
Lanjutan Flashback di Singapura (terakhir)
Di bawah sinar bulan yang temaram, di temani gemerlap lampu kota yang berwarna warni, Dimas duduk di sebuah taman dengan note book di tangannya. Ia mulai menulis banyak hal tentang hari itu.
Tak jarang ia memperhatikan sepasang muda mudi yang sedang merajut kasih di sana. Duduk berdua, bercanda dan bercerita tentang banyak hal, terlihat sangat hangat dan penuh cinta.
Ia mencoba membayangkan dirinya yang seperti itu bersama Anita. Tapi tak bisa, hatinya seperti menolak untuk melakukannya.
Dimas melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi taman dan jalanan itu masih terlihat sangat ramai.
Dimas berdiri dari duduknya dan mulai meninggalkan keramaian malam itu, kembali ke kamarnya dan memejamkan mata dengan harapan tak akan ada yang ia lupakan esok hari.
******************
Alarm pagi membangunkan Dimas yang masih tertidur lelap. Ia segera mematikan alarm dengan mata yang masih tertutup. Namun matanya segera terbuka begitu menyadari seorang wanita yang masuk ke kamarnya dan membuka gorden jendelanya.
Wanita itu tersenyum ke arahnya dan menunjuk ke arah meja di samping tempat tidurnya. Reflek ia melihat ke arah yang ditunjuk wanita itu, sebuah catatan, ponsel dan note book.
Buka videonya ya sayang!
Dimas segera mengambil ponsel di bawah catatan itu dan memutar video di dalamnya. Ia lalu membuka note book miliknya dan mulai membacanya. Sedangkan wanita yang berada di kamarnya, masih tetap berada di tempatnya berdiri, di tepi jendela sambil memperhatikan dirinya intens.
Dimas tersenyum dan segera turun dari tempat tidurnya, mendekati wanita itu dan mencium keningnya.
"Pagi mama," sapa Dimas pada mamanya.
"Pagi sayang!"
Dimaspun keluar dari kamar bersama mamanya.
"Hari ini kamu libur, mau kemana?" tanya mama Dimas.
"Dimas mau cari buku sama Anita ma!"
"Buku kamu udah banyak banget itu, masih mau cari lagi?" tanya mama Dimas meyakinkan.
Dimas mengangguk.
Tak lama kemudian, Anita datang, tepat setelah Dimas dan mama papanya selesai menyantap sarapan mereka.
"Pagi sayang," sapa Dimas dengan mencium kening Anita.
"Pagi juga sayang," balas Anita dengan mencium pipi Dimas.
"Duduk dulu Nit, aku mandi dulu!" ucap Dimas pada Anita.
Anita mengangguk dan duduk di sebelah mama dan papa Dimas.
"Pagi ma, om!" sapa Anita pada mama dan papa Dimas dibalas dengan senyum oleh keduanya.
"Gimana kuliah kamu Nit?" tanya Pak Tama pada Anita.
"Lancar om!"
"Kalau Dimas balik ke Indonesia, kamu masih tetep di sini kan?"
"Mmmm, Anita belum tau om, mungkin Anita bakalan ikut Dimas!"
"Kuliah kamu gimana?"
"Anita belum mikirin itu om, yang penting Anita........"
"Kuliah itu penting Nit, kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang, kejar impian dan cita cita kamu dulu, baru kamu mikirin yang lain, jangan dibalik!" ucap Pak Tama mengingatkan.
"Ii... iyaa om!"
"impianku Dimas dan cita citaku milikin Dimas seutuhnya, jadi apa salahnya kalau aku ikut Dimas kemanapun Dimas pergi hehehe," batin Anita terkekeh.
Tak lama, Dimaspun keluar dengan celana jeans, kaos polos hitam dan kemeja yang kancingnya dibiarkan terbuka.
"Ayo sayang!" ajak Dimas pada Anita.
"Kita pamit dulu ya ma, om!" pamit Anita.
"Hati hati sayang!" balas mama Dimas.
Dimas dan Anita pergi ke sebuah toko buku langganan Dimas, toko buku yang tak jauh dari kampus Anita.
"Abis ini kemana sayang?" tanya Anita pada Dimas.
"Langsung pulang aja ya!"
"Kok pulang?"
"Nanti malem kita ketemu lagi, ada sesuatu yang harus aku selesaiin!"
Anita menghembuskan napasnya pelan, mengiyakan ucapan Dimas.
Setelah mendapatkan buku yang dicari, Dimas dan Anitapun segera meninggalkan toko buku itu. Anita mengantarkan Dimas kembali ke apartemennya.
"Tumben cepet!" ucap mama Dimas yang melihat Dimas pulang.
Dimas merebahkan badannya di sofa dan memeluk mamanya.
"Dimas pingin cepet cepet balik ke Indonesia ma!" ucap Dimas pada mamanya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Nggak tau, banyak yang mau Dimas temui di sana, Yoga, Toni dan kafe," jawab Dimas dengan tersenyum membayangkannya.
"Kamu tau kalau......."
"Papa udah cerita soal kafe!" ucap Pak Tama yang tiba tiba datang.
"Dimas masuk dulu ya ma, pa!" ucap Dimas disusul anggukan kepala mama dan papanya.
"Papa cerita apa aja sama Dimas?" tanya mama Dimas setengah berbisik pada suaminya.
"Soal kafe, daripada dia mikirin yang lain, mending mikirin bisnis kan, papa liat dia juga masih suka sama dunia bisnis!"
"Soal kafe aja?"
"Papa cuma jawab apa yang dia tanyain, soal mantan mantannya juga hehehe...."
"Jangan bilang papa cerita soal Dini?"
"Dia kan bukan mantan Dimas ma, papa nggak cerita soal Dini kok, papa yakin kalau emang mereka jodoh, mereka pasti ketemu lagi!"
"Iiihhh, papa kok bilang gitu sih!" protes mama Dimas sambil memukul lengan suaminya.
"Kenapa? bener dong!"
"Enggak, Dimas harus sama Anita, sebelum Dimas balik ke Indonesia, dia harus udah tunangan sama Anita!"
"Haahhh! tunangan?"
"Iya, biar Dimas nggak nengok perempuan lain selain Anita, biar......"
"Ma, Dimas masih 19 tahun loh, ingatannya juga belum balik, mama jangan ngada ngada deh!"
"Mama serius pa, lagian kan masih tunangan, nikahnya ya nunggu mereka bener bener siap!"
"Anita ngomong apa aja sih sama mama, kok bisa bisanya mama jadi ngatur kehidupan pribadi Dimas kayak gini, mama lupa sama komitmen kita buat kasih kebebasan sama Dimas selagi jalan dia masih lurus!"
"Mama inget pa, mama ini ibunya yang mengandung dan bertaruh nyawa buat lahirin dia, mana mungkin mama rela dia dimanfaatkan perempuan lain, mama yakin Anita yang terbaik buat Dimas pa, Anita yang selalu nemenin Dimas waktu Dimas koma, dia tetap sabar sama Dimas walaupun Dimas lupa semua tentang dia, dia masih setia sama Dimas pa, liat keadaan Dimas sekarang, apa papa nggak takut akan banyak perempuan yang manfaatin Dimas? mama nggak mau itu terjadi pa, mama sayang sama Dimas lebih dari papa, mama tau mana yang terbaik buat Dimas," jelas mama Dimas dengan mata yang berkaca kaca.
Jika sudah begitu, Pak Tama akan luluh seperti biasa. Ia pun memeluk istrinya.
"Ma, papa cuma nggak mau mama terlalu ngatur kehidupan Dimas, biar dia yang pilih sendiri apa yang menurutnya baik karena yang akan menjalani pilihannya dia sendiri, Dimas sudah dewasa ma, papa percaya dan yakin kalau dia akan bertanggung jawab sama apa yang sudah dipilihnya!" ucap Pak Tama berhati hati, berusaha memberikan penjelasan pada istrinya.
"Gini aja, mama coba bicarain ini sama Dimas, tapi tolong jangan paksa Dimas, biar Dimas sendiri yang menentukan, oke?" lanjut Pak Tama.
Mama Dimas mengangguk pelan.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dimas meminta Anita untuk menemuinya di taman yang tak jauh dari apartemennya.
Anita berjalan ke arah air mancur taman, tempat dimana Dimas menunggunya. Ia membelalakkan matanya begitu melihat puluhan lilin yang membentuk tulisan I ❤ U di depan Dimas yang berdiri dengan mengenggam sebuket bunga di tangannya.
"Ini alasan kamu minta langsung pulang tadi pagi?" tanya Anita.
Dimas mengangguk.
"Makasih karena kamu masih setia nunggu aku, disaat kamu punya pilihan untuk pergi, kamu masih tetap ada di sampingku, nemenin aku dan selalu sabar sama keadaanku yang kayak gini, maaf karena aku masih belum bisa inget sama masa lalu kita!"
Anita mengangguk dengan mata berkaca kaca, menahan tangis bahagianya malam itu.
"Makasih sayang," ucap Dimas dengan mencium kening Anita.
Merekapun duduk di taman itu seperti muda mudi yang selalu membuat Dimas iri ketika sedang sendirian di sana. Namun, meski ia sudah bersama Anita, hatinya masih terasa kosong. Ia hanya ingin membuat Anita bahagia dengan kejutan kecil yang ia berikan, sebagai ucapan terima kasih karena kesetiaannya pada Dimas.
Mereka meninggalkan taman ketika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Dimas segera masuk ke kamarnya begitu ia sampai di apartemen.
Toookkk toookk toookk
"Masuk!" ucap Dimas tanpa tau siapa yang mengetuk pintu.
"Dimas, ada yang mau mama tanyain!" ucap mama Dimas ketika sudah masuk dan duduk di tepi ranjang Dimas.
"Tanya apa ma?"
"Kamu sayang sama Anita?"
Dimas diam beberapa saat.
"Mungkin," jawab Dimas ragu. Karena sejujurnya ia sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada Anita.
"Mama ngerti, kamu mungkin masih ragu karena ingatan kamu belum kembali, tapi mama yakin, Anita yang terbaik buat kamu!"
Dimas mengangguk pelan.
"Mama ke sini cuma mau nanyain itu?"
"Nggak cuma itu, sebelum kita balik ke Indonesia, mama mau kamu tunangan sama Anita!"
Dimas terlonjak kaget mendengar ucapan mamanya.
"Tunangan? nggak mungkin ma, Dimas aja masih belum inget apa apa, Dimas juga belum siap buat terikat sama siapapun sekarang!"
"Mama tau, tapi ini cuma pertunangan Dimas, kalian bisa nikah kalau kalian udah bener bener siap!"
"Maaf ma, Dimas nggak bisa!" ucap Dimas yang langsung pergi meninggalkan kamarnya dan keluar dari apartemen.
"Dimas, kamu mau kemana sayang?" tanya mama Dimas yang mengikuti Dimas keluar dari kamar, namun tak digubris oleh Dimas.
__ADS_1
"gimana mungkin aku bisa nikah sama orang yang terasa asing buatku? bahkan akupun ragu sama hubungan ini, aaarrrgghhh!!"
Dimas menghubungi Anita dan mengajaknya untuk kembali bertemu.
Di sebuah kafe, Anita menghampiri Dimas yang sudah menunggunya.
"Ada apa sayang?" tanya Anita ketika sudah duduk di hadapan Dimas.
"Maaf Nit, aku nggak bisa!"
"Maksud kamu?" tanya Anita tak mengerti.
"Aku nggak bisa tunangan sama kamu!"
Deg!
Anita seperti tercekik mendengar ucapan Dimas, tenggorokannya seperti tercekat membuatnya susah untuk bernapas.
"Kenapa Dim? kamu sayang kan sama aku?"
"Aku belum bisa inget apa apa Nit, aku....."
"Nggak masalah Dim, aku bisa nerima itu, aku cuma mau kita tunangan sebelum kamu balik ke Indonesia, apa pengorbanan ku selama ini nggak bisa kamu balas sama pertunangan ini?"
Dimas mengernyitkan dahinya.
"cinta macam apa yang menuntut balas budi seperti ini?" batin Dimas bertanya.
"Maaf, aku nggak bisa!" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Anita.
"Diimaaaaassss!!" panggil Anita dengan berteriak, namun Dimas tetap pergi.
"enggak Dimas, kamu nggak bisa nolak pertunangan ini, maafin aku Dim, aku harus pakai cara ini buat dapetin kamu!"
Anita segera pergi dari kafe dan menuju ke sebuah bar. Iapun menghubungi Dimas dan memintanya untuk datang.
"Kamu ngapain di sana?"
"Aku dateng ke pesta temen ku Dim, mereka maksa aku minum, aku....."
Dimas mematikan panggilan Anita dan segera mendatangi bar yang dibicarakan Anita. Bagiamanpun juga, Anita sudah sangat baik padanya, ia tidak mungkin membiarkan hal buruk terjadi pada Anita.
Sesampainya di sana, ia melihat Anita memegang sebuah botol bir tangannya. Terdengar teman temannya yang memaksanya untuk minum. Namun Dimas segera datang dan berniat membawa Anita pergi, namun teman temannya mencegahnya.
Mereka menjelaskan jika Anita kalah dalam permainan yang mereka lakukan, itu sebabnya ia harus meminum 1 botol bir.
Dimaspun mengambil botol bir itu dan meminum semuanya, lalu segera menggandeng tangan Anita untuk meninggalkan bar itu.
"kena kamu Dim!" ucap Anita dalam hati.
Dimas sudah berjalan dengan sempoyongan akibat bir yang diminumnya, pandangannyapun mulai kabur. Anitapun membawa Dimas yang sudah mabuk berat ke apartemennya.
Anita segera melepas pakaiannya dan mengenakan pakaian tipis yang digunakan untuk menggoda Dimas. Namun sebelum ia selesai berganti pakaian, Dimas sudah ambruk dan tak sadarkan diri.
Anita yang kesal melihatnya segera kembali mengenakan pakaian yang dipakainya tadi.
Triiing!
Anita menemukan ide baru.
"plan A gagal, masih ada plan B hehehe!"
Ia pun melepas celana dan baju Dimas lalu menidurkannya di ranjangnya. Sebelum ia tidur di samping Dimas, ia merobek bagian depan bajunya dan mulai tertidur dengan selimut yang menutup kedua tubuh mereka.
Pagi harinya, Dimas terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan di sampingnya.
Ia begitu terkejut melihat seorang perempuan yang berada satu ranjang dengannya.
Anita segera mengambil ponselnya dan memperlihatkan video yang selalu Dimas lihat setiap pagi. Ya Anita juga mempunyai video yang sama dengan yang selalu Dimas lihat setiap ia bangun tidur.
"Anita, kenapa kamu di sini?" tanya Dimas tak mengerti, terlebih ia baru menyadari jika ia tidak mengenakan pakaian yang lengkap saat itu.
Anita hanya diam dan menangis.
"Nit, apa aku ngelakuin itu?" tanya Dimas yang melihat baju Anita robek dibagian depan.
Anita mengangguk pelan dengan memegangi bagian depan bajunya yang robek.
"Kamu maksa aku Dim, kamu......."
Dimas mendekat dan memeluk Anita.
"Aku minta maaf Nit, aku nggak tau kenapa aku bisa ngelakuin itu, aku bener bener lupa, aku minta maaf!" ucap Dimas penuh rasa bersalah.
"Kenapa kamu lakuin ini Dimas? kenapa? kamu nolak tunangan sama aku tapi kamu ngelakuin ini!" balas Anita yang masih terisak.
"Tunangan, aku nggak ngerti maksud kamu!"
Setelah membersihkan diri, Dimas dan Anita segera menuju ke apartemen Dimas. Dimas menanyakan tentang pertunangan yang dimaksud Anita pada mama dan papanya.
"Keputusan ada di tangan kamu Dim!" ucap Pak Tama pada Dimas.
Dimas benar benar bingung saat itu. Ia ingin menolak pertunangan itu, tapi mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Anita, ia tak akan tega menolaknya. Ia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, meski itu bukan keinginannya.
Akhirnya, pertunangan itu pun terjadi. Tepat 1 minggu sebelum kepulangan Dimas dan keluarganya ke Indonesia.
Flashback off
__ADS_1