Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Hanya Teman


__ADS_3

Andi hanya diam mendengar ucapan Dimas. Memang ia sudah merelakan Dini bersama Dimas tapi itu bukan berarti perasaannya pada Dini hilang begitu saja.


"Lo bener-bener nggak ada rasa apapun sama Anita?" tanya Dimas membuyarkan lamunan Andi.


"Lo udah tau jawabannya Dim, jangan banyak tanya!"


"Jangan-jangan lo belok lagi, hiiiii...." ucap Dimas sambil menggeser posisi duduknya menjauhi Andi.


"Kalau gue belok, lo apa? banyak cewek yang suka sama lo tapi nggak ada yang lo jadiin pacar," balas Andi kesal.


"Gue maunya sama Andini, gimana dong!"


"Dasar bucin!"


"Sesama bucin nggak boleh ngatain hahaha...."


"Nggak jelas lo Dim, ayo lanjut!"


"Eh, tapi Anita cantik juga loh Ndi, lo nggak suka?" tanya Dimas menggoda.


"Bodo amat, gue tinggalin disini mau lo?"


"Cowok kok gampang ngambek," balas Dimas menirukan ucapan Andi.


Andi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Dimas. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika dia akan sedekat ini dengan Dimas, terlebih masa lalu Dimas yang membuatnya sangat membencinya.


****************


Di rumah Anita,


Anita yang baru sampai di rumah malam hari segera merebahkan badannya di tempat tidur. Ia memandangi foto mamanya yang terpajang di meja belajarnya. Air matanya perlahan tumpah mengingat apa yang terjadi setelah kepergian mamanya.


"Ma, Anita kangen," ucap Anita yang mulai terisak.


"Anita sendirian ma, Anita nggak punya siapa-siapa, Anita......" kata-katannya terhenti ketika mendengar suara laki-laki dan perempuan dari luar kamarnya.


Ia pun segera keluar untuk melihat perempuan macam apa lagi yang papanya bawa ke rumah.


"Kamu udah pulang Nit?" tanya Pak Sony, papa Anita.


Anita hanya diam, tak menjawab.


"Kok nggak ngabarin papa? papa kan bisa jemput," lanjut Pak Sony.


Anita seperti tak mendengarkan ucapan papanya, matanya tak beralih dari perempuan muda yang kini duduk di kursi ruang tamunya.


"Nit, kamu nggak dengerin papa?" tanya Pak Sony yang merasa diabaikan oleh anaknya sendiri.


"Kenapa harus Anita yang selalu dengerin papa? sedangkan papa nggak pernah sekalipun dengerin Anita," balas Anita dengan menatap tajam papanya.

__ADS_1


"Jaga bicara kamu Nit, kamu pikir papa nggak bertanggungjawab sama kamu? papa yang kasih semua fasilitas mewah buat kamu, papa yang bayar semua kebutuhan kamu, ini hormat kamu sama papa?" tanya Pak Sony dengan nada tinggi.


"Kenapa papa ingkari janji papa sendiri? kenapa papa nggak bertanggungjawab sama ucapan papa sendiri? Anita nggak minta semua kemewahan ini Pa, Anita cuma butuh kasih sayang mama sama papa, cuma itu," balas Anita dengan air mata yang mulai menggenang, siap untuk segera tumpah membasahi pipinya.


"Mama kamu udah nggak ada Nit, kamu harus terima itu, kalau kamu nggak suka sama aturan papa, kamu bisa keluar dari rumah ini dan jangan harap kamu akan hidup tenang di luar sana," ancam Pak Sony penuh emosi.


"Ini bentuk tanggungjawab papa sama Anita? orang tua macam apa yang tega ngusir anak kandungnya demi keegoisannya sendiri!"


Plaaakkk.


Satu tamparan keras mendarat di pipi Anita, meninggalkan bekas kemerahan di pipinya.


Anita segera masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.


Sakit yang dia rasakan bukan hanya karena tamparan papanya, tapi karena sikap papanya yang jauh berubah sejak kematian mamanya.


Isak tangisnya memenuhi ruangan, ia merasa hidupnya sudah tak ada artinya lagi. Ia lelah menyembunyikan kesedihannya selama ini, jika bukan karena pesan mamanya ia tak akan bisa sekuat ini.


Jangan biarkan orang lain tau tentang kesedihan kita sayang, biar mereka liat kebahagiaan kita saja, karena kebanyakan dari mereka hanya menilai dari apa yang terlihat, itu kenapa kamu harus jadi perempuan yang selalu bahagia, ceria dan tegar menghadapi apapun yang terjadi.


Itulah pesan mamanya yang selalu ia ingat sampai sekarang, itu juga yang membuatnya selalu terlihat ceria dan bahagia meski sebenarnya hatinya rapuh dan nyaris hancur.


Anita mengambil ponselnya dan menghubungi Dimas.


"Ada Nit?" tanya Dimas


"Aku butuh kamu Dimas," ucap Anita menahan isak tangisnya yang masih belum mereda.


"Udah, aku udah di rumah."


"Aku minta maaf Nit, kalau sikapku tadi nyakitin kamu," ucap Dimas yang merasa bersalah karena sempat mengabaikan Anita saat di taman.


"Nggak papa Dim, aku ngerti, ini bukan soal kamu, ini soal papa."


"Ada apa Nit?"


"Papa ngusir aku Dim," jawab Anita dengan menangis mengingat bagaimana papanya mengusirnya tadi.


"Mungkin papa kamu cuma emosi, biarin aja sampe' emosinya reda," balas Dimas mencoba menenangkan Anita.


"Besok aku jemput ya!" lanjut Dimas berharap bisa memperbaiki suasana hati Anita.


"Kamu nggak jemput Dini?"


"Dia nggak pernah mau aku jemput, dia udah sama Andi, aku jemput ya besok!"


Anitapun mengiyakan dengan cepat dan tersenyum, ada sedikit kebahagiaan yang mengobati luka di hatinya.


*************

__ADS_1


Esok paginya, Dimas sudah berada di depan rumah Anita.


Anita yang melihat Dimas datang segera mempercepat langkahnya untuk keluar.


"Udah siap?" tanya Dimas.


"Udah," jawab Anita dengan senyum termanisnya.


"Rumah kamu sepi banget Nit."


"Iya, cuma ada aku sama bibi, papa nggak tidur di rumah kayaknya," balas Anita dengan tersenyum pahit.


"Pipi kamu kenapa Nit?" tanya Dimas yang baru menyadari jika ada memar di pipi Anita.


"Nggak papa."


"Nggak papa gimana, ini memar Nit!" ucap Dimas sambil memeriksa lebih dekat pipi Anita.


"Aawww, sakit Dim, jangan dipegang!" ucap Anita kesakitan karena memar bekas tamparan papanya tidak sengaja tersentuh oleh Dimas.


"Sorry sorry, aku kasih obat oles ya!"


"Nggak usah, biarin aja, nanti juga hilang!"


"Nggak perih kok, tenang aja," bujuk Dimas sambil mengoleskan obatnya ke luka memar di pipi Anita.


"gimana aku nggak baper Dim kalau sikap kamu kayak gini ke aku," batin Anita dalam hati.


"Udah, jangan dipegang-pegang ya!"


"Kamu bilang nggak perih, ini perih Dimas!" rengek Anita.


"Hahaha, ya kalau aku bilang perih pasti kamu nggak mau nanti," balas Dimas dengan meniup pipi Anita seolah menghilangkan perih akibat obat yang dioleskannya.


Degup jantung Anita semakin kencang karena sikap Dimas padanya.


"sadar Nit, Dimas cuma temen, nggak lebih," ucap Anita dalam hati, berusaha menyadarkan perasaannya yang semakin menggila.


Tiba-tiba ponsel Dimas berdering karena ada panggilan dari Dini.


"Pagi sayang, ada apa?" ucap Dimas sambil menempelkan ponselnya di telinga.


"Ini udah jam berapa Dimas, kamu nggak sekolah?" tanya Dini.


"Iya iya ini udah mau berangkat kok."


"Ya udah, hati-hati."


"See you sayang!"

__ADS_1


Dimas memasukkan ponselnya ke saku celananya kemudian segera melajukan mobilnya menuju ke sekolah.


Selama perjalanan, Anita hanya diam memikirkan sikap Dimas padanya. Ia merasa jika dirinya sudah diperlakukan spesial oleh Dimas, tapi nyatanya Dimas hanya menganggapnya teman biasa.


__ADS_2