
Dini kembali ke kampusnya, memgambil ponselnya dan menghubungi Cika.
"Halo Cik, aku lagi di kantin nih, ke sini ya!"
"Oke, on the way!"
Dini membersihkan luka di siku dan betisnya dengan tissue yang dibawanya.
Tiba tiba David datang dan duduk di sebelahnya.
"Kamu kenapa? abis jatuh?" tanya David.
Dini mengangguk.
David mengeluarkan plester dari tasnya dan membalut luka Dini dengan plester yang dibawanya.
"Din, aku minta maaf ya, soal kemarin......"
"Nggak usah dibahas lagi, nggak papa, aku akan balikin semua yang kamu kasih!"
"Enggak Din, jangan, maaf karena udah bohong sama kamu."
Dini hanya tersenyum tipis, tak menjawab sepatahkatapun.
"Dia Clarisa, tunangan aku, dia......"
"Gimana bisa kamu berusaha bikin aku jatuh cinta sedangkan kamu udah punya tunangan!"
"Aku terpaksa Din, orangtua ku jodohin aku sama dia, aku nggak bisa nolak, tapi aku nggak suka sama dia, aku suka sama kamu Din, aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita ketemu di perpustakaan kota!"
"Terus sekarang mau kamu apa David?"
"Aku mau kita tetep jalanin hubungan kita, yang aku cinta kamu bukan Clarisa, aku janji akan selalu prioritasin kamu daripada dia!"
"Orangtua kamu?"
"Kita bisa backstreet, kita.........."
"Aku bukan perebut tunangan orang David, lupain semua perasaan kamu itu, kita bisa jadi temen kalau kamu mau!"
"Enggak Din, aku butuh kamu lebih dari teman, aku mohon!" ucap David memohon dengan menggenggam tangan Dini namun Dini segera menarik tangannya dengan kasar dan pergi meninggalkan David.
Cika yang melihat hal itu segera berlari menghampiri Dini.
"Ada apa Din? kalian berantem?"
"Putus!"
"Haahhh, lagi??"
Dini mengangguk.
"Kenapa Din? kenapa cowok se perfect David juga bisa putus dari kamu?"
"Perfect?"
"Iya, dia cakep, tajir, romantis, suka kasih hadiah lagi!"
"Jadi cowok perfect menurut kamu itu cowok yang selingkuh dari tunangannya?"
"Selingkuh? tunangan? maksud kamu?"
"Dia udah punya tunangan Cika, kamu mau aku jadi pelakor?"
"Iiihhh amit amit, jangan Din, kamu pasti dapet yang lebih dari David, jangan jadi pelakor ya?"
"Hahaha, enggak lah!"
"Kenapa kamu nggak pacaran sama Andi aja sih?"
"Andi? mana mungkin, dia sahabat aku, mana mungkin kita pacaran!"
"Why not? dia yang paling ngertiin kamu, dia yang selalu ada buat kamu, dia....."
"Dia sahabat aku!"
"Hmmmm, ya udah lah terserah kamu, tapi kenapa kamu tiba tiba keluar tadi?"
"Ada masalah dikit!"
"Aku boleh tau?"
"Enggak hehehe....."
"Huuuu.... dasar!"
**************
Tepat jam 3, Dini sudah berada di kafe, memakai seragam dengan name tag yang baru di dapatkannya dari Tari.
"Din, kamu udah lama ya kenal Pak Yoga?" tanya Tari pada Dini.
"Mmmm, lumayan, kenapa?"
"Kamu tau dia pedofil?"
"Haahhh, pedofil?"
"Huuuusssttttt, jangan kenceng kenceng!" ucap Tari dengan menutup mulut Dini dengan tangannya.
"Kamu bilang Pak Yoga pedofil, kenapa?" tanya Dini dengan menahan tawanya.
"Ada yang pernah liat Pak Yoga jemput cewek SMA, terus ciuman di mobil waktu di tempat parkir, aku juga pernah liat sendiri waktu Pak Yoga bawa cewek itu ke sini, dia masih pake' seragam SMA dan diajak masuk ke ruang kerja!" jelas Tari dengan mimik wajah serius.
Dini hanya menahan tawanya mendengar cerita Tari, ia yakin cewek SMA yang dimaksud Tari adalah Sintia.
"Udahlah biarin, yang penting kan Pak Yoga tetep bertanggung jawab sama kafe!"
"Iya juga sih, tapi kayaknya sekarang Pak Dimas yang gantiin posisi Pak Yoga ya?"
Dini mengangkat kedua bahunya, tak menjawab apapun.
"Pak Dimas ganteng banget ya Din, siapa ya cewek beruntung yang akan jadi istrinya nanti, masih muda tapi udah sukses, nggak cuma cocok jadi boyfriend material, tapi juga husband material hehehe....."
Dini hanya tersenyum tipis mendengar cerita Tari. Mereka kemudian kembali sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Di sisi lain, Dimas sedang menghubungi Anita, memastikan tentang hubungan mereka saat itu.
"Iya, kita tunangan waktu kamu masih di Singapura," jawab Anita ketika ia sudah menerima panggilan Dimas.
"Kenapa?" tanya Anita.
"Nggak papa, aku kangen sama kamu," jawab Dimas sekenanya.
__ADS_1
"Aku udah mutusin buat nggak lanjutin kuliah ku di sini, aku mau balik ke Indonesia biar bisa deket kamu!"
"Kamu yakin?"
"Seratus persen yakin, aku nggak tenang jauh dari kamu!"
"takut Dini akan ambil kamu dari aku!"
"Kapan kamu ke sini?"
"Minggu depan, jemput di bandara ya!"
"Oke!"
Dimas melemparkan ponselnya ke kasur. Entah kenapa ia merasa tidak senang dengan kedatangan Anita.
Dimas memejamkan matanya dan tertidur.
*******************
Hari kedatangan Anita tiba.
Dini berjalan dari kampusnya, menuju ke kafe bersama Andi.
"Tumben kamu betah jomblo, mau aku kenalin temen ku?" tanya Andi pada Dini.
"Enggak ah Ndi, aku lagi nggak mood pacaran hehehe....."
"Jangan bilang gara gara Dimas!"
"Enggak lah, aku sama dia udah jauh berbeda, dengan status ku sebagai waiters nya itu semakin jadi jarak buat aku sama Dimas."
"Jaga hati kamu baik baik Din, jangan biarin dia terluka lagi!"
Dini mengangguk dengan senyum manisnya.
Tak dapat dipungkiri, rasa yang tertanam jauh di relung hatinya tak akan mudah hilang begitu saja. Rasa yang sudah dengan susah payah ia kubur namun semakin tumbuh di hatinya dan sekarang, kehadiran Dimas seperti air yang menyirami rasa itu, membuatnya semakin tumbuh menyesaki setiap sudut di hatinya, membuat siapapun akan sulit untuk menggantikannya.
Namun Dini sadar, takdir cintanya bersama Dimas telah usai. Kehadiran Dimas bukanlah untuk melanjutkan kisah cinta mereka, namun untuk memperjelas jika pilihan untuk melupakan adalah pilihan yang paling tepat.
"Udah nyampe', aku masuk dulu ya!" ucap Dini ketika mereka sudah sampai di depan kafe.
Andi mengangguk dan segera meninggalkan kafe.
Ketika memasuki kafe, Dini melihat teman temannya sedang berkumpul dan sudah pasti mereka sedang bergosip.
"Ada apa nih?" tanya Dini yang baru datang.
"Eh, kamu tau nggak, Pak Dimas ternyata udah punya tunangan loh!"
"Tunangan? kalian tau dari mana?"
"Aku denger sendiri waktu Pak Dimas ngomong sama Pak Yoga dan sekarang Pak Dimas lagi jemput tunangannya di bandara!"
Dini hanya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan teman temannya.
"tunangan? siapa? kenapa secepat ini? kenapa...... aaarrrgghhh, biarin, aku nggak peduli!" ucap Dini dalam hati sambil memukul mukul kepalanya sendiri.
"Kamu kenapa Din?" tanya Tari yang melihat Dini memukul mukul kepalanya sendiri.
"Nggak papa, pusing dikit hehehe......"
Dinipun segera masuk dan memakai seragamnya.
"Kemana kak? eh Pak?"
"Ke tempat Toni, ayo buruan!"
Dengan masih mengenakan seragamnya, Dini mengikuti perintah Yoga untuk ke kafe pertama.
Tanpa Dini tau, Yoga sengaja menjauhkan Dini dari Anita. Ia yakin jika Dini akan sangat terkejut dan sedih ketika ia tau bahwa tunangan Dimas adalah Anita, sahabat dekatnya ketika SMA, setidaknya itulah yang dipikirkan Yoga saat itu.
Di bandara, Dimas menunggu kedatangan Anita. Ia merasa tidak bersemangat dan terpaksa melakukan hal itu.
"Ayolah Dimas, semangat dong, ini tunangan kamu mau dateng loh!"
10 menit menunggu, seorang perempuan cantik dengan rambut terurai datang menghampirinya dengan senyum merekah di bibirnya.
Dimas ingat, dia adalah salah satu perempuan dalam video yang ia lihat setiap hari, dialah Anita "kekasihnya" yang sekarang sudah menjadi tunangannya.
Anita mendekat lalu memeluk Dimas erat, Dimas membalas pelukannya dengan hambar.
Tak seperti pasangan kekasih pada umumnya, tak ada rasa bahagia di hati Dimas melihat "kekasih" nya datang dan memeluknya. Ia justru merasa sedih, gelisah dan banyak perasaan tidak nyaman di hatinya.
Namun ia sudah melakukan hal di luar batas pada Anita. Kejadian di Singapura membuatnya harus menebus dosanya pada Anita. Suka atau tidak, Anita sekarang adalah tunangannya dan sangat tidak mungkin baginya untuk meninggalkan Anita.
"Jadi ke kafe?" tanya Dimas pada Anita.
"Iya, kamu kan udah janji sama aku!"
Dimas tersenyum lalu melajukan mobilnya ke arah kafe.
Sesampainya di kafe, Dimas menggandeng tangan Anita dan mengajaknya untuk masuk ke ruang kerjanya.
"Kamu tunggu di sini ya, aku ambilin minum dulu!"
Anita mengangguk.
Di luar, Tari dan teman temannya sudah heboh membicarakan Anita dan Dimas.
"Cantik sih, tapi kayaknya sombong ya, nggak ada ramah ramahnya sama sekali!"
"Iya, namanya juga orang kaya, wajar!"
"Eh, bos kita juga kurang kaya apa coba, tapi tetep ramah!"
"Iya juga sih, aku nggak setuju deh kalau dia sampe' nikah sama bos kita!"
"Bener, aku juga nggak setuju!"
"Sayang banget ya Dini nggak ada di sini, kalau dia di sini pasti dia juga nggak suka tuh sama tunangannya bos!"
Sebelum kafe tutup, Dimas mengantarkan Anita pulang ke rumahnya.
"Kamu dari tadi banyak diem, kenapa?" tanya Anita pada Dimas.
"Maaf sayang, pusing mikirin kafe!" jawab Dimas beralasan.
"Kenapa nggak kamu biarin Yoga aja sih yang ngurus kafe, kamu kan harus banyak istirahat!"
"Yoga udah banyak bantuin aku, sekarang waktunya aku turun langsung di bisnis aku sendiri!"
"Yang penting kamu jangan sampe' sakit ya!"
__ADS_1
"Iya sayang, oh iya, ada yang mau aku tanyain sama kamu!"
"Apa?"
"Kamu punya fobia?"
"Fobia? fobia apa?"
Anita mengernyitkan keningnya, otaknya berpikir dengan cepat.
"kenapa Dimas tiba tiba tanya soal fobia? apa dia ingat sesuatu tentang fobia? apa dia ingat kalau Dini fobia hujan? enggak, nggak mungkin, Dimas nggak mungkin mau jemput aku kalau dia udah inget semuanya, tapi kenapa......"
"Aku fobia hujan!" lanjut Anita cepat.
Dimas tersenyum dan mengusap lembut rambut Anita.
"Aku nggak bisa kehujanan, aku bisa pingsan kalau kehujanan, kamu tau waktu kita SMA, aku pernah pingsan waktu hujan dan kamu panik banget saat itu!" jelas Anita berbohong.
Setelah mengantarkan Anita ke rumahnya, Dimas segera kembali ke kafe.
"Dini libur?" tanya Dimas pada Tari.
"Dia diajak Pak Yoga ke kafe pertama Pak!" jawab Tari.
Sehari saja ia tak bertemu Dini, ia merasa ada yang kurang di hatinya.
5 menit sebelum kafe tutup, Dini sudah kembali ke kafe tempatnya bekerja.
"Dari mana aja kamu?" tanya Dimas pada Dini.
"Dari kafe pertama Pak," jawab Dini.
"Kamu pikir kamu siapa bisa seenaknya kesana kemari tanpa izin saya?"
"Maaf Pak, tadi Pak Yoga yang......."
"Kamu nyalahin Yoga?"
"Enggak pak, tapi saya tadi......."
"Cepet beres beres, bentar lagi tutup!"
"Iya Pak!"
"gini nih kalau punya bos berkepribadian ganda, kemarin aja main peluk peluk di jalan, sekarang galak nya nggak ketulungan, ngeselin!"
"Kenapa kamu nggak balik balik sih Din, tadi Pak Dimas ke sini sama tunangannya loh!" ucap Tari pada Dini.
"Sekarang udah pulang?"
"Udah, barusan, telat kamu!"
"Gimana gimana? pasti cantik ya!"
"Cantik sih, tapi judes banget, nggak cocok sama bos kita!"
"Kalian kan belum kenal, siapa tau dia baik!"
"Enggak mungkin, senyum aja enggak, senyumnya buat Pak Dimas doang, nggak ada ramah ramahnya!"
"Udah ah, jangan diomongin terus, kasian matanya kedutan nanti hahaha....."
"Hahaha......"
Merekapun tertawa mendengar ucapan Dini.
Di luar kafe, Dimas sengaja menunggu Dini untuk mengantarnya pulang, tanpa ia tau sudah ada Andi yang menunggu Dini di pos satpam.
"Saya anter kamu!" ucap Dimas pada Dini.
"Maaf Pak, saya udah di....."
"Din!" panggil Andi dengan melambaikan tangannya lalu menghampiri Dini.
Dini tersenyum dan membalas lambaian tangan Andi.
"Saya permisi Pak!" ucap Dini lalu meninggalkan Dimas, namun Dimas segera menahan tangannya membuat Dini menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dimas.
"Hati hati," ucap Dimas pelan lalu melepaskan tangan Dini ketika Andi sudah mulai mendekat.
"Ayo Din, udah selesai kan?" tanya Andi dengan menarik tangan Dini untuk digandengnya.
Dini mengangguk dengan tersenyum manis.
"Permisi Pak, kita pulang dulu!" ucap Andi pada Dimas.
Dimas hanya diam membiarkan Dini pergi bersama Andi. Ada sesak di hatinya yang membuatnya tidak menyukai kedekatan Dini dan Andi.
Ia masih tidak mengerti dengan perasaanya sendiri. Ia begitu bahagia ketika bersama Dini, jauh berbeda dengan ketika ia bersama Anita.
Di perjalanan pulang, Andi dan Dini masih bergandengan tangan hingga mereka sampai di tempat kos.
Dini tidak segera masuk ke kamarnya, ia masih duduk bersama Andi di kursi panjang di depan kamar Andi.
"Dimas udah tunangan Ndi!" ucap Dini pada Dimas.
"Tunangan? sama siapa?"
Dini menggeleng.
"Gosip mungkin, orang kayak Dimas pasti banyak yang mau deketin, bahkan sampe' ngaku tunangannya, ibaratnya tuh Dimas sekarang kayak CEO CEO di drakor yang suka kamu liat itu, masih muda, sukses, cakep lagi, cewek mana yang nggak mau sama dia, ya kan?"
"Tapi beneran Ndi, tadi dia ngajak tunangannya ke kantor!"
"Kamu liat?"
"Enggak sih, kak Yoga ngajak aku ke kafe pertama tadi, jadi aku nggak tau waktu dia dateng sama tunangannya!"
"Ceweknya kayak gimana ya Din? apa dia juga orang kaya? tapi di drakor biasanya ceweknya pasti orang biasa, ya kan?"
"Kamu kebanyakan nonton drakor deh Ndi!" balas Dini dengan mencubit kecil lengan Andi.
"Hahaha, bener gitu kan?"
"Tapi ini kan dunia nyata Ndi, mamanya Dimas nggak mungkin izinin Dimas tunangan sama sembarang orang, iya kan?"
"Iya sih, itu lebih masuk akal!"
"Makanya jangan kebanyakan liat drakor kamu!" ucap Dini lalu pergi meninggalkan Andi.
Andi hanya tersenyum tipis melihat Dini menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"apa kamu baik baik aja Din? apa kamu bener bener udah lupain Dimas? apa aku sanggup nahan perasaan aku selamanya sama kamu?"
__ADS_1