
Dini yang diam diam mengikuti Dimas kini bersembunyi di balik tembok dekat dengan tempat pembuangan. Ia melihat Anita sudah ada di sana, seperti sengaja menunggu Dimas.
"Din, ngapain?" tanya Andi yang tiba tiba datang.
"Sssssttttttt, jangan berisik!" balas Dini dengan suara pelan.
"Ada apa sih?" tanya Andi tak mengerti namun ikut memelankan suaranya.
Dini tak menjawab, hanya menunjuk ke arah Dimas dan Anita. Andipun ikut menguping pembicaraan mereka.
Andi dan Dini begitu terkejut mendengar pernyataan Anita pada Dimas. Ada sedikit emosi yang dirasakan Dini. Bagaimana mungkin seorang Anita yang dikenal baik dan ramah itu mempunyai pikiran buruk seperti itu. Terlebih ia sudah berpura pura mendekati Andi untuk menjauhkan Andi dari Dini dan sekarang ia ingin merebut Dimas dari Dini.
Tak hanya sampai di situ keterkejutan Dini, karena ia sekarang tau jika Anitalah yang memberinya surat ancaman selama ini dan yang membuatnya sangat kecewa adalah Dimas mengetahui hal itu dan menyembunyikannya dari Dini.
"kenapa kamu sembunyiin ini dari aku Dim? apa bener kamu lindungin dia karena kamu suka sama dia? kenapa Dimas? kenapa banyak hal yang kamu sembunyiin dari aku?" batin Dini dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya namun ia tahan agar tidak tumpah saat itu.
Andi hanya menghembuskan napasnya kasar mendengar percakapan Dimas dan Anita. Ia mengenggam erat tangan Dini, berusaha menguatkan Dini. Ia tau jika Dini pasti hancur mendengar semua fakta pahit yang sudah Dimas dan Anita sembunyikan darinya.
"Ayo pergi Din!" ucap Andi pada Dini, namun Dini menggeleng.
Setelah Dimas pergi meninggalkan Anita, Dini segera keluar dan menghampiri Dimas membuat Dimas sangat terkejut dengan adanya Dini di tempat itu.
"Andini, kamu......"
"Iya, aku udah denger semuanya," ucap Dini dengan menahan air mata yang sudah siap untuk tumpah.
"Andini, aku......."
"Aku suka sama Dimas Din, maaf!" ucap Anita menyela ucapan Dimas.
"Maafin aku Ndi, aku nggak bisa bohongin perasaanku terus terusan, makasih udah baik dan peduli sama aku, walaupun aku awalnya suka sama kamu, tapi perhatian Dimas bikin aku jatuh cinta sama dia!"
"Stop Nit, jangan lanjutin omong kosong kamu itu!" balas Dimas emosi.
"Omong kosong apa Dimas? aku beneran jatuh cinta sama kamu, aku yakin cinta aku lebih besar daripada cinta Dini buat kamu!"
"Kamu nggak tau apa apa tentang perasaanku Nit!" ucap Dini pada Anita.
"Aku tau Din, kamu itu serakah, kamu punya Andi yang selalu ada buat kamu tapi kamu juga mau Dimas, kamu pilih Dimas tapi kamu nggak mau ninggalin Andi, kamu egois Din, kamu mainin hati orang orang yang udah tulus sama kamu, harusnya kamu sadar kamu itu cuma beruntung bisa sekolah di sini!"
PLAAAKKKK!!
Tamparan keras Dimas akhirnya jatuh di pipi Anita.
"Aku udah bilang, jangan paksa aku buat kasar sama kamu ANITA!"
"Aku nggak peduli Dimas, yang aku mau cuma kamu, aku cuma mau sama kamu, tampar aku lagi aku nggak peduli!" balas Anita yang tak kalah emosi.
"Kamu bener bener sakit Nit, sakit jiwa kamu!"
"AKU NGGAK PEDULI DIMAS, AKU NGGAK PEDULIII!!" teriak Anita kencang.
"Ambil Dimas kalau emang kamu mau dia, dia udah bukan siapa siapa lagi buat aku, dia cuma tamu yang numpang lewat di hidupku, aku yang salah karena udah kasih semua yang dia inginkan dari aku!" ucap Dini pada Anita.
"Andini, jangan kayak gini, aku janji akan cerita semuanya sama kamu, aku janji nggak akan....."
"Simpan janji kamu buat cewek lain Dimas, aku udah nggak peduli semua janji palsu kamu itu!"
"Andini, aku mohon, aku harus gimana biar kamu maafin aku, aku salah aku minta maaf, aku mohon Andini, aku tau kamu masih sayang sama aku, aku tau kamu nggak akan mudah lupain aku, jadi aku mohon, kita ulangi lagi semuanya dari awal, ya!" ucap Dimas memohon.
Dini menarik napasnya panjang, membuang jauh jauh emosi yang sudah terasa di ubun ubun.
PLAAAAKKK!!
Satu tamparan mendarat di pipi Dimas membuat Dimas tersentak kaget, namun hanya diam menerimanya. Ia merasa dirinya memang pantas menerima itu dari Dini. Ia siap menerima konsekuensi apapun atas kesalahannya asalkan ia masih bisa tetap bersama Dini.
"Jangan pernah temui aku lagi!" ucap Dini lalu melangkah pergi, namun segera di tahan oleh Dimas.
__ADS_1
"Andini, aku mohon jangan pergi, aku tau aku salah, aku terima kalau kamu marah sama aku, tapi tolong jangan pergi, aku sayang sama kamu, aku nggak peduli sama Anita, aku nggak peduli kalau dia......."
"Nggak peduli? kamu yakin kamu nggak peduli sama dia? kamu cerdas Dim, harusnya kamu tau kata kata yang kamu ucapin itu sama sekali nggak sesuai sama kenyataan yang udah kamu perbuat, mulai sekarang anggap kita nggak pernah kenal dan jangan pernah temui aku lagi, kamu udah bukan siapa siapa buat aku!" ucap Dini dengan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.
"Enggak Andini, aku nggak bisa lagi kehilangan kamu, aku mohon jangan kayak gini," ucap Dimas memohon.
"Aku nyesel karena selalu kasih kesempatan buat kamu, harusnya aku tau dari awal kalau aku ini cuma mainan kamu, udah berapa kali salah paham yang selalu jadi alasan kamu Dim? aku capek sama semua ini, hati aku sakit Dimas, sakiiittt," ucap Dini dengan air mata yang sudah luruh membasahi pipinya.
"Aku minta maaf, aku janji ini yang terakhir kali aku......"
"Ini yang terakhir kali kita ketemu, biarin aku pergi Dimas, biarin aku bahagia tanpa kamu, aku yakin aku akan lebih bahagia tanpa kamu!"
"Enggak Andini, cuma aku yang bisa bikin kamu bahagia!"
Dini hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Dimas, karena tak hanya sekali atau dua kali Dimas membuatnya menangis karena sikapnya. Kebaikan Dimas sudah membuat Anita salah paham, namun Dimas tak pernah belajar dari kesalahan yang sudah dilakukannya, membuat Dini benar benar kecewa padanya.
"Lepas Dim!" ucap Andi dengan melepas paksa tangan Dimas yang menggenggam Dini.
"Lo emang brengsek, kalian cocok!" ucap Andi dengan menoleh ke arah Anita dan Dimas.
"Gue nggak akan biarin Andini sama siapapun selain gue, termasuk lo Ndi!" ucap Dimas yang kini sudah emosi.
"Udah Ndi, ayo pulang!" ucap Dini dengan menarik tangan Andi untuk meninggalkan tempat itu.
"LIAT AJA ANDINI, CUMA AKU YANG AKAN JADI MASA DEPAN KAMU!" ucap Dimas dengan berteriak menumpahkan semua rasa yang menyiksanya saat itu.
Dini hanya diam dengan air mata yang tak berhenti menetes dari sudut matanya. Hatinya terasa sakit menerima kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"aku yakin aku bisa bahagia tanpa kamu Dimas," ucap Dini dalam hati lalu menyeka air matanya.
"Kamu liat kan Dim? masa depan kamu udah pergi, tapi aku nggak akan pergi dari kamu, aku cinta sama kamu Dimas," ucap Anita pada Dimas.
"Persetan sama cinta Nit, buat aku cuma Andini yang berhak jadi masa depanku!" ucap Dimas lalu segera pergi meninggalkan Anita.
"Diimaaaaassss!!!" panggil Anita dengan berteriak, namun diabaikan oleh Dimas.
Sedangkan Dimas, ia segera menghampiri Sintia yang sedang rapat OSIS di aula sekolah.
"Kakak bawa mobil kamu ya!" ucap Dimas pada Sintia.
"Terus Sintia gimana?"
"Kamu minta jemput Yoga aja, please!" ucap Dimas memohon.
"Ya udah kalau gitu, nih!" balas Sintia dengan memberikan kunci mobilnya pada Dimas.
Dimas segera menuju ke tempat parkir mobil dan mencari mobil Sintia.
"Kamu pulang sama aku kan?" tanya Anita yang melihat Dimas di tempat parkir.
"Setelah apa yang udah kamu lakuin? nggak punya malu kamu Nit!" balas Dimas ketus lalu segera masuk ke mobil Sintia dan mengendarainya keluar dari sekolah.
Dalam perjalanan pulangnya, Dimas melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Pikirannya kacau saat itu. Ia sedih karena sikap Dini padanya, tapi ia juga marah, sangat marah dengan keadaan yang membuatnya harus terpojok tanpa ada pilihan untuknya.
"Aku sayang kamu Andini, aku cinta sama kamu, aku yakin cuma aku yang bisa bikin kamu bahagia," ucap Dimas dengan air mata yang perlahan menetes begitu saja.
"NGGAK ADA YANG NGGAK BISA AKU MILIKI, TERMASUK KAMU ANDINI, KAMU MILIKKU, SELAMANYA KAMU CUMA BUAT AKU!" teriak Dimas dengan menambah kecepatan mobilnya.
Karena pikirannya yang sudah kacau, ia sudah tidak fokus lagi mengendarai mobil Sintia. Akibatnya ketika ia hendak mendahului mobil di depannya tanpa ia sadar ada truk besar yang sudah siap untuk menghantam mobilnya yang sudah memakan jalur disampingnya.
Mobil yang dikendarai Dimas pun terguling guling hingga menabrak pembatas jalan dan jatuh ke sungai.
***********
PYAAARRRRRR!!
Gelas di tangan Dini tiba tiba saja jatuh saat ia hendak minum. Ia pun segera membereskan pecahan gelasnya dan tanpa sengaja membuat jarinya terluka karena pecahan gelas yang tajam.
__ADS_1
"kenapa perasaanku jadi gelisah gini ya, apa karena Dimas? enggak, ini nggak ada hubungannya sama Dimas, mungkin karena udah lama aku nggak telfon ibu, aku harus telfon ibu," ucap Dini dalam hati.
Setelah membereskan pecahan gelas di lantai, Dini segera mengambil ponsel dari tasnya berniat untuk menghubungi ibunya.
Namun ketika ia membuka screen lock ponselnya, foto Dimas dan dirinya terpampang di layar ponselnya membuat hatinya kembali sesak.
Ia pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi ibunya. Ia memilih untuk membuka buku pelajarannya, berusaha menyibukkan pikirannya dengan belajar. Namun tetap saja, bayangan Dimas terus memutari otaknya seakan enggan untuk dilupakan.
Di tempat lain, Anita yang sedang mengendarai mobilnya dengan kesal semakin dibuat kesal dengan keadaan jalan yang tiba tiba macet, karena setaunya jalanan yang ia lewati itu tak pernah macet sebelumnya.
"Permisi Pak, ini kenapa ya kok macet?" tanya Anita pada pengendara lain di depannya.
"Ada kecelakaan dek di depan, mobil sama truk!" jawab pengendara itu.
"Oh, makasih Pak!"
Anitapun berjalan maju meninggalkan mobilnya. Melihat separah apa kecelakaan yang terjadi hingga membuat jalanan menjadi macet.
Truk besar terlihat terguling di tengah jalan raya dengan beberapa petugas kepolisian yang membantu mengurai kemacetan dengan rekayasa lalu lintas menggunakan sistem buka tutup jalan.
Anita mengedarkan pandangannya namun tak melihat mobil yang ditabrak oleh truk itu. Namun ketika hendak kembali ke mobilnya, ia melihat salah satu petugas kepolisian membawa plat nomor mobil yang terlihat tidak asing di matanya.
Deg!
Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Kakinya terasa lumpuh, tak mampu menahan badannya. Ia segera berlari ke arah petugas kepolisian itu meski di hadang oleh beberapa petugas yang lain. Ia ingin memastikan pengelihatannya, ia berharap ia salah melihat plat nomor itu atau ingatannya yang salah walaupun dalam hati kecilnya ia yakin jika itu adalah plat nomor dari mobil Sintia.
Meski ia tak menghafalnya, siapapun akan dengan mudah mengingat plat nomor mobil Sintia yang hanya terdiri dari 4 digit nomor yang sama.
"Pak, saya kenal plat nomor itu pak, saya cuma mau mastiin aja pak, saya mohon!" ucap Sintia pada petugas kepolisian dengan air mata yang sudah luruh membasahi pipinya.
"Baiklah kalau begitu, silakan!"
Petugas kepolisian itupun menunjukkan plat nomor yang sama persis dengan mobil Sintia pada Anita.
"Apa benar plat nomor ini yang kamu maksud?"
Anita mengangguk lemah karena itu benar benar plat mobil Sintia yang dikendarai Dimas.
"Kami menemukan plat nomor ini di dekat pembatas jalan, saat ini tim kami sedang berusaha mengevakuasi korban yang sudah terjatuh ke sungai bersama mobilnya," jelas petugas kepolisian itu.
Air mata Anita bercucuran mendengar penjelasan petugas kepolisian itu. Ia jatuh terduduk, bumi yang dipijaknya seakan runtuh saat itu juga. Ia tak mampu lagi berdiri, ia sudah kehilangan kekuatan, harapan dan masa depannya sekaligus.
Tim SAR yang bertugas saat itu sudah menyisir sungai beberapa lama namun belum juga menemukan tubuh Dimas yang sudah dipastikan hanyut terbawa arus, sedangkan beberapa bagian mobilnya masih tersangkut pada batu besar yang ada di sungai itu.
Melihat keadaan sungai yang dalam dan berarus deras, tim SAR dengan dibantu warga sekitar memutuskan untuk memperluas wilayah pencarian dengan harapan segera menemukan tubuh Dimas yang entah masih hidup atau hanya tinggal jasadnya saja.
Sedangkan Anita dibawa oleh petugas kepolisian untuk menjauh dari tempat kejadian perkara.
**************
Di sekolah, Sintia masih menunggu Yoga datang. 20 menit menunggu akhirnya mobil Yoga terlihat di depan gerbang sekolah. Sintiapun segera menghampirinya dengan bibir manyunnya.
"Udah nunggu lama ya!"
"Banget!"
"Jangan ngambek dong, tadi macet jalannya!"
"Kalau bikin alasan yang masuk akal dong kak, dari kafe ke sekolah itu nggak pernah macet, lain kali kalau bohong cari alasan yang bener dulu!" gerutu Sintia kesal.
"Beneran Sin, kakak nggak bohong, kayak abis ada kecelakaan makanya macet," jelas Yoga.
"Ya udah ayo pulang, Sintia laper nungguin kakak nggak dateng dateng!"
"Kalau gitu cari makan dulu ya, kita lewat jalan lain aja, takutnya masih macet!"
"Terserah kakak!"
__ADS_1