Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Marah


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Selesai belajar, Dini mencoba tidur untuk menghilangkan kekecewaannya pada Dimas.


Toookkkk..... tooookkkk.... tooookkkk.


Suara ketukan pintu mengurungkan niatnya untuk tidur. Dengan cepat Dini segera membuka pintu.


"Dimas!" panggil Dini sebelum melihat siapa yang saat itu berdiri di hadapannya.


Mendengar nama Dimas yang disebut, Andi berbalik untuk pulang.


"Eh, Andi, sorry sorry!" ucap Dini sambil menahan Andi agar tidak pulang.


"Aku bukan Dimas Din!" balas Andi kesal.


"Iya iya, maaf, ayo sini!" ucap Dini sambil mengajak Andi duduk di balai-balai depan rumahnya.


Andipun duduk dengan raut muka yang masih kesal.


"Jangan marah dong Ndi, aku kan udah minta maaf."


"Kamu sekarang makin deket ya sama Dimas?"


"Enggak kok, biasa aja kayak kamu sama Anita," jawab Dini dengan menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


"Kok jadi bahas Anita?"


"Ya kamu ngapain bahas Dimas!"


"Kan kamu panggil aku Dimas tadi."


"Aku kan udah minta maaf Ndi, udah dong, aku ini lagi kesel jangan dibikin makin kesel," ucap Dini dengan nada yang penuh kekesalan.


"Kamu nungguin Dimas?"


"Iya, dia mau jemput jam 7 katanya, tapi sampe' sekarang nggak muncul-muncul."


"Kayaknya dia sibuk."


"Kamu tau dari mana?"


"Tadi waktu bersih bersih halaman sekolah, dia izin pulang duluan, Pak Tejo bilang sih ada hal penting," jelas Andi.


"Hal penting apa?" tanya Dini penasaran.


"Ya mana aku tau Din."


"Kayaknya penting banget ya sampe' dia juga batalin janji sama aku."


"Mungkin."


Di rumah sakit, Dimas masih menemani Anita. Tak lama kemudian, Dokter Dewi masuk.


"Nit, besok kamu nggak sekolah dulu ya, tunggu sampe' keadaan kamu bener bener sehat," ucap Dokter Dewi.


"Tapi mbak....."


"Ikutan aja apa kata Dokter Dewi, demi kesembuhan kamu," ucap Dimas menyela.

__ADS_1


"Aku udah sehat kok," ucap Anita meyakinkan.


"Kamu nggak bisa bohong sama Mbak Nit, Mbak ini dokter, Mbak tau betul gimana keadaan kamu sekarang," balas Dokter Dewi tegas.


"Tapi aku bosan di sini sendirian Mbak!" rengkek Anita.


"Kamu mau Mbak pindahin ke ruangan umum biar kamu nggak sendirian? udah bagus Mbak kasih kamu ruangan VIP biar kamu nggak ngerasa terganggu sama pasien pasien lain."


"Aku pasti sering ke sini kok, aku bisa ajak Andi sama Dini juga," ucap Dimas.


"Jangan!" ucap Anita setengah berteriak kemudian memegangi kepalanya yang pusing.


"Pokoknya Mbak mau kamu di sini sampai kamu bener bener sembuh, titik, Mbak nggak mau ada alasan alasan lagi," ucap Dokter Dewi penuh ketegasan.


"Iya Mbak, Anita nurut apa kata Mbak," jawab Anita pasrah.


Setelah memastikan Anita tidak lagi membantah, Dokter Dewipun keluar dari ruangan Anita.


"Udah malem, kamu nggak pulang?" tanya Anita ada Dimas.


"Kamu nggak papa aku tinggal pulang?"


"Nggak papa kok, masak kamu mau di sini sampe' besok pagi!"


"Kalau kamu maunya gitu nggak papa, aku temenin kamu di sini sampe' besok pagi."


"Serius?"


"Iya, ranjang kamu kan besar, jadi muat buat berdua."


"Hahaha, ya udah besok aku ke sini lagi ya ngajak Andi sama Dini."


"Jangan Dimas, aku kan udah bilang jangan," teriak Anita, membuat kepalanya kembali pusing.


"Jangan teriak dong Nit," ucap Dimas sambil mengelus kepala Anita yang terlihat pusing.


"Jangan ajak siapapun ke sini ya," pinta Anita.


"Kenapa? bukannya Andi bisa jadi penyemangat buat kamu?" tanya Dimas.


"Enggak Dimas, aku nggak mau Andi ataupun Dini liat keadaanku yang kayak gini."


"Ya udah kalau itu mau kamu, besok aku ke sini sendiri."


"Janji ya Dimas, jangan kasih tau siapapun aku ada di sini," ucap Anita sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


"Iya, aku janji," balas Dimas sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Anita.


"Ya udah, aku pulang dulu ya, kamu istirahat," lanjut Dimas sambil mengusap lembut rambut Anita.


Dimaspun pulang. Sejujurnya dia masih merasa bersalah pada Anita dan Dini. Bagaimana tidak, ia yang membuat Anita sekarang harus terbaring tak berdaya di rumah sakit, sedangkan Dini sudah pasti sangat kecewa karena Dimas tidak menjemputnya.


"maafin aku Andini," ucap Dimas dalam hati.


Esok harinya, seperti biasa Dini dan Andi berangkat ke sekolah bersama.


"Pagi sayang," sapa Dimas dengan senyum termanisnya pada Dini.

__ADS_1


Jika saja tidak sedang marah, Dini pasti akan membalas senyum menawan itu.


Dimas sengaja berangkat lebih pagi agar bisa menunggu Dini di depan gerbang sekolah, karena jika menjemputnya ke rumah, pasti Dini akan menolak.


Mendengar Dimas memanggilnya, Dini hanya diam berpura-pura tidak mendengar.


"Andini!" panggil Dimas setengah berteriak karena Dini berjalan begitu saja di depannya, seolah sengaja mengabaikan Dimas.


"Kamu marah sama aku?" tanya Dimas sambil menahan tangan Dini agar berhenti berjalan.


"Lepasin Dimas!" ucap Dini pelan, raut mukanya terlihat begitu kesal.


"Enggak, aku nggak akan lepasin sebelum kamu dengerin aku," balas Dimas yang semakin kuat memegang tangan Dini.


Andi yang dari tadi mencoba untuk tidak peduli, mulai bereaksi.


"Lepas!" ucap Dimas sambil menggenggam kuat tangan Dimas yang memegang tangan Dini.


Dimaspun melepaskan tangannya, membiarkan Dini pergi begitu saja bersama Andi.


Ia tidak mau membuat masalah lagi dengan Andi.


"Tangan kamu sakit?" tanya Andi pada Dini.


"Enggak kok," jawab Dini berbohong.


Dini sebenarnya merasa tangannya sedikit sakit karena Dimas memegang tangannya terlalu kuat, namun Dini terpaksa berbohong agar tidak membuat Andi emosi.


"Kamu duluan aja ya, aku mau ke kamar mandi," ucap Dini pada Andi.


Andi mengangguk.


Setelah memastikan Andi sudah berjalan jauh, Dini berbalik menuju lokernya.


"mudah-mudahan kali ini ada petunjuk baru tentang pengirim surat ancaman itu," ucap Dini dalam hati.


Setelah menyiapkan hatinya, Dinipun membuka lokernya. Ada kertas merah lagi di sana. Dini membolak balik kertas itu namun tidak menemukan apapun selain tulisan ancaman yang selalu sama.


Dini meremas remas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Dini kemudian membereskan sisa-sisa hasil karyanya yang sudah hancur.


Melihat Dini di depan loker, Dimas segera menghampirinya.


"Ada surat lagi?"


Dini mengangguk.


"Mending kamu cuekin aja surat itu, nggak usah dicari lagi siapa pengirimnya," ucap Dimas pada Dini.


"Kenapa?" tanya Dini penasaran, karena sebelumnya Dimas sangat bersemangat membantu Dini mencari siapa yang mengirim surat ancaman itu.


"Nanti juga dia cape' sendiri gangguin kamu, jadi diemin aja selagi dia nggak bahayain kamu."


"Nggak bahayain aku? kamu lupa tugas kesenianku hancur berantakan, aku hampir nggak dapat nilai ujian Dimas, kalau aku sampe' nggak dapat nilai ujian, gimana nasib beasiswaku?"


"Tapi kita kan nggak tau pasti itu perbuatan siapa Andini."


"Siapa lagi Dimas kalau bukan si pengirim surat itu, kenapa kamu jadi berubah pikiran gini, apa jangan-jangan kamu udah tau siapa pelakunya?"

__ADS_1


__ADS_2