Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Di Balik Senyum (2)


__ADS_3

Flashback masa lalu Aletta


Seorang gadis kecil dengan boneka beruang di tangannya, meringkuk menahan dingin karena rintik hujan yang semakin membasahi tubuh mungilnya. Sambaran petir yang bergemuruh tak membuatnya bergeming. Ia tidak takut, ia hanya merasakan dingin yang menyelimuti tubuhnya, ia menggigil, bibirnya membiru karena kedinginan.


"mama.... mama......"


Tak lama kemudian seorang laki laki datang, ia memperhatikan gadis malang itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mendekat, menarik tangan si gadis dengan paksa. Gadis kecil yang sedang kedinginan itu hanya bisa menurut. Genggaman laki laki itu meninggalkan bekas kebiruan di pergelangan tangannya. Ia tak menangis, ia tak merintih, hatinya masih memanggil mamanya.


Laki laki itu menyeretnya dan memasukannya ke dalam sebuah kamar yang penuh dengan barang barang tak terpakai, banyak debu dimana mana, itu bukanlah kamar, itu adalah sebuah gudang.


"Dingin pa," ucap si gadis kecil dengan bibir bergetar menahan dingin.


"Itu hukuman buat kamu, sekali lagi papa dengar kamu cerita sama tante kamu, papa akan biarin kamu mati kedinginan di luar sana!" balas laki laki yang ternyata adalah papa si gadis malang.


"Maaf pa, Aletta minta maaf," ucap Aletta dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Sang papa mendekat dan memeluk anaknya yang kedinginan.


"Usap air mata kamu itu sayang, air mata itu cuma bikin kamu lemah, air mata itu cuma bikin orang lain liat kamu karena kasihan," ucapnya lembut lalu menghapus air mata Aletta.


Papa lalu beranjak dan keluar dari ruangan itu lalu menguncinya dari luar.


Aletta mengambil apa saja yang ada dalam gudang itu untuk menghangatkan tubuhnya. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar.


"Kak, Aletta kedinginan kak," ucap Aletta dengan suara bergetar.


Ceklekk


Pintu terbuka, seorang gadis yang sedikit lebih dewasa masuk dengan membawa pakaian dan selimut tebal. Ia mendekati Aletta dan memeluknya erat.


"Kamu ganti baju ya," perintahnya pada Aletta.


Aletta menurut, ia melepas pakaiannya yang basah dan menggantinya dengan pakaian yang kakaknya bawa. Ia lalu duduk, bersandar pada dinding dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Masih dingin?" tanya sang kakak.


Aletta menggeleng.


"Kamu cerita apa sama tante?" tanya sang kakak lagi.


Aletta menggeleng lagi.


"Papa udah tau, jadi kamu nggak perlu rahasiain lagi dari kakak, kakak akan jagain kamu!"


Aletta mengangguk dan tersenyum.


"Jadi kamu cerita apa aja sama tante?"


"Aletta bilang kalau belum makan karena papa cuma bolehin Aletta makan satu kali sehari, Aletta juga bilang kalau Aletta nakal Aletta dihukum sama papa, Aletta di kunci di rumah tikus, Aletta juga nggak boleh sekolah, nggak boleh main, nggak boleh makan kalau nakal," jelas Aletta dengan lugunya.


Ia masih berusia 5 tahun saat itu, dan kakaknya yang bernama Asyila berusia 7 tahun. Mereka hanya tinggal bersama sang papa. Entah kenapa, papa seperti sangat membenci Aletta. Apa yang dilakukan papa pada Aletta sangat berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan pada Asyila. Jika Aletta hanya boleh makan sekali dalam sehari, Asyila bisa makan apapun yang ia mau, bahkan ia mendapat uang saku yang berlebih dari sang papa. Meski begitu, hubungan Aletta dan Asyila cukup baik. Asyila sering diam diam membantu Aletta jika papa menghukumnya.


Suatu hari, Aletta dan Asyila pulang sekolah bersama. Aletta yang masih TK sengaja menunggu kepulangan Asyila yang sudah SD, kebetulan sekolah mereka berada dalam 1 yayasan yang sama. Ketika sedang berjalan pulang, sebuah mobil berhenti di samping mereka.


"Ayo masuk!" ucap papa dari dalam mobil.


Aletta dan Asyila segera membuka pintu mobil namun papa melarang Aletta untuk masuk.


"Kamu pulang sendiri ya Al, papa mau ngajak kakak kamu jalan jalan bentar!"


"Aletta ikut pa," pinta Aletta, namun papa tak menggubrisnya.


Mobil melaju meninggalkan Aletta sendirian. Ia pun pulang sendiri dengan berjalan kaki.


Itu bukan yang pertama kali terjadi, papa selalu meninggalkan Aletta sendirian seolah olah hanya Asyila lah anak satu satunya.


Sesampainya di rumah, Aletta bermain sampai tertidur. Ia bangun ketika mendengar suara mobil papanya datang. Ia segera membuka pintu rumahnya, ia melihat Asyila berlari ke arahnya dengan bersenandung riang.


"Al, kakak punya mainan baru, ayo main di kamar!" ucap Asyila sambil memamerkan sebuah bola lampu dengan patung Cinderella kecil di dalamnya.


"Waaahh, bagus kak!"


Mereka pun berlari masuk ke dalam kamar.


"Aletta boleh pinjam kak?"

__ADS_1


"Boleh dong, tadi kakak mau beli 2 tapi nggak boleh sama papa, jadi kita mainnya gantian ya?"


Aletta mengangguk dengan memperhatikan bola lampu di tangannya. Itu sangat indah. Aletta mengangkatnya tinggi tinggi dan bersamaan dengan itu Asyila melemparkan boneka ke arah Aletta membuat Aletta kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan bola lampu di tangannya. Pecah, bola lampu milik Asyila pecah.


Mendengar suara barang pecah dari kamar Asyila, papa segera masuk dan mendapati Asyila yang menangis karena bola lampunya yang pecah.


"Kamu yang pecahin mainan kakak kamu?" tanya papa pada Aletta.


"Aletta nggak sengaja pa, Aletta......"


PLAAAAKK


Satu tamparan keras mendarat di pipi gadis kecil berusia 5 tahun. Ia hanya diam menahan sakit di pipinya, ia tidak menangis. Papa segera menyeret Aletta dan memasukkannya ke dalam gudang. Asyila yang melihat hal itu hanya diam, ia masih sedih karena mainannya rusak.


Kekerasan dan ketidakadilan yang diterima Aletta berlanjut sampai ia tumbuh remaja. Suatu hari, tante Rosa mengunjungi tempat tinggal Aletta. Tante Rosa adalah adik dari mama Aletta dan Asyila. Sudah sangat lama ia ingin membawa Aletta pergi dari rumah itu, ia tau bagaimana sang papa memperlakukan Aletta dengan sangat tidak baik. Tapi Aletta sangat menyayangi kakaknya, ia tidak ingin pergi jauh dari kakaknya. Meski tante Rosa membujuknya dengan berbagai macam cara, Aletta tetap menolaknya. Baginya, Asyila ada separuh hidupnya, ia harus selalu bersama sama dengan Asyila.


"Gimana sekolah kamu Al?" tanya tante Rosa.


"Lancar tante, Aletta dapat piagam dari sekolah karena peringkat satu 4 kali berturut turut," jelas Aletta.


"Kamu yakin nggak mau ikut tante? kamu masih bisa ketemu sama Asyila walaupun kamu tinggal sama tante," bujuk tante Rosa. Setiap ia berkunjung kesana, ia memang selalu membujuk Aletta agar ikut bersamanya.


"Makasih karena tante selalu peduli sama Aletta, tapi Aletta nggak bisa pergi tante, Aletta nggak mau jauh sama kakak," jelas Aletta.


"Kamu nggak berubah Al, dari dulu kamu selalu kayak gini!"


"Maaf tante,"


"Nggak papa, tapi kamu harus janji ya kalau ada apa apa kamu hubungin tante!"


"Iya tante, pasti!"


Hari hari Aletta selalu sibuk, ia bangun pagi pagi untuk menyiapkan sarapan, bersih bersih rumah lalu berangkat ke sekolah. Sepulangnya dari sekolah, ia harus membantu sang papa untuk mengurus peternakan ayam yang tak jauh dari rumahnya. Tak jarang, ia harus tidur di sana karena perintah sang papa. Ia menurut, ia tak pernah membantah perintah papanya.


Sedangkan Asyila, ia hanya akan berangkat ke sekolah lalu pergi menghabiskan waktu bersama teman temannya lalu kembali pulang ketika hari sudah petang.


"Al, kita punya tetangga baru loh!" ucap Asyila pada Aletta.


"Yang sebelah rumah itu?"


"Kenapa harus?"


"Iya harus, kamu harus pacaran sama dia!"


"Kok gitu? kenapa nggak kakak aja yang pacaran sama dia?"


"Kakak kan udah punya pacar, kamu pacaran aja sama dia, nanti kalau kakak udah putus sama pacar kakak, kamu juga putus sama dia, oke?"


"Terus kakak pacaran sama dia?"


"Pinter sekali adikku!" balas Asyila dengan mencium pipi Aletta.


"Nggak mau ah, kakak putus aja sama pacar kakak yang sekarang terus pacaran sama tetangga sebelah itu!"


"Nggak bisa Al, pacar kakak ini baik banget, dia selalu beliin apa aja yang kakak mau, kamu pacaran dulu sama tetangga sebelah biar kakak tau dia juga baik apa enggak, kalau dia nggak baik kan kakak rugi ninggalin pacar yang sekarang!"


Aletta menepuk jidatnya mendengar penjelasan Asyila.


"Ayo lah Al, dia cakep banget loh, beneran!"


Aletta menggeleng.


"Al, please!"


Aletta menghembuskan napasnya pelan lalu mengangguk. Ia tak pernah bisa menolak permintaan kakaknya.


"Oke, Aletta akan ikutin apa yang kakak mau!"


"Yeeeyyy, ini baru namanya adik kesayangan," balas Asyila dengan mencium pipi Aletta.


Malam itu, Aletta pergi ke peternakan ayam papanya. Papa menyuruhnya untuk berjaga di sana karena pekerjanya sedang izin libur. Aletta pergi dengan membawa buku pelajaran di tangannya. Seperti biasa, ia akan belajar di sana. Bau kotoran ayam tidak menyurutkan semangatnya untuk fokus belajar.


Diam diam, seorang laki laki mengikutinya dari belakang. Ia begitu penasaran kemana gadis itu pergi. Ia beberapa kali melihat gadis itu berjalan seorang diri dan menghilang dalam kegelapan, karena memang peternakan ayam itu berada di tengah kebun yang gelap.


"Siapa di sana?" tanya Aletta yang menyadari keberadaan laki laki itu.

__ADS_1


Laki laki itu hanya diam, ia bersembunyi di balik pohon besar.


"Cepat keluar atau aku lempar kamu pake' kapak!" ancam Aletta.


Hening, tak ada jawaban. Aletta berjalan dengan mengibaskan kapak besar di tangannya. Ia memang selalu membawa kapak itu ketika di peternakan, sekedar untuk menjaga diri.


"Oke, kalau kamu nggak mau keluar akan teriak dan kamu akan digebukin warga!" lanjut Aletta memberi ancaman.


Seorang laki laki perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Wajah tampannya seperti cahaya bulan yang bersinar di tengah kegelapan. Ia tersenyum, Aletta seperti melihat cahaya yang lebih indah dari bulan di hadapannya. Sesaat hatinya seperti dipenuhi bunga bunga cinta. Namun ia kembali sadar, ia tidak mengenal laki laki di hadapannya. Bisa saja laki laki itu adalah pembunuh berdarah dingin yang sudah mengintainya. Aletta mengayunkan kapak di tangannya bersiap untuk menyerang laki laki itu.


"Turunin kapak kamu please, itu ngeri banget!" ucap laki laki itu.


"Siapa kamu? ngapain kamu kesini?" tanya Aletta dengan berjalan mundur pelan pelan.


"Aku Rizki, tetangga sebelah rumah kamu, aku kesini cuma mau tau kamu kemana, aku penasaran aja!"


"Rizki? tetangga sebelah rumah? apa dia yang dimaksud kakak?"


"Kamu Aletta kan? anaknya Pak Wisnu!"


Aletta mengangguk dengan masih mengangkat kapak di tangannya.


"Aku bukan orang jahat Al, kita pernah ketemu beberapa kali masak kamu nggak tau?"


Aletta menggeleng.


"Please turunin kapak kamu, kita ngobrol baik baik, oke?"


Aletta kembali duduk di kursinya dan membiarkan Rizki mengikutinya duduk di sebelahnya. Ia masih memegang kapak di tangannya, untuk berjaga jaga. Mereka mengobrol panjang sampai lewat tengah malam.


Dari hari itu, mereka menjadi sangat dekat. Rizki selalu menemani Aletta di peternakan. Hingga akhirnya mereka menjalin hubungan. Untuk pertama kalinya Aletta merasakan hal indah dalam hatinya. Sesuatu yang membuatnya mengerti arti mencintai dan dicintai. Rizki adalah cinta pertamanya. Perhatian dan kasih sayang Rizki membuatnya tenggelam sangat jauh ke dasar rasa yang membuatnya menggila.


"Hari ini valentine loh, Rizki kasih kamu apa?" tanya Asyila pada Aletta.


Aletta menggeleng.


"Dia nggak kasih kamu apa apa? iiisshh, pelit banget, untung kakak nggak jadi putus sama pacar kakak yang sekarang!"


"Emang kakak dikasih apa sama pacar kakak?"


"Ini, ini, sama ini," jawab Asyila sambil memamerkan coklat, baju dan tas barunya.


"Waaahhh, senengnya," balas Aletta dengan bertepuk tangan kecil.


Malam itu, Aletta dan Rizki menghabiskan malam di peternakan.


"Al, maaf karena nggak bisa kasih kamu apa apa, aku cuma bisa kasih kamu cinta yang tulus dari hati aku," ucap Rizki dengan menggengam tangan Aletta.


"Aku nggak minta apa apa dari kamu, cukup kamu selalu ada buat aku, itu udah cukup," balas Aletta.


Rizki melepaskan genggaman tangannya pada Aletta lalu memeluknya erat. Desahan nafasnya terdengar begitu berat. Ia mulai mencium leher Aletta, membuat Aletta mendorong tubuh Rizki karena merasa geli. Rizki mendudukkan Aletta, memegang kedua pipinya lalu mendaratkan ciuman pertamanya pada Aletta. Ciuman itu berlanjut hingga ke leher, Aletta hanya diam. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya menikmati setiap sentuhan laki laki di hadapannya itu.


Perlahan, Rizki membuka kancing baju Aletta satu per satu. Aletta hanya diam, ia seperti kehilangan akal sehatnya. Ia membiarkan Rizki melakukan apa yang diinginkannya.


Aletta meringis menahan sakit, tapi Rizki seperti sudah ahli dalam hal itu. Ia membuat rasa sakit itu menjadi sebuah kenikmatan yang membuat candu dalam diri Aletta. Ia menyerahkan mahkotanya pada lelaki yang dicintainya. Sejak saat itu, mereka sering melakukannya di peternakan.


Hari yang tak terduga tiba, hari yang membuat segalanya berubah. Aletta pulang dari sekolah dan segera masuk ke kamarnya seperti biasa. Ketika sedang berganti baju, ia mendengar suara yang membuatnya ingin segera mengintip ke kamar kakaknya. Ia pun segera kembali keluar dan melihat kamar kakaknya yang sedikit terbuka.


Ia mengintip apa yang sedang kakaknya lakukan di dalam sana dan betapa terkejutnya ia ketika melihat kakaknya sedang berhubungan badan dengan laki laki yang sangat dicintainya, Rizki.


Ia membuka dengan kasar pintu kamar kakaknya, membuat Rizki dan Asyila menoleh cepat ke arah pintu. Aletta diam, matanya berkaca kaca menahan air mata yang siap tumpah. Sedangkan Rizki dan Asyila segera menutup tubuh mereka dengan selimut.


Aletta berlari kembali ke kamarnya. Ia mengemasi semua barang barangnya, memasukkannya ke dalam koper besar. Air matanya sudah tumpah, hatinya terasa sangat sakit. Dua orang yang ia cintai sudah menikamnya dengan belati tajam di hatinya.


Belum sampai ia selesai berkemas, Asyila masuk ke dalam kamarnya.


"Al, maafin kakak," ucap Asyila dengan berusaha menggengam tangan Aletta, namun Aletta menarik tangannya dengan kasar. Ia merasa jijik pada kakak yang sangat ia sayangi itu.


"Jangan pergi Al, kakak mohon," ucap Asyila memohon namun tak dihiraukan oleh Aletta.


Aletta hanya diam dengan air mata yang tak bisa berhenti menetes dari kedua sudut matanya. Ia lalu beranjak, membawa kopernya keluar dari kamar. Ia berjalan melewati Rizki yang hanya diam terpaku di depan kamarnya. Aletta tak sanggup menatapnya. Hatinya terlalu sakit.


Aletta segera menghubungi tante Rosa dan dengan senang hati tante Rosa segera menjemputnya. Aletta meninggalkan rumah itu, ia tinggal di kota bersama tante Rosa.


Sebulan setelah kepindahannnya, ia mendapat kabar jika Asyila hamil. Saat itu ia masih kelas 1 SMA dan Asyila masih kelas 3 SMA. Hal itu membuat papanya murka. Papa mengusir Asyila dari rumah.

__ADS_1


Beruntung, keluarga Rizki masih mau menerima Asyila dan akhirnya merekapun menikah sebelum lulus SMA.


__ADS_2