
Cinta hadir dalam hati tanpa kata permisi. Tanpa ada petunjuk ia begitu saja tumbuh dan semakin memeluk. Cinta tidak buta, hanya saja ia tidak memandang kepada siapa ia akan tiba. Tak ada rasa sakit jika tak ada cinta. Semakin besar cinta itu, semakin besar pula rasa sakit yang menunggu. Namun di balik itu, kebahagiaan terbesar sudah menunggu bagi mereka yang mau bersabar. Bagi mereka yang cintanya berlabuh pada hati yang tepat. Dua hati yang saling mencintai, dua hati yang pernah menyakiti namun cepat terobati, dua hati yang tak akan pernah pergi meski takdir memaksa berhenti.
Cinta dalam hati tak akan pernah bisa diterka kemana perginya. Ada yang sudah memberikan seluruh hatinya, namun dibalas pengkhiatanan. Ada yang sudah menjaga hatinya namun tak pernah ada balasan. Ada juga yang memendamnya dengan dalam namun berakhir kekecewaan.
"apa kamu tau Dim, bagaimana aku selalu berusaha lupain kamu selama kamu pergi, kenyataan yang kamu simpan bersama Anita sangat menyakitkan buat aku, tapi apa kamu tau apa yang lebih menyakitkan daripada itu? kepergian kamu, itu lebih menyakitkan daripada kenyataan pahit yang aku terima saat itu dan sekarang kamu kembali, kamu kembali dengan banyak hal yang kamu simpan dari aku, apa kamu yakin sama perasaan kamu Dimas? atau kamu sebenarnya ragu? atau perasaan kamu udah berubah? aku kecewa, aku marah, tapi aku nggak bisa bikin hatiku menjauh dari kamu,"
Dini memperhatikan dirinya di depan cermin. Ia memejamkan matanya. Bayangan Dimas selalu datang, semuanya tampak nyata di hadapannya. Kebersamaan mereka, kedekatan mereka, semua hal yang mereka lakukan masih jelas teringat dalam memorinya.
"aku benci perasaan ini, perasaan rindu yang meloloskan semua amarah dan kecewaku, aku benci karena harus merindukan kamu yang selalu menyakitiku, kamu yang selalu mengecewakanku tapi selalu aku rindu,"
Toookkk toookkk toookkk
Ketukan pintu kamar Dini membuyarkan lamunanya. Ia segera membuka pintu kamarnya.
"Andi, ada apa?"
"Nggak papa, aku boleh masuk?"
Dini mengangguk dan membiarkan Andi masuk.
"Kamu belum berangkat?"
"Bentar lagi, hari Minggu nanti mau ikut aku pulang?"
"Pulang? ke rumah?"
"Iya, kita 2 hari di rumah," jawab Andi.
"Rumahku kan udah dikontrak orang Ndi."
"Kamu bisa nginep di rumahku, ibu pasti nggak keberatan kok!"
"Kenapa kamu tiba tiba ngajak pulang? ada masalah?"
"Nggak ada, aku cuma pingin liburan aja, lupain semua tugas kampus, gimana?"
"Oke, aku juga udah kangen sama suasana bukit di sana!"
"aku nggak mungkin jujur sama kamu Din, aku bener bener nggak ngerti harus gimana sekarang, tentang Aletta, Nico dan Dimas, semuanya terlalu rumit,"
Andi lalu memeluk Dini, mencari ketenangan untuk semua beban pikiran yang membuatnya kacau.
"Kamu baik baik aja Ndi?" tanya Dini yang merasa jika Andi sedang tidak baik baik saja.
"Ya, aku baik baik aja," ucap Andi tanpa melepaskan Dini dari pelukannya.
Dini mengusap punggung Andi dan memeluknya erat. Entah kenapa hatinya merasa jika Andi sedang bersedih.
Setelah lebih tenang, Andi melepaskan Dini dari pelukannya.
"Aku berangkat dulu ya, kamu jaga diri baik baik, kalau ada apa apa hubungin aku!"
Dini mengangguk.
Andi lalu mencium kening Dini sebelum ia pergi.
**
Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Teriknya membuat siapapun akan berjalan cepat untuk menghindarinya.
Aletta berjalan keluar dari kampus setelah berkutat dengan semua tugasnya di dalam perpustakaan.
"Aletta!" panggil seseorang ketika Aletta baru saja keluar dari kampus.
Aletta menoleh dan begitu terkejut melihat seseorang yang sangat dirindukannya sedang berdiri tak jauh darinya.
"Kakak!"
Aletta segera berlari ke arah Asyila dengan membawa segudang rindu yang sudah lama ia pendam.
PLAAAKKK
Satu tamparan keras menyambut Aletta yang baru saja bertemu kakaknya. Aletta memegangi pipinya yang terasa perih.
"Kamu udah terlalu jauh bertindak Aletta!" ucap Asyila dengan raut wajah yang tampak emosi.
"Maksud kakak?"
"Jangan berlagak sok polos Al, kakak tau dibelakang kakak kamu masih ketemu sama Rizki kan? kamu lupa dia suami kakak?"
"Enggak kak, Aletta udah lupain Rizki, Aletta....."
"Jangan munafik kamu Al, kakak udah tau semuanya!"
Asyila mendekat ke arah Aletta dan memegang kedua pipi Aletta dengan satu tangannya.
"Jauhin Rizki Al, kakak tau semua yang udah kamu lakuin sama dia, jadi jangan maksa kakak buat sebarin hal itu ke temen temen kamu," ucap Asyila.
Aletta hanya diam, air matanya sudah menggenang namun ia tak akan menangis lagi. Kakak yang sangat disayanginya sekarang tampak seperti orang lain di hadapannya, orang lain yang bahkan sudah tak menganggapnya adik lagi.
__ADS_1
"Lepas!" ucap Andi dengan menarik paksa tangan Asyila.
"Kamu nggak papa sayang?" tanya Andi pada Aletta.
Sebelum Andi memutuskan untuk ikut campur masalah kakak beradik itu. Ia sudah mendengar semua yang mereka bicarakan. Dari situ ia tau jika perempuan yang bersama Aletta itu adalah kakaknya, istri Rizki, cinta pertamanya.
Andi sengaja datang dan melanjutkan sandiwaranya. Ia sudah terlanjur basah, ia sudah mengakui Aletta sebagai pacarnya di depan Rizki dan sekarang ia juga akan melakukan hal yang sama di depan Asyila.
"Siapa kamu?" tanya Asyila pada Andi.
"Andi, pacarnya Aletta," jawab Andi dengan mengulurkan tangannya namun tak dibalas oleh Asyila.
"Jangan khawatir soal suami kamu, selama dia nggak ganggu Aletta, anggota tubuhnya nggak akan ada yang cedera," ucap Andi.
"Apa maksud kamu?"
"Bilangin suami kamu yang gila itu, berhenti ganggu Aletta, berhenti kejar Aletta, berhenti berharap sama Aletta, dia udah jadi milikku, aku nggak peduli gimanapun masa lalunya, Aletta tetap milikku!" jawab Andi lalu menggandeng tangan Aletta untuk pergi.
Andi membawa Aletta ke taman yang tak jauh dari kampus. Mereka duduk di salah satu bangku taman. Hening, tak ada percakapan diantara mereka. Hanya terdengar suara daun yang berbisik diterpa angin.
"Ta!"
"Ndi!"
Mereka memanggil dengan bersamaan.
"Kamu duluan," ucap Aletta.
"Aku mau minta maaf sama kamu," ucap Andi.
"Soal apa?"
"Maaf kalau ucapanku tadi bikin kamu nggak nyaman, aku cuma....."
"Nggak papa, aku tau maksud kamu baik," ucap Aletta memotong ucapan Andi.
"Tapi kenapa kamu menghindar dari aku Ta?"
"Enggak kok, aku nggak menghindar, perasaan kamu aja mungkin, tenang aja Ndi, aku nggak akan baper sama ucapan kamu!" jawab Aletta.
Itulah Aletta. Ia selalu bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik. Kejadian yang baru saja ia alami membuatnya semakin yakin untuk pergi. Ia memang tidak pantas untuk dicintai, bahkan oleh kakak kandungnya sekalipun. Jadi, ia akan meninggalkan kenangan indah bersama laki laki yang memberinya harapan di hatinya, setidaknya untuk beberapa hari ini sebelum ia benar benar pergi. Itulah yang Aletta pikirkan saat itu.
"Kamu nggak marah kan sama aku?"
"Enggak, justru aku mau bilang makasih sama kamu, makasih karena udah bantuin aku!"
"Luka kamu gimana?"
"Nggak papa, nih udah sembuh!"
"Bagus deh kalau gitu, mau hunting foto sekarang nggak?"
"Oh ya, deadline nya besok, kamu bisa bantuin aku kan?"
"Bisa dong, kamu cari objek apa?"
"Gimana kalau kita ke pasar malam yang dulu?"
"Tapi jangan naik bis ya hehe..."
"Iya, mau berangkat sekarang?"
"Boleh, jam segini belum jalan sih wahananya, tapi kayaknya bagus buat objek foto!"
Merekapun pergi ke pasar malam meski matahari masih memancarkan sinarnya.
Tanpa mereka tau, Nico melihat hal itu.
"aku tau kamu bohong sama aku Al, aku tau air mata kamu itu bukan karena film romantis yang kamu ceritain, aku tau itu semua karena Andi, perasaan kamu udah berubah, aku yang udah berjuang tanpa berani berharap tapi Andi yang mampu masuk ke hati kamu, aku nggak akan nyalahin Andi, tapi kalau Andi nyakitin kamu jangan pernah salahin aku kalau aku akan ngelakuin hal yang akan dia sesali seumur hidupnya, aku tau Andi baik, tapi di hatinya cuma ada Dini, bukan kamu Aletta,"
**
Di sebuah kafe dengan nuansa romantis. Duduk dua sejoli yang sedang menikmati hidangan istimewa dari kafe itu. Mereka tampak bahagia, senyum bahagia tak bisa berhenti terukir dari sudut bibir si gadis. Ia sangat bahagia, ia merasa telah mendapatkan cinta yang selama ini ia perjuangkan. Namun ia tidak akan menyangka, jika semua kebahagiaan yang ia rasakan saat itu hanyalah tipuan belaka. Senyum yang laki laki di hadapannya tampakkan bukanlah senyum bahagia, melainkan senyum dengan semua rencana yang sudah ia siapkan dengan matang.
"Kamu kenapa tiba tiba ngajak aku ke sini?" tanya Anita.
"Bentar lagi kamu kerja, aku kuliah, walaupun kita deket tapi mungkin kita jarang sama sama karena kesibukan kita, jadi aku sempetin waktu aku buat sama kamu kayak sekarang," jawab Dimas.
"Makasih sayang, aku seneng banget hari ini," ucap Anita dengan menggengam tangan Dimas di atas meja.
Dimas hanya tersenyum dan membalas genggaman tangan Anita.
"Mau foto?" tanya Dimas.
"Boleh boleh," jawab Anita bersemangat.
"Pake' HP kamu ya, HP ku lowbatt,"
"Oh, oke!"
__ADS_1
Anita lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya dan bersiap untuk mengambil gambar dirinya bersama Dimas, namun Dimas mencegahnya.
"Angel kameranya lebih bagus dari sini deh kayaknya," ucap Dimas.
Anita lalu memberikan ponselnya pada Dimas.
Cekrekk Cekrekk Cekrekk
Tiba tiba, seorang pelayan menyenggol lengan Dimas hingga membuat ponsel Anita yang dipegangnya terjatuh.
"Maaf kak, maaf saya nggak sengaja!" ucap si pelayan lalu memberikan ponsel Anita yang terjatuh pada Dimas.
"Nggak papa kok," balas Dimas.
"Nggak papa gimana sih Dim, itu layarnya pecah, kamu tau kan harga HP itu berapa, aku mana bisa beli lagi sekarang!"
"Udah sayang nggak papa, abis ini kita beli yang baru!"
"Beneran?"
"Iya beneran, mau beli sekarang?"
"Ayo!" jawab Anita cepat.
Dimas dan Anita lalu meninggalkan kafe. Tak lupa Dimas membawa ponsel Anita dan menyimpannya. Karena terlalu bersemangat, Anita melupakan ponsel lamanya.
Anita memilih ponsel keluaran terbaru dengan logo apel yang sudah digigit. Dengan senang hati Dimas membelikannya untuk Anita. Setelah mengisinya dengan sim card yang baru mereka segera kembali ke apartemen.
"Gimana? suka?" tanya Dimas.
"Suka, makasih ya sayang," jawab Anita lalu mencium pipi Dimas.
Jika tidak sedang bersandiwara pasti Dimas sudah menjauh sebelum Anita berhasil mencium pipinya.
"Oh ya, HP ku yang lama kamu bawa?" tanya Anita pada Dimas.
"Bukannya tadi kamu bawa ya?"
"Enggak, tadi kan dikasihkan ke kamu sama pelayannya!"
"Iya, tapi langsung aku taruh meja kan, aku pikir kamu bawa!"
"Enggak Dimas, pasti masih di sana, ayo kita ke sana lagi!"
"Ngapain Anita? kan udah ada yang baru!"
"Iya, tapi....."
"Atau kamu mau tuker HP lain?"
"Enggak sih, ya udah deh biarin aja!"
"Ya udah kalau gitu kamu istirahat ya, jaga kesehatan kamu, besok kamu udah mulai kerja!"
Anita mengangguk. Setelah memastikan Dimas masuk ke apartemennya, Anita segera keluar. Ia pergi ke kafe untuk mencari ponselnya.
Sesampainya di kafe, Anita mencari pelayan yang membuat ponselnya terjatuh. Namun, tak hanya si pelayan itu saja, pelayan yang lain pun tak ada yang menemukan ponsel Anita. Anita lalu memaksa untuk mengecek CCTV kafe itu. Namun lagi lagi, nasib baik tak berpihak kepadanya, rekaman CCTV hari itu sedang bermasalah. Tak hanya ketika Anita dan Dimas datang, namun dari pagi hingga sore itu.
Anita semakin kesal. Ia pun kembali ke apartemennya.
Tanpa Anita tau, si pelayan yang menyenggol tangan Dimas tadi segera menghubungi Dimas begitu Anita pergi. Dimas hanya terkekeh mendengar penjelasan si pelayan.
"mission complete hehe...."
Satu misi Dimas sudah selesai. Ia sudah berhasil mengambil ponsel Anita dan bisa dengan leluasa mengecek isi dari ponsel itu. Ia berharap akan menemukan bukti tentang keraguannya pada Anita.
Hari itu, Dimas sengaja mengajak Anita ke kafe. Dimas membayar salah satu pelayan dan supervisor untuk membantunya melancarkan misinya. Mulai dari menyenggol tangannya hingga ponsel Anita terjatuh, sampai CCTV yang sengaja di matikan hari itu.
Sebelum mengaktifkan ponsel Anita yang sudah dalam keadaan mati karena jatuh, Dimas mencabut sim card milik Anita.
Sialnya, ponsel Anita tidak kunjung menyala. Dimas mencoba untuk mengisi daya baterainya namun tetap saja ponsel Anita tak mau menyala.
Dimas tak kehilangan akal, ia segera menghubungi Yoga.
"Ga, gue butuh bantuan lo!"
"Ada apa Dim?"
"Gue udah dapetin HP nya Anita, tapi HP nya mati, nggak bisa nyala, lo bisa bantu gue?"
"Gampang, kita ketemu besok, lo bawa HP nya Anita, gue akan minta tolong temen gue, sekalian balikin semua file, chat, foto atau apapun yang udah dihapus sama Anita."
"Thanks Ga, besok siang gue tunggu di depan kampus ya!"
"Oke!"
Dimas lalu merebahkan badannya di kasur. Ia tersenyum penuh kemenangan. Tinggal beberapa langkah lagi untuk mengetahui semua kebenaran yang Anita sembunyikan selama ini.
Namun, di sisi lain, ia juga harus siap untuk meninggalkan Dini jika memang semua cerita Anita itu benar. Bagi Dimas, tak pernah ada alasan yang membuatnya siap untuk melepaskan Dini. Tapi ia tak akan egois, jika memang takdir tidak bisa menyatukan mereka saat itu. Dimas akan memilih pergi, pergi selamanya dan menunggu Dini di surga.
__ADS_1