bisa membiarkan Andi melangkah meninggalkannya, hingga ia melihat Andi berdiri di depan kamar Dini.


"sahabat ya?" batin Aletta dalam hati. Ia lalu membereskan bungkus nasi gorengnya dan pergi ke dapur untuk mencuci sendok miliknya dan juga milik Andi yang ditinggal begitu saja.


Di kamar Dini, Andi mengetuk pelan pintu kamar Dini. Tak lama kemudian pintu terbuka.


"Aku laper," ucap Dini begitu melihat Andi di depan pintu kamarnya.


"Bukannya abis makan ya?"


Dini menggeleng sambil melirikkan matanya ke arah kamar sebelahnya yang sedang ramai karena makan besar pemberian dari Dini.


Andi tersenyum lalu mengajak Dini untuk pergi membeli nasi goreng langganan mereka. Dengan semangat Dini segera menutup pintu kamarnya dan turun bersama Andi.


Andi menarik tangan Dini yang berjalan terlebih dahulu.


"Kamu kok nggak pake jaket?" tanya Andi


"Lupa, nggak papa ayo udah laper banget nih!"


"Kamu baru sembuh loh Din, angin malem itu nggak baik, kamu......"


"Sssttttt, aku udah laper, bawelnya nanti aja," ucap Dini dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Andi.


Andi melepas jaket yang dikenakannya lalu memakaikannya pada Dini.


"Kegedean hehehe....." ucap Dini dengan merentangkan kedua tangannya dan mengayunkannya, memperlihatkan jaket Andi yang tampak terlalu besar untuknya.


"Nggak papa, gemesin," balas Andi dengan mencubit hidung Dini lalu menggandeng tangannya untuk berjalan meninggalkan kos.

__ADS_1


Langit seperti berpihak pada mereka, karena saat itu gerimis mulai berhenti meneteskan rintik sendunya. Temaram bulan mulai tampak meski sedikit tertutup awan.


__ADS_2