
Anita terduduk dengan berderai air mata. Ia merasa semua yang ia lakukan untuk Andi percuma, ia sudah menyerah dengan perasaannya.
Cinta yang menyakitkan untuknya membuat logikanya mengalah. Ia tau akan seperti apa sakitnya mencintai orang yang bahkan tak pernah menganggap kehadiran dirinya. Orang yang hanya melihat satu perempuan di hidupnya.
Namun sekarang, Anita tak mau lagi mengalah pada perasaannya yang tak terbalas itu.
Melihat Anita yang menangis seperti itu, membuat Andi merasa bersalah.
Ia tau bahwa selama ini Anita menyimpan rasa padanya. Meski pada awalnya Andi tak menghiraukannya sama sekali, lama kelamaan ia mulai mencoba menerima kehadiran Anita dalam hidupnya.
Andi tau perasaan cintanya pada Dini tak akan mudah hilang meski sudah ada Anita. Tapi melihat Anita yang menangis seperti ini membuatnya merasa menjadi laki-laki yang jahat.
Ia sama sekali tak pernah berniat untuk mempermainkan hati Anita karena ia tau betul bagaimana sakitnya mencintai seseorang yang tidak mencintai kita.
"Anita, aku minta maaf," ucap Andi sambil mengangkat kedua bahu Anita agar berdiri.
Anita tak menghiraukan Andi, ia masih menangis. Sesak si dadanya membuat matanya tak mampu berhenti menitikkan air mata.
"Aku minta maaf Nit," ucap Andi sambil memeluk Anita.
Kini Anita menumpahkan semua tangisnya di pelukan Andi. Meski ia sangat kecewa, nyatanya perasaannya pada Andi tak semudah itu hilang.
Entah cinta macam apa yang membuatnya rela menahan sakit demi menunggu pujaan hatinya luluh padanya.
"Aku minta maaf ya!" ucap Andi sambil menghapus air mata Anita.
"Aku janji nggak akan kecewain kamu lagi, makasih udah hadir di hidupku, makasih karena selalu ngertiin aku," lanjut Andi.
Anita mengangguk, ia tersenyum lalu memeluk Andi.
"Makasih Ndi," ucap Anita.
"Kita balik ke tempat anak-anak ya, kamu belum mulai acaranya."
Dengan mata yang sedikit merah karena menangis, Anita kembali ke tempat teman-temannya bersama Andi.
"Kamu kemana aja Nit? anak-anak udah nunggu kamu," tanya Dini.
"Iya Din, maaf ya udah nunggu lama, ayo kita mulai," ucap Anita tak menjawab pertanyaan Dini.
"Eh bentar, kamu abis nangis?" tanya Dini yang melihat mata Anita merah.
__ADS_1
"Nggak usah banyak tanya!" jawab Andi dengan menggandeng tangan Anita, meninggalkan Dini.
Dini hanya menghela napas panjang melihat sikap Andi padanya.
"Kalian dari mana aja sih? mojok berdua ya?" tanya Doni pada Andi dan Anita.
"Kepo!" jawab Andi.
"Jangan-jangan kalian pasangan kedua nih setelah Dini sama Dimas," celetuk Doni membuat semua teman-temannya menyoraki Anita dan Andi.
"Nggak boleh, Andi cuma boleh sama aku!" ucap salah satu teman perempuannya.
"Ya udah dua-duanya aja hahaha..." balas Andi membuat semua temannya kembali heboh.
"Andiiii," panggil Anita gemas sambil mencubit pinggang Andi.
Semua yang berada disana bersorak melihat tingkah Anita dan Andi, mereka merasa jika Andi dan Anita adalah pasangan yang cocok karena sebelumnya Andi sangat dingin kepada teman-temannya, namun setelah dekat dengan Anita, Andi bisa sedikit lebih ramah pada semua temannya.
Dini hanya bisa tersenyum tipis melihat Andi yang semakin dekat dengan Anita, sedangkan di sisi lain Andi begitu dingin pada Dini.
Ada sedikit kesedihan di balik senyum Dini dan Dimas segera menyadari hal itu.
Dimaspun segera naik ke panggung dan meninggalkan Dini yang masih berdiri di tempatnya.
"Malem guys, kasih aku waktu buat nyanyi ya, lagu ini buat seseorang yang sangat spesial buat aku, seseorang yang dari 7 tahun lalu selalu ganggu pikiranku, seseorang yang berhasil merubah hidupku jadi lebih baik, lagu ini buat kamu sayang," ucap Dimas membuat semua temannya bersorak.
Petikan gitar dan suara merdu Dimas yang membawakan lagu Cinta Luar Biasa dari Andmesh itu membuat Dini tersipu, ia merasa jika lagu itu memang dinyanyikan untuknya.
"Dimas perfect banget sih!" ucap salah satu temannya.
"Bener banget, udah cakepnya minta ampun, pinter, baik, suaranya bagus, bisa main gitar dan yang penting dia romantis banget!" timpal temannya yang lain.
"Ada lagi, dia juga tajir ******, orangtuanya kan yang punya perusahaan X itu."
"Idaman banget emang si Dimas ini."
"Lo Dimas, gue Andi ya! hahaha..." lanjut temannya yang lain membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Dini yang mendengar teman-temannya membicarakan Dimas hanya bisa menggelengkan kepala.
Dimas memang terlihat begitu sempurna, tapi tak ada yang tau bagaimana ia tersiksa dengan kesalahan yang ia buat kepada Dini selama ini.
__ADS_1
"Dimas keren ya!" ucap Anita pada Andi.
"Aku juga bisa!" jawab Andi yang langsung naik ke atas panggung menggantikan Dimas.
Lagu berjudul Waktu yang Salah dari Fiersa Besari ia nyanyikan bersama petikan gitar yang ia mainkan.
Teman-temannya kembali bersorak melihat dua arjuna di sekolah mereka bernyanyi untuk yang pertama kalinya.
"Super hero kamu nggak mau kalah juga ya!" ucap Dimas sambil menyenggol lengan Dini.
"Kamu keren tadi!" ucap Dini mengabaikan ucapan Dimas.
"Super hero kamu juga keren!" balas Dimas dengan tersenyum sinis.
"Jangan mulai deh!" ucap Dini kesal karena Dimas menyebut Andi dengan panggilan super hero. Andi memang seperti pahlawan bagi Dini tapi Andi menganggap panggilan itu hanyalah sebuah ejekan dari Dimas untuknya.
"Kamu udah kasih kado kamu buat Anita?" tanya Dimas tiba-tiba karena ia lupa belum memberikan kadonya pada Anita.
"Udah dari tadi lah."
"Kok aku nggak tau?"
"Emang harus laporan dulu sama kamu? jangan-jangan kamu belum ya?"
"Belum hehehe...." jawab Dimas terkekeh.
"Dasar nggak sopan, udah makan-makan, udah nyanyi belum ngasih apa-apa ke yang punya acara."
"Hahaha, lupa sayang, aku ambil dulu ya di mobil, kamu tunggu di sini," ucap Dimas sambil menyiapkan kursi untuk Dini.
Dini mengangguk dan duduk di kursi itu.
Langit yang memang sudah mendung dari tadi tiba-tiba mengguyurkan hujannya malam itu. Membuat semua yang ada di sana lari untuk mencari tempat berteduh, termasuk Dini.
Sialnya, ketika hendak berdiri, pakaiannya tersangkut di kursi yang ia duduki. Ia pun semakin panik dan mencoba menarik pakaiannya dengan sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
Andi yang melihat Dini di bawah derasnya hujan segera menghampirinya dan menarik dengan kuat pakaian Dini yang tersangkut di kursi. Andi segera menggandeng tangan Dini untuk segera berteduh.
"Kamu nggak papa Din?" tanya Andi khawatir.
Ia sudah tak memikirkan kesalahpamannya lagi, melihat badan Dini yang basah kuyup dan wajahnya yang pucat membuat Andi begitu khawatir.
__ADS_1