
Malam semakin larut bersama kemesraan bulan dan bintang yang menghiasai kegelapan. Rasa kantuk pun tak dapat dihindari lagi, beberapa kali Dini tampak menguap.
"Kamu mau tidur?" tanya Dimas pada Dini.
Dini hanya mengangguk sebagai jawaban, matanya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Kerlip bintang dan warna warni lampu kota yang terlihat dari balkon tak mampu menghalau rasa kantuk yang menyerang matanya.
Dimaspun mengajak Dini ke kamar.
"Kamu tidur di sofa lagi?" tanya Dini pada Dimas, sebelum ia memejamkan matanya.
"Iya sayang, cuma ada satu tempat tidur di sini," jawab Dimas.
"Aku aja deh yang di sofa, kamu di ranjang aja!"
"Jangan, aku nggak papa kok tidur di sini!"
"Tapi...."
"Udah, cepet tidur sayang, besok aku bangunin pagi pagi," ucap Dimas memotong ucapan Dini.
Dini pun menurut karena berdebat pun tak akan ada gunanya karena ia tau Dimas sangat keras kepala.
Dini mulai memejamkan matanya. Malam telah mengantarnya ke alam mimpi. Mimpi yang selalu ditakutkannya, mimpi yang membuatnya tak ingin tertidur lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, Dimas masih terjaga. Sudah 3 gelas kopi ia habiskan agar tidak tertidur, agar ia bisa menjaga Dini bersama mimpinya, agar ia bisa memperhatikan Dini seperti perintah Dokter Mela.
Meski sudah menghabiskan 3 gelas kopi, nyatanya mata Dimas masih bisa merasakan kantuk. Dimas lalu mengambil ponselnya dan bermain game untuk menghilangkan rasa kantuk yang seolah memaksanya untuk segera terlelap.
Hingga tiba tiba ia mendengar Dini merintih. Dimas segera mendekati Dini. Ia melihat raut wajah Dini yang tampak ketakutan dan peluh menetes dari keningnya. Dini mencengkeram erat guling yang berada di kanan dan kirinya.
"maafin aku sayang, maafin aku nggak bisa bangunin kamu sekarang," ucap Dimas dalam hati.
Ia tak tega melihat gadis yang dicintainya tampak menderita seperti itu, tapi ia juga ingin agar gadisnya segera terbebas dari fobia yang dialaminya.
"fobia itu bisa datang dari mana saja Dimas, bisa dari faktor genetik atau trauma masa lalu," batin Dimas mengingat ucapan Dokter Mela beberapa waktu lalu.
"Jangan bu, jangan!" ucap Dini dengan mata yang masih terpejam.
"Ayaaahhh!!" teriak Dini yang begitu histeris.
Melihat hal itu Dimas semakin tidak tega membiarkan Dini berada dalam mimpi buruknya. Air mata Dini sudah tumpah, menyelinap keluar dari kedua sudut matanya yang tertutup.
"Sayang, bangun sayang," ucap Dimas yang pada akhirnya menyerah untuk membiarkan Dini tenggelam dalam mimpi buruknya.
"Dini kedinginan bu, Dini kedinginan," ucap Dini yang tampak menggigil.
Dimas lalu menarik selimut Dini hingga menutup dadanya, namun Dini masih tampak kedinginan.
"Sayang aku mohon bangun," ucap Dimas dengan sedikit menggoyangkan tubuh Dini.
Dini semakin terisak dalam tidurnya. Dimas bisa merasakan kesakitan yang begitu dalam dirasakan Dini dalam mimpinya. Ia masih berusaha membangunkan Dini namun Dini semakin masuk ke dalam mimpinya.
"Maaf sayang, aku harus bangunin kamu," ucap Dimas dengan mencubit kecil tangan Dini hingga Dini membuka matanya, membuat air matanya tumpah membasahi bantal milik Dimas.
"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Dimas yang melihat Dini sudah membuka matanya.
Dini hanya diam dengan pandangan kosong, air matanya masih keluar seolah kesakitan itu nyata ia rasakan bahkan sampai ia bangun.
Dimas lalu memberikan Dini satu gelas minuman untuk menenangkan Dini.
Dini hanya menerima minuman itu dan meminumnya sedikit.
"Ada apa sayang? kamu mimpi buruk lagi?" tanya Dimas dengan membawa Dini ke dalam pelukannya.
"Aku takut Dimas, aku takut," ucap Dini dengan memeluk Dimas sangat erat.
"Ada aku di sini, kamu bisa cerita apa aja sama aku sayang!"
Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan semakin erat memeluk Dimas.
Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan memegang kedua bahu Dini.
"Andini, jangan kamu pendam sendiri kesedihan kamu, kamu harus cerita sama aku apa yang ganggu tidur kamu tiap malem?"
"Enggak Dimas, aku nggak mau inget inget lagi!"
"Tapi kamu harus cerita sayang, walaupun aku nggak bisa bantu kamu setidaknya aku tau apa yang terjadi sama kamu!"
"Nggak ada yang terjadi sama aku Dimas, itu cuma mimpi!"
"Mimpi yang terus berulang setiap malem? mimpi yang selalu bikin kamu ketakutan? mimpi yang bikin kamu nangis bahkan sampe kamu bangun? itu bukan mimpi biasa Andini, itu......"
"Itu cuma mimpi Dimas, kamu nggak bisa maksa aku kayak gini!" ucap Dini lalu beranjak dari ranjang berniat untuk keluar dari kamar Dimas namun Dimas mencegahnya.
"Aku cuma mau kamu cerita Andini," ucap Dimas dengan menahan tangan Dini, namun Dini menarik tangannya dengan kasar.
"Nggak ada yang harus aku ceritain sama kamu!" ucap Dini lalu keluar dari kamar Dimas dan mengambil tasnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas dengan menghadang pintu.
"Aku mau pulang," ucap Dini dengan berusaha mendorong Dimas.
"Enggak, aku anter kamu jam 6!"
"Aku bisa pulang sendiri tanpa kamu anter Dimas!"
__ADS_1
"Dan aku nggak akan biarin kamu pulang sendiri Andini!"
"Kamu egois!" ucap Dini dengan mata berkaca kaca.
"Aku atau kamu yang egois Andini? aku cuma mau kamu bagi masalah kamu sama aku, aku cuma mau kita saling terbuka, apa itu salah? apa salah kalau aku peduli sama kamu?"
"Aku nggak mau inget inget itu lagi Dimas, aku nggak mau, kenapa kamu maksa aku kayak gini?"
"Aku nggak maksa kamu, aku cuma mau kamu terbuka sama aku, cerita semua masalah kamu sama aku!"
"Masalah apa yang kamu maksud Dimas? mimpi buruk? aku udah cerita kalau aku sering mimpi buruk, udah, tentang apa dan gimana mimpi itu jangan dibahas lagi, itu cuma mimpi kan kenapa jadi masalah?"
"Aku khawatir sama kamu, aku nggak mau ada hal hal buruk yang terjadi sama kamu, aku....."
"Nggak ada hal buruk yang terjadi sama aku, aku cuma mimpi buruk dan mimpi itu sama sekali nggak berpengaruh sama kehidupanku sehari hari, lalu apa yang kamu khawatirkan Dimas?"
Dimas menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ia lalu mendekat ke arah Dini dan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.
"Aku sayang sama kamu Andini, aku cuma mau kamu selalu baik baik aja, aku nggak mau mimpi itu ganggu kamu setiap malem, kamu nggak tau gimana tersiksanya aku waktu liat kamu sesedih itu tapi aku nggak bisa ngelakuin apa apa!"
"Jangan dibahas lagi Dimas, aku mohon, kalau emang kamu ngerasa terganggu sama mimpi burukku, aku minta maaf, aku akan pulang sekarang dan nggak akan tidur di sini lagi sama kamu," ucap Dini dengan menarik tangannya.
"Bukan itu maksudku sayang, nggak gitu, justru aku yang nggak mau mimpi itu terus terusan ganggu kamu, barangkali setelah kamu cerita sama aku, bisa sedikit mengurangi beban kamu."
"Ini yang terkahir kali aku bilang sama kamu, jangan pernah bahas mimpi itu lagi atau aku bener bener keluar dan pulang sendirian sekarang!"
Dimas menghembuskan napasnya pelan lalu memeluk Dini. Ia sudah kalah, ia tak akan mendapat informasi apapun dari Dini.
"Maafin aku sayang," ucap Dimas dengan semakin erat memeluk Dini.
"Jangan dibahas lagi ya!"
Dimas hanya menganggukkan kepalanya dengan berat hati.
Mereka lalu kembali ke kamar dan kembali tidur setelah keduanya mulai tenang.
**
Tepat jam 6 pagi, Dimas dan Dini sudah keluar dari apartemen dan segera menuju ke kos. Setelah perdebatan panjang beberapa jam yang lalu, mereka kini kembali akur.
Sesampainya di tempat kos, Dini segera turun dari mobil Dimas dan berjalan menuju tangga. Tepat saat Dini akan naik, Andi keluar dari dapur.
"Mata kamu bengkak, abis nangis?" tanya Andi dengan menggerakkan kepala Dini ke kanan dan ke kiri.
"Enggak, emang baru bangun tidur ya gini!" balas Dini mengelak lalu segera naik, namun Andi menahan tangan Dini.
"Jangan bohong deh Din, berantem lagi?"
"Enggak kok, tanya aja tuh!" balas Dini dengan membawa pandangannya ke arah Dimas yang baru saja keluar dari mobil.
Melihat Dimas datang, Andi segera melepaskan tangan Dini dari genggamannya.
"On time kan gue!" ucap Dimas pada Dini.
"Iya, tapi kenapa Dini nangis? berantem lagi?"
"Kok lo tau?"
"Keliatan dari matanya," jawab Andi sambil menyereput mie instan yang baru saja dibuatnya.
"Eh itu cewek gue ngapain lo liatin matanya!" balas Dimas cemburu.
"Cemburu?"
"Lo selalu bikin gue cemburu Ndi, rese' banget!"
"Bodo amat!" balas Andi dengan menyeruput mie instannya di depan wajah Dimas.
"Heran deh gue, lo makan mie instan mulu tapi otak lo encer banget sih!"
"Udah bawaan dari lahir, nggak bisa diganggu gugat hahaha...."
"Sombong amaaatttt!!"
"Lo sendiri abis amnesia langsung encer otak lo, bisa gitu ya!"
"Mungkin selama gue koma jiwa gue belajar kemana mana hahaha...."
"Gila lo!"
"Ndi, ada yang mau gue tanyain sama lo soal Andini!"
"Kenapa?" tanya Andi.
"Tapi lo jangan bilang Andini ya kalau gue nanyain soal ini!"
"Iya iya, emangnya ada apa?"
"Setau gue bokapnya Andini udah meninggal dari dia kecil kan?"
"Iya, dari dia baru lahir malah, kenapa emang?"
"Lo yakin?"
"Yakinlah, emang kenapa sih?"
__ADS_1
"kalau emang bener ayahnya meninggal dari dia bayi, lalu kenapa dia panggil 'ayah' di mimpinya? apa yang sebenernya terjadi?"
"Wooooyy, masih pagi jangan ngelamun!" ucap Andi dengan menepuk paha Dimas.
"Apa menurut lo Andini punya masa lalu yang buruk Ndi?"
"Punya, waktu dia kecil," jawab Andi.
"Lo bisa cerita sama gue?"
Andi mengangguk.
"Dulu waktu dia masih SD, anak cowok yang suka gangguin dia, hampir tiap hari cowok tengil, brengs3k itu gangguin Dini sampe' Dini nangis, sampe' suatu hari....."
"Tunggu tunggu, kayaknya gue tau cerita ini," ucap Dimas yang merasa menjadi tokoh "tengil dan brengs3k" di cerita Andi.
"Dengerin dulu!" protes Andi.
"Oke oke, lanjut!"
"Suatu hari kejailannya si cowok ini udah berlebihan sampe bikin Dini pingsan di lapangan di bawah hujan dan bagian paling brengseknya adalah cowok itu langsung pindah sekolah hari itu juga, nggak ada kata maaf apa lagi tanggung jawab, bener bener brengs3k tuh anak!"
"Anak kecil itu terpaksa Ndi, dia ikutin perintah orang tuanya biar masalahnya nggak semakin besar dan lagi di sekolah itu juga anak yang sok jadi super hero sampe' dia nonjok temennya, gara gara itu sampe dia gede masih suka nonjok temennya itu!"
"Dia bukan temen gue, temen gue nggak ada yang brengsek!" balas Andi yang merasa tersindir dengan cerita Dimas.
"Hahaha.... gue nggak ngomongin lo kok!"
"Lagi cerita apaan sih seru banget?" tanya Nico yang tiba tiba datang dan duduk di sebelah Andi.
"Nggak tau nih temen lo, ditanya serius malah sarkasme!" jawab Dimas.
"Siapa yang sarkasme, gue emang ngomongin lo kok hahaha...."
"Jadi gue masa lalu yang buruk gitu?" tanya Dimas kesal.
"Iya lah, gue kenal Dini dari bayi Dim dan gue tau banget kalau lo emang masa lalu terburuk buat Dini hahaha...."
"It's okay, yang penting sekarang gue akan jadi masa depan yang baik buat dia!" balas Dimas penuh percaya diri.
"Sok yakin banget lo!" sahut Nico.
"Harus yakin dong!" balas Dimas.
Tak lama kemudian Dini datang dan segera di sambut oleh Dimas.
"Tutup mata Ndi," ucap Nico pada Andi.
Andi dan Nico kompak menutup mata, menghindari kebiasaan romantis Dini dan Dimas.
Setelah semuanya siap, merekapun berangkat ke kampus menggunakan mobil Dimas.
"Aletta udah berangkat ya?" tanya Dimas.
"Udah dari pagi," jawab Andi.
"Kalian baik baik aja kan?" tanya Dini pada Andi.
"Aku sama Nico? kita baik baik aja!" balas Andi.
"Bukan, maksud aku kamu sama Aletta!"
"Kita baik baik aja, lagian kita juga bukan anak kecil lagi Din, ini keputusan bersama dan ini yang terbaik buat kita!" jawab Andi.
"Aku seneng dengernya, aku juga seneng liat kamu baik baik aja," ucap Dini dengan menoleh ke arah Andi, namun Dimas segera mengarahkan kepala Dini kembali ke depan dan menggenggam tangannya.
Ya, Dimas cemburu mendengar ucapan Dini pada Andi.
"Kenapa?" tanya Dini dengan lugunya.
"Nggak papa, itu tadi kayaknya ada temen kamu, ternyata bukan!" jawab Dimas beralasan.
Sedangkan Andi dan Nico di belakang hanya saling pandang dan tertawa tanpa suara.
Setelah sampai di kampus, mereka segera berpencar. Tiba tiba ponsel Dimas bergetar, panggilan dari Dokter Mela.
Dengan sembunyi sembunyi Dimas menerima panggilan dari Dokter Mela, ia tidak ingin Dini mengetahui jika ia masih berhubungan dengan Dokter Mela.
"Halo Dok, maaf lama angkatnya, Dimas lagi di kampus!" ucap Dimas setelah dirasa ia cukup jauh dari Dini.
"Iya nggak papa, apa saya ganggu?"
"Enggak kok Dok, kelasnya belum mulai," jawab Dimas.
"Gimana perkembangan Dini Dim?"
"Dia nggak mau cerita apa apa sama saya Dok, tapi waktu dia mimpi buruk dia panggil ayahnya sambil teriak ketakutan Dok, dia juga bilang 'jangan bu!' sambil nangis dan yang paling Dimas inget, dia bilang kalau dia kedinginan waktu itu," jelas Dimas.
"Kamu coba tanyakan lagi ke Dini Dim, kalau dia tetap nggak mau cerita, satu satunya cara kamu harus tanyakan orangtuanya, saya khawatir ada trauma masa lalu yang pernah saya jelaskan sama kamu dulu!"
"Tapi ayahnya udah meninggal dari dia bayi Dok, dia bahkan nggak tau wajah ayahnya, tinggal ibunya yang sekarang kerja di luar kota!"
Dokter Mela diam beberapa saat, mencoba mencerna penjelasan Dimas.
"Satu satunya sumber informasi kamu sekarang cuma ibunya Dim, saya rasa ada masa lalu yang buruk diantara Dini, ibu dan ayahnya, saya nggak berani berspekulasi lebih jauh, tapi saya rasa ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan atau bahkan dihilangkan"
__ADS_1
Setelah mematikan panggilan Dokter Mela, Dimas segera kembali ke kelasnya.
"rahasia besar? ada apa sebenarnya? aku harus ketemu ibu Dini, secepatnya," batin Dimas dalam hati.