Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kata Hati


__ADS_3

Di vila, Sintia mengurungkan niatnya untuk kembali ke bukit karena hujan yang mulai deras. Ponselnya berdering, ada pesan dari Anita.


"Aku sama Dini masih neduh di toko, jadi nggak usah di cari!" -isi pesan Anita-


Sintia hanya membacanya dan tak membalasnya. Tak lama kemudian, Yoga, Dimas dan Andi datang.


"Dini mana?" tanya Andi pada Sintia. Hujan selalu membuatnya khawatir pada Dini.


"Lagi sama kak Anita," jawab Sintia santai.


"Sama Anita? dimana? kenapa dia nggak balik sama kamu?" cecar Andi, perasaannya mulai tidak enak.


"Sintia balik duluan soalnya mau buang air kecil kak, barusan kak Anita bilang lagi neduh sama kak Dini di...... "


"Kamu ninggalin Dini sama Anita berdua di bukit?"


"Iya, tapi sekarang mereka udah di toko buat neduh!"


Andi segera menaruh barang belanjaannya dan berlari keluar vila.


"Kemana Ndi?" tanya Dimas setengah berteriak, namun tak dihiraukan oleh Andi.


Andi berlari ke arah toko, berharap ada Dini di sana. Ketika ia sampai, hanya ada Anita yang sedang duduk dengan menggenggam minuman di tangannya.


"Dini mana?" tanya Andi pada Anita.


"Dia udah balik duluan, aku ngajak dia neduh tapi dia malah balik duluan, dia......."


"Kalau sampe' Dini kenapa napa, aku nggak akan pernah maafin kamu Nit, aku akan ceritain semuanya sama Dimas!" ucap Andi dengan nada mengancam.


Anita tercekat mendengar ucapan Andi, tapi ia berusaha untuk tidak panik. Ia hanya memberikan senyum tipisnya pada Andi.


Andi berlari ke arah bukit, ia tidak mempercayai ucapan Anita sama sekali. Sialnya, jalanan bukit yang licin membuatnya beberapa kali terjatuh hingga kakinya terkilir. Ia berusaha untuk berdiri, namun tak bisa.


Tanpa Andi tau, Dimas mengikuti Andi yang berlari ke toko. Ketika hendak menghampirinya, Andi sudah berlari menuju ke bukit, Dimaspun kembali mengikutinya ke arah bukit. Ia tidak tau apa yang sedang ia lakukan, ia hanya mengikuti kata hatinya. Ia merasa gelisah, perasaannya tak tenang, ia tak mengerti apa yang sedang terjadi pada hatinya.


Anita yang melihat Dimas berlari ke arah bukit segera mengejarnya.


"Dimas, kamu mau kemana?"


"Kamu liat Andini?" balas Dimas yang balik bertanya.


"Dia udah balik duluan, kamu mau kemana?"


"Tapi di vila nggak ada, aku harus cari dia!"


"Kenapa? kenapa kamu harus cari dia?"


Dimas diam beberapa saat. Ia juga tidak mengerti kenapa ia harus mencari Dini. Seperti ada dorongan dalam hati yang membuatnya mengikuti Andi untuk mencari Dini.


Dimas tak menjawab pertanyaan Anita, ia kembali berlari di bawah guyuran hujan yang semakin deras. Anita masih mengejar Dimas, ia masih berusaha menghentikan Dimas.


"Andi, lo kenapa Ndi?" tanya Dimas ketika melihat Andi yang meringis kesakitan dengan memegangi kakinya.


"Nggak papa, lo cari Dini di atas, gue yakin dia masih di atas!"


"Tapi lo......"


"Gue nggak papa, cepetan cari Dini dan bawa dia balik ke vila!"


Dimas mengangguk dan segera melanjutkan langkahnya namun Anita menahannya.


"Dimas stop, satu kali lagi kamu melangkah, kita selesai!" ucap Anita mengancam.


"Dim, Dini butuh lo, cepet temuin dia dan bawa dia balik ke vila, please Dim ikutin kata hati lo!" ucap Andi pada Dimas.


"Maaf Nit," ucap Dimas pelan lalu kembali berlari ke atas bukit.


Anita masih mengejarnya dan menarik tangan Dimas, membuat keduanya jatuh terguling guling beberapa saat. Mereka sangat kacau, pakaian mereka tak hanya basah tapi juga kotor.


"Kamu nggak papa Nit?" tanya Dimas yang melihat lengan Anita berdarah karena terkena ranting pohon.

__ADS_1


"Kamu pilih aku atau dia Dimas?"


"Anita, tolong ngertiin, dia butuh aku, dia....."


"Kamu tau dari mana kalau dia di atas, aku udah bilang kan kalau dia udah balik duluan, mungkin dia mampir ke suatu tempat sebelum dia balik ke vila!"


Dimas bimbang. Melihat luka di lengan Anita membuatnya iba. Ia melihat Anita bersikeras untuk melarangnya naik ke bukit, sedangkan ia tanpa alasan yang jelas tak mempedulikan ucapan Anita sama sekali. Ia mendekat dan memeluk Anita.


"Aku minta maaf sayang, ayo kita balik!"


Merekapun turun. Andi masih berada di tempat di mana kakinya terkilir.


"Dini mana Dim?" tanya Andi yang tak melihat Dimas bersama Dini.


"Mungkin dia udah turun Ndi, ayo gue bantuin lo berdiri!"


Andi mendorong Dimas yang mencoba untuk membantunya.


"Lo nggak berubah Dim, lo tetep aja lemah sama tangisan palsunya!" ucap Andi lalu dengan sekuat tenaga mencoba untuk berdiri, namun lagi lagi ia terjatuh, kakinya sudah tak mampu menopang tubuhnya sendiri.


"Ndi, jangan paksain kaki lo buat naik!"


"Bahkan di detik terakhir hidup gue, gue akan tetep berjuang buat Dini Dim, please ikutin kata hati lo Dim, gue tau lo hilang ingatan, tapi apa yang ada di hati lo nggak akan pernah hilang, gue tau itu!"


Dimas melepas tangan Anita lalu kembali berlari menaiki bukit.


"Diimaaaaassss!!" teriak Anita, namun Dimas tak mempedulikannya, ia masih terus berlari.


Ya, ia mengikuti kata hatinya. Ada sesuatu yang tak bisa ia mengerti dari mana datangnya. Ia hanya merasa ia harus mencari Dini di atas bukit.


Anita yang hendak berlari mengikuti Dimas, segera di cegah oleh Andi. Andi sengaja memegang kaki Anita, membuat Anita terjatuh dan dengan cepat Andi memegang tangan Anita agar Anita tak terguling guling ke bawah.


Anita mendongakkan kepalanya. Ia melihat Andi yang masih menahan tangannya, perlahan ia kembali naik dan membantu Andi untuk berdiri.


"Aku anter ke vila," ucap Anita datar.


Andi menurut. Tangannya menggantung di pundak Anita, sedangkan Anita memegangi tangan dan pinggang Andi untuk membantunya berjalan. Mereka diam di bawah guyuran hujan sore itu.


Di bukit, Dimas masih mencari Dini. Matanya berkeliling dengan awas. Jantungnya berdegup kencang, ia sangat gelisah, ia merasa takut, takut akan sesuatu yang ia tak mengerti.


Dini masih berada di tempatnya, ia berusaha untuk tetap berada dalam kesadarannya. Ia memegangi ranting pohon di tangannya dengan erat.


"Dimas, aku di sini."


Seekor burung terbang rendah di hadapan Dimas. Burung itu sedikit mencuri perhatian Dimas. Matanya mengikuti arah burung itu terbang. Dimas melangkah mengikuti burung itu hingga tanpa ia sadar kakinya terpeleset dan hampir saja membuatnya jatuh ke jurang.


Ketika hendak kembali berdiri, matanya menangkap sosok yang di carinya. Jantungnya berdetak semakin tak terkendali. Ia segera mendekat dan mengulurkan tangannya pada Dini.


"Andini, raih tanganku, aku akan tarik kamu!"


Dini mendongakkan kepalanya, ia mendengar suara Dimas, namun pandangannya sudah samar. Ia takut jika sedikit saja ia melepaskan tangannya dari ranting, ia akan terjatuh ke dalam jurang yang tak pernah ia tau kedalamannya.


"Andini, percaya sama aku, aku akan bawa kamu balik ke vila, kamu akan baik baik aja, ayo Andini lepas satu tangan kamu dari ranting, aku akan tarik kamu!"


Dimas merasa sangat frustrasi. Ia mencondongkan badannya untuk lebih mendekat ke arah jurang. Ia berusaha menggapai tangan Dini.


Setelah beberapa menit mencoba, ia akhirnya bisa menggapai tangan Dini. Ia menarik tangan Dini dengan sekuat tenaganya. Tubuh Dini berhasil terangkat. Dimas terjatuh dengan Dini yang menindih tubuhnya.


Ia segera membawa Dini ke gazebo yang tak jauh dari tempat itu. Ia pikir akan membutuhkan waktu lebih lama jika ia membawa Dini kembali ke vila.


Ia membopong tubuh Dini yang sudah lemas. Tiba tiba bayangan ingatannya kembali ketika ia membopong seorang perempuan di bawah guyuran hujan. Ia ingin mengingatnya lebih jauh lagi, tapi ia tahan, ia tau kepalanya akan terasa sangat pusing jika ia memaksakan diri untuk mengingatnya. Baginya, yang terpenting sekarang adalah Dini. Ia harus bisa membuat Dini hangat.


Beruntung di gazebo itu ada ranting ranting kayu kering dan korek api. Dimas segera membuat api unggun dan mendudukkan Dini dekat dengan api unggun.


Tak seperti biasanya, Dini masih berada dalam kesadarannya setelah hujan lebat yang mengguyurnya. Meski tenaganya sudah terkuras habis, ia bisa melewatinya tanpa pingsan, meski perasaan gelisah dan takut itu masih ada.


Entah kenapa badan Dimas yang basah itu seakan terasa hangat di pelukan Dini, bahkan lebih hangat daripada api unggun di depannya.


Dimas memeluk Dini dengan erat. Melihat Dini yang pucat dan lemah membuat hatinya terasa sakit. Ada sesak yang mengoyak hati dan perasaannya. Ia mengusap pipi Dini, berusaha memberikan kehangatan pada Dini. Ia membiarkan rasa yang tak ia mengerti menjalari seluruh hatinya. Detak jantungnya masih berdetak sangat cepat, detakan yang ia rasa berbeda dengan ketika ia mencari Dini tadi. Ritme detak jantungnya seperti menyanyikan lagu indah yang membuat mekar bunga bunga di hatinya.


"apa aku bener bener jatuh cinta sama kamu Andini?"

__ADS_1


Dini masih duduk meringkuk dalam pelukan Dimas. Kegelisahan dan ketakutannya perlahan hilang. Ia tidak peduli lagi jika saat ini Dimas adalah tunagangan Anita. Ia sangat merindukan kenyamanan ini, rasa yang sudah lama hilang kini kembali mengisi hatinya.


Ia merindukan Dimas, sangat merindukannya. Jika ia bisa, ia ingin kembali pada waktu dimana mereka bertengkar hebat sebelum Dimas kecelakaan. Ia akan memilih untuk memaafkan Dimas dan tidak akan memintanya untuk pergi dari hidupnya.


Meski berkali kali Dimas mengecewakannya, hatinya masih saja memaafkannya. Cinta di hatinya lebih besar dari rasa kecewa yang ia rasakan.


Sore itu, mereka berdua saling diam dalam pelukan. Menikmati rasa indah yang sudah tertanam kuat di hati mereka.


Tak lama kemudian, hujan reda, langit sudah gelap, hanya cahaya api unggun yang menerangi kegelapan di bukit itu. Di sana dua insan sedang menyesap cinta yang di hadirkan pada hati mereka.


Dari jauh, Dimas melihat cahaya yang berjalan ke arah mereka. Itu adalah suami Bi Em dan Yoga. Mereka sengaja mencari Dimas dan Dini.


Dimas masih diam di tempatnya, ia harusnya senang karena ia bisa kembali ke vila. Tapi hatinya menolak ia masih ingin menghabiskan waktu bersama gadis dalam pelukannya.


"Dimas, Dini, kalian baik baik aja?" tanya Yoga yang sudah sampai di gazebo.


Dimas mengangguk.


Melihat keadaan Dimas yang tampak buruk, di tambah beberapa luka di lengan dan wajahnya, suami Bi Em berinisiatif untuk membantu Dini turun dari bukit.


"Ayo neng, mamang bantu," ucap suami Bi Em yang hendak membantu Dini berjalan, namun Dimas mencegahnya.


"Andini sama saya aja pak!" ucap Dimas tegas.


"Oh, baik mas!"


"Lo yakin? jalannya licin Dim, biar Dini sama gue aja!" ucap Yoga.


"Gue bisa Ga, ayo!"


Dimas kembali membopong Dini untuk turun dari bukit. Dini masih diam. Tenaganya belum benar benar kembali, ia juga masih menikmati perasaan yang salah namun indah di hatinya. Perasaan salah karena Dimas sekarang adalah tunanganan Anita, perasaan indah karena ia bisa menuntaskan rindu yang dipendamnya dalam dalam di hatinya.


Sesampainya di vila, Dimas segera membawa Dini ke kamar. Sudah bisa di tebak, Anita sangat marah melihat hal itu.


Tapi Dimas tak menghiraukannya, ia meminta Sintia untuk membantu Dini berganti pakaian dan ia sendiri membuatkan coklat hangat untuk Dini.


"Kak Dini baik baik aja?" tanya Sintia penuh kekhawatiran.


Dini mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya. Tak lama kemudian Dimas datang membawa coklat hangat untuk Dini.


"Kamu baik baik aja? ada yang sakit? masih dingin?" tanya Dimas pada Dini.


Pelan pelan Sintia meninggalkan kamar dengan senyum penuh kemenangan.


"Minum dulu ya," ucap Dimas sambil membantu Dini meminum coklat panas yang dipegangnya.


"Makasih," ucap Dini pelan.


Dimas mengusap lembut rambut Dini. Entah kenapa hatinya terasa bahagia saat itu. Tangannya turun dan mengusap pipi Dini lalu memeluknya erat.


Detak jantung keduanya seperti berlomba adu cepat. Dini membiarkan Dimas memeluknya. Tak dapat dipungkiri, tatapan penuh cinta dari kedua mata Dimas masih sangat jelas terlihat oleh Dini. Ia bahagia, sangat bahagia. Ia sudah melupakan semuanya. Ia melupakan Dika, ia melupakan Anita, ia melupakan status Dimas yang sudah menjadi tunangan perempuan lain.


Ia membiarkan hatinya bahagia, membiarkan jantungnya berdegup menarikan lagu cinta, membiarkan dunia berhenti berputar untuknya.


Begitu juga Dimas, ia merasa bahagia karena mengikuti kata hatinya. Selama ini ia merasa terkungkung atas rasa bersalahnya pada Anita dan sekarang ia melupakan semuanya. Ia hanya merasakan kebahagiaan ketika ia bersama Dini.


Tak lama kemudian, Anita membuka dengan kasar pintu kamar itu, membuat Dini segera menarik diri dari pelukan Dimas.


Anita menarik napasnya dalam dalam. Ia sudah pernah melihat hal itu di kafe dan sekarang terulang lagi di hadapannya.


"apa kamu sengaja permainin aku Dimas?"


Anita mendekat dan berdiri di hadapan Dimas.


"Kenapa di lepas? lanjutin aja!" ucap Anita sinis.


"Ayo keluar!" ucap Dimas dengan menarik tangan Anita untuk diajak keluar dari kamar.


Dini hanya diam, membiarkan Dimas pergi bersama Anita.


"Aku nggak tau ya Dim apa yang udah kalian berdua lakuin di belakang ku, aku nggak tau apa kalian ada hubungan atau enggak, aku capek Dimas, capek sama semua sikap kamu!"

__ADS_1


"Aku juga nggak tau apa selama ini kamu jujur atau enggak sama aku, kamu lupa kamu pernah bilang kalau kamu fobia hujan, tapi tadi? kamu bahkan baik baik aja sampe' sekarang, apa kamu bisa jelasin itu?"


Anita tercekat mendengar ucapan Dimas. Ia merasa bodoh karena lupa dengan kebohongannya sendiri.


__ADS_2