
Andi masih memeluk Dini dengan erat sebelum kesadarannya semakin menipis dan akhirnya ia ambruk dalam pelukan Dini. Ia jatuh pingsan dengan menindih tubuh Dini.
"Andi, bangun Ndi!" ucap Dini dengan menggoyang goyangkan tubuh Andi namun tak ada respon sama sekali.
Dini berusaha untuk meraih ponselnya yang berada dalam tas selempangnya. Ia sengaja tidak menggeser posisi Andi. Dini lalu menghubungi Dimas, berharap Dimas belum terlalu jauh dari kosnya.
"Halo sayang, udah kangen lagi?"
"Dimas cepet kesini, Andi pingsan, nggak ada siapa siapa di sini."
"Oke aku kesana sekarang, tunggu bentar sayang!"
Dini mematikan sambungan ponselnya. Ia masih membiarkan Andi pingsan di atas tubuhnya meski ia harus menahan sakit karenanya.
"Andi bangun Ndi, jangan bikin aku takut," ucap Dini dengan mengusap punggung Andi.
Kebetulan, hari itu semua teman kosnya sedang merayakan ulang tahun salah seorang teman dari sore tadi, jadi bisa dipastikan jika tidak ada seorangpun di sana, begitu pikir Dini.
"Andi, aku mohon bangun Ndi," ucap Dini yang masih berusaha membangunkan Andi.
Dini mengusap kepala Andi dan baru menyadari jika kepala Andi bagian belakang berdarah.
"Andi......"
Tak lama kemudian Dimas datang, ia segera berlari ke arah kamar Andi dan mendapati hal yang tak pernah ingin ia lihat. Dimas lalu berusaha memindahkan posisi Andi, bersamaan dengan itu Dokter Aziz datang karena Dimas menghubunginya setelah Dini meneleponnya tadi.
"Kamu harus bawa dia ke rumah sakit Dim, harus dilakukan CT Scan buat periksa luka di kepalanya, takutnya ada luka dalam," ucap Dokter Aziz setelah memeriksa keadaan Andi.
"Tolong bantu saya bawa dia ke mobil Dok!"
Dokter Aziz mengangguk, mereka lalu membawa Andi masuk ke dalam mobil Dimas. Dini berada di bangku belakang dengan Andi yang terbaring di pahanya.
Meski Dimas tidak menyukai hal itu, ia tidak boleh egois, ia harus membawa Andi ke rumah sakit secepatnya.
Sesampainya di rumah sakit, Andi segera dibawa masuk ke ruang UGD.
"Andi pasti baik baik aja, kamu tau dia kuat," ucap Dimas mencoba menenangkan gadis yang dicintainya itu, gadis yang saat itu mengkhawatirkan laki laki lain dan mungkin saja hanya memikirkan laki laki itu.
Dini hanya diam, berkali kali ia menghapus air mata dari kedua sudut matanya. Ia tidak ingin menangis, ia tidak akan membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya. Namun sekeras apapun ia berusaha, air matanya seolah memaksa keluar begitu saja. Ia tidak ingin membuat Dimas cemburu, ia tidak ingin menyakiti Dimas dengan sikapnya itu. Namun air matanya tak mau mengerti, kekhawatiran dalam dirinya membuat air matanya tak bisa tertahan.
Dimas lalu meraih bahu Dini dan memeluknya.
"Jangan ditahan sayang, luapin semuanya, tapi setelah ini jangan ada air mata lagi, Andi pasti baik baik aja, aku yakin dan kamu juga harus yakin sayang!"
Dini membenamkan dirinya dalam pelukan Dimas, ia menangis tanpa bersuara. Dimas hanya mengusap punggung Dini, berusaha menenangkan gadisnya.
Setelah beberapa lama menunggu, Dokter keluar dari ruang UGD. Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan berdiri untuk menanyakan keadaan Andi.
"Gimana keadaan teman saya Dok?" tanya Dimas pada Dokter.
"Dia mengalami cedera kepala ringan, biasanya terjadi karena benturan secara langsung dan tiba tiba, bisa juga karena efek dari terjatuh, beruntung hal itu tidak sampai mengenai tengkorak dan otaknya, dia akan dipindahkan ke ruangan lain setelah dia sadar jadi kalian tidak perlu khawatir," jelas Dokter.
"Terima kasih banyak Dok," ucap Dimas yang dibalas dengan anggukan kepala oleh sang Dokter.
Dimas lalu kembali duduk dan memeluk Dini. Ia mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi Dini.
"Kamu denger kan? sahabat kamu itu emang kuat," ucap Dimas dengan senyum manisnya.
Dini mengangguk lalu kembali memeluk Dimas. Mereka lalu masuk ke dalam ruangan Andi. Dini duduk di kursi sebelah ranjang Andi, sedangkan Dimas berdiri di sebelah Dini.
Dimas memperhatikan bagaimana Dini begitu khawatir pada Andi. Dimas melihat ada sesuatu yang lebih dari hanya sekedar kata "sahabat" yang sering mereka ucapkan. Meski itu menyakitkan bagi Dimas, ada secercah rasa bahagia dalam hatinya, karena jika suatu saat nanti ia pergi, masih ada Andi yang bisa menjaga dan membahagiakan Dini.
Perlahan Andi mengerjap, jarinya mulai bergerak dan akhirnya Andi tersadar dari pingsannya. Dengan reflek Dini menggenggam tangan Andi dan memberikan senyum termanisnya pada Andi, membuat Dimas harus kembali menelan pil pahit dengan paksa.
Andi yang menyadari keberadaan Dimas lalu melepaskan tangan Dini yang menggenggamnya, ia tau hal itu membuat Dimas cemburu.
"Kamu kenapa? abis jatuh? terbentur?" tanya Dini pada Andi.
Andi hanya menggeleng.
"Jangan bohong, Dokter bilang lo cedera kepala ringan, bisa karena benturan atau lo abis jatuh!" sahut Dimas.
Andi lalu mengingat kejadian di perpustakaan beberapa waktu lalu. Ya, ia yakin cedera kepala ringan itu terjadi ketika ia menangkal kursi yang akan mengenai Aletta tadi.
"Aletta mana?" tanya Andi tanpa menjawab pertanyaan Dimas.
"Aletta bukannya ikut ke acara ulang tahun?" balas Dini balik bertanya.
"Enggak, dia tadi pulang sama aku," jawab Andi.
Dini dan Dimas lalu saling pandang.
"Dia nggak tau aku di sini?" tanya Andi.
Dini dan Dimas kompak menggeleng.
"Bagus," balas Andi dengan mengacungkan dua ibu jarinya.
__ADS_1
"Jangan kasih tau dia kalau aku di sini ya, aku nggak mau dia khawatir," ucap Andi pada Dini.
Dini hanya mengangguk dengan memaksakan senyumnya.
Setelah Andi dipindahkan ke ruangan lain, Dokter menjelaskan jika Andi sudah bisa meninggalkan rumah sakit besok.
"Kalau Aletta nyari aku, bilang aja aku pulang ke rumah ibu ya Din!" ucap Andi pada Dini.
"Iya, aku sama Dimas pulang dulu ya, besok pagi aku jemput!" balas Dini.
"Aku bisa pulang sendiri Din, aku baik baik aja kok."
"Gue yang jemput lo besok, jadi jangan banyak protes!" sahut Dimas.
Dini dan Dimas lalu meninggalkan rumah sakit. Dimas mengantarkan Dini kembali ke kos kemudian pulang ke apartemennya.
Ketika Dimas baru saja keluar dari lift, ia melihat seorang laki laki yang masuk ke dalam apartemen Anita. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa laki laki itu karena jarak mereka yang cukup jauh dan laki laki itu memakai topi.
Dimas mengabaikan saja apa yang ia lihat waktu itu meski ia sebenarnya ingin tau. Ia akan menayakannya langsung pada Anita besok pagi sekaligus memeriksa ruangan Anita yang kemungkinan besar terpasang kamera tersembunyi.
Mengingat rekaman dan foto yang selalu di kirimkan nomor tak dikenal pada Dini, ia yakin jika Anita memasang kamera tersembunyi di ruangannya dan sengaja mengirim foto dan video mereka pada Dini untuk memantik masalah diantara Dimas dan Dini, begitu pikir Dimas.
**
Di apartemen Anita.
"Aku bawa yang baru buat kamu!" ucap Ivan sambil memberikan sebuah paper bag pada Anita.
Anita lalu membukanya dan mengeluarkan isinya. Sebuah pakaian yang sangat tipis dan kecil, ia tau ia harus mengenakan pakaian itu tanpa Ivan suruh.
Anita lalu segera masuk ke dalam kamarnya dengan membawa pakaian itu.
"Mau kemana?" tanya Ivan.
"Ganti baju, aku harus pake' ini kan?"
"Ganti di sini aja, aku nggak akan lihat!" ucap Ivan yang sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya.
"Beneran?"
"Iya, aku lagi sibuk sama kerjaanku, tenang aja!" jawab Ivan.
Tanpa curiga, Anita lalu membuka pakaiannya satu per satu di ruang tamu, kemudian mengenakan pakaian yang Ivan berikan padanya.
"Ivan ini terlalu kecil, kayaknya nggak muat deh," ucap Anita yang merasa kesusahan mengikat tali di bagian dadanya.
Ivan tak menjawab, ia hanya fokus pada live streaming yang sedang ia lihat di laptopnya.
"Eh, iya, kenapa?" tanya Ivan dengan mendongakkan kepalanya melihat ke arah Anita yang kini hanya mengenakan pakaian super pendek yang bahkan tidak mampu menutup ****** nya secara keseluruhan. Sedangkan bagian atas tampak sangat ketat dan terbuka, memamerkan bahu dan dada bagian atas Anita.
"Ini nggak bisa di iket talinya, kekecilan," ucap Anita yang masih berusaha mengikat tali di bagian dadanya.
Ivan lalu mendekat ke arah Anita.
"Kamu mau ngapain?" tanya Anita dengan mundur secara perlahan.
"Benerin baju kamu biar muat, sini!"
Dengan ragu Anita mendekat ke arah Ivan.
"Jangan pake' bra dong sayang," ucap Ivan dengan melepas tautan pada bra yang dikenakan Anita.
Anita hanya diam dengan menutup bagian depan tubuhnya menggunakan tangannya. Meski sudah berdiri tepat di depan Anita, Ivan melangkah semakin dekat pada Anita, membuat Anita mundur pelan pelan sampai ia terpojok ke dinding.
"Ivan, kamu janji kalau kamu....."
"Ssssttttt, aku tau," ucap Ivan dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Anita.
"Tapi aku cowok normal sayang," lanjut Ivan dengan berbisik di telinga Anita.
Anita hanya diam, membiarkan Ivan mencium lehernya dengan pelan. Anita ingin memberontak, tapi sisi lain dari dirinya menikmati apa yang Ivan lakukan padanya.
Ivan lalu mengikat tali di bagian dada Anita dan kembali duduk dengan laptop di pangkuannya. Sedangkan Anita masih berdiri mematung di tempatnya. Ia merasa seperti terhipnotis oleh sentuhan Ivan.
"Liat kan? aku nggak akan melewati batas sayang, aku pasti ingat janji yang aku buat sendiri!" ucap Ivan dengan senyum nakalnya.
Anita hanya tersenyum canggung menanggapinya.
Ivan lalu mengeluarkan ponsel miliknya dan memberikannya pada Anita.
"Video senam?"
"Iya, kamu harus olahraga sayang, senam juga baik buat kesehatan kamu!"
"Senam dengan pakaian kayak gini? kamu gila?" protes Anita.
Mendengar ucapan Anita, Ivan lalu meletakkan laptopnya dan berdiri lalu menjambak rambut Anita dan menamparnya dengan keras.
__ADS_1
Anita jatuh tersungkur ke lantai dengan memegang pipinya yang terasa panas dan perih. Ivan lalu berjongkok di hadapan Anita dan menarik rambutnya dengan kasar.
"Ikutin kemauan aku tanpa banyak tanya, mengerti?"
Anita mengangguk pelan. Ivan lalu kembali ke tempat duduknya dan fokus pada laptop di pangkuannya. Anita lalu mengikuti gerakan senam dari video di ponsel Ivan selama 5 menit.
"Ivan aku cape'," ucap Anita pelan, ia takut Ivan akan kembali menyakitinya.
Ivan tak bergeming, matanya hanya tertuju pada layar laptopnya.
"Ivan," panggil Anita.
"Iya sayang, udah selesai?"
"Aku cape', aku udah keringetan," jawab Anita.
"Sini duduk!" ucap Ivan dengan menepuk nepuk sofa.
Anita lalu duduk di samping Ivan, namun ia tidak berani mendekat.
"Sini deketan!" ucap Ivan dengan menarik tangan Anita.
"Nggak papa?"
"Nggak papa lah, sini!"
Anita lalu mendekat ke arah Ivan. Ivan membawa kepala Anita agar bersandar di bahunya.
"Jangan pernah buka laptopku tanpa seizinku, oke?"
Anita mengangguk, ia memperhatikan Ivan yang sedang membuat desain sebuah produk, sampai akhirnya ia tertidur.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya, Ivan menaruh laptopnya di meja dan menggendong Anita ke kamar. Dengan perlahan ia membaringkan Anita di ranjang dan menyelimuti tubuh Anita.
Setelah membereskan barang barangnya, Ivan lalu bergegas meninggalkan apartemen Anita. Tanpa ia sadar, ia meninggalkan ponselnya di atas rak buku.
**
Esok harinya, Sabtu pagi.
Anita bangun dari tidurnya masih dengan mengenakan pakaian yang Ivan berikan padanya. Ia lalu melihat ke ruang tamu dan sudah tidak mendapati Ivan.
Anita lalu segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke butik. Tiba tiba bel apartemennya berbunyi ketika ia belum selesai bersiap.
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Anita berdering, panggilan dari Dimas.
"Halo Nit, aku di depan," ucap Dimas.
Karena terlalu bersemangat, Anita segera keluar dari kamar dan membukakan pintu untuk Dimas.
"Tumben kamu duluan yang kesini, biasanya aku yang nunggu kamu!"
"Apa aku ganggu kamu?"
"Enggak kok, aku malah senang, kamu duduk dulu, aku mau siap siap!"
Dimas mengangguk, Anita lalu kembali masuk ke kamarnya dan bersiap siap. Sedangkan Dimas berkeliling mencari kamera tersembunyi.
"kalau di liat dari angel foto dan video nya, kayaknya kameranya lebih dari satu, salah satunya di sini, harusnya aku bisa nemuin kamera itu di sini," batin Dimas sambil memeriksa dengan teliti pajangan dinding di sana.
Namun nihil, ia tak menemukan apapun di sana. Dimas berpindah ke sisi lain. Ia mencoba mencari kamera tersembunyi itu di antara bunga bunga sintetis yang berada di sudut ruang tamu.
Meski Dimas merasa jika ia sudah sangat teliti, nyatanya ia tak menemukan apapun di sana. Tanpa Dimas tau, Ivan sudah merubah foto dan video yang ia kirimkan pada Dini sehingga orang yang melihatnya akan salah mengira angel dari pengambilan foto dan video itu.
Namun Dimas tidak menyerah, ia mencari di rak buku dan melihat sesuatu yang mencuri perhatiannya, sebuah ponsel.
Ia tau jika itu bukanlah ponsel Anita, karena ia sendiri yang membelikan ponsel yang Anita pakai saat itu. Ia lalu mengambil ponsel itu dan membaliknya. Benar saja, itu adalah ponsel dengan huruf V di bagian belakang softcase nya.
Dimas lalu mencoba untuk membuka ponsel itu namun tidak bisa karena ponsel itu menggunakan password yang tentu saja tidak ia ketahui.
"Ayo berangkat!" ucap Anita setelah ia selesai bersiap.
"Anita, ini punya siapa?" tanya Dimas dengan menunjukkan ponsel yang ia temukan di rak buku.
Anita terdiam melihat ponsel Ivan yang berada dalam genggaman Dimas. Ia tidak mungkin menjawab siapa sebenernya pemilik ponsel itu.
.
.
maaf ya kakak reader ku tersayang, beberapa hari ini update nya nggak terjadwal dengan baik karena author lagi sibuk pindahan rumah
.
terima kasih karena sabar menunggu 😘
__ADS_1
.
jangan lupa like, komen dan vote nya ya biar author makin semangat, Terima Kasih ❤❤