
Mentari yang bersinar di atas sana bak lampu abadi yang menerangi kegelapan. Sinarnya yang menghangatkan mampu memeluk jiwa yang rindu akan sebuah pelukan.
Dini masih berada di rumah Dimas, dengan ragu ia mengikuti langkah mama Dimas ke taman belakang. Ia lalu duduk di sebuah gazebo sebelum memberi makan beberapa ikan koi yang tampak menari nari di dalam kolam.
"makam itu beneran nggak keliatan dari sini, pantesan aku nggak pernah liat walaupun udah beberapa kali ke sini," batin Dini dalam hati.
"Kamu kenapa Din?" tanya mama Dimas yang melihat Dini tampak merenung.
"Eh, nggak papa ma, Dini nggak papa," jawab Dini yang baru tersadar dari lamunannya.
Mama Dimas lalu duduk di sebelah Dini.
"Apa kamu nggak nyaman tinggal di sini?" tanya mama Dimas.
"Dini suka kok tinggal di sini, Dini juga nyaman di sini," jawab Dini.
"Tapi mama liat kamu kayak gelisah gitu, mama boleh tau kenapa?"
"Mmmm.... gimana ya, mama udah selesai ngasih makannya?"
"Udah, kenapa sayang?"
"Kita ke ruang tengah aja ya ma," pinta Dini ragu namun mama Dimas menyetujuinya.
Merekapun meninggalkan taman belakang dan pergi ke ruang tengah.
"Ma, ada yang mau Dini tanyain, sebelumnya Dini minta maaf kalau pertanyaan Dini mungkin nggak sopan," ucap Dini setelah ia duduk di ruang tengah bersama mama Dimas.
"Ada apa Din? kenapa kamu keliatan takut?"
"Mmmm, ma di taman belakang itu ada makam ya?"
"Taman belakang? deketnya kolam?"
"Iya," jawab Dini dengan menganggukkan kepalanya.
"Oh itu makam kucing kesayangan mama, namanya Kitty, mama rawat dari kecil sebelum Dimas lahir, jadi mama sayang banget sama Kitty, tapi setahun yang lalu dia meninggal, mama sengaja kuburin di sana," jelas mama Dimas.
"kucing? jadi soal kakek tua itu? arwah gentayangan? Dimas bohongin aku? aaarrgghhh bisa bisanya aku percaya gitu aja, ngeseeliiiiinnn!!"
"Apa itu ganggu kamu?" tanya mama Dimas.
"Oh enggak kok ma, Dini cuma penasaran aja," jawab Dini.
**
Di kamar papa, Dimas dan sang papa sedang membaca buku tentang bisnis.
"Gimana keadaan papa?" tanya Dimas pada papanya.
"Papa baik baik aja Dim, papa mau tanya satu kali lagi, kamu yakin mau tutup kafe?"
"Dimas yakin pa, Dimas mau fokus kuliah dulu," jawab Dimas penuh keyakinan. Meski masih terasa berat baginya, ia tidak akan menunjukkan hal itu pada papanya.
"Papa minta maaf Dim, papa nggak bisa bantu kamu sekarang!"
"Papa udah banyak bantu Dimas pa, kalau nggak ada papa nggak tau gimana nasib Andini, Dimas sama Andi kemarin, kalau bukan karena bantuan papa juga Ivan nggak akan mungkin secepatnya ditangkap polisi walaupun akhirnya bukan seperti yang kita harapkan," balas Dimas.
"Kamu emang anak kebanggaan papa Dimas, papa selalu bangga sama kamu!" ucap papa sambil menepuk nepuk bahu Dimas.
"Perusahaan gimana pa? baik baik aja kan?"
"Banyak kerugian yang kita alami Dimas, papa cuma bisa pertahanin satu perusahaan pusat, karena kalau papa paksa yang lain tetap jalanpun percuma karena nggak akan maksimal semuanya, jadi papa pilih buat fokus sama pusat dan kembangin lagi pelan pelan," jawab papa Dimas.
"Maafin Dimas pa, Dimas nggak tau kalau masalahnya akan sejauh ini."
"Bukan salah kamu Dimas, mungkin ini emang karma buat papa."
__ADS_1
"Karma?"
"Iya, karma karena papa udah bikin sahabat sekaligus partner terbaik papa meninggal," jawab papa Dimas.
"jadi apa yang dibilang Ivan itu bener? papa yang udah bikin bokapnya Ivan meninggal? dan.... enggak, papa nggak mungkin kayak gitu,"
"Papa bisa ceritain semuanya sama Dimas pa?"
"Papa harap kamu nggak marah sama papa setelah denger semuanya Dim, maaf kalau papa bukan sosok papa yang baik buat kamu sama mama," ucap papa Dimas sebelum memulai ceritanya.
"Dulu papa cuma punya satu kantor yang sekarang jadi pusat, papa kerja keras buat bisa kembangin perusahaan yang udah papa mulai dari 0 sama mama kamu, sampe' akhirnya papa bisa punya beberapa cabang karena bantuan Agung, papanya Ivan, dia adalah orang pertama yang paling papa percaya Dim."
"Kenapa om Agung meninggal Pa?"
"Waktu itu perusahaan lagi bermasalah, ada beberapa dana keluar tanpa kejelasan, perusahaan rugi besar dan hampir pailit, papa sama Agung berusaha cari dalang di balik semua itu dan ternyata yang ngelakuin itu adalah pegawai papa sendiri yang kerja sama sama beberapa orang dari luar perusahaan, setelah papa tau semuanya papa bawa mereka semua ke meja hijau sampai mereka dipenjara."
"Tapi yang papa nggak tau, salah satu dari mereka dendam sama papa dan berniat buat celakain papa, waktu itu papa dapat laporan kalau ada orang mencurigakan yang mondar mandir di deket mobil papa, karena Agung mau ada kunjungan ke cabang papa sengaja minta dia buat ngecek keadaan mobil papa dan dia bilang mobil papa baik baik aja, malah mobilnya Agung sendiri yang tiba tiba jadi baret dimana mana."
"Waktu itu papa pikir orang yang berniat jahat itu salah mobil, jadi papa minta Agung buat pake mobil papa dan ternyata belum sampai 15 menit Agung pake mobil papa, papa dapet kabar kalau Agung kecelakaan dan meninggal karena rem blong."
"Apa nggak ada CCTV yang bisa liat orang mencurigakan itu Pa?" tanya Dimas.
"Semua CCTV eror tiba tiba Dim, ada sekitar 10 menit CCTV blank," jawab papa Dimas.
"Ivan bilang om Agung dituduh sebagai pengkhianat perusahaan di media dan papa nggak pernah klasifikasi apapun saat itu, apa itu bener Pa?"
"Itu adalah kebodohan papa yang kedua Dim, kekacauan di perusahaan belum selesai walaupun biang masalahnya udah masuk penjara, ditambah lagi papa kehilangan sahabat dan partner kerja terbaik papa dan itu bikin papa bener bener kelabakan, papa cuma bisa ngasih dana duka cita dan kompensasi buat keluarga Agung setelah itu papa bener bener fokus sama perusahaan, papa sama sekali nggak tau kalau media ngasih berita yang salah ke masyarakat."
"Sampai 3 bulan kemudian papa baru tau tentang hal itu dan papa sangat menyesal, papa datang ke rumahnya buat minta maaf sama keluarganya, papa udah berniat buat balikin nama baik Agung lewat media tapi Sartika, istrinya Agung, melarang papa, dia bilang udah nggak perlu ada klarifikasi lagi karena masyarakat juga udah lupa tentang hal itu, kalau papa tiba tiba keluar dan mengungkit lagi masalah itu, Sartika takut masyarakat akan kembali mencemooh keluarga mereka terlepas benar atau tidaknya berita di media," jelas papa Dimas.
"Apa mamanya nggak jelasin apa apa sama Ivan pa? kenapa Ivan sampe sebenci itu sama papa?"
"Udah Dim, tapi Ivan sama sekali nggak mau denger omongan mamanya, papa juga beberapa kali datengin dia buat minta maaf secara pribadi tapi dia nggak pernah mau ketemu papa, sampe akhirnya kita bisa ketemu dan papa bisa minta maaf langsung sama dia, kamu tau apa yang dia bilang?"
Dimas hanya menggeleng dengan masih memperhatikan cerita papanya dengan seksama.
"Jadi Ivan tau cerita sebenernya?" tanya Dimas.
"Iya, tapi entah dia percaya atau enggak, dia tetap anggap papa orang yang paling jahat di dunia ini, papa bener bener merasa bersalah Dimas, itu kenapa papa nggak pernah laporin Ivan ke polisi walaupun papa tau semua kelakuan buruknya, tapi kemarin papa udah hilang kesabaran, dia udah bertindak terlalu jauh, papa nggak punya pilihan lain selain laporin di ke polisi!"
"Papa nggak perlu ngerasa bersalah pa, semua ini bukan salah papa," ucap Dimas pada papanya.
"Papa udah berdamai dengan masa lalu pahit itu Dimas, mama, papa dan Sartika juga masih bersahabat baik, mama kamu bahkan kasih dia modal buat buka butik, tapi Ivan masih belum bisa berdamai, mata dan hatinya udah ketutup sama dendam."
"Sekarang dia udah nggak ada Pa, kita cuma bisa berdo'a biar dia bisa lepas dari semua dendamnya," ucap Dimas yang diikuti anggukan kepala papanya.
"Gimana hubungan kamu sama Anita?" tanya papa Dimas.
"Dimas udah nggak pernah ketemu sejak Dimas tau kalau dia punya hubungan sama Ivan," jawab Dimas.
"Kasian Anita Dim, dia cuma jadi alat buat Ivan balas dendam," ucap papa.
"Dimas juga kasian Pa, apa lagi waktu Dimas tau kalau dia juga dipaksa buat video ilegal itu, Dimas yakin dia pasti nggak punya pilihan selain ikutin kemauan Ivan saat itu," balas Dimas.
"Papa liat Anita sedih banget waktu kemarin ke makam Ivan sama Sartika, papa rasa mereka udah deket secara personal."
"Mungkin, Dimas nggak tau sejauh apa hubungan mereka."
"Jaga Dini baik baik kalau kamu emang sayang dan cinta sama dia, semua perjalanan nggak akan mudah Dim, semakin banyak rintangan kalian, kebahagiaan yang besar juga menanti di ujung jalan," ucap papa menasehati.
"Iya Pa, Dimas akan jaga Dini sebaik mungkin," jawab Dimas.
Tak terasa, jam makan siang sudah tiba. Dini membantu mama Dimas menyiapkan makan siang bersama Bi Sri di dapur. Setelah semuanya siap, mama Dimas memanggil suami dan anaknya yang dari tadi masih berada di dalam kamar.
"Papa, Dimas makan siang udah siap," ucap mama Dimas pada sang suami dan anaknya.
Mereka lalu keluar dari kamar menuju meja makan.
__ADS_1
"Ini yang masak menantu mama loh!" ucap mama Dimas sambil menyendokkan sayur sop ke atas piring sang suami.
"Kamu masak sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Bantuin bibi aja kok," jawab Dini.
"Justru Bi Sri yang bantuin Dini," sahut mama Dimas.
"Waahhh, bener bener istri idaman sayangku ini," balas Dimas yang membuat Dini tersipu.
"Bisa gendut kamu nanti Dim!" sahut papa menimpali.
Mereka lalu makan dan tenang sampai semuanya habis. Dini lalu membantu Bi Sri untuk membereskan meja makan.
"Kamu duduk sini aja, itu luka kamu belum sembuh!" ucap Dimas yang mencegah Dini untuk membantu Bi Sri.
"Bener sayang, jangan terlalu banyak gerak dulu biar cepet sembuh dan balik kuliah," sahut mama Dimas.
"Iya ma," balas Dini lalu kembali duduk.
"Gimana tidur kamu semalem Din? nyenyak?" tanya mama Dimas.
"Eh, mmmm... nyenyak ma," jawab Dini yang tampak malu malu.
"Dimas nggak mendengkur kan Din?" tanya papa Dimas.
"Enggak kok pa, Dimas......"
Dini menghentikan ucapannya, ia menyadari kesalahannya yang sudah masuk perangkap papa Dimas. Sesaat ia menoleh ke arah mama Dimas yang langsung menatap ke arahnya. Dini hanya menunduk, menyembunyikan malu dan segala rasa yang membuatnya ingin segera menghilang dari tempat itu.
"Kalian semalem tidur bareng?" tanya mama Dimas pada Dini dan Dimas.
"Kejadiannya nggak seperti yang mama bayangin kok, papa aja yang berlebihan!" jawab Dimas.
"Justru reaksi kamu yang berlebihan, orang papa nggak ngomong apa apa hehe...."
"bener bener licik pria tua satu ini," kesal Dimas dalam hati.
"Kalian udah........"
"Enggak ma, kita nggak ngelakuin apa apa, Dini yang minta tidur sama Dimas, maksudnya minta ditemenin Dimas, Dini......"
"Hahaha...... kenapa kamu gugup banget sih sayang? mama sama papa percaya kok sama kalian, mama tau kalian udah dewasa, jadi kalian pasti tau konsekuensi dari apa yang kalian lakukan, iya kan?"
"Iya ma, tapi beneran kita nggak ngelakuin apa apa semalem," balas Dini.
"Semalem enggak, tapi mungkin paginya hahaha....." sahut papa Dimas yang semakin membuat Dimas dan Dini salah tingkah.
"Mama papa ini apa apaan deh!" sahut Dimas yang menyembunyikan rasa malunya dengan sikap kesal.
"Duuuuhhh, mama jadi makin nggak sabar liat kalian menikah, mama pingin cepet cepet punya cucu," ucap mama Dimas yang sukses membuat Dini dan Dimas semakin menciut dihantam rasa malu yang bertubi tubi.
Sedangkan Dini masih sedikit terkejut dengan respon mama dan papa Dimas.
"mereka sama sekali nggak marah, mereka bener bener percaya sama Dimas, semakin lama aku di sini aku jadi semakin tau kenapa Dimas bisa jadi sosok yang penyayang dan menyenangkan, walaupun sikapnya itu sering bikin salah paham, tapi aku nggak bisa salahin itu, dia emang tumbuh dan besar dalam keluarga yang begitu harmonis," ucap Dini dalam hati.
**
Di tempat lain, di sebuah bukit yang selalu sepi.
Hembusan angin membuat terik mentari tak begitu terasa. Andi duduk bersandar di bawah pohon sebagai tempat berteduhnya.
Sudah dua hari ia berada di rumah orangtua nya. Waktunya ia habiskan untuk sekedar duduk di bukit. Mengenang banyak hal indah yang sudah terjadi di sana.
"Apa kamu sekarang bahagia Din? apa itu artinya aku semakin dekat dengan perpisahan kita? maaf karena hatiku masih egois, hati ku masih ingin memiliki kamu seutuhnya."
"Kalau memang kebahagiaan kamu ada sama Dimas, itu artinya tujuanku udah tercapai, aku bahagia karena kamu bahagia Din, aku bahagia dengan semua luka ini dan aku akan selalu bahagia untuk kebahagiaan kamu karena memang itu tujuan ku!"
__ADS_1
Andi tersenyum tipis lalu berdiri dan meninggalkan bukit. Senyum bahagia di tengah hati yang terluka.