
Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Ivan masih mengerjakan pekerjaannya di apartemen Anita, sedangkan Anita sudah tertidur dengan posisi duduk dan bersandar di bahu bahu Ivan.
Setelah memastikan Anita benar benar tertidur pulas, Ivan meletakkan laptopnya di meja yang berada di sebelahnya. Dengan perlahan ia membopong Anita ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Ivan menarik selimut dan menutup tubuh Anita yang hanya mengenakan lingerie itu dengan selimut.
"Mimpi indah cantik," ucap Ivan dengan menyibakkan rambut Anita yang menutupi mata.
Biiiip Biiippp Biiippp
Ponsel Ivan berdering.
"Halo Van, mana hasilnya? gue sama anak anak udah nunggu dari kemarin nggak ada hasil apa apa?" tanya seseorang dengan nada tinggi.
"Sabar dikit lah, ini lagi gue selesaiin, kalau udah selesai juga pasti langsung gue kirim!"
"Gue nggak mau tau ya, malam ini harus udah selesai, kita udah kasih DP gede buat lo!"
"Iya iya gue ngerti, gue tau apa yang harus gue lakuin!"
"Bagus kalau gitu, gue tunggu!"
Klik, sambungan terputus.
Ivan terduduk di ranjang Anita. Ia memperhatikan Anita yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
"Maafin aku Nit," ucap Ivan pelan lalu keluar dari kamar Anita dan menyelesaikan pekerjaannya di ruang tamu.
"sial, kenapa gue nggak bisa fokus sih, nggak biasanya gue kayak gini, jangan sampe' lo beneran jatuh cinta saa dia Van, jangan sampe' rencana lo berantakan gara gara cinta konyol itu,"
Ivan lalu menyelesaikan pekerjaanya hingga pukul 3 pagi. Ia pun tertidur di sofa dengan laptop yang masih menyala.
**
Pagi telah datang membawa sinar mentari yang mulai hangat. Anita mengerjapkan matanya dan mulai terbangun dari tidurnya. Ia menyibakkan selimutnya dan duduk di ranjangnya.
"Ivan? semalem nggak terjadi apa apa kan?"
Anita lalu meraba raba bagian tubuhnya sendiri dan begitu lega karena Ivan tak melakukan hal buruk padanya. Setelah mandi dan berganti pakaian, Anita keluar dari kamarnya dan begitu terkejut karena melihat Ivan yang tertidur di lantai dengan posisi duduk dan merebahkan kepalanya di meja. Anitapun menghampiri Ivan berniat untuk membangunkannya karena ia harus meninggalkan apartemen untuk berangkat ke butik.
"Ivan, bangun," ucap Anita dengan menggoyang goyangkan tubuh Ivan.
Ivan tak bergeming, ia masih tampak pulas dalam tidurnya. Melihat laptop Ivan yang masih menyala, Anita lalu hendak menutupnya. Namun sebelum itu, ia penasaran pada hasil akhir pekerjaan Ivan semalam. Anita pun mulai mengotak atik laptop milik Ivan.
Tak lama kemudian Ivan bangun dan segera mendorong tubuh Anita lalu mengambil laptopnya dan menutupnya. Ia begitu terkejut karena Anita sedang mengotak atik laptopnya. Ia takut Anita akan menemukan hal yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang.
Anita meringis kesakitan karena ketika Ivan mendorongnya, kepalanya terbentur rak buku yang berada di belakangnya.
Ivan lalu menghampiri Anita dan memegang kedua pipi Anita dengan satu tangannya. Sudah tampak raut wajahnya yang berapi api siap meluapkan emosinya pada Anita.
"Apa yang udah kamu lakuin Anita? kenapa kamu lancang buka laptopku?"
Anita tak menjawab, ia hanya berusaha untuk menggeleng. Kini ia melihat Ivan yang begitu menyeramkan, sangat berbeda dengan Ivan yang semalam begitu manis.
Ivan lalu melepaskan Anita dengan kasar dan duduk di sofa.
"Apa aja yang udah kamu liat?" tanya Ivan.
"Aa... aku.... aku cuma mau liat hasil desain kamu semalem, tapi aku belum liat apa apa, aku...."
Ivan lalu mengambil gelas di meja dan melemparnya ke arah rak buku. Lemparan gelas itu mengenai tepat di sebelah kepala Anita membuat pecahan gelas itu terlempar ke arah wajah Anita dan menggores wajahnya.
"Aaaawwwhh...." pekik Anita dengan memegang pipinya.
Melihat hal itu, Ivan segera menghampiri Anita dan membawanya untuk duduk di sofa. Tanpa banyak bicara Ivan lalu mengambil kotak P3K, membersihkan lalu mengobati luka Anita.
Ivan kemudian menyisir rambut Anita dan mengikatnya ke atas seperti yang sering ia lakukan.
"Maafin aku," ucap Ivan sambil mengikat rambut Anita.
Anita hanya diam, ia duduk membelakangi Ivan dengan air mata yang mulai tumpah. Ia menangis bukan karena luka di pipinya. Ia menangis karena merasa takdir hidupnya begitu jahat padanya. Ia kehilangan mamanya dan melihat papanya bermesraan dengan banyak perempuan. Ia mendapatkan kekerasan fisik dari papanya yang hampir membuatnya bunuh diri. Ia mencintai seseorang yang bahkan tak pernah mencintainya dan sekarang ia harus bertemu dengan seseorang yang begitu kasar padanya. Ia bahkan mendapat kekerasan fisik tanpa ia bisa melawan.
Ivan lalu memutar tubuh Anita agar menghadap ke arahnya.
"Maafin aku Anita, maaf," ucap Ivan dengan menghapus air mata Anita.
Anita masih diam, ia hanya menangis. Hatinya terasa sakit mengingat bagaimana takdir tak pernah berpihak padanya.
"Apa luka ini sakit banget? apa kita harus ke rumah sakit?" tanya Ivan.
Anita menggeleng.
"Jangan diem aja dong, jangan bikin aku......"
__ADS_1
Anita lalu menarik tangan Ivan dan menamparkannya ke pipinya.
"Tampar aku Ivan, tampar! bunuh aku sekalian kalau kamu mau!" ucap Anita dengan nada tinggi. Ia sudah menyerah, ia akan membiarkan Ivan melakukan apapun yang Ivan mau. Ia sudah tidak peduli lagi pada hidup yang terus saja menyakitinya.
Ivan lalu berdiri dari duduknya dan menampar Anita dengan keras. Ia sudah kehilangan kewarasannya.
Anita memegangi pipinya yang terasa perih, Anita lalu beranjak dari duduknya namun Ivan menarik rambutnya dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur ke lantai. Tak berhenti sampai di situ, Ivan kembali menarik rambut Anita dan membenturkan kepala Anita ke dinding. Anita hanya diam, ia sama sekali tidak melawan.
"Ini yang kamu mau? Hah?"
Anita hanya diam, air matanya menetes. Ivan lalu melepas ikat pinggang yang dikenakannya dan mencambukkannya ke tubuh Anita bagian atas.
"Aku nggak suka kamu buka laptopku Anita!"
Anita masih diam dengan semua siksaan yang Ivan berikan. Kepalanya mulai terasa berdenyut, tubuhnya sudah lemas dan diambang kesadaran.
Sekali lagi, Ivan menarik rambut Anita agar Anita mengangkat kepalanya. Ia lalu menamparnya dengan keras hingga sudut bibir Anita berdarah.
"Jangan maksa aku buat kasar sama kamu Anita," ucap Ivan dengan suara yang begitu pelan.
Ivan lalu mengangkat tubuh Anita dan membawanya ke kamar. Ivan membaringkan tubuh Anita yang sudah lemas di ranjang. Lagi lagi Ivan membersihkan luka Anita dan mengobatinya.
"Apa yang kamu lakuin tadi?" tanya Ivan masih dengan suara yang pelan.
Anita hanya diam dengan pandangan nanar. Ia tak menjawab juga tak bergerak sama sekali.
"Anita, apa yang kamu lakuin sama laptopku tadi?" tanya Ivan mengulang pertanyaannya.
Anita tak bergeming, ia masih diam. Darah masih menetes dari sudut bibirnya, pipinya dan badannya tampak lembam, di beberapa bagian tubuhnya bahkan mengeluarkan darah karena cambukan Ivan.
"Buka baju kamu ya? aku mau liat luka kamu!"
Anita masih tak menjawab, mulutnya seolah telah terkunci. Ivan lalu membuka pakaian Anita, menyisakan bra yang menempel di dada Anita.
Ada sedikit penyesalan yang Ivan rasakan ketika melihat banyak luka bekas cambukannya di tubuh bagian atas Anita. Ia lalu mengoleskan krim dan membantu Anita mengenakan kembali pakaiannya.
"Anita, kamu marah sama aku?"
"kamu sakit Ivan, setelah apa yang kamu lakuin, kamu nanya apa aku marah? kamu bener bener gila!" batin Anita dalam hati.
"Aku nggak akan ngelakuin ini kalau kamu nggak lancang nyentuh barang barangku," lanjut Ivan.
"Kasih aku kesempatan buat tanyain banyak hal sama kamu," ucap Anita dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Oke, kali ini aku biarin kamu tanya apapun yang mau kamu tau," balas Ivan.
"Kenapa kamu bantuin aku?"
"Karena aku suka sama kamu, kamu tau itu kan?"
"Kalau kamu suka sama aku, kenapa kamu malah bikin aku deket sama Dimas?"
"Karena aku tau itu yang bikin kamu bahagia dan aku mau kamu bahagia."
"aku nggak ngerti jalan pikiran kamu," ucap Anita dalam hati.
"Jadi kamu biarin aku sama Dimas? padahal kamu suka sama aku!"
Ivan mengangguk tanpa ragu.
"Aku akan kasih apapun yang kamu mau, apapun yang bikin kamu bahagia, tapi kamu harus nurutin semua yang aku mau," ucap Ivan.
"Apa menurut kamu aku sekarang keliatan bahagia?"
"Aku minta maaf."
"Kenapa kamu lakuin ini? ini bentuk rasa suka kamu sama aku?"
"Aku nggak akan ngelakuin ini kalau kamu nggak bikin aku marah Anita, aku......"
"Apa aku boleh marah?"
"Boleh, kamu boleh marah sama aku sepuas kamu asal kamu jangan diem aja dan jangan pergi, sejauh apapun kamu pergi aku pasti bisa temuin kamu lagi dan aku nggak akan biarin kamu lepas dariku," jawab Ivan.
"Apa yang sebenernya kamu mau Ivan? kenapa kamu ngelakuin semua ini sama aku?"
"Ini cara ku buat tunjukin perasaan ku sama kamu Anita, ini....."
"Perasaan apa yang kamu maksud? cinta? cinta seperti apa yang yang bikin seseorang tega ngelakuin hal ini?"
Ivan hanya tersenyum sinis lalu mendekati Anita dan mengusap dengan kasar pipi Anita yang tampak lebam.
__ADS_1
"Ini caraku dan kamu nggak bisa ngatur aku," ucap Ivan pelan namun penuh penekanan dan emosi dari raut wajahnya.
"Oke, kesempatan terlakhir kamu buat tanya, setelah itu aku akan ngelakuin apa yang dari tadi aku tahan kalau kamu tanya lagi!" lanjut Ivan.
"Apa yang udah kamu lakuin sama kafenya Dimas?"
"Haha... kafe? nggak ada, aku cuma main main sama dia, aku mau tau sehebat apa sih anak dari Adhitama itu? apa dia sehebat bapaknya? atau dia cuma anak kemarin sore yang masih sembunyi di ketiak mama papanya? hahaha...."
"Dimas sama sekali nggak bergantung sama orangtuanya, dia mulai bisnisnya sendiri sama kak Yoga, dia bukan anak yang manja dan yang pasti dia selalu memperlakukan perempuan dengan sangat baik."
"Ya ya ya terserah kamu aja, aku nggak peduli, aku ingetin sekali lagi ya, jangan pernah sentuh barang barangku atau aku akan ngelakuin yang lebih dari ini!" ucap Ivan lalu keluar dari kamar Anita.
Tak lupa sebelum pergi, Ivan memasukkan laptop dan barang barang lainnya ke dalam tas lalu keluar dari apartemen Anita.
**
Di tempat lain, Andi sedang kesal karena Dimas yang baru saja menghubunginya dan memaksanya untuk pergi ke apartemennya.
Dimas mengancam akan memberi tahu Aletta bagaimana perasaan Andi yang sebenernya pada Dini. Alhasil, Andi terpaksa menuruti kemauan Dimas.
Pagi itu, Andi pergi ke apartemen Dimas. Ketika baru saja keluar dari lift, lagi lagi Andi bertemu Ivan. Ia melihat Ivan keluar dari salah satu unit apartemen di sana. Andi mengabaikannya, begitu juga Ivan yang tampak mengabaikan Andi.
Sesampainya di apartemen Dimas, Andi segera membuka pintu dan masuk begitu saja tanpa permisi.
"Mana sopan santunmu anak muda!" ucap Dimas yang baru menyadari jika Andi sudah berada di dalam apartemennya.
"Lo ngapain sih nyuruh gue ke sini? pake' ngancem lagi!"
"Hehe sorry, tangan kanan gue kekilir Ndi, lo nggak kasian sama gue?"
"Enggak, kenapa nggak panggil Dokter Aziz aja sih, kenapa harus gue?"
"Eh lo pikir Dokter Aziz tukang pijat?"
"Emang menurut lo gue yang tukang pijat?"
"Udah udah, masih pagi Ndi, jangan cari ribut!"
"Laahh, lo sendiri yang cari ribut, sekarang gue harus ngapain?"
Dimas lalu melemparkan kunci mobilnya pada Andi dan dengan sigap Andi menangkapnya.
"Lo jadi supir gue hahaha....."
Andi hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Dimas. Mereka lalu keluar dari apartemen Dimas.
"Anita tinggal dimana Dim? lo bilang di deket sini!" tanya Andi pada Dimas.
"Nih, dia tinggal di sini," jawab Dimas sambil menunjuk ke arah sampingnya.
"di sini? cowok tadi juga keluar dari sini kan? apa mereka punya hubungan khusus? gimana bisa? dan kenapa Anita mau punya hubungan sama cowok yang kasar kayak gitu?" batin Andi bertanya tanya.
"Menurut lo, Anita sekarang lagi deket sama siapa?" tanya Andi.
"Mana gue tau Ndi, gue udah nggak peduli!"
"Kalau dia dijahatin sama orang? lo nggak peduli?"
"Lo tau kan titik dari semua masalah gue? kepedulian gue, dia salah mengartikan perhatian dan kepedulian gue, sekarang gue nggak mau itu terjadi lagi jadi gue harus bisa jaga jarak sama dia!"
Andi hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban Dimas.
"Lo kenapa sih tiba tiba bahas Anita? lo suka sama dia? mau CLBK?"
"Dih ogah, lo aja sana!"
"Gue kan udah ada Andini."
"Gue juga udah ada Aletta, jodohin aja sama Nico hahaha...."
"Boleh juga hahaha....."
Mereka lalu melajukan mobil ke tempat kos untuk menjemput Dini dan Aletta.
**
Di tempat lain, Anita masih tebaring di ranjangnya dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Badannya terasa perih dan sakit. Anita hanya menangis meratapi jalan hidupnya yang begitu menyakitkan baginya.
Ia menyerah, untuk kesekian kalinya ia menyerah pada takdir yang membawanya dalam kesakitan tak berujung. Dengan badan yang semakin lemas, Anita berjalan keluar dari kamarnya. Ia mengambil pecahan gelas dan duduk bersimpuh di lantai.
"Mama, Anita kangen mama, Anita butuh mama di sini, Anita mau ketemu mama," ucap Anita lalu menggoreskan pecahan gelas yang tajam itu tepat pada nadinya. Ia menggoresnya dengan sangat dalam sebelum ia kehilangan kesadarannya.
__ADS_1