
Masih di hari yang sama, papa Dimas sedang berada di salah satu kantor cabang perusahaanya. Ia sedang berdiskusi dengan orang orang kepercayaannya mengenai apa yang sedang terjadi pada perusahaannya.
Sedikit demi sedikit masalah yang ditimbulkan Ivan mulai terpecahkan. Papa Dimas sudah berhasil mengetahui siapa orang dalam yang membantu Ivan dalam melancarkan aksinya di kafe. Dia adalah Tari, Bagas dan Putri. Alhasil mereka bertiga harus mendekam di penjara karena terbukti bersalah atas keracunan masal yang terjadi di kafe.
Kini hanya tinggal menunggu pihak kepolisian yang sedang mencari keberadaan Ivan. Papa Dimas sudah menyerahkan semua bukti yang di dapatkan untuk menjebloskan Ivan ke dalam jeruji besi. Ia sudah tidak ragu lagi melakukannya meski ia tau jika kedua orangtua Ivan adalah sahabat dekatnya. Bagi papa Dimas, perbuatan Ivan sudah seperti seorang penjahat yang memang layak untuk membusuk di penjara.
**
Di tempat lain, Yoga masih berada di kantor polisi bersama para pegawainya. Ia lalu mendatangi tempat Tari di tahan.
"Apa yang bikin kamu ngelakuin hal ini Tari? saya udah kasih kepercayaan yang besar sama kamu tapi kamu malah ngelakuin hal ini!"
"Saya terpaksa pak, saya butuh uang buat ibu saya yang harus segera di operasi dan Ivan berjanji akan melunasi biaya operasi ibu saya kalau saya mau ngelakuin hal ini!"
"Dan kamu tau akibatnya sekarang apa?"
"Saya tau pak, tapi Ivan juga udah janji buat segera keluarin saya dari sini kalau sampe' saya tertangkap," jawab Tari penuh percaya diri.
"Oke, kita tunggu aja berapa lama kamu harus nunggu Ivan jemput kamu di sini!" balas Yoga lalu pergi meninggalkan Tari.
Ketika Yoga menanyakan hal itu pada Bagas dan Putri, mereka pun memberikan jawaban yang sama. Mereka tidak khawatir jika mereka masuk penjara, karena Ivan sudah menjamin keselamatan mereka dan akan segera membebaskan mereka nantinya.
**
Di ruko tempat Ivan menyekap Dini, Andi dan Dimas.
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Ivan berdering, panggilan dari pelanggan setianya.
"Halo Van, gimana?"
"Tenang aja, gue udah siapin yang lebih bagus dari yang kemarin!" jawab Ivan.
"Oke, gue tunggu secepatnya!"
"Siap bos!" jawab Ivan.
Ivan lalu keluar dari ruangan itu untuk mengambil laptop dan beberapa hal yang ia butuhkan di kamar sebelah. Tanpa ia tau, Andi yang sebenarnya masih sadar sedari tadi segera memotong tali yang mengikatnya dengan secepat mungkin. Ia sudah mempersiapkan hal itu sebelumnya. Ia sengaja menyimpan dua buah gunting dan korek api di saku celananya tanpa diketahui siapapun.
"Ndi, lo...."
"Ambil korek api di saku celana gue Dim, buruan!" ucap Andi yang diikuti anggukan kepala Dimas.
Tanpa banyak bertanya lagi Dimas segera mengambil korek api di saku celana Andi. Ia lalu mencoba membakar tali yang mengikat Andi terlebih dahulu.
Setelah Andi berhasil terlepas dari tali yang mengikat tangan, kaki dan tubuhnya, ia menutup pintu terlebih dahulu, menguncinya dari dalam agar Ivan tak bisa masuk.
Andi lalu segera membuka tali yang mengikat Dini dan dan mengikat bagian atas lengan Dini yang terluka untuk menahan darah agar tak semakin banyak yang keluar. Andi juga melakukan hal yang sama pada Dimas sebelum Ivan datang.
Dimas lalu segera memeluk Dini dan berusaha menenangkannya agar tidak panik.
"Kita akan baik baik aja sayang, kamu jangan panik, oke?"
Dini hanya mengangguk dengan menahan sakit karena luka tembak di tangannya.
Tak lama kemudian, pintu kamar di dorong dengan kuat dari luar.
"Brengsek kalian semua, buka pintu selagi gue masih berbaik hati sama kalian!" teriak Ivan dari luar pintu.
Andi yang melihat sebuah jendela dengan teralis besi yang menutupnya segera berusaha membukanya. Dengan dibantu Dimas, Andi akhirnya bisa membuka teralis itu menggunakan perejang yang berada di sudut ruangan itu.
"Kamu harus turun Din, sebelum Ivan dateng dan....."
"Lo gila Ndi? gimana mungkin Andini turun tanpa pengaman apapaun?" balas Dimas yang tidak menyetujui ide Andi.
"Nggak ada waktu buat debat Dim, Dini harus keluar dari sini secepatnya!"
__ADS_1
"Lo pikir setelah dia keluar semuanya selesai? lo lupa di bawah ada orang orangnya Ivan?"
"Kamu bisa menghindar kan Din? buat sementara kamu bisa sembunyi di atas atau....."
BRAAAKKKK
Pintu ruangan itu berhasil dibuka paksa oleh Ivan dan orang orang suruhannya.
"Kalian bener bener bikin gue marah, seret cewek itu ke sini!" perintah Ivan pada 2 orang suruhannya.
Dua orang berwajah gahar dan bertubuh kekar itu langsung berjalan ke arah Andi dan Dimas yang sudah siap untuk melindungi Dini.
Andi membawa perejang sedangkan Dimas melawan dengan tangan kosong. Andi dan Dimas yang melawan dua orang itu tanpa sadar meninggalkan Dini yang jaraknya semakin jauh dari mereka, membuat Ivan dengan mudah menarik Dini ke dalam cengkeramannya.
"STOOPPP!" ucap Ivan dengan berteriak, membuat Dimas dan Andi seketika menoleh ke arah Ivan.
Karena melihat Andi dan Dimas yang lengah, dua orang itu langsung menghajar Andi dan Dimas dengan brutal.
"Stop guys, please stop," ucap Ivan dengan senyum menyeringai.
Dimas dan Andi kini terkulai lemah dengan berlumuran darah. Sedangkan Dini kembali diikat di kursi oleh Ivan.
"Van, gue mohon lepasin Andini, gue akan lakuin apapun asal lo lepasin Andini," ucap Dimas memohon.
"Apa lo mau ninggalin Dini dan lanjutin hubungan lo sama Anita?" tanya Ivan.
Dimas diam beberapa saat, ia membawa pandangannya ke arah gadis yang dicintainya. Dini hanya bisa menggeleng karena mulutnya yang kembali disumpal oleh Ivan.
"Ya, gue akan tinggalin Andini dan lanjutin hubungan gue sama Anita, asal lo lepasin Andini sekarang juga!" ucap Dimas yang membuat Ivan tertawa puas.
"hubungan gue sama Anita nggak lebih dari sebuah paksaan dan selama gue berhubungan sama dia nggak pernah sedikitpun ada celah di hati gue buat Anita tinggal dan sampe kapanpun gue nggak akan berhenti berjuang buat hubungan gue sama Andini, nggak peduli siapapun yang menentang hubungan kita!" ucap Dimas dalam hati.
"Lo pikir gue bodoh Dim? gue tau selama lo berhubungan sama Anita, lo juga masih berhubungan sama Dini kan? inget Dim, gue selalu tau apa yang mau gue tau hahaha....."
"Lo bisa hancurin gue sepuas lo Van, tapi jangan pernah bawa Andini dalam masalah ini!"
"Gue hancurin cewek ini, lo hancur, kalau lo hancur, nyokap lo hancur, kalau nyokap lo hancur, bokap lo hancur dan perusahaan besar yang kalian banggakan itu akan hancur dan berakhir sebagai sejarah hahaha....."
"Dendam nggak akan selesaiin masalah Van, sampe kapan lo mau nyimpen dendam sama keluarga gue?"
"Sampe bokap lo hancur, lo tau siapa bokap gue kan? puluhan tahun bokap gue kerja di perusahaan bokap lo, bokap gue bahkan ikut andil dalam berkembangnya perusahaan bokap lo, demi perusahaan itu bokap gue rela naik turun pesawat karena suruhan bokap lo, masa kecil gue lalui tanpa sosok papa di samping gue karena sosok papa itu lebih pentingin perusahaan dari pada gue dan gue benci sama bokap gue!"
"Tapi waktu gue tau alasan bokap gue meninggal, semua kebencian gue musnah dan berubah jadi dendam, dendam sama perusahaan yang nggak bisa bertanggung jawab sama pegawainya," lanjut Ivan.
"Bokap lo sama bokap gue bersahabat Van, mereka...."
"Ya, atas dasar itu bokap lo manfaatin kesetiaan bokap gue, bokap lo nyuruh bokap gue buat naik mobil yang udah dipasang jebakan, padahal hari itu ulang tahun gue tapi gue malah dapet kado pahit dengan kabar meninggalnya bokap!"
"Lo harus tau kejadian yang sebenernya Van, lo nggak bisa memutuskan sesuatu dari sudut pandang lo sendiri!"
"Gue udah cari tau Dim, hasilnya apa? bokap lo tau kalau mobil yang biasa dipake bokap lo bermasalah tapi bokap lo malah nyuruh bokap gue buat pake mobil itu dan akhirnya bokap gue yang harus kecelakaan karena rem mobil itu blong!"
"Ini pasti salah paham Van, bokap gue nggak mungkin sengaja minta bokap lo buat pake mobil itu, pasti....."
"Salah paham apa Dim? beberapa hari sebelum kejadian itu bokap gue udah bolak balik dari kota S ke B demi kepentingan perusahaan karena ulah dari rival perusahaan bokap lo dan gue tau kalau rem mobil yang blong itu ulah dari rival bokap lo dan lo tau apa kelanjutannya? bokap gue dicap sebagai pengkhianat perusahaan bokap lo sama media!"
"Gue yakin ini pasti salah paham, bokap gue pasti akan jelasin semuanya sama lo Van!"
"Nggak ada yang perlu dijelasin Dim, nama keluarga gue udah buruk karena berita itu dan bokap lo sama sekali nggak pernah keluarin statement apapun buat sanggah berita itu, dia malah kasih uang kompensasi atas meninggalnya bokap gue dan itu semakin merendahkan harga diri keluarga gue!"
Dimas hanya diam mendengarkan ucapan Ivan. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak mungkin percaya begitu saja ucapan Ivan tapi ia juga tidak bisa menahan dirinya jika memang apa yang dikatakan Ivan itu memang benar. Ia akan sangat kecewa pada papanya jika memang semua cerita Ivan itu adalah sebuah fakta yang memang disembunyikan oleh sang papa.
"JANGAN BERGERAK!" ucap seorang polisi yang tiba tiba datang dengan menodongkan pistolnya ke arah Ivan.
Beberapa orang polisi dan orang orang yang Dimas kenal mulai memasuki ruangan. Orang orang itu adalah orang suruhan papanya, mereka lalu berniat untuk membawa Dimas dan Andi ke rumah sakit, namun Dimas dan Andi kompak menolak.
"Van, kita bisa bicarain ini baik baik, atas nama bokap, gue minta maaf kalau emang yang bokap gue lakuin itu kesalahan yang besar buat lo," ucap Dimas yang berusaha meredam emosi Ivan.
__ADS_1
"Jangan ada yang mendekat atau gue pecahin kepala cewek ini!" ucap Ivan dengan menodongkan pistolnya ke arah kepala Dini.
Perlahan Andi melangkah ke arah Ivan dengan sangat hati hati. Karena banyaknya orang dalam ruangan itu, perhatian Ivan terbagi pada Dimas, petugas kepolisian dan juga orang orang yang berpakaian serba hitam yang merupakan orang suruhan papa Dimas.
Ketika di rasa waktunya tepat, Andi memukul tangan Ivan menggunakan perejang membuat Ivan menembakkan pistolnya ke segala arah karena terkejut dengan serangan yang diterimanya. Beruntung tembakan itu tidak melukai siapapun.
Polisi segera melumpuhkan Ivan dengan menembak tepat di kaki Ivan. Ivan lalu segera dihampiri oleh para petugas kepolisian, diborgol lalu di bawa keluar dari ruangan itu.
Dini, Andi dan Dimas lalu dibantu keluar oleh orang suruhan papa Dimas dan segera masuk ke dalam mobil yang siap membawa mereka ke rumah sakit.
Di depan ruko, semua orang suruhan Ivan sudah berhasil dilumpuhkan. Tepat saat akan masuk ke dalam mobil polisi tiba tiba sebuah peluru melesat cepat dan menembus dada Ivan, membuat Ivan terjatuh dengan berlumuran darah.
Polisi segera memburu si penembak yang tampaknya sudah mempersiapkan dirinya sejak awal. Sedangkan Ivan segera di bawa ke rumah sakit oleh para anggota polisi yang lain.
Sesampainya di rumah sakit, Dini, Andi dan Dimas segera mendapatkan perawatan yang terbaik, mereka ditempatkan di satu ruangan VIP yang sama.
Sedangkan Ivan segera dilarikan ke UGD.
"Lo tau siapa yang nembak Ivan Dim?" tanya Andi pada Dimas.
"Gue nggak tau, kamu baik baik aja sayang?" jawab Dimas sekaligus bertanya pada Dini.
"Aku baik baik aja, luka kamu gimana?"
"Ini cuma luka kecil sayang, kamu harus khawatir sama sahabat kamu tuh, keningnya berdarah aja langsung pingsan," jawab Dimas dengan mencibir Andi.
"Gue nggak pingsan beneran kali, gue cuma pura pura, lo nggak inget acting gue udah bikin kita lepas?"
"Lepas sementara, tolong digaris bawahi," balas Dimas.
Di tempat lain, Ivan yang sedang meregang nyawa di UGD memaksa Dokter untuk memanggilkan Anita dan mamanya.
Karena sang mama yang tidak bisa dihubungi, Anita terlebih dahulu sampai di UGD dan begitu terkejut melihat keadaan Ivan.
"Aku seneng kamu dateng," ucap Ivan dengan membelai wajah Anita.
"Kamu kenapa? kenapa bisa kayak gini? kenapa kamu....."
"Ssssttttt, aku nggak suka kamu banyak tanya sayang," ucap Ivan dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Anita.
Ivan menggenggam tangan Anita dan tersenyum manis padanya.
"Anita, makasih karena udah kasih tau aku gimana rasanya jatuh cinta, makasih karena udah hadir buat jadi warna baru di hidup ku yang selalu abu abu, aku sayang sama kamu Anita, aku jatuh cinta sama kamu, aku....."
Ivan menghentikan ucapannya, ia meringis kesakitan menahan sakit di dadanya.
"Aku panggil Dokter sekarang!" ucap Anita namun dicegah oleh Ivan.
"Aku tau kamu cuma cinta sama Dimas, ambisi kamu yang besar itu nggak akan mudah hilang cuma karena banyak yang nggak mendukung kamu, tapi aku selalu dukung kamu Anita, aku akan jadi orang nomor satu yang selalu dukung kamu," ucap Ivan yang sudah diambang kesadarannya.
"Inget kata kata ku ini Anita, kamu harus kembali ke masa lalu kalau kamu mau deketin Dimas lagi, kamu..... aakkhhh....."
Ivan kembali merasakan sakit yang teramat dalam di dadanya.
"Ivan.... kamu kenapa sayang? kenapa jadi seperti ini?" tanya mama Ivan yang baru saja datang.
"Mama, Ivan sayang sama mama, maafin Ivan karena belum bisa jadi anak yang membanggakan buat mama," ucap Ivan dengan menggenggam tangan sang mama.
"Kamu anak mama yang terbaik sayang, kamu harus kuat!"
"Terima kasih karena udah sabar hadapin Ivan selama ini ma, Ivan sayang sama mama......"
Perlahan genggaman tangan Ivan di tangan mamanya melonggar seiring dengan mata Ivan yang mulai tertutup.
Anita segera memencet tombol merah di dinding agar Dokter segera datang. Anita dan mama Ivan lalu keluar ketika para Dokter memeriksa keadaan Ivan.
"Pukul 23.30 tanggal 24 Juni 2020, Ivan Nugraha meninggal di rumah sakit X karena luka tembak di bagian jantung," ucap sang Dokter sebelum menutup seluruh tubuh Ivan dan membawanya ke luar dari ruang UGD.
__ADS_1