
Pagi telah hadir, menyapa dengan kehangatan mentari yang bersinar terang, meninggalkan malam dengan semua keindahannya.
Dimas masih berada di rumah sakit, ia tidur di kursi samping ranjang Anita. Perlahan matanya mengerjap begitu mendengar pintu ruangan terbuka. Ia segera bangun ketika Dokter memasuki ruangan dan memeriksa keadaan Anita.
"Gimana keadaannya Dok?" tanya Dimas pada Dokter.
"Dia sudah membaik, demamnya juga sudah turun dan bisa pulang hari ini, tinggal istirahat dan minum obatnya saja," jawab Dokter.
"Terima kasih Dok."
Dokter mengangguk dan keluar dari ruangan Anita.
"Mau pulang sekarang?" tanya Dimas pada Anita.
Anita mengangguk. Setelah menyelesaikan biaya administrasinya, merekapun keluar dari rumah sakit.
Sebelum kembali ke apartemen, Dimas membeli 2 porsi bubur ayam untuk mereka sarapan. Setelah itu, Dimas mengantar Anita ke apartemennya.
"Kamu di sini aja, jangan kemana mana," ucap Anita pada Dimas.
"Aku mau ngerjain tugas Nit!"
"Jangan bohong, aku tau kamu mau ketemu Dini!"
"Iya, aku emang mau ketemu dia, ada masalah?"
"Dimas, pernah nggak sih sekali aja kamu anggap aku ini tunangan kamu?"
"Pernah, waktu ingatanku belum kembali, walaupun aku nggak ada perasaan apa apa, tapi aku masih berusaha buat menghargai kamu, tapi sekarang aku tau siapa kamu dan siapa cinta sejatiku, jadi jangan terlalu berharap sama aku Nit, cinta ku cuma buat Dini, sampai kapanpun nggak akan berubah!"
"Tapi kamu udah......"
"Iya, aku tau aku udah ngelakuin kesalahan yang besar sama kamu, tapi bukan berarti aku cinta sama kamu, walaupun kamu pikir kamu bisa miliki aku, tapi hati aku cuma buat Dini, nggak pernah sedikitpun ada kamu di hati ku!" ucap Dimas lalu keluar dari apartemen Anita.
Anita hanya diam dengan semua emosi dalam dadanya. Bagi Anita sekarang yang terpenting bukanlah pada siapa Dimas memberikan hatinya, ia hanya ingin memiliki Dimas, dengan atau tanpa cintanya.
Dimas lalu menuju ke tempat parkir dan membawa mobilnya ke tempat kos Dini.
**
Di tempat kos.
Andi dan Aletta sedang memasak mie instan di dapur. Mereka berdua seperti pasangan remaja yang sedang dimabuk cinta. Canda, tawa dan kebahagiaan sangat tampak dari mereka berdua.
"Katanya mie instan, tapi kenapa harus di rebus dulu ya?" tanya Aletta pada Andi.
"Katanya mie goreng, tapi kenapa masaknya di rebus ya?" tanya Andi tanpa menjawab pertanyaan Aletta.
Mereka lalu tertawa, menertawakan candaan garing mereka sendiri. Tak lama kemudian Nico datang dengan membawa 2 bungkus mie instan.
"Gue sekalian!" ucap Nico dengan menaruh 2 bungkus mie di sebelah kompor.
"Siap bos," jawab Aletta.
"Lo tunggu di depan aja, biar gue sama Andi yang masak!" ucap Nico pada Aletta.
"Oke deh, jangan lama lama ya!"
Nico dan Andi kompak mengangguk. Aletta lalu keluar dari dapur dan menunggu di teras. Sekarang, hanya ada Nico dan Andi di dapur.
"Apa yang lo bilang kemarin beneran?" tanya Nico pada Andi.
"Maksud lo?" tanya Andi tak mengerti.
"Gue udah pernah bilang kan kalau lo jangan main main sama Aletta atau......"
"Gue nggak main main Nic, gue harus gimana biar lo percaya?"
"Apa kalau gue nggak hubungin lo, lo akan tetep cegah dia pergi?"
"Gue cegah dia pergi bukan karena gue takut sama ancaman lo, gue emang beneran nggak mau dia pergi, gue udah nyaman sama dia," jawab Andi.
"Tapi lo masih cinta sama Dini, lo nggak bisa bohong sama gue!"
"Iya, gue cinta sama dia, nggak tau sampe' kapan, tapi kalau lo nanya apa gue suka sama Aletta? iya, gue suka sama dia, gue nggak mau dia pergi, gue mau selalu ada buat dia, gue yakin kalau emang udah saatnya nanti gue pasti beneran jatuh cinta sama dia dan lupain semua rasa yang gue punya buat Dini karena sampe' kapanpun gue sama Dini cuma sebatas sahabat dan nggak akan pernah berubah," jelas Andi panjang.
"Gue percaya sama lo, gue juga nggak maksa lo buat suka sama Aletta, gue cuma nggak mau dia sedih entah karena lo atau yang lainnya," balas Nico.
"Soal ancaman lo waktu itu, lo serius?"
"Menurut lo?"
"Pasti enggak lah hahaha....."
"Gue serius," ucap Nico dengan raut wajah serius, membuat Andi menghentikan tawanya.
"Gue nggak pernah main main soal Aletta, nggak peduli itu lo atau siapa pun," lanjut Nico.
"Tapi......"
"Tapi lo tenang aja, karena lo sahabat gue, gue bakalan kasih keringanan buat lo hahaha....."
"Lo apa apaan sih Nic!"
__ADS_1
"Hahaha.... muka lo tegang banget sih, santai aja kali!"
"Santai gimana, gue udah berusaha mati matian buat bisa kuliah di sini pake' beasiswa, masak karena masalah cinta gue jadi harus berhenti kuliah gitu aja, mengenaskan banget masa depan gue!"
"Gue tau lo baik Ndi, itu kenapa gue percayain Aletta sama lo walaupun gue tau hati lo masih milik Dini!"
"Belum selesai nih?" tanya Aletta yang tiba tiba masuk ke dapur.
"Be..... belum... bentar lagi," jawab Andi terbata bata, ia takut Aletta mendengar semua percakapannya dengan Nico.
"kalian lama banget deh, aku dari tadi nungguin di depan sampe' di kerubungi semut loh!"
"Uuuhhh, kasian, ada yang gigit kamu? kasih tau aku semut mana yang gigit kamu biar aku hajar dia," ucap Andi dengan memeluk Aletta dan mengusap rambutnya.
"Semut yang warna merah, dia gigit tanganku huhuhu....." balas Aletta manja.
"Kamu terlalu manis gadisku, makanya semut semut itu gigit kamu," balas Andi.
"Kalian apa apaan sih, jijik banget dengernya!" ucap Nico dengan melempar punggung Andi menggunakan sendok.
"Dasar jomblo sirik, ayo keluar, biar dia selesaiin sendiri masaknya!" ucap Aletta sambil menarik tangan Andi untuk keluar dari dapur.
Andi dan Aletta lalu keluar dari dapur. Sedangkan Nico hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Aletta dan Andi.
Tak lama kemudian, semua mie instan telah selesai di masak. Nico membawa satu per satu mie instan yang telah di masaknya ke teras. Tinggal 1 mangkok mie miliknya yang terkahir, namun tiba tiba mangkok yang dibawanya terlepas dari tangannya dan jatuh. Pecahan mangkok itu berhamburan di lantai tepat di bawah tangga.
Andi yang melihat hal itu segera membantu Nico membereskan pecahan mangkok dan mie yang berhamburan lalu membuangnya ke tempat sampah.
Dari atas tangga, Dini yang tidak mengetahui jika ada pecahan mangkok di lantai berjalan dengan santainya menuruni tangga. Andi yang menyadari jika masih ada sisa pecahan mangkok segera berlari mencegah Dini untuk turun.
"Awas Din!" teriak Andi sambil berlari ke arah Dini, namun terlambat, Dini sudah menginjak pecahan mangkok itu.
"Aaaaawwww!!" pekik Dini ketika pecahan mangkok itu menancap di telapak kakinya.
Dini terduduk di lantai dengan kaki yang sudah mengeluarkan banyak darah hingga menetes ke lantai. Sesaat ingatannya kembali ketika ia bersama Dika di rumah kosong beberapa waktu lalu, kepalanya terasa pusing, bagian bagian tubuhnya terasa ngilu.
Andi berjongkok di depan Dini, melepaskan pecahan mangkok itu dari kaki Dini dengan pelan. Ia begitu panik sampai ia tidak sadar jika kakinya juga menginjak pecahan mangkok di lantai.
"Jangan tutup mata kamu Din, jangan!" ucap Andi yang menyadari jika kesadaran Dini sudah diambang batas.
"Sakit Ndi," ucap Dini tertahan.
Setelah berhasil melepaskan pecahan mangkok dari kaki Dini, Andi menggunakannya untuk merobek tali yang ada pada pakaian Dini dan mengikat telapak kaki Dini untuk mencegah darah yang semakin banyak keluar.
Andi lalu membopong Dini dan membawanya naik ke lantai dua. Tanpa Andi tau, jejak kakinya meninggalkan darah di lantai. Bahkan tangannya juga terluka ketika merobek tali pada pakaian Dini dengan pecahan mangkok tadi.
"Din, kamu denger aku kan?" tanya Andi berusaha membuat kesadaran Dini tetap ada.
Dini mengangguk pelan. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tanpa ia sadar kejadian di rumah kosong itu meninggalkan trauma yang dalam pada dirinya. Setiap ia melihat darah, ingatannya akan secara otomatis kembali pada saat itu, saat dimana Dika membuat darahnya menggenang di lantai. Semua kesakitan yang ia rasakan saat itu akan kembali terasa, seolah waktu membawanya kembali pada kesakitan yang ia rasakan dulu.
Di sisi lain, Aletta dan Nico yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam terpaku melihat Andi yang begitu sigap menolong Dini sampai tidak mempedulikan luka di kaki dan tangannya. Nico kembali membereskan pecahan mangkok yang tersisa sedangkan Aletta membersihkan bekas darah yang tercecer di lantai sampai ke kamar Dini.
Andi menggenggam tangan Dini dan mengusap rambutnya pelan.
"Din, kita ke rumah sakit ya?"
Dini menggeleng dan menggenggam tangan Andi kuat kuat, tak ada yang tau apa yang sebenarnya ditakutkannya.
"Apa ini sakit banget?"
Dini mengangguk dengan mata berkaca kaca.
Andi lalu mendekat dan memeluk Dini, ia tidak tau harus berbuat apa, ia merasa menjadi sahabat yang tidak berguna saat itu.
Aletta yang hendak masuk ke kamar Dini tanpa sengaja melihat kejadian itu, ia melihat Andi memeluk Dini, kekhawatiran tampak jelas terlihat di wajah Andi. Aletta tersenyum tipis, hatinya terasa teriris.
Tak lama kemudian Dimas datang dengan berlari ke kamar Dini, ia tak menghiraukan Aletta yang hanya diam berdiri di depan kamar Dini. Dimas segera masuk dan mendapati Andi dan Dini yang sedang berpelukan, ia cemburu, tapi itu sudah biasa ia rasakan.
"Andini, kamu kenapa?" tanya Dimas yang tak kalah khawatirnya dengan Andi.
Beberapa saat yang lalu ketika ia baru sampai, Nico memberi tau Dimas jika Dini terkena pecahan mangkok hingga kakinya berdarah dan sekarang sedang berada di kamar bersama Andi.
Melihat Dimas datang, Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan menggeser posisi duduknya, memberi tempat pada Dimas untuk duduk di sebelah Dini.
Dimas memperhatikan kaki Dini yang telah diperban oleh Andi.
"Kita ke rumah sakit ya?"
Dini menggeleng, lalu memeluk Dimas. Air matanya tumpah dalam pelukan Dimas.
"Aku takut, aku takut Dimas," ucap Dini dengan suara bergetar.
Dimas mengerti, sedikit banyak Dini pasti memiliki trauma atas kejadian beberapa waktu lalu ketika berada di rumah kosong. Di sana hanya ada dirinya dan Dini yang melihat bagaimana darah Dini menggenang di lantai.
"Aku di sini sayang, aku di sini," ucap Dimas dengan mengusap punggung Dini.
Andi lalu berdiri untuk keluar dari kamar Dini. Di luar, sudah ada Aletta yang menunggu Andi.
"Kamu dari kapan di sini?" tanya Andi yang melihat Aletta hanya berdiri dengan memegang alat pel di tangannya.
"Dari tadi," jawab Aletta dengan tersenyum.
Andi mengacak acak pelan rambut Aletta lalu menarik tangannya untuk pergi.
__ADS_1
"Ayo!" ucap Andi sebelum ia merasakan sakit di kakinya.
"Kaki kamu?"
Andi lalu melihat ke arah kakinya dan mengangkat satu kakinya yang terasa sakit.
"Pantesan sakit hehe...."
Andi lalu berjalan dengan terpincang pincang, melihat hal itu Aletta lalu menarik tangan Andi dan melingkarkannya di bahunya.
Andi menatap wajah Aletta, beberapa saat mata mereka bertemu.
"maafin aku Ta," ucap Andi dalam hati.
Mereka lalu berjalan ke bawah dengan tertatih tatih. Andi duduk di teras, sedangkan Aletta mengambil kotak P3K di kamar Andi.
Setelah membersihkan luka kaki dan tangan Andi, Aletta lalu menutupnya dengan perban yang sudah dibasahi dengan cairan antiseptik.
"Kamu khawatir banget sama Dini?" tanya Aletta.
Andi hanya mengangguk tanpa berucap.
"Kamu bahkan nggak tau kalau tangan kamu juga luka," ucap Aletta sambil menutup luka di tangan Andi dengan perban.
Andi lalu menarik tangan Aletta dalam genggamannya dan menatap wajahnya. Aletta yang sedang berjongkok di depan Andipun mendongakkan kepalanya.
"Aku minta maaf," ucap Andi.
"Buat apa?"
"Maaf kalau aku tadi...."
"Nggak papa," ucap Aletta memotong ucapan Andi lalu melepaskan tangannya dari genggaman Andi dan duduk di sebelahnya.
"Aku tau sedeket apa hubungan kamu sama Dini, walaupun kalian bilang kalau sebatas sahabat, tapi sahabat yang kalian maksud bukan sahabat pada umumnya, kalian lebih dari itu, aku......"
"Aletta, aku....."
"Aku ngerti dan itu bukan masalah buat aku," ucap Aletta dengan tersenyum.
Andi tersenyum dan mengusap pelan rambut Aletta.
Tak lama kemudian Nico datang menghampiri Andi dan menendang kaki Andi yang terbalut perban.
"Aaaaaaaa, lo gila Nic?"
"Hahaha.... sorry gue kira nggak sakit!" balas Nico lalu duduk di sebelah Andi.
"Hati hati dong Nic!" sahut Aletta.
"Iya iya sorry, emang sakit ya?"
"Menurut lo?"
"Gue pikir nggak sakit, soalnya tadi gue liat lo bisa naik tangga sambil gendong Dini," jawab Nico dengan tersenyum sinis.
Andi diam mendengar jawaban Nico. Ia terlalu panik sampai ia tidak merasakan luka di kaki dan tangannya.
"Gue......."
"Lo pergi sana, ganggu orang lagi pacaran aja!" ucap Aletta dengan memukul Nico menggunakan alat pel yang masih ia bawa.
"Hahaha..... oke oke, gue pergi!" balas Nico lalu pergi meninggalkan Aletta dan Andi.
Di sisi lain, Dini dan Dimas masih berada di kamar. Setelah Dini sudah lebih tenang, Dimas membersihkan bercak darah yang tertinggal di lantai kamar Dini.
"Kamu tadi ke kamar mandi sendiri?" tanya Dimas.
"Enggak, aku........" Dini menghentikan ucapannya, ia memperhatikan bercak darah di lantai kamarnya.
"kalau itu bukan bercak darah dari kaki ku, berarti itu dari kaki Andi,"
"Andi!"
"Andi?"
Dini lalu segera keluar dari kamarnya. Ia berlari dengan tertatih tatih menahan sakit di kakinya. Ia mengkhawatirkan keadaan Andi.
"Andini!" panggil Dimas, namun Dini tak menghiraukannya.
Sesampainya di bawah tangga, Dini menghentikan langkahnya, ia melihat Andi dan Aletta sedang duduk berdua, bercanda dan tertawa bersama. Ia memperhatikan kaki Andi yang sudah dibalut perban.
"kamu baik baik aja Ndi? ya, ada Aletta di samping kamu, dia yang selalu bisa bikin kamu bahagia," ucap Dini dalam hati lalu kembali naik ke lantai dua.
Di ujung tangga, Dimas hanya diam memperhatikan Dini.
"hubungan seperti apa yang kamu anggap persahabatan itu Andini?" tanya Dimas dalam hati.
Melihat Dini yang berjalan naik dengan tertatih tatih Dimas lalu menghampirinya dan menggendongnya.
"Tuan Putri ku nggak boleh kemana mana dulu, oke?"
Dini mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Dimas lalu membawa Dini kembali ke kamarnya dan merebahkannya di ranjang.