Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Ingatan Palsu (2)


__ADS_3

Lanjutan Flashback di Singapura


Dimas merebahkan badannya di sofa panjang apartemennya. Ia mencoba untuk mengingat apa saja yang sudah dilupakan olehnya, namun tetap saja nihil, tak ada sedikitpun masa lalunya yang dia ingat.


Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang menyisakan rindu di hatinya. Semakin ia mencoba untuk menggali ingatannya, kepalanya semakin terasa sakit.


Kini ia lebih memilih untuk menjalani begitu saja apa yang sedang terjadi tanpa ia tau yang sebenarnya.


Ia mengambil beberapa buku di hadapannya dan membaca lembar per lembar halaman buku itu hingga ia tertidur.


Ketika bulan mulai mengambil alih singgasana matahari, mama dan papa Dimas pulang ke apartemen mereka.


"Dimas, bangun sayang!" ucap mama Dimas dengan sedikit menggoyang goyangkan badan Dimas yang tertidur di sofa.


Dimas membuka matanya, mengerjap sesaat lalu segera bangun dari tidurnya.


"Udah pulang ma, pa?"


"Udah, kamu kenapa tidur di sini?" tanya mama Dimas.


"Ketiduran ma," balas Dimas dengan mengucek matanya yang baru bangun.


"Hari ini kamu kemana aja?" tanya Pak Tama pada Dimas.


"Dimas anter Anita ke kampus, terus beli buku, makan, pulang!" jawab Dimas.


Pak Tama tersenyum tipis, karena setidaknya Dimas masih mengingat apa yang dilakukannya pagi tadi.


"Papa mau mandi dulu, mama mau ikut nggak?" tanya Pak Tama genit pada istrinya.


"Ikuuutttt!" balas mama Dimas yang langsung menghampiri suaminya di depan pintu kamar.


Dimas hanya terkekeh melihat sikap mama dan papanya. Ia bisa merasakan kehangatan keluarga yang dimilikinya.


Setelah selesai makan malam, papa Dimas kembali berkutat pada laptop kerjanya. Sedangkan Dimas dan mamanya bersantai di depan televisi.


"Ma, Dimas mau nanya sesuatu!" ucap Dimas pada mamanya.


"Tanya apa sayang?"


"Mama ceritain tentang Dimas dong, Dimas mau catat di sini!" pinta Dimas sambil menunjukkan note book miliknya.


Mama Dimas tersenyum getir melihat jalan hidup anak semata wayangnya yang begitu sulit. Namun ia selalu menyembunyikan kesedihannya, ia tidak ingin membuat Dimas merasa terbebani.


Mama Dimaspun mulai menceritakan tentang Dimas, anak laki lakinya yang mandiri dan bertanggung jawab, cerdas dan idola sekolah dimanapun dia bersekolah. Selain karena wajahnya yang rupawan, sikapnya yang ramah selalu menjadi magnet bagi siapapun yang berada di dekatnya.


Dimas mendengarkan dengan seksama cerita mamanya. Ia sedikit terkekeh geli mendengar mamanya yang selalu memujinya seolah ia anak kebanggannya yang begitu sempurna di mata semua orang.


"Kalau soal Anita ma?" tanya Dimas.


"Anita.... mmmm..... dia dulu teman baik kamu dari kamu kecil, sampai akhirnya kamu minta dia jadi pacar kamu waktu kalian SMA, kamu ini sayang banget loh sama Anita, tiap hari kamu cerita soal dia sama mama, kamu selalu romantis sama dia," jelas mama Dimas berbohong.


"teman dari kecil?" tanya Dimas dalam hati.


"Ma, Dimas bosan kalau nggak kemana mana, Dimas boleh sekolah nggak ma?" tanya Dimas.


"Sekolah?" tanya mama Dimas bingung. Bagaimana mungkin ia dapat bersekolah dengan keadaan ingatannya yang seperti itu. Kalaupun dia harus home schooling pasti akan susah bagi gurunya untuk mengajarinya hal yg sama setiap hari.


"Iya ma, boleh?"


"Mmmm, boleh sayang, nanti mama bicarain dulu ya sama papa!"


"Iya ma, Dimas ke kamar dulu ya ma!"


"Iya sayang!"


Tak lama setelah Dimas masuk ke kamarnya, Pak Tama keluar dan duduk di samping istrinya.


"Ma, papa pingin olahraga deh ma!" ucap Pak Tama dengan senyum genitnya.


"Tuh ada treadmill!"


"Mama pura pura nggak ngerti aja deh!" gerutu Pak Tama kesal.


"Ada yang lebih penting dari olahraga pa, Dimas mau sekolah!"


"Hah, sekolah?"


Mama Dimas mengangguk.


"Ya bagus dong ma!" lanjut Pak Tama yang ternyata memiliki persepsi lain dengan istrinya.


"Iya, bagus, tapi gimana caranya, Dimas kan......." mama Dimas menghentikan kata katanya, ada sedikit sesak di hatinya setiap ia mengatakan keadaan Dimas saat itu.


"Mama lihat ini!" ucap Pak Tama sambil menunjukkan beberapa buku di sofa.


Zero to One, The Magic of Thinking Big, The 4 Hour Work Week, 3 buku itu adalah buku yang mempelajari tentang bisnis yang sudah dibaca oleh Dimas.

__ADS_1


Mama Dimas menatap buku buku itu beberapa saat.


"Apa Dimas........"


"Dimas memang amnesia ma, tapi otaknya tetap bekerja sebagaimana mestinya, hanya ingatannya yang bermasalah, beberapa hari ini papa lihat dia baca buku buku ini, papa yakin dia bisa sekolah seperti anak anak yang lain ma!"


"Besok mama akan coba cari tau!"


"Kalau gitu sekarang waktunya olahraga ya ma, papa udah lama nggak......."


"Mama ngantuk, mau tidur!"


"Ma, udah bangun nih, gimana dong!"


"Papa tidurin aja lagi, mama ngantuk!" balas mama Dimas dengan menguap dan masuk ke dalam selimutnya.


Pak Tama hanya mendengus kesal lalu segera ikut tidur di samping istrinya, membiarkan bagian dari tubuhnya yang lain terbangun sendirian.


***************


Setelah selesai sarapan, Dimas dan mama papanya duduk bersantai di balkon apartemen mereka.


"Papa denger dari mama kamu mau sekolah, bener Dim?" tanya Pak Tama pada Dimas.


"Bener pa, Dimas ngulang dari SMA lagi nggak papa!"


"Buku buku yang sering kamu baca itu buku apa Dim?" tanya mama Dimas yang berpura pura tak tau.


"Oh itu buku bisnis ma, Dimas beli waktu nunggu Anita di kampus!"


"Udah kamu baca semua?"


"Udah ma, Dimas masih ingat semua isinya," jawab Dimas tersenyum bangga pada dirinya sendiri yang bisa mengingat dengan baik isi dari buku buku yang dibacanya.


Mama dan papa Dimas tertegun sejenak mendengar jawaban Dimas.


"Dimas dulu les bahasa inggris ya ma?"


"Iya, kamu emang paling suka pelajaran bahasa inggris dan kamu juga suka baca buku buku papa tentang bisnis!"


"Oh, Dimas nggak nyangka ternyata Dimas sepintar itu, Dimas baca buku buku itu cuma satu hari loh ma dan Dimas masih ingat semua isinya."


Mama dan papa Dimas saling pandang lalu memeluk Dimas bersamaan.


"Maaf ma, pa, maaf karena Dimas masih nggak bisa inget apapun tentang kalian, tentang masa lalu Dimas, tentang........"


Dimas melepas tangan mamanya dari pipinya lalu mencium kening mamanya, seperti yang dulu sering dilakukannya.


"Makasih ma," ucap Dimas membuat mamanya menangis haru.


Akhirnya, mama dan papa Dimas memutuskan untuk memanggil guru privat yang akan mengajari Dimas setiap hari. Ia sekarang mulai disibukkan dengan kegiatan belajarnya. Ia begitu cepat memahami materi yang disampaikan oleh guru privatnya dan masih tetap bisa mengingatnya dengan baik esok harinya. Hanya saja, untuk mengingat hal lain pada hari kemarin ia masih belum bisa.


Minggu pagi yang cerah. Dimas mengerjapkan matanya yang terkena silau cahaya matahari pagi itu. Ia melihat catatan di meja sebelah tempat tidurnya. Catatan yang sama yang selalu ia lihat setiap hari namun selalu hilang dalam ingatannya.


Ia megambil ponsel yang berada di samping catatan itu, memutar video yang sama yang juga selalu dilupakannya.


Dilihatnya meja belajarnya penuh dengan buku dan sebuah note book yang mencuri perhatiannya. Ia pun membukanya dan mulai membacanya halaman demi halaman tulisan tangannya di note book itu.


Ia tersenyum kecil lalu segera keluar dari kamarnya.


"Pagi ma," sapa Dimas pada mamanya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Pagi sayang, ada Anita tuh!"


"Anita? pagi pagi gini?"


"Iya, kenapa? nggak suka?" sahut Anita yang sedang duduk di sofa membelakangi Dimas.


Dimas tersenyum manis lalu segera menghampiri "kekasih" nya itu. Dimas mencium kening Anita dan duduk di sebelahnya. Anita sedikit terkejut mendapat perlakuan manis dari Dimas, pasalnya selama Dimas hilang ingatan, sikapnya selalu dingin pada Anita meskipun Anita sudah menjelaskan jika dirinya adalah kekasih Dimas.


"Kamu suka kesini pagi pagi?" tanya Dimas dengan memandang intens ke arah Anita, membuat Anita salah tingkah karenanya.


"Ee... enggak, aku... aku mau bantuin mama masak!" jawab Anita yang langsung berdiri namun segera dicegah oleh Dimas.


Dimas menarik tangan Anita agar kembali duduk lalu memeluknya erat.


"Kamu bilang aku romantis kan? kayak gini?" tanya Dimas dengan masih memeluk Anita.


Anita hanya bisa terbengong melihat sikap Dimas padanya, meskipun inilah yang sebenarnya ia inginkan, tapi melihat sikap Dimas yang tiba tiba berubah itu membuatnya jantungnya berdetak kencang tak beraturan.


Ia hanya diam dalam pelukan Dimas, keterkejutan yang ia rasakan tidak lebih besar dari bahagia yang ia rasakan saat itu.


"Nit, kamu baik baik aja?" tanya Dimas yang menyadari Anita tiba tiba diam, tidak sebawel biasanya.


Ia hanya tersenyum dan membalas pelukan Dimas.


"Aku baik baik aja Dim, aku seneng kamu sekarang udah jadi Dimas yang aku kenal dulu, Dimas yang hangat, Dimas yang selalu kasih cinta dan perhatiannya buat aku!"

__ADS_1


"Maafin aku ya, aku masih......"


"Kamu yang terbaik buat aku Dimas!"


Mama Dimas yang melihat hal itupun tersenyum senang, berbeda dengan papa Dimas. Papa Dimas yang baru keluar dari kamar segera melemparkan bantal yang berada di sofa ke arah Dimas.


"Mandi dulu, baru pacaran!" ucap papa Dimas yang langsung duduk di meja makan.


"Papa ganggu aja deh!" gerutu Dimas kesal namun langsung meninggalkan Anita untuk mandi.


Setelah Dimas selesai mandi, mereka semua menyantap sarapan pagi itu dengan canda tawa.


"Abis ini ikut aku cari buku ya!" ajak Dimas pada Anita.


Anita mengangguk cepat.


Setelah selesai makan, Dimas segera masuk ke kamarnya untuk mengambil hoodie yang akan dikenakannya. Ketika ia akan mengenakan hoodie itu tiba tiba sekelebat bayangan seorang perempuan melesat dalam pikirannya. Bayangan samar yang menggambarkan dirinya ketika memakaikan hoodie miliknya pada perempuan itu.


Dimas memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit, ia berusaha untuk menggali lebih dalam ingatannya itu namun sia sia, yang ada hanya rasa sakit yang menusuk di kepalanya hingga tanpa ia sadar ia menjatuhkan beberapa frame foto yang berada di meja dekat ia berdiri.


Anita dan kedua orangtua Dimas segera masuk ke kamar Dimas begitu mendengar suara barang jatuh dari kamar Dimas.


"Dimas, kamu kenapa?" tanya Anita yang melihat Dimas sudah bersimpuh di lantai dengan memegangi kepalanya.


Pak Tama yang melihat hal itu segera membantu Dimas untuk berdiri dan membaringkannya di tempat tidur.


"Kamu pasti lupa belum minum obat!" ucap mama Dimas sambil menyodorkan beberapa butir vitamin pada Dimas.


Dimaspun segera meminum obat itu.


"Dimas tau obat ini nggak akan kembaliin ingatan Dimas ma!"


"Jangan bilang gitu Dimas, dengan sadarnya kamu dari koma aja kita udah bersyukur, kita nggak peduli walaupun kamu nggak bisa inget apapun tentang kita, jadi jangan paksain diri kamu buat inget semuanya, kita........"


"Tapi aku nggak mau jadi beban buat kalian semua!"


"Nggak ada yang anggap kamu beban sayang, mama, papa, Anita sayang sama kamu dengan atau tanpa ingatan kamu sekalipun!"


"Tolong tinggalin Dimas sendirian ya!" ucap Dimas pelan.


Anita, mama dan papa Dimaspun keluar dari kamar Dimas.


Dimas merutuki dirinya sendiri di dalam kamar. Entah kecelakaan seperti apa yang membuatnya mengalami amnesia yang sangat langka itu, ia tak tahu. Ia sudah pernah mencoba untuk menanyakannya pada mama dan papanya, namun hal itu membuat mamanya kembali terpukul jika mengingat kejadian mengerikan itu. Pak Tama memintanya untuk tidak menanyakan hal itu lagi, karena rasa takut dan sakit yang mereka rasakan saat kejadian itu seperti kembali terulang ketika Dimas menanyakannya.


Ia sudah berusaha mencarinya di internet tapi tetap saja ia tak menemukan petunjuk apapun. Masa lalunya seolah hilang begitu saja dari hidupnya. Kini hanya ada mama, papa dan Anita yang bisa ia percaya.


Dimas berdiri di tepi jendelanya, memandang ke arah gemerlap lampu kota yang warna warni mewarnai hitamnya malam.


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Anita.


"Kamu dimana?" tanya Dimas.


"Di taman deket apartemen kamu!"


"Aku ke sana sekarang!"


Dimaspun keluar dari apartemennya dan segera menuju ke taman yang tak jauh dari apartemennya. Dengan bantuan google maps, ia bisa dengan mudah menemukan taman itu.


Dilihatnya Anita sedang berdiri di samping air mancur kecil di tengah taman.


Dimas melepaskan jaket yang dikenakannya dan memakaikannya pada Anita.


Anita tersenyum lalu memeluk Dimas.


"Maafin aku ya!" ucap Dimas pelan sambil mencium kening Anita.


"Jangan minta maaf terus Dim, nggak ada yang salah!"


Dimas tersenyum lalu menggandeng tangan Anita untuk diajak duduk di kursi yang tak jauh dari air mancur itu.


Dimas menyandarkan kepalanya di bahu Anita.


"Nit, aku boleh nanya sesuatu sama kamu?"


"Apa?"


"Waktu aku koma, kenapa kamu nggak nungguin aku?"


"Mana mungkin aku ninggalin orang yang aku cinta berjuang hidup sendirian di ranjang rumah sakit berbulan bulan!"


"Kenapa kamu cinta sama aku?"


"Kamu baik Dimas, kamu selalu ada buat aku, kamu selalu jadiin aku yang pertama buat kamu!"


Dimas tersenyum tipis. Entah kenapa hatinya terasa mati. Hatinya seolah menolak semua masa lalu yang diceritakan Anita padanya. Hatinya masih terasa kosong meski ia sudah bersama Anita. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi ia tak tau apa dan siapa sesuatu itu.


Keadaannya ini membuatnya dihantui rasa bersalah pada Anita. Rasa bersalah karena ia sama sekali tak bisa mengingat bahkan merasakan jalinan "cinta" yang sudah mereka rajut bersama sebelum kecelakaan itu terjadi.

__ADS_1


__ADS_2