
Langit sore masih menyimpan sedikit cahaya matahari di ujung barat. Sinarnya masih terasa menyilaukan mata. Tak akan lama lagi sinar terang yang menyilaukan itu akan berganti dengan sinar lembut sang bulan. Sinar yang mampu menghantarkan rindu pada mereka yang dekat namun terasa jauh.
Dimas dan Yoga masih duduk berdua di ruang tamu. Suasana terlihat sangat serius. Tak terdengar canda tawa diantara mereka berdua. Yoga tau bagaimana Dimas sangat bersungguh sungguh tentang perasaannya pada Dini, ia juga tau bagaimana akhirnya Dini menerima Dimas dalam hatinya. Yang tidak ia tau adalah alasan yang membuat Dimas memutuskan untuk bertunangan dengan Anita.
"Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo Dim!" ucap Yoga.
"Ada sesuatu yang gue nggak bisa ceritain sama siapa siapa Ga, terutama Dini, gue takut kecewain dia," balas Dimas.
"Kenapa?"
"Karena itu kesalahan terbodoh yang pernah gue lakuin, kesalahan yang akhirnya bikin gue terjebak sama pertunangan konyol ini!"
"Lo bisa cerita sama gue Dim, kita cari jalan keluarnya bareng bareng!"
"Gue malu Ga, gue......."
"Apa yang udah lo lakuin Dim?"
Dimas mengacak acak rambutnya kasar. Mungkin sekarang saatnya untuk menceritakan semuanya pada Yoga. Selama ini, Dimas selalu menceritakan banyak hal pada Yoga, termasuk masalah pribadinya.
"Gue khilaf Ga, gue......."
"Stop Dim, jangan bilang lo sama Anita udah........" Yoga menghentikan ucapannya.
Kata "khilaf" yang diucapkan Dimas memang bermakna ambigu, tapi Yoga sudah cukup dewasa untuk mengerti arti kata itu saat ini. Susah untuk Yoga percaya pada apa yang sudah Dimas perbuat pada Anita. Ia sangat mengenal Dimas dengan baik, ia tidak mungkin melakukan hal itu apa lagi pada Anita.
"Kalau bukan lagi di rumah lo, gue udah hajar lo Dim!" ucap Yoga geram. Ia benar benar tidak habis pikir dengan apa yang sudah di lakukan Dimas.
"Gue emang pantes di hajar Ga, tapi ini nggak kayak yang lo pikirin, gue nggak sadar waktu ngelakuin itu, gue bahkan nggak inget apa apa Ga," balas Dimas.
"Maksud lo?"
"Waktu itu gue mabuk gara gara Anita kalah main game sama temen temennya di bar, gue gantiin dia buat minum dan akhirnya gue mabuk," jelas Dimas.
"Lo bener bener nggak inget apa apa?"
"Gue cuma inget waktu keluar dari bar, Anita bawa gue ke apartemennya terus gue udah nggak inget apa apa lagi setelah itu."
"Apa yang bikin lo ngerasa udah ngelakuin itu sama Anita?"
"Waktu gue bangun, Anita nangis di sebelah gue, dia pegangin bajunya yang udah robek bagian depannya, dia kacau banget waktu itu dan gue...... gue cuma pake'........." Dimas menghentikan ucapannya, ia terlalu malu untuk menjelaskan detailnya.
"Oke oke gue paham, apa lo nggak inget sama sekali kejadian itu?"
Dimas menggeleng.
"Dia cuma bilang gue udah maksa dia, tapi gue nggak inget apa apa!"
"Kalau lo bilang baju Anita robek bagian depan, apa lo inget gimana keadaan pakaiannya bagian bawah? maksud gue celana atau roknya gitu?"
"Seinget gue waktu itu dia pake' celana yang dia pake' waktu di bar," ucap Dimas dengan menatap langit langit, mencoba menggali ingatannya.
"Ada yang robek atau rusak?"
"Enggak, dia malah tetep pake' celana itu buat anter gue balik ke aparetemen," jawab Dimas.
Yoga lalu tersenyum tipis. Ia sudah menduga. Ada sesuatu yang Anita sembunyikan. Ada drama dan rencana busuk yang sudah disiapkan untuk menjebak Dimas.
"Lo kenapa senyum senyum gitu?"
"Lo yakin udah ngelakuin itu sama Anita?" balas Yoga balik bertanya.
"Maksud lo?"
"Apa itu yang bikin lo tunangan sama Anita?"
"Iya, gue ngerasa bersalah sama dia, gue udah ambil sesuatu yang seharusnya dia jaga, gue....."
"Lo yakin?"
"Maksud lo apa sih Ga?"
"Gini deh Dim, lo emang mabuk waktu itu dan lo inget semua kejadian dari awal lo mabuk sampe' Anita bawa lo ke apartemennya dan setelah itu lo nggak inget apa apa, bukannya berarti waktu itu lo pingsan di apartemen Anita? kalau lo nglekakuin itu, harusnya lo inget, atau minimal inget dikit dikit lah, tapi ini lo nggak inget sama sekali kan?"
Dimas menggeleng.
"Dan lagi, pakaian Anita yang robek cuma bagian atas, sedangkan bagian bawah masih rapi, logikanya kalau lo maksa dia, pasti lo rusakin celana yang dia pake' waktu itu, dia pasti berontak kan sampe' bajunya robek, tapi kenapa celananya baik baik aja? apa dia nggak berontak waktu lo lepas celananya dia?"
"Tunggu tunggu, berarti........"
"Ya, lo udah dibodohi sama Anita, amnesia bikin otak loading mulu deh Dim!"
"Tapi gimana kalau emang itu bener bener kejadian?"
"Lo bisa pastiin itu sendiri Dim, lo cari tau kebenarannya kayak gimana!"
"Lo bener Ga, gue harus cari tau yang sebenarnya!"
"Hahaha..... b3go' banget sih lo!"
"Sialan lo!"
Mereka berdua pun tertawa. Mulai saat itu, Dimas akan mencoba untuk mencari tau kebenaran dari cerita Anita. Ia berharap jika itu hanyalah rencana busuk Anita untuk menjauhkan Dimas dari Dini.
Sekarang, Anita sudah tinggal dekat dengan Dimas, hal itu menguntungkan sekaligus merugikan bagi Dimas. Menguntungkan, karena mempermudah rencana Dimas untuk mencari tau yang sebenarnya terjadi. Merugikan, karena ia yakin Anita akan mempersulitnya untuk bertemu dengan Dini.
__ADS_1
Dimas sengaja tidak menjemput Anita. Ia sudah menghubungi Dokter Dewi jika ia tidak bisa menjemput Anita, ia beralasan jika ia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya. Alhasil Anita harus memboyong barang barangnya ke apartemen tanpa Dimas, hanya di temani orang suruhan Dokter Dewi.
Di halaman belakang rumah Dimas, Dini, Sintia dan mama Dimas sedang menyiram berbagai macam bunga koleksi mama Dimas.
"Kak Dini suka bunga apa?" tanya Sintia pada Dini.
"Mmmm, suka semuanya," jawab Dini.
"Bunga kan artinya macem macem kak? masak bunga kematian juga suka hehe....."
"Justru itu bunga yang bikin tempat terakhir ku tidur jadi wangi," jawab Dini dengan tersenyum manis.
"Iiiihhh, kak Dini ngomongnya serem banget sih!"
"Semua bunga itu indah Sin, terlepas dari maknanya, mereka punya keunikannya sendiri sendiri," ucap mama Dimas pada Sintia.
"Om dulu suka kasih tante bunga?" tanya Sintia pada mama Dimas.
"Iya, romantis nya nurun ke anaknya," jawab mama Dimas.
"Iya kan Din?" lanjut mama Dimas dengan menyenggol lengan Dini.
"Eh, iii.... iya... tante...."
"Santai aja Din, anggap tante ini mama kamu juga, kalau kamu jadi istri Dimas kan tante jadi mama kamu," ucap mama Dimas.
"Istri? tapi......"
"Waaaaahhh, nggak sabar nunggu kak Dimas nikah sama kak Dini, abis itu Sintia sama kak Yoga ya tante!" sahut Sintia.
"Kamu sekolah aja yang bener, jangan buru buru mikirin nikah!" balas mama Dimas.
"Lulus S1 rencana kamu apa Din?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Mungkin cari kerja tante, syukur syukur kalau bisa lanjut S2 sambil kerja," jawab Dini.
"Tante setuju sama kamu, mumpung masih muda gapai cita cita kamu, soal cinta belakangan, Dimas nggak akan kemana mana," balas mama Dimas membuat Dini tersipu.
Dalam hatinya, Dini merasa lega. Sikap mama Dimas padanya sangat jauh berbeda dengan dulu.
"Sin, tolong bikinin minum dong!" ucap mama Dimas pada Sintia.
"Saya aja tante," ucap Dini segera.
"Kamu di sini aja sama tante, biar Sintia yang bikin!"
Dini mengangguk. Ia mengikuti mama Dimas untuk duduk di gazebo taman belakang. Ada jalan setapak menuju gazebo itu. Kanan kirinya terdapat kolam dengan belasan bahkan puluhan ikan koi.
Dini duduk di samping mama Dimas. Sesekali mama Dimas tampak menyebarkan butiran butiran makanan untuk ikan di kolam.
"Enggak tante," jawab Dini cepat.
"Tante harap kamu nggak canggung lagi kalau lagi sama tante, bisa?"
"Bb.... bisa tante, saya usahain," jawab Dini.
Mama Dimas tersenyum tipis.
"Soal hubungan Dimas sama Anita, tante yakin Dimas pasti bisa selesaiin itu baik baik, tante tau betul gimana perasaan Dimas sama kamu," ucap mama Dimas.
Dini hanya diam. Dia benar benar tidak bisa mengerti kenapa pertunangan itu bisa terjadi. Benarkah hanya karena balas budi?
"Tante juga yakin kalau kamu punya perasaan yang sama," lanjut mama Dimas.
Dini hanya menoleh dan tersenyum. Setidaknya ia sekarang bisa dekat dengan mama dan papa Dimas. Tidak ada yang menolak hubungan mereka selain Anita sekarang.
**
Di teras kos.
Andi, Nico dan Aletta sedang mengerjakan tugas kuliah. Mereka tampak serius, hanya sesekali terdengar obrolan ringan diantara mereka.
"Selesai," ucap Aletta sambil membereskan buku bukunya.
"Udah selesai?" tanya Nico.
"Udah dong," jawab Aletta.
"Gue juga udah," sahut Andi.
"Cepet banget sih, gue baru jalan setengah nih!"
"Buruan Nic, lo bilang mau nganterin gue cari rental?"
"Besok aja lah Ndi, gue belum selesai nih!"
"Rental apa?" tanya Aletta.
"Rental kamera, biasa tugas, gue suruh pake' kamera gue nggak mau!"
"Lo kan juga butuh Nic, lagian deadline nya kan tinggal 2 hari lagi, lo juga belum nentuin objeknya kan?"
"Iya juga sih, kebanyakan tugas, bingung gue ngerjain yang mana dulu!" jawab Nico.
"Pake' punya ku aja," sahut Aletta.
__ADS_1
"Oh iya, lo kan suka fotografi dari dulu, pas banget tuh!" balas Nico.
"Kamu suka fotografi?" tanya Andi pada Aletta.
"Iya, kapan mau hunting foto? aku ikut ya?"
"Besok, gimana?"
"Boleh boleh, lo juga kan Nic?"
"Liat besok deh," jawab Nico tak bersemangat. Entah karena tugas kuliahnya yang banyak atau ada hal lain yang mengganggu pikirannya saat itu.
**
Di jalanan kota yang padat, gerimis mulai turun. Tetesnya perlahan membasahi kaca mobil Dimas. Melihat Dini yang tampak gelisah, Dimas menggenggam tangan Dini.
"Kamu baik baik aja Andini?"
Dini mengangguk.
"Kita ke apartemen aku ya?"
Dini kembali mengangguk. Ia ingin segera masuk, kemanapun asal ia tidak melihat hujan di hadapannya. Dadanya terasa nyeri setiap ia melihat hujan. Rintik hujan yang membasahinya seperti jutaan paku tajam yang menusuk sampai ke dalam hatinya. Hujan selalu membawa sesuatu yang menyakitkan untuknya, sangat sakit hingga membuatnya lemah.
Dimas masih menggenggam tangan Dini. Ia ingat pada kejadian di vila dulu. Ia sudah meminta semua yang ada di sana untuk merahasiakan penjelasan Dokter Aziz dari Dini. Ia tidak ingin hal itu menjadi beban pikiran Dini.
Sekarang, sudah waktunya untuk Dini mengetahui yang sebenarnya. Dimas akan mengajak Dini untuk bertemu psikiater agar fobia itu tak mengganggu Dini lagi.
"hujan itu indah Andini, setiap tetesnya membawa rindu, butir butirnya menggenangi hati yang tandus, membasahi bunga bunga yang kering di dalam hati, membuat mereka mekar oleh tetes tetes rindu yang menjadikannya cinta,"
Dini masuk ke dalam apartemen Dimas. Ia sudah lebih tenang saat itu.
"Kamu beneran nggak papa?"
"Iya, aku........."
Tiba tiba bel apartemen Dimas berbunyi. Tanpa pikir panjang Dimas segera menuju ke pintu dan membukanya.
"Sayaaang," sapa Anita dengan memeluk Dimas.
Dimas segera melepaskan pelukan Anita, ia lupa jika Anita tinggal di sebelahnya sekarang.
"Kamu dari mana aja sih, aku hubungin nggak bisa!"
"Aku baru pulang dari rumah, kamu ngapain ke sini?"
"Mau nemenin kamu," jawab Anita lalu berusaha masuk, namun Dimas mencegahnya.
"Kenapa sih, jangan bilang kamu lagi sama Dini?"
"Iya aku sama Dini," jawab Dimas jujur.
Anita segera mendorong tubuh Dimas dan masuk begitu saja.
"Kamu ngapain lagi sih di sini?" tanya Anita yang berdiri di depan Dini.
Dini hanya diam, ia menoleh ke arah Dimas.
"Aku yang ajak dia ke sini, mending kamu balik aja deh, jangan bikin keributan!"
"Kenapa kamu mau aja sih dibodohi sama Dimas? atau kamu nggak percaya kata kata ku?" tanya Anita pada Dini.
"Kamu ngomong apa sih Nit? kamu mau pergi sekarang atau kamu mau satpam yang maksa kamu keluar dari sini?" balas Dimas yang mulai emosi.
"Kenapa Dimas sayang? apa kamu belum jujur sama Dini? apa dia belum tau yang sebenarnya? kenapa? kenapa kamu selalu rahasiain banyak hal dari dia? kenapa lagi, pasti karena kamu cuma mau main main kan sama dia?"
"Cukup Anita! biarin Dimas jelasin sendiri apa yang harus dia jelasin," ucap Dini.
"Enggak Andini, aku......"
"Aku akan tanyain ini satu kali dan aku harap kamu jujur, apa bener ingatan kamu udah kembali? apa bener kamu udah inget semuanya?" tanya Dini pada Dimas.
Deg.
Dimas sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu dari Dini. Ia sudah berusaha untuk menyembunyikannya dari Dini, bukan untuk membohongi Dini, ia hanya ingin menjelaskan semuanya ketika ia sudah berhasil terlepas dari Anita. Namun ia salah, tidak seharusnya ia menyembunyikan hal itu dari Dini.
"Andini, aku......"
"Kamu cukup jawab pertanyaan aku Dimas!"
Dimas hanya menunduk penuh kekecewaan. Ia kecewa pada dirinya sendiri.
"Aku emang bodoh karena udah percaya sama kamu," ucap Dini lalu melangkah pergi.
"Tunggu Andini, aku......"
PLAAAAKKKKK
Satu tamparan dari Dini mendarat keras di pipi Dimas.
"Anggap kita nggak pernah kenal, anggap aku cuma masa lalu kamu yang emang seharusnya kamu lupain!" ucap Dini lalu berlari keluar dari apartemen Dimas.
Dimas berusaha mengejar Dini. Sedangkan Anita, ia hanya duduk di sofa melihat adegan yang sudah lama ia tunggu.
"Kejar Dimas, kejar sampai kamu puas dan aku pastiin aku juga akan kejar kamu sampai aku puas," ucap Anita dengan tersenyum sinis.
__ADS_1